365 Days With You

365 Days With You
Seperti pecundang


__ADS_3

Selama perjalanan menuju ke rumah, Christian dan Ana tidak saling berbicara karena berdebat di dalam mobil, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing dan tidak ingin melanjutkan pertengkaran mereka karena sadar akan membawa dampak buruk bagi hubungan.


Hingga setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini mobil berwarna merah milik Ana sudah tiba di depan rumah mewah dengan lantai 2 yang selama ini menjadi tempat mereka tinggal.


Christian yang masih merasa kesal pada Ana, ini langsung keluar dari mobil dan menyuruh para pelayan untuk membawa koper yang ada di bagasi. Kemudian ia langsung masuk ke dalam rumah melewati pintu utama dan menuju ke kamar.


Tanpa menoleh ke belakang untuk melihat sang istri yang masih berbicara dengan pelayan untuk memberikan perintah.


Ana hanya melihat sekilas sang suami yang dari tadi menampilkan wajah masam. Ia mengakui dirinya salah dan menganggap jika kemurkaan sang suami sangat wajar.


Jadi, ia membiarkan sang suami tenang terlebih dahulu dengan tidak mengganggu. Ia berharap setelah pria yang sangat dicintainya tersebut beristirahat, akan kembali normal dan baik-baik saja seperti semula.


Apalagi ia akan sibuk di dapur untuk membuat masakan spesial yang diminta sang suami hari ini. Jadi, tidak berniat untuk merayu agar pria itu tidak melanjutkan kemarahannya sebelum selesai memasak.


"Bawa koper itu ke ruang tengah saja. Besok baru bawa ke kamar utama. Suamiku sangat lelah dan ingin beristirahat." Ana yang baru saja memberikan perintah pada pelayan, kini berjalan masuk ke dalam rumah.


Ana bahkan tidak berani masuk ke dalam kamar dan berniat untuk langsung memasak tanpa mengganti pakaiannya. Ia saat ini melepaskan blazer yang dipakai dan hanya menyisakan pakaian tanpa lengan.


Begitu tiba di dapur, melihat bahan-bahan yang tadi dipesan dan tersenyum simpul begitu melihat pelayan datang menghampiri.


"Saya sudah mengeluarkan bebek dari freezer dan tinggal direbus dengan ungkepannya, Nyonya." Sang pelayan yang baru saja selesai membuat ungkepan untuk bebek goreng, kini menunjukkan pada sang majikan.


Ana yang merasa tugasnya jauh lebih ringan karena dibantu oleh pelayan, kini merasa jika ia akan segera menyelesaikan makanan yang dipesan oleh sang suami.


"Kalau begitu, tolong cuci daging bebeknya dan langsung direbus dengan bumbu itu." Ana menuju ke arah blender yang saat ini sudah ada bumbu berwarna kuning untuk digunakan merebus bebek.


Sang pelayan saat ini menganggukkan kepala dan bergerak untuk membantu majikannya. "Direbus biasa atau dipresto, Nyonya?"


Ana yang saat ini menyiapkan cabe hijau yang sudah dibersihkan tangkainya oleh sang pelayan, kini menoleh pada wanita paruh baya tersebut. "Agar lebih cepat karena dagingnya cukup alot, pakai presto saja, Bik."


Karena ingin membuat sambal yang lebih enak, Ana berniat untuk menghaluskannya sendiri tanpa menggunakan blender. Ia tahu bahwa membuat sambal yang enak adalah dengan dihaluskan manual, tanpa mesin penghancur.


Karena pelayan sudah membersihkan tangkai cabe serta mengupas bawang putih dan merah, Ana langsung mencuci dan merebusnya sambil ditambahkan dengan tomat hijau.


"Pasti suamiku akan menyukai masakanku karena sudah lama tidak menikmatinya. Ia pasti merindukan masakan istrinya setelah lama makan di restoran saat berada di luar negeri." Ana melihat pelayan yang sedang bergerak untuk memasukkan bumbu ungkepan pada daging.


"Iya, Nyonya. Tuan Christian pasti akan memuji masakan Anda yang selalu enak. Apalagi sudah lama tuan tidak menikmati masakan Anda. Pasti akan sangat merindukan masakan istri ketika berada di luar negeri." Ia mengingat perkataan dari sang suami yang sudah meninggal dulu ketika mereka masih bersama.


