
Christian sudah berada di Singapura. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Christian telah tiba di sebuah perusahaan yang cukup besar dari wanita yang menginginkannya untuk datang ke sana.
Ia yang saat ini berdiri menjulang di depan bangunan tinggi di hadapannya tersebut, kini mengancingkan jas yang melekat di tubuhnya dan mulai berjalan ke arah lobi.
Ia menuju ke arah resepsionis dan bertanya.
Begitu mengetahui ada di lantai lima, Christian kini masuk ke dalam lift dan menekan tombol pada bagian kiri dan melihat angka digital bergerak naik.
Tidak membutuhkan waktu lama untuknya menunggu karena saat ini bunyi denting lift sudah terdengar dan ia terlihat melangkah keluar dengan kaki panjangnya serta melihat ke arah kanan kiri untuk mencari di mana ruangan yang tadi ditunjukkan oleh resepsionis.
Begitu melihat ruangan yang dicarinya, ia langsung mengetuk pintu dan terlihat seorang wanita yang membuka pintu. Kebetulan ia datang bukan pada saat jam kerja, sehingga sudah tidak melihat para staf di sekitar ruangan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya wanita berseragam hitam dan terlihat mengerutkan kening melihat pria tampan di hadapannya datang saat bukan jam kerja
"Raisa, Marcella, aku ingin menemuinya karena dia yang menyuruhku datang ke sini," sahut Christian dengan wajah datar dan sarkastik.
Baru saja ia menutup mulut, mendengar suara dari dalam dan diketahuinya adalah suara dari seorang wanita yang ia yakini adalah Raisa.
"Masuklah!"
Wanita yang kini mengerti, kini memilih untuk berjalan keluar karena tidak ingin kehadirannya mengganggu. "Silakan, Tuan."
Christian yang saat ini melihat siluet wanita seragam putih tersebut berjalan keluar, kini memicingkan mata. "Kenapa dia langsung pergi?"
Berjalan masuk dalam ruangan yang cukup luas dan melihat sosok wanita yang sedang duduk di di depan laptop. Bahkan ia melihat wanita itu sama sekali tidak melihat ke arahnya saat menyuruhnya untuk duduk.
Ia pun akhirnya mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan tepat di hadapan wanita dengan jas berwarna putih tersebut. Kemudian memperkenalkan diri.
"Aku sangat berterima kasih karena telah mengirimkan undangan khusus untuk mengikuti acara di perusahaan ini. Tapi acara akan berlangsung satu minggu lagi, apakah ada yang harus saya lakukan saat disuruh datang lebih awal?" tanya Christian yang merasa sangat penasaran dengan tujuan ia disuruh datang cepat.
__ADS_1
Sosok wanita dengan rambut diikat ke atas bernama Laurent Blanc tersebut tadinya sedang memeriksa daftar klien yang berhasil ditangani olehnya. Mendengar pertanyaan dari pria yang tak lain adalah suami dari sahabatnya, kini hanya ditanggapi dengan terkekeh.
"Maaf, Tuan Christian karena mengganggu waktu Anda yang sangat berharga. Mengenai masalah itu, lebih baik Anda datang ke Rumah Sakit ini. Saya tidak bisa menjelaskan semuanya, tapi harus Anda lihat sendiri." Kemudian menunjukkan brosur yang baru ditaruh di atas meja.
Refleks Christian kini mengerutkan kening karena seperti tengah dipermainkan.
"Kenapa tidak langsung menjelaskan di sini karena aku sudah datang? Sebenarnya apa tujuanmu?"
Kini, Raisa yang terlihat tertawa, meski tidak selebar tawa dari pria di hadapannya yang telah salah paham dengan niatnya.
"Astaga! Anda harus melihat sendiri, Tuan Christian."
Christian merasa sangat kesal sekaligus karena merasa sangat aneh dan sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan wanita di hadapannya tersebut yang membuatnya merasa sangat pusing.
"Lebih baik sekarang jelaskan apa yang kau inginkan!"
Raisa yang ingin menguraikan kesalahpahaman antara mereka, kini membuka laci dan meraih bingkai foto berukuran sedang di dalamnya. Kemudian menyerahkan pada sosok pria di hadapannya.
Christian yang kini menunduk menatap ke arah bingkai foto di atas meja, di mana di sana terlihat seorang wanita yang sangat dikenalnya, sehingga membulatkan mata.
Ia memicingkan mata dan beralih menatap ke arah sosok wanita di hadapannya. "Bagaimana bisa kau mengenal istriku?"
Raisa kini menganggukkan kepala untuk membenarkan semua perkataan dari pria yang diketahuinya adalah suami dari Ana.
"Cari tahu semuanya di rumah sakit ini!"
Refleks Christian seketika langsung bangkit dari kursi dan memijat pelipis.
"Kau benar-benar membuatku sangat pusing. Aku tidak akan tinggal diam jika kau mengerjaiku!"
__ADS_1
Raisa yang saat ini masih terlihat sangat tenang dan sama sekali tidak takut jika sampai dituntut oleh pria yang diketahuinya adalah suami sahabatnya itu.
"Pergilah, Tuan Christian. Maaf, saya sangat sibuk."
Christian yang terlihat membulatkan kedua mata saat diusir. Bahkan di saat bersamaan, embusan napas kasar terdengar jelas yang mengungkapkan bahwa ia saat ini benar-benar sangat frustasi.
"Sebenarnya