
Ana dan Christian saat ini baru saja menyelesaikan ritual percintaan panas dan liar mereka hingga membuat ranjang berubah berantakan. Kini, Ana memeluk erat tubuh sang suami dan mencium khas aroma maskulin yang selalu dirindukannya serta dihafal olehnya.
"Sayang, hari ini kamu benar-benar berbeda setelah minum obat penambah stamina. Tapi aku tidak ingin kamu terus bergantung pada obat karena efeknya tidak baik untuk kesehatan." Jujur saja ia merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada sang suami karena pernah melihat beberapa berita negatif mengenai obat penambah stamina.
"Aku tidak ingin kamu terkena serangan jantung hanya karena minum obat demi bisa menjadi seorang suami yang kuat di atas ranjang." Ana saat ini masih memeluk erat pinggang kokoh pria yang malah mendengar kekhawatirannya.
Christian yang saat ini berpikir bahwa sang istri terlalu berlebihan karena ia minum obat demi tidak membuat wanita itu curiga padanya. "Tenang saja, Sayang. Aku baru pertama kali ini minum karena takut dikalahkan olehmu dengan mudah."
"Kamu kan tahu jika seorang suami sudah lama tidak bercinta, pasti main hanya bertahan beberapa menit saja. Apalagi kita sudah satu bulan lebih tidak melakukannya, kan? Jadi, aku malu jika kamu mengejekku lemah karena cepat keluar." Kemudian Christian memeriksa kening Ana untuk memastikan apakah masih demam atau sudah sembuh.
Tadi ia merasakan tubuh Ana masih hangat ketika menyatu dengan tubuhnya saat bercinta, khawatir jika kelelahan membuat Ana makin demam.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa kamu masih merasa pusing dan demam? Jika iya, lebih baik periksa ke dokter. Aku benar-benar tidak tega jika melihatmu sakit." Christian masih beberapa kali memastikan mulai dari kening, pipi dan tubuh sang istri.
Ana saat ini menghentikan perbuatan sang suami dengan menahan tangan yang bergerak untuk meraba wajah serta tubuhnya. "Aku langsung sembuh setelah bertemu denganmu, Sayang. Aku sebenarnya sakit karena terlalu memikirkanmu."
"Jadi, begitu penawarnya datang, aku langsung sembuh, kan?" Ana kini bergerak untuk berbisik di dekat daun telinga sang suami.
"Apalagi setelah kita bercinta tadi, tubuhku benar-benar fresh dan jauh lebih plong. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa bercinta bisa membuat orang yang sakit menjadi sembuh." Ia pun mengakhiri perkataannya dengan terkekeh.
Bahkan saat ini tubuhnya seketika bergelinjang hebat begitu sang suami malah menggelitiknya.
"Dasar istri mesum!" sarkas Christian yang saat ini tidak berhenti membuat sang istri sibuk bergerak seperti cacing kepanasan karena digelitik olehnya.
Sampai ia pun saat ini merasa bahwa Ana sangat merindukannya setelah berpisah selama satu bulan lebih. Ia berpikir bahwa itu akan berlangsung lebih lama karena harus membagi waktu dengan Laura.
'Aku tidak bisa berlama-lama dengan Ana karena Laura lebih membutuhkanku. Apalagi jika kerja kerasku berhasil, pasti akan lebih mengutamakannya karena wanita hamil membutuhkan banyak perhatian dari suami. Semoga saat itu terjadi, Ana bisa mengerti.'
Christian tidak tahu harus menyembunyikan Laura dari Ana sampai kapan, tapi ia berpikir bahwa suatu saat tetap akan memberitahu dan berharap istri pertamanya tersebut mau menerimanya.
Ia ingin seperti beberapa lelaki yang sukses mempunyai istri lebih dari satu dan rukun hidup bersama. Meskipun itu sangat berat, tetap saja ia menginginkan hal itu terjadi pada Ana dan Laura.
'Aku mungkin adalah seorang pria yang serakah karena menginginkan dua istriku yang memiliki kelebihan masing-masing dan membuatku tidak ingin kehilangan mereka. Semoga Ana dan Laura bisa saling menerima dan pastinya hidupku akan sangat bahagia.'