"Karena seenak-enaknya makan di restoran, tapi nikmat makan masakan rumahan yang dibuat penuh cinta oleh istri sendiri." Sang pelayan bahkan saat ini berkaca-kaca bola matanya begitu mengingat perkataan dari sang suami yang sudah meninggal.


Ana saat ini menyadari jika pelayan yang sudah bekerja selama lebih dari 5 tahun itu mengingat tentang mendiang suami yang sudah lama pergi. "Jangan bersedih, Bik. Suami Bibik saat ini sudah bahagia di atas sana. Doakan saja yang terbaik karena saat ini yang dibutuhkan hanyalah itu saja."


"Iya, Nyonya. Anda benar bagi orang meninggal, hanya doa yang dibutuhkan." Sang pelayan ini menyalakan kompor setelah menutup panci presto untuk merebus daging bebek tersebut.


Ia yang selama ini diperlakukan dengan baik saat bekerja di tempat itu, karena mendapatkan majikan yang luar biasa. Bahkan merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari rumah itu dan mendoakan majikannya agar selalu hidup bahagia.


"Semoga Anda dan tuan selamanya hidup berbahagia, Nyonya karena kalian adalah orang-orang baik yang tidak membedakan orang lain dan memperlakukan pelayan seperti keluarga sendiri." Sang pelayan wanita tersebut sebenarnya merasa iba pada sang majikan di hadapannya karena belum kunjung memiliki keturunan.

__ADS_1


Ia sebenarnya ingin memberikan sebuah saran seperti yang dilakukan beberapa orang di kampung, yaitu pergi ke tempat di mana orang pintar yang bisa memijat rahim agar bisa segera hamil.


'Aku tidak berani memberikan saran pada orang kaya yang sudah berusaha melakukan program hamil dengan banyak mengeluarkan uang. Mungkin berpikir jika itu tidak masuk akal karena hanya melakukan pijat pada orang yang sering disebut sebagai dukun bayi. Pasti saranku hanya akan ditertawakan.'


Sang pelayan wanita paruh baya tersebut tidak berani mengungkapkan caranya karena mengetahui perbedaan kasta di antara mereka. Meski majikan tidak pernah membeda-bedakan tentang perihal kasta, tetap saja khawatir dianggap menggurui jika menyuruh sang majikan untuk melakukan pijat rahim agar segera hamil.


'Jika nyonya dan Tuhan belum melakukan program hamil yang menghabiskan uang ratusan juta, mungkin aku akan berani memberikan saran. Namun, karena mereka sudah melakukan cara apapun dan tidak berhasil, aku tidak berani mengatakannya.'


Sang pelayan wanita tersebut khawatir jika sarannya gagal dan malah akan membuat majikannya tersebut makin down. Akhirnya ia hanya bisa memendam di dalam hati dan jika sampai sang majikan bertanya atau meminta saran darinya, baru mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


Ana saat ini merasa bahwa bahan sambal sudah siap untuk dihaluskan, sehingga langsung mematikan kompor dan memindahkannya ke cobek dengan bahan dasar batu tersebut.


Ia dari dulu suka memakai cobek batu tersebut daripada cobek kayu karena jauh lebih mudah ketika menghaluskan apapun. Kini, tangannya sudah terampil bergerak untuk menghaluskan bahan sambal yang berwarna hijau tersebut.


Sambil menunggu daging bebek yang saat ini di presto dan mengeluarkan suara khas dari panci menghiasi ruangan dapur.


Ana bahkan sangat terampil ketika melakukannya dan dilihat oleh pelayan yang hanya menjadi penonton karena tidak diizinkan untuk menghaluskannya.


"Nyonya sangat bersemangat membuat sambalnya," ucap pelayan yang saat ini tengah menatap ke arah majikan ketika menghaluskan cabe serta bawang dan tomat.


"Aku penyakit jika rasanya pasti akan membuat suamiku nambah terus ketika makan. Ini pun tidak terlalu pedas dan pasti akan disukainya." Ana masih sibuk menghaluskan sambal sambil berbicara.


Ia mengingat jika sang suami kesal pada candaannya tadi. "Sebenarnya Suamiku sedang kesal karena merasa cemburu aku dekat dengan asisten pribadinya. Makanya aku ingin menyuapnya dengan masakanku yang pasti sama disukainya." Setelah dirasa halus, Ana langsung menggorengnya dan ditambah garam, gula serta vetsin.


