365 Days With You

365 Days With You
Pria yang sangat dibenci


__ADS_3

Christian benar-benar merasa sangat shock melihat wanita yang dianggap bule tak lain adalah Laura yang dengan kejam diceraikan begitu melahirkan dan diam-diam mengambil buah cinta mereka.


Ia yang berniat untuk mengambil foto wanita pemegang saham tertinggi di perusahaan, seketika mengurungkan niat dan tidak perduli dengan perintah Ana. Jujur saja saat ini ia merasa sangat berdosa melihat wajah wanita yang pernah menjadi istri sirinya dan dicintai sampai hari ini.


Meskipun antara mulut dan perbuatan tidaklah sinkron karena tidak bisa mengikuti kata hati karena tidak tega pada Ana yang menderita penyakit kronis. Ia bahkan sudah berkeringat dingin karena merasa firasatnya buruk begitu melihat Laura pertama kali.


'Bagaimana mungkin Laura bisa menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan Prameswari? Apa ia sudah merencanakan semua ini dari awal? Ataukah memang berencana untuk menghancurkanku dengan masuk ke perusahaan ini?'


Berbagai macam hal yang saat ini mengganggu pikiran Christian kala masih tidak mengalihkan pandangan dari sosok wanita yang tengah tersenyum sambil mengulurkan tangan pada pemilik perusahaan.


Ia bisa melihat jika ayah dan anak itu tidak langsung menyambut uluran tangan Laura ketika menyapa. "Apa yang mereka pikirkan sebenarnya? Bahkan membiarkan Laura terlalu lama menggantung tangan di udara."


Baru saja ia menutup mulut bibirnya, melihat Laura menurunkan tangan karena tidak ditanggapi oleh ayah dan anak itu.


Saat ini, Laura yang sudah menduga tidak akan mendapatkan respon baik dari paman dan sepupunya, memaklumi dan tidak mempermasalahkannya. Ia hanya tersenyum simpul dan melihat raut wajah dari sepupunya yang memerah karena marah padanya.


Bahkan sudah berbicara panjang lebar dengan mengomel seperti seorang wanita saat mengungkapkan nada protes padanya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya kau sangat santai setelah membuat semua orang menunggu. Bahkan kau terlambat hampir satu jam dengan alasan yang belum terbukti kejelasannya. Memangnya perusahaan apa yang mempercayaimu dengan menyerahkan tender besar?"


"Bahkan kau datang dengan langsung menghasut semua staf perusahaan untuk menyingkirkanku dari kursi kepemimpinan, lalu kau berharap aku menyapamu dengan senyuman?" sarkas Rendi Syaputra yang tidak peduli apakah wanita di hadapannya tersebut mengerti dengan umpatannya atau tidak.


Ia bahkan sudah tidak bisa menahan diri untuk meluapkan emosi pada wanita yang dianggap sangat arogan dan menyombongkan diri di depan semua orang di ruangan tersebut.


Hingga ia mendengar suara tawa dari wanita yang membuatnya ingin sekali menarik rambut berwarna keemasan itu agar berubah meringis kesakitan, tapi tidak mungkin melakukannya karena hanya akan mendapatkan kemurkaan dari sang ayah.


Bahkan saat ini merasakan injakan di kakinya dari sang ayah yang seolah ingin mengancam agar diam. Ia menoleh ke arah sang ayah yang mengarahkan tatapan tajam dan menariknya mundur ke belakang.


"Jaga sikapmu!" sarkas Rendi Syaputra yang tidak ingin semua orang melihat sikap kasar dari putranya karena hanya akan membuat semua orang tidak respect lagi pada CEO perusahaan.


"Senang bisa bertemu dengan Anda, Nona Anastasya. Tolong maafkan perbuatan putra saya yang masih belum bisa mengendalikan emosi karena masih sangat muda." Rendi Syaputra kini masih menunggu sambutan tangan dari wanita yang menurutnya sangat tidak asing itu.


Namun, ia berusaha mengingatnya dan tidak bisa mengetahui siapa. Hingga ia menelan saliva dengan kasar begitu mendengar suara bariton dari pria yang datang dengan wanita itu.


"Nona Anastasya tidak akan pernah mau mengotori tangannya untuk berjabat tangan dengan orang-orang yang tidak respect padanya. Baginya, itu sama saja seperti menyentuh kuman yang harus dijauhi." Mario baru saja mendengar bisikan dari Laura dan membuatnya langsung mengungkapkan pada ayah dan anak itu agar sadar diri.

__ADS_1


Tentu saja perkataan Mario membuat semua orang yang ada di ruangan meeting itu saling bersitatap, tapi hanya diam karena tidak berani menanggapi. Bahkan mereka tidak tahu harus mendukung siapa dalam hal ini.


Apalagi suasana penuh ketegangan kini tercipta di ruangan itu dan seolah hawa panas mulai menjalar di sekujur kulit mereka semua.


Hingga suara teriakan dari Andika Syaputra menggema memecah keheningan dan membuat semua orang menatap ke arah CEO perusahaan Prameswari Grup.


"Apa katamu? Siapa kau hingga berani menyamakan kami dengan kuman? Jika kau adalah pria, aku sudah menghabisimu. Sayangnya kau hanyalah seorang wanita lemah yang tidak bisa apa-apa di hadapan pria!" teriak Andika Syaputra yang tidak bisa tinggal diam kala sang ayah mendapatkan penghinaan di depan semua orang.


Sementara itu, Laura yang sebenarnya ingin sekali menampar wajah sepupunya karena menganggapnya lemah, kini berusaha menahan amarah dan berakting tersenyum simpul.


Ia pun mengalihkan perhatian dari sepupunya ke semua anggota meeting. "Apa orang seperti ini yang menjadi pilihan kalian untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan? Bukankah nasib perusahaan akan hancur dan kalian pun akan terseret pada banyak masalah?"


Setelah mengungkapkan apa yang ada di otaknya dan diterjemahkan oleh Mario, ia sekilas menatap ke arah sosok pria yang berada cukup jauh dari tempatnya dan tersenyum menyeringai.


Ia tersenyum penuh seringai kala melihat Christian dan membuatnya berpikir jika saat ini tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat wajah penuh kekhawatiran dari pria itu.


'Tunggu giliranmu, Christian! Akan kupastikan kau dan wanita itu hidup menderita hingga merasa hidup segan, mati pun tak mau,' gumam Laura yang kini masih bersitatap dengan pria yang sangat dibencinya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2