Christian saat ini menghentikan aksi untuk menggelitik sang istri karena merasa iba saat Ana terus menggeliat dan tertawa. "Aah ... maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkanmu karena sakit dan meminta Vicky untuk membelikan obat tadi saat menjemputku di bandara."
"Kamu tahu tidak jika aku tadi marah-marah padanya karena cemburu kamu meminta dibelikan bakso seperti seorang kekasih yang meminta pada pacarnya." Christian yang mengingat hal tersebut, merasa seperti seorang pacar yang cemburu. Bahkan ia bisa melihat Ana yang malah terbahak-bahak saat menertawakannya.
"Ternyata suamiku menggemaskan sekali saat merasa cemburu. Aku saat ini benar-benar sangat bahagia melihat suami cemburu pada pria lain. Kalau bisa, nanti akan aku akan selalu meminta Vicky untuk membelikan aku makanan agar kamu terus cemburu padaku." Ana memang selama ini tidak pernah dicemburui oleh sang suami.
Itu karena sang suami sangat mempercayainya dan itu merupakan kebalikan dari dirinya yang selalu curiga pada pria yang sudah hidup bersamanya lebih dari 10 tahun karena ia belum kunjung memberikan keturunan.
Jadi, rasa tidak percaya diri dan khawatir jika sang suami berselingkuh dengan wanita lain demi mendapatkan keturunan. Jadi, saat ini ia ingin membahas hal yang sempat dipikirkan olehnya ketika mengantar mertua ke bandara saat hendak liburan.
__ADS_1
"Kamu boleh menyuruh Vicky apapun saat aku tidak ada di sampingmu, tapi saat aku ada di sini, kamu tidak boleh melakukannya. Aku yang akan membelikan apapun yang kamu inginkan. Nanti kita membeli bakso di tempat langganan kita saat kuliah." Christian ingin terlihat makin romantis pada Ana untuk menebus kesalahannya.
Ia berharap dengan selalu bersikap baik serta romantis pada sang istri, bisa menebus kesalahannya yang telah menduakan cinta Ana dan membaginya dengan Laura.
Ana yang memang dari tadi ingin makan sesuatu yang berkuah hangat ketika tenggorokannya terasa pahit, seketika langsung bersemangat. Bahkan ia sudah membayangkan bisa mengenang masa-masa pacaran saat kuliah dulu.
"Ayo, sekarang kita berangkat ke sana." Ana saat ini menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan berniat untuk beranjak dari ranjang kecil tersebut. Namun, mengingat sesuatu dan membuatnya mengurungkan niat.
"Aah ... sebentar, Sayang. Aku ingin membicarakan mengenai sesuatu hal sangat penting." Ana terdiam sejenak untuk melanjutkan perkataannya karena gugup jika sampai sang suami marah.
Christian yang tadinya pada posisi berbaring, beranjak duduk di sebelah sang istri yang terlihat sangat serius. "Bicara apa, Sayang? Sepertinya sangat serius."
Ia merasa khawatir jika Ana mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Laura. Berpikir jika sang istri mengetahui dan meminta cerai darinya, akan merasa sangat bersalah.
'Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan denganku? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres tengah disembunyikan oleh Ana?' gumam Christian yang saat ini menunggu dengan perasaan gugup.
Karena tidak ingin bertele-tele, kini Ana menceritakan tentang sikap dari mertua yang seperti tidak menyukainya lagi karena tidak bisa melanjutkan keturunan keluarga Raphael.
Bahkan saat ini berpikir jika seseorang bisa saja menggantikan posisinya dan itu berasal dari mertuanya yang ingin memiliki garis penerus di keluarga.
"Jadi, niat untuk mencari seorang wanita yang rela menyewakan rahimnya agar kamu bisa segera memiliki keturunan karena aku sadar bukan seorang wanita normal yang bisa melahirkan keturunan untukmu, Sayang." Ana bahkan berkaca-kaca ketika mengucapkan kalimat menyayat hati tersebut.
"Seorang wanita secantik atau sepintar maupun sekaya apapun, tidak akan berarti jika tidak bisa melahirkan anak untuk suami. Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu, jadi aku berpikir seperti itu." Ana bisa melihat tatapan sang suami yang penuh rasa iba padanya.