Aroma khas sambal yang menguar di ruangan dapur, kini seolah membangkitkan cacing-cacing di perut siapapun yang belum makan.


"Aku ingin melihat istriku memasak karena tidak bisa tidur," ucap Christian yang baru saja selesai mandi dan terlihat segar dan emosi yang dirasakannya sudah menghilang setelah berdiri di bawah shower yang mengeluarkan air dingin membasahi kepala hingga ujung kaki.


Sementara itu, Ana yang saat ini berdiri di depan kompor, sekilas ke arah sang suami yang sudah berada di sampingnya. "Sudah tidak marah lagi, kan?"


Christian yang hanya ingin berduaan dengan sang istri, kini menoleh ke arah pelayan wanita di sebelah kirinya. "Tinggalkan kami karena aku ingin berduaan dengan istriku yang sedang memasak."


Sang pelayan tadinya langsung membungkuk hormat untuk menyapa sang majikan yang baru pulang dari luar negeri, menganggukkan kepala dan berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri yang sudah lama tidak terlihat romantis tersebut.


Kemudian Christian kini menanggapi pertanyaan sang istri yang seolah sebagai sebuah ejekan untuknya. "Aku tidak bisa lama-lama marah pada istri secantik kamu, Sayang karena yang rugi adalah aku."


"Iya, kamu benar karena nanti tidak akan kukasih jatah jika berani marah lama-lama padaku." Ana terkekeh geli saat memarahi sang suami.


Hingga ia kini merasakan tangan dengan buku-buku kokoh tersebut melingkar di perutnya ketika sang suami berpindah di belakangnya untuk memeluk.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang. Mana mungkin aku betah lama-lama marah padamu," ucap Christian yang saat ini ingin lebih bersikap romantis pada Ana untuk menebus kesalahan karena telah menduakan cinta wanita itu.


Ia merasa bersalah ketika melihat wajah Ana dan selalu mengingat istri sirinya yang saat ini ditinggalkan dan harus sendirian tinggal, meski ada pelayan yang menemani, tetap saja tidak tega.


Apalagi ia selalu merasa bahwa Laura sangat lemah dan butuh dilindungi, membuatnya tidak bisa mengalihkan pikiran dari istri sirinya tersebut ketika bersama dengan Ana.


Bahkan tadi saat berada di kamar, ia langsung mengirimkan pesan pada sang ibu agar membelikan banyak oleh-oleh untuk Laura. Tentu saja jauh lebih banyak dari yang diberikan untuk Ana karena berpikir jika nanti juga menyebutkan nama sang ibu yang membelikan dan juga dirinya.

__ADS_1


'Kini, saat melakukan apapun bersama dengan Ana, aku selalu mengingat Laura. Apakah semua pria merasakan seperti ini ketika bersama dengan salah satu istrinya dan mengingat istri yang lain? Rasanya benar-benar sangat menyiksa karena harus bersikap seperti seorang pria yang munafik di depan istri sendiri.'


Christian saat ini masih berusaha untuk bersikap romantis agar kita yang masih sibuk mengaduk sambal tersebut makin mencintainya yang tidak merasakan sesuatu yang kurang dari cintanya meskipun sudah membagi cinta untuk wanita lain.


"Rasanya pasti sangat enak dan membuatku tidak sabar ingin segera menikmati masakanmu, Sayang." Christian yang masih melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan menaruh dagu di atas pundak Ana, merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu hal yang sama pada dua istrinya.


Ia berharap hal yang sama dilakukan untuk dua istrinya tersebut menjadikannya adil. Bahwa ia bisa bersikap adil pada dua istrinya dan membuatnya tidak makin merasa bersalah jika melihat bayangan dari istri yang tidak bersamanya saat ini.


"Butuh satu jam lagi, Sayang karena daging bebeknya masih di presto dan tidak mungkin langsung membuka penutup pancinya karena itu akan sangat berbahaya. Jadi, harus menunggu sampai benar-benar dingin," jawab Ana yang saat ini menatap ke arah panci presto yang mengeluarkan suara khas.


