365 Days With You

365 Days With You
Mengganggu acara sakral


__ADS_3

Akhirnya dua wanita paruh baya yang saling berebut untuk menjadi pendamping Laura, akhirnya keinginan sang pengantin wanita dan berjalan keluar dari ruang tamu menuju ke halaman depan, di mana penghulu dan beberapa saksi sudah menunggu.


Sementara Christian yang saat ini mengikuti dari belakang sambil menggendong putranya, merasakan sesuatu yang membuatnya sesak di dada, tapi harus terus tersenyum dengan berakting jika ia baik-baik saja melihat mantan istri menikah.


'Apa Mama sama sekali tidak mengerti perasaanku yang terluka saat melihat mantan istri menikah? Seharusnya aku tidak datang dan melihat Laura menikah dengan Mario. Kuatkan aku, Tuhan. Meskipun aku tahu ini adalah karma dan merupakan hukum tabur tuai yang berlaku di dunia, tetap saja rasanya sangat sesak,' gumam Christian yang saat ini melihat siluet belakang mantan istri ketika berjalan semakin mendekat ke arah mempelai pria.


Ia bahkan saat ini bisa melihat Mario yang mengenakan setelan jas berwarna putih dan senada dengan yang dikenakan oleh Laura, sehingga terlihat sangat serasi dan membuatnya iri.


Apalagi dulu menikahi Laura sama sekali tidak ada acara seperti itu karena hanya melakukannya ketika berada di rumah sakit. Bahkan tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Melihat raut wajah Mario yang bahagia dan aura pengantin sangat jelas, ia mengakui jika pria itu sangat mencintai Laura dan yakin bisa membahagiakan mantan istrinya.


'Kamu harus bisa melewati hari ini, Christian karena akan sangat memalukan jika kamu tiba-tiba pergi,' gumamnya yang kini masih berusaha untuk kuat ketika melihat kebahagiaan Laura.


Ia pun menuju ke arah tempat duduk dan mendaratkan tubuhnya di sebelah sang ayah sambil memangku putranya. Hingga ia mendengar sang ayah yang seolah menyindirnya dan membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"Bagaimana perasaanmu melihat Laura menikah lagi? Apakah kamu kebesaran hati menerima kenyataan itu? Ataukah merasa sakit hati dan ingin menghancurkan acara hari ini?" lirih Laymar Raphael yang berbicara di dekat daun telinga putranya begitu menurunkan tubuh di sebelahnya.


Ia memang bertugas untuk memprovokasi putranya karena diperintahkan oleh sang istri. Meskipun sebenarnya ia juga melakukannya atas keinginan sendiri karena memang ingin acara itu berantakan begitu Christian membuka suara untuk mengatakan keberatan.


'Ayo, Christian. Kau harus menghentikan acara hari ini dan kembali pada Laura,' gumamnya sambil terus berusaha untuk membuat putranya kesal.


Christian sama sekali tidak menjawab perkataan sang ayah karena sibuk menatap ke arah Laura yang sudah semakin mendekati kursi. Memang pengantin wanita tidak bisa berjalan cepat karena memakai kebaya pengantin, jadi cukup lama proses berjalan mulai dari ruang tamu sampai ke depan.

__ADS_1


Laura yang saat ini sudah tiba di dekat kursi yang berada di sebelah Mario saat berdiri untuk menyambutnya, kini seketika tersenyum. Ia bahkan bisa melihat Mario yang tidak biasa.


Hingga ia pun kini mendaratkan tubuhnya dengan perlahan di kursi setelah dibantu oleh dua mertuanya. Hingga mendengar suara bisikan dari pria yang membuatnya sangat malu.


"Kamu terlihat sangat cantik dan membuatku pangling, Sayang." Mario yang tadi pertama kali melihat Laura keluar dari pintu bersama dengan sang ibu serta mantan mertua, seketika berkaca-kaca bola matanya.


Ia benar-benar merasa sangat terharu sekaligus bahagia karena impiannya untuk mendapatkan Laura tercapai. Bahwa sosok wanita yang selama ini diidamkan telah memberikan hatinya dan seluruh jiwa raga setelah menerima pinangannya.


Namun, berusaha untuk kuat agar tidak menangis seperti seorang pria lemah, sehingga berhasil melakukannya. Hingga rasa bahagia semakin sempurna begitu duduk berdampingan dengan Laura dan melakukan ijab qobul.


"Jangan gombal di sini," lirih Laura yang saat ini merasa malu jika didengar oleh penghulu yang berbicara dengan asistennya untuk memeriksa beberapa dokumen pernikahan.


Saat Mario ingin menanggapi, kini tidak jadi melakukannya karena mendengar suara bariton dari penghulu yang mengucapkan salam dan dijawabnya serta semua orang yang hadir dalam acara pernikahan sederhana tersebut.


Sang penghulu saat ini sudah mengucapkan salam dan memberikan sambutan sebelum memulai acara ijab qobul. Hingga ia menatap ke arah pasangan suami istri yang terlihat sangat bahagia di hari pernikahan itu.


"Apakah Anda sudah siap? Ataukah merasa gugup?"


"Sangat siap, Pak Penghulu karena sudah lama menantikan ini," sahut Mario dengan bersemangat dan mendapatkan respon dari para tamu yang hadir seketika tertawa melihat semangatnya.


Bahkan beberapa saudara menggoda dengan lentingan suara serta bertepuk tangan, tapi ia tidak merasa malu karena sangat bersemangat hari ini dan tidak sabar untuk mengucapkan kalimat pernikahan yang mengesahkannya sebagai seorang suami Laura.


Bahkan ia tadi sebenarnya merasa khawatir begitu melihat Christian yang tiba-tiba keluar dari pintu. Ia takut jika pria itu mengacaukan acara dan membuatnya gagal menikah dengan Laura.

__ADS_1


Jadi, ingin segera sah sebagai suami dari Laura agar Christian tidak bisa lagi mengganggu hubungan mereka.


Pria yang berusia sekitar 40 tahunan tersebut seketika tersenyum ketika melihat respon pengantin serta semua orang yang hadir. Ia bahkan mulai menjelaskan tentang perihal pernikahan secara singkat untuk memberikan ilmu bagi calon imam serta seorang istri.


"Kita mulai saja sekarang." Sang penghulu mengakhiri penjelasan dengan mengulurkan tangannya.


Mario menganggukkan kepala dan mulai menyambut tangan penghulu. Ia memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan perkataan dari penghulu.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Mario Permana bin Aldiansyah Permana dengan Laura Anastasya Prameswari binti Zayden Putra dengan mas kawin satu set emas seberat 50 gram dan uang tunai 100 juta dibayar tunai!" Sang penghulu seketika menekankan pada kalimat terakhir dan menggerakkan tangan pengantin pria agar segera menyambung tanpa jeda.


"Saya terima nikah dan kawinnya Laura Anastasya Prameswari binti ...." Mario tidak bisa melanjutkan perkataannya ketika dipotong oleh suara bariton dari seorang pria yang membuatnya merasa sangat marah dan menoleh ke arah belakang karena mengganggu acara sakral hari ini.


Tunggu!"


Bahkan semua orang juga menoleh ke arah sosok pria yang memotong kalimat qobul dari pengantin pria.


Bahkan Laura yang tadinya merasa deg-degan jika sampai terjadi kesalahan yang dilakukan oleh Mario ketika mengucapkan ijab qobul, seketika menoleh ke arah sumber suara dan membuatnya membulatkan mata atas pemandangan yang berada di hadapannya saat ini.


'Apa yang dilakukannya?' gumam Laura seketika bangkit berdiri dari posisinya dan menatap tajam sosok pria yang saat ini juga melakukan hal sama sepertinya.


Bahkan ia mengepalkan kedua tangan untuk menahan amarah yang memuncak di dalam hati.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2