365 Days With You

365 Days With You
Mengalami kerugian


__ADS_3

Satu tahun kemudian...


"Nah, bagus seperti itu, Sayang. Ayo, kejar Mama," seru Ana yang kini mengulurkan tangannya ke depan agar bocah berusia satu tahun itu mulai perlahan melangkahkan kakinya.


Bocah laki-laki berusia satu tahun yang saat ini terlihat berjalan dengan olahan untuk mendekati sang ibu. Hingga ia pun tersenyum simpul kala melihat sang ibu membuka kedua tangan dan langsung menggendongnya.


"Anak Mama memang sangat pintar karena sudah bisa berjalan sendiri. Apapun yang dilakukan sendiri dan membuatnya merasa sangat tidak senang." Ana kini mencium gemas pipi gembul putranya dan beralih menggendongnya turun ke sofa.


Sementara Ana yang tidak pernah bisa berhenti mencium Valerio, selalu saja mengingat tentang ibu kandung dari anak laki-laki itu?


'Apakah wanita itu baik-baik sekarang? Semoga seperti itu karena jika terjadi sesuatu, itu adalah karenaku," gumam Ana yang saat ini tidak bisa berhenti mencium gemas pipi putih malaikat kecilnya tersebut.


Lagi dan lagi selalu saja ia merasakan candu pada bocah laki-laki yang sudah dibesarkan dengan baik dan penuh kasih sayang dan sepenuh hati tersebut.

__ADS_1


"Mama sayang Valerio. Putraku yang paling tampan, pintar dan menggemaskan." Saat Ana baru saja menutup mulut, ia mendengar suara pintu ruangan kamar yang dibuka.


Kini, ia bisa melihat sosok sang suami yang berjalan masuk ke dalam dengan wajah muram. Memang semenjak kedatangan bayi laki-laki itu ke rumah, Ana memutuskan untuk tidak bekerja demi bisa mengurus Valerio dengan baik sebagai seorang ibu sepenuhnya.


Jadi, tidak pernah lagi memikirkan tentang berbagai hal yang menyangkut tentang perusahaan. "Kenapa wajahmu sangat murung begitu, Sayang?"


Christian yang saat ini sudah berniat untuk mencium kening sang istri dan juga anak, tidak jadi melakukannya kala mendengar suara menggemaskan putranya.


"Papa?"


"Kenapa wajahmu sangat muram, Sayang? Apa terjadi sesuatu di perusahaan?" Ana merasa ada beban berat yang dirasakan oleh sang suami saat melihat wajah penuh kelelahan.


Karena tidak ingin membicarakan tentang pekerjaan saat bersama putranya, Christian hanya menggelengkan kepala. "Nanti saja aku bercerita. Sekarang aku mandi dulu karena rasanya gerah."

__ADS_1


Kemudian ia menyerahkan putranya ke pangkuan Ana. "Papa mandi dulu, ya Sayang." Saat hendak pergi, Christian menoleh ke arah putranya yang menahan tangannya.


"Papa!" Valerio yang tadinya berada di pangkuan ibu, bergerak turun karena ingin berdiri di lantai tanpa dipegangi.


Hingga Ana yang mengerti keinginan dari Valerio, seketika mengungkapkan pada Christian. "Putra kita sudah bisa berjalan, Sayang. Lebih baik mandinya nanti saja agar bisa melihat siaran langsung kehebatan Valerio."


Wajah yang tadinya muram itu kini berubah menjadi berbinar begitu melihat putranya yang bergerak menuju ke arahnya. "Wah ... putraku benar-benar sangat hebat. Akhirnya bisa berjalan juga. Pantas saja dari dulu tidak bisa berhenti setelah bisa merangkak."


"Iya, itu memang benar, Sayang. Putra kita sangat pintar dan tampan. Hari ini dia menunjukan kemampuan berjalan padaku dan sekarang padamu. Sepertinya patut di beri hadiah," ucap Ana yang kini berbisik di dekat daun telinga sang suami.


Mengungkapkan sesuatu yang ada di kepalanya saat ini. "Bagaimana kalau kita liburan ke luar negeri saja?"


Refleks Christian langsung menggelengkan kepala karena tidak setuju dengan apa yang baru saja didengar dari sang istri.

__ADS_1


"Perusahaan baru saja mengalami kerugian cukup besar gara-gara kerja sama dengan perusahaan Prameswari Grup. Aku benar-benar sangat menyesal menerima kerja sama dari CEO perusahaan yang sama sekali tidak bisa apa-apa itu," sarkas Christian yang saat ini memerah wajahnya kala mengingat sosok pria yang menjadi pemimpin perusahaan Prameswari Grup.


To be continued...


__ADS_2