365 Days With You

365 Days With You
Lelah membuka hati


__ADS_3

Suara parau Christian yang terasa menggelitik di telinga, membuat Laura membuka kelopak mata dan ber-sitatap dengan iris berkilat yang seolah sanggup menenggelamkannya saat ini juga dalam ledakan gairah.


Ia merasa seperti berada di alam mimpi saat berada dalam kuasa seorang suami tersebut. Ia seolah pasrah dengan takdir hidupnya yang membawanya jauh sampai ke titik ini.


"Ya, aku mencintaimu, Suamiku." Laura kini mengarahkan tangannya untuk mempelajari tulang pipi dari wajah dengan pahatan sempurna penuh pesona tersebut.


Christian yang kali ini merasa sangat puas dengan jawaban yang sangat diharapkannya, melihat ekspresi wajah Laura yang terlihat sangat menggemaskan tersebut, kini kembali meraup bibir sensual itu. Seolah ingin semakin menggoda.


Sebenarnya Laura menyadari tatapan sang suami memanas saat menyapu seluruh tubuhnya, sehingga kulitnya seperti tergelitik dan menimbulkan gelenyar aneh di setiap urat syarafnya. Ia sadar jika sang suami terus menerus mencicipi setiap sudut tubuhnya.


"Sayang, hentikan! Jangan nakal!" teriak Laura yang mencoba untuk menghentikan ronde kedua karena saat ini tubuhnya benar-benar sakit semua.


"Maafkan aku, Sayang. Setiap menciummu, rasanya seperti candu dan tidak bisa berpikir jernih. Bahkan otakku seakan meleleh tanpa bisa berpikir jernih saat bersamamu."


Sebenarnya Laura sadar tidak akan mampu melarikan diri atau pun menolak ketika kuasa bahu lebar suami memblokir semuanya.


Bisa jadi ia malah akan menyambutnya dengan mengulurkan tangan dan menggapai ke sekeliling punggung kokoh nan lebar itu dengan jemarinya untuk semakin meluncur di atas otot-otot yang sangat kencang.


"Kalau begitu berhenti! Jangan dilanjutkan! Aku capek dan ingin ke kamar mandi," ucap Laura yang saat ini bergerak turun dari atas ranjang.


Namun, perutnya ditahan oleh tangan dengan buku-buku kuat suaminya hingga kembali mendengar suara bariton sang suami.


"Sebentar, Sayang. Jangan buru-buru!" Christian ingin Laura tetap tiduran karena ia sudah mencari tahu bahwa seorang istri tidak boleh langsung bangun setelah bercinta agar benih yang disebarkan bisa mencari dan membuahi indung telur.


Ia selalu mencari informasi mengenai seputar cara ampuh untuk membuat istri segera hamil dan proses pembuahan berjalan lancar setelah bercinta.


"Aku risi dan ingin ke kamar mandi." Laura bahkan kini tidak bisa berkutik kala Christian memeluk dengan sangat erat.

__ADS_1


"Sebentar, Sayang. Aku ingin kamu segera hamil. Jadi, tidak boleh langsung bangun setelah aku menebarkan benih. Padahal aku ingin kembali melihatmu menggigit bibir dengan melanjutkan pergerakan."


"Membuatmu mencengkeram erat dengan paha seperti tadi, seolah menjebak dan tidak akan pernah melepaskanku. Menyiksamu yang ada di bawahku, agar kembali menggapai ke bawah punggung dan melengkungkan tubuhmu semakin ke atas, hingga saling menempel."


Bahkan hanya dengan mendengar pengakuan Christian, seketika otak Laura kembali ternodai dengan bayangan saat pria itu terus mendorong dengan irama yang stabil dan ingin membuatnya sulit bernapas karena sibuk merintih dan mendesah kala merasakan kedahsyatan puncak kenikmatan yang telah dikirimkan.


'Melihat suamiku tadi merasakan kenikmatan luar biasa, dengan menggertakkan rahang dan ekspresi intens serta konsentrasi penuh saat masih mendorong dengan mendesak lebih dalam hingga lenguhan panjangnya terdengar sangat seksi sekali.'


Wajah Laura seketika memerah kala ia mengingat hal itu dan kini hanya diam tak berkomentar apapun karena tengah membiarkan sang suami terus berbicara dengan memujinya.


"Kamu benar-benar sangat luar biasa. Sangat nikmat," seru Christian yang kali


ini makin memeluk erat tubuh polos di bawah selimut tebal itu.


Laura yang kali ini merasakan dada bidang Christian menghimpitnya, membuat seluruh tubuhnya berdenyut dengan hawa panas yang semakin menjalar. Respon tubuhnya menggelenyar aneh.


"Baiklah. Aku akan tetap di sini sampai kamu memperbolehkanku pergi." Rasa panas semakin menjalar di seluruh tubuhnya saat Christian sibuk mencium setiap sudut kulitnya.


"Astaga! Geli, Sayang," teriak Laura yang kini tengah bergerak mundur agar pria yang seolah tidak berhenti mengincarnya tersebut berhenti.


"Sayang, hanya mencium tidak masalah, kan? Aku tidak melakukan apa-apa, tapi hanya ingin mencium kulitmu yang sangat wangi." Christian merasa berubah menjadi anak kecil kala ia di dekat Laura.


Ia selalu ingin bermanja-manja dengan Laura, seolah sifat dewasa yang selama ini menjadi kebanggaan mulai luntur di samping wanita itu.


Berbeda ketika ia bersama dengan Ana Maria yang hanya berjarak dua tahun darinya, membuatnya selalu ingin menjadi pria dewasa di mata istri pertamanya yang selalu bermanja-manja padanya.


'Rasanya semua berbeda saat aku bersama Laura. Padahal sifat mereka merupakan kebalikannya karena Ana adalah seorang wanita mandiri yang tidak pernah kekurangan kasih sayang, sedangkan Laura adalah sebaliknya karena kurang kasih sayang orang tua yang sudah meninggal saat masih kecil.'

__ADS_1


Melihat Christian melamun, refleks ia mengarahkan jemarinya ke dada telanjang itu.


"Sayang, apa yang sedang kamu lamunkan?" lirih Laura yang mengarahkan tatapan mengintimidasi.


Refleks Christian langsung menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hanya tengah membayangkan rumah ini dipenuhi oleh suara tawa anak kita nanti. Pasti akan sangat membahagiakan."


Sementara itu, mata Laura kini terdiam karena merasa bingung. Ia berpikir bahwa sang suami seperti sangat terobsesi ingin segera hamil. Mendadak ia takut jika semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi.


"Bagaimana jika aku tidak kunjung hamil? Apa kamu akan meninggalkanku?" tanya Laura dengan wajah penuh sorot kekhawatiran.


Christian kini menangkap tanda bahaya dari perkataan wanita yang terlihat memelas wajahnya tersebut.


'Astaga! Aku salah bicara. Pasti Laura kini merasa takut dan pikiran dipenuhi kecemasan akan menjadi penyebab stres yang memicu gagalnya pembuahan. Aku tidak boleh membuatnya merasa tertekan,' gumam Christian yang kini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya sebelum menjawab.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Jadi, jangan khawatir, oke! Aku mencintaimu dan tidak menganggapmu mesin pencetak anak, jadi tidak perlu khawatir." Christian pun bahkan mengusap lembut punggung sosok wanita yang ada di hadapannya.


Meskipun masih belum sepenuhnya tenang, tetap saja Laura merasa lega dan terhibur melihat ekspresi wajah penuh keyakinan dari sang suami.


"Benarkah?"


"Iya, Sayang," sahut Christian yang kini dipenuhi oleh keraguan karena khawatir apa yang dikatakan Laura benar.


'Aku bahkan sudah membohongi Ana demi bisa mendapatkan keturunan, tapi bagaimana jika Laura juga tidak bisa hamil? Apa aku harus menikah lagi sampai berkali-kali?' umpat Christian di dalam hati dengan sejuta beban merangsek ke dalam otaknya saat ini.


Bahkan satu masalah belum berakhir, malah terjadi yang lainnya. Semoga itu tidak terjadi karena aku sangat lelah untuk membuka hati kesekian kalinya pada orang baru.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2