"Aku tidak ingin bercerai denganmu dan juga tidak mengizinkanmu menikah lagi dengan wanita lain. Karena itulah aku mempunyai ide seperti ini karena kamu tidak mau mengadopsi anak dari panti asuhan karena bukan darah dagingmu sendiri. Menurutmu, bagaimana ideku?" Ana berharap sang suami langsung menyetujui keinginannya.
Jadi, ia akan langsung bertindak untuk mencari wanita yang mau menyewakan rahimnya selama 9 bulan. Setelah melahirkan, ia lah yang akan merawat bayi itu sepenuh hati seperti anak kandung sendiri.
Saat Ana sangat menginginkan Christian mengatakan iya pada rencananya, malah sebaliknya karena tanpa pikir panjang, sang suami malah menggelengkan kepala dan tentu saja ia sangat kecewa.
"Sayang, aku benar-benar bahagia hidup bersamamu dan tidak pernah mengeluh mengenai masalah keturunan, bukan? Jadi, aku akan setuju pada rencanamu ketika sudah siap. Namun, untuk sekarang belum berpikir untuk ke arah sana karena sangat bahagia bersamamu."
Christian tidak mungkin melakukan itu setelah ia menikah dengan Laura dan merasa yakin jika sebentar lagi benihnya akan tumbuh di rahim istri sirinya tersebut.
Hingga ia berpikir bahwa keinginan Ana bisa sangat kebetulan karena baru beberapa hari ia menanamkan benih di rahim Laura. 'Ana, kamu tidak perlu memikirkan hal itu karena aku sudah memikirkannya. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya jika suatu saat nanti ia mengetahuinya?'
Ana saat ini tengah menatap ke arah sang suami, berusaha untuk melihat kejujuran di mata pria yang saat ini seolah tidak memperdulikan niat baiknya.
"Sayang, kenapa aku merasa sangat aneh melihatmu seperti ini? Kamu seperti tidak peduli padaku karena aku baru saja menceritakan bagaimana tanggapan mamamu padaku yang seolah menganggapku adalah seonggok sampah tidak berguna dan harus dibuang jauh-jauh dari hadapanmu."
Mendadak Ana merasa sangat kesal dengan jawaban sang suami yang tidak bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini. "Bahkan aku menguatkan hatiku untuk mengatakan ini karena jujur saja sangat berat merelakan suami menanamkan benih pada wanita lain."
"Tapi kamu sekolah sangat santai dengan hidupmu, seperti tidak ada beban sama sekali dan membuatku merasa apa yang kurasakan hanyalah sebuah candaan bagimu." Ana yang benar-benar merasa sangat kesal hari ini pada sang suami karena tidak mengerti perasaannya, kini bangkit dari ranjang dan meraih pakaian yang teronggok di lantai.
__ADS_1
Ana seketika memakai pakaiannya dan berjalan keluar dari ruangan yang biasa digunakan istirahat tersebut. Tanpa memperdulikan rambutnya yang berantakan, Ana kini mengempaskan tubuhnya di atas sofa dan berusaha untuk menormalkan amarah yang membuncah di dalam hati.
'Sabar ... sabar ... sabar! Kamu tidak boleh meluapkan amarah kepada suami yang baru saja pulang setelah lama hubungan LDR. Aku tidak boleh membuat Christian merasa ilfil padaku dan berakhir berselingkuh,' gumam Ana yang berusaha untuk menenangkan diri dan tidak melanjutkan kemurkaannya.
Sementara itu di dalam ruangan yang selama ini digunakannya untuk beristirahat, Christian masih duduk di tepi ranjang dan mengembuskan napas kasar melihat kemurkaan Ana hari ini.
'Istriku seperti baru mengalami PMS saja. Biasanya ia tidak semarah ini padaku jika membahas mengenai masalah keturunan. Padahal aku juga menjawab seperti biasa, tapi sepertinya memang perasaannya sedang tidak baik gara-gara tersinggung dengan perkataan mama.'
Kemudian ia bangkit berdiri dari ranjang dan memakai celana yang tadi dilepaskan oleh Ana dengan sangat liar ketika mengulum habis miliknya. 'Aku harus menghibur Ana agar tidak marah lagi.'
Begitu selesai berpakaian, Christian kini berjalan keluar dari ruangan kamar dan seketika bersitatap dengan netra kecoklatan milik sang istri. Ia pun tidak membuang waktu karena ingin segera menghibur sang istri yang sedang kesal.
Kini, ia segera mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang masih diam membisu tersebut. "Sayang, maafkan aku karena membuatmu kesal."
Ana yang selalu luluh hanya dengan permohonan maaf dari sang suami yang bahkan tidak bersalah, membuatnya langsung menghambur memeluk erat tubuh kekar sang suami.
"Aku juga meminta maaf padamu, Sayang. Bukan maksudku untuk marah-marah karena masalah ini, tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu tidak memiliki keturunan untuk meneruskan garis keluarga Raphael."
Ana bahkan sudah menangis tersedu-sedu di dada bidang pria yang makin membuatnya bersedih karena mengusap lembut punggungnya. "Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini karena setelah mendengar perkataan dari mama, membuatku selalu tidak bisa tidur nyenyak."
Christian saat ini mengeratkan pelukan agar tubuh mereka menyatu dan bisa menenangkan sang istri yang sangat membuatnya iba. "Aku sangat tahu bagaimana perasaanmu karena sudah 10 tahun kita membina rumah tangga."
"Tapi aku juga butuh waktu untuk memikirkan hal itu, Sayang. Bukan aku tidak mau memenuhi keinginanmu untuk segera menghasilkan keturunan dari rahim wanita lain, tapi benar-benar belum siap karena itu membutuhkan sebuah keyakinan." Christian terdiam sejenak untuk mencari kata yang pas agar menyentuh hati sang istri.
"Semua itu sangat sulit untuk kulakukan karena aku sangat mencintaimu dan membayangkan mempunyai keturunan dari wanita lain, selalu merasa menyakitimu. Jadi, berikan aku waktu dan setelah siap nanti, menuruti perintahmu untuk menghasilkan keturunan."
Christian kini menghentikan perkataannya sejenak karena ia berpikir bahwa mungkin Laura akan melahirkan keturunannya, paling lama 1 tahun. Jadi, ia meminta waktu pada Ana.
"Kamu tahu bahwa semua hal butuh waktu, kan Sayang. Apalagi ini adalah sebuah keputusan besar. Aku akan memikirkannya. Beri aku waktu, oke." Christian kini merapikan anak rambut Ana yang berantakan.
Sementara itu, Ana yang merasa waktu 10 tahun sudah cukup lama untuk berpikir tidak bisa mendapatkan keturunan, membuatnya ingin bertanya lebih jelas agar tahu kapan harus bersiap.
"Kamu butuh waktu berapa lama lagi, Sayang? Bahkan kita sudah 10 tahun menikah lho! Itu adalah sebuah waktu yang tidak sebentar karena sampai detik ini tidak ada tanda-tanda aku hamil benihmu meskipun kita bercinta setiap hari sekalipun." Ana bahkan sudah melakukan semua hal yang dikatakan oleh banyak orang agar bisa hamil.
Namun, sama sekali tidak ada hasil dan membuatnya terpuruk hingga sekarang. Jadi, ketika keinginannya untuk menyelamatkan rumah tangganya tidak mendapatkan apresiasi penuh dari sang suami, sehingga membuatnya merasa aneh sekaligus takut ada sesuatu yang disembunyikan.
"Berikan aku waktu satu tahun lagi, Sayang. Aku akan memikirkan itu selama 365 hari. Baru setelah itu, baru kamu bisa menyuruhku untuk itu." Christian yakin jika waktu 365 hari sudah cukup untuk membuat Laura melahirkan benih untuknya.
Ia akan melakukan apapun agar hubungannya dengan Laura tidak ada yang mengetahui. Meskipun menyadari bahwa semua hal yang ditutupi tidak akan pernah kekal.
Pasti suatu saat akan terbongkar, tapi berharap jika itu terjadi, ia bisa menyelesaikannya dengan membuat Ana dan Laura saling menerima satu sama lain sebagai istrinya.
To be continued...
__ADS_1