Christian yang saat ini tidak sabar menikmati sambal yang sudah hampir masak tersebut, kini tadi Laura menggoreng udang dibalur tepung. "Aku sudah tidak sabar dan tidak bisa menunggu satu jam lagi, Sayang."


"Lalu? Masa kamu hanya makan nasi dengan sambal ijo saja," ujar Ana yang mengerutkan kening pada perkataan sang suami.


"Sebentar." Christian saat ini melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah kulkas. Ia membuka freezer untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai lauk mendadak.


Kebetulan ia melihat udang Frozen di kemasan yang belum dibuka sama sekali. Kemudian ia mengambilnya dan mengingat tadi makan udang segar yang dimasak oleh Laura.


"Ini saja digoreng dan bisa digunakan untuk lauk sementara. Untuk daging bebeknya, bisa buat makan nanti malam, bukan?" Christian yang tadi merasa belum kenyang hanya makan bakso karena berpikir bahwa tenaganya banyak terforsir dan membuatnya harus makan makanan yang bergizi serta banyak kalori serta protein.


'Aku bahkan setiap hari mengeluarkan cairan kenikmatan. Jika tidak didukung dengan asupan gizi yang baik, mengalami penurunan kesehatan,' gumam Christian yang pernah membaca tentang sesuatu untuk memulihkan tenaga karena setiap hari bercinta.


Meski ia tahu bahwa air mani tidak akan pernah habis meskipun dikeluarkan setiap hari, tetap saja khawatir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada kesehatan organ reproduksinya.


Ana saat ini melihat udang Frozen yang dikeluarkan oleh sang suami, kini hanya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju karena berpikir jika pria itu mungkin sudah kelaparan.


"Baiklah. Setelah ini, aku akan menggorengnya. Tadi aku berpikir bahwa makan bakso bisa membuatmu kenyang, ternyata tidak." Ana yang kini mencicipi sambal buatannya ada yang kurang atau tidak, terlebih dahulu meniupnya agar tidak melepuh di lidahnya.


Begitu dirasa sambal yang dibuatnya pas di lidah, kini mematikan kompor dan memindahkan penggorengan. "Enak, Sayang. Pasti kamu akan ketagihan dengan sambal buatanku."


"Tentu saja karena masakan istri sendiri jauh lebih nikmat dari apapun," ucap Christian saat ini membantu untuk menyajikan sambal di meja makan setelah memindahkan di wadah berukuran sedang.


Ana saat ini merasa senang mendapatkan sebuah pujian yang sudah lama tidak ia dengar dari sang suami. "Terima kasih atas pujiannya, Sayangku. Aku goreng udangnya dulu. Ini tidak lama dan bisa segera dinikmati sebentar lagi."


"Siap, Sayang. Aku tunggu di meja makan, ya. Ternyata berdiri cukup lama, membuatku capek juga." Christian peralatan capek karena baru saja mendengar notifikasi dari ponselnya dan ingin segera memeriksanya.


Ia berpikir bahwa itu adalah balasan dari sang ibu dan jika benar, agar tidak dibaca oleh Ana.


"Iya, duduk saja di sana, Sayang. Salah sendiri kamu bandel dan tetap ingin membantuku saat capek." Ana melirik kesal pada sang suami dan mengarahkan dagunya ke arah meja makan untuk memberikan kode pada pria itu agar segera pergi duduk.


Sementara itu, yang hanya terkekeh dan menunjukkan tangan yang membentuk simbol peace. "Iya, Sayang. Maafkan suamimu ini yang sangat bandel. Aku duduk dulu di sana." Kemudian melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah meja makan dan tentu saja langsung memeriksa pesan dari sang ibu.


Iya, Mama akan membelikan hadiah untuk menantu dan langsung mengirimkan pada alamat Vicky. Mama juga sudah membelikan beberapa perhiasan untuk Laura dan suruh ia memakainya nanti.


Christian pun langsung membalas oke dan menyuruh sang ibu untuk tidak lagi mengirimkan pesan kepadanya agar lama tidak membacanya. Kemudian langsung menghapus pesan dari sang ibu dan beralih menatap ke arah siluet belakang wanita yang masih menggoreng udang.


'Rasanya aku seperti pecundang yang diam-diam berbuat curang pada istri sendiri. Ana, semoga kamu mengerti saat aku berbicara jujur padamu suatu saat nanti mengenai Laura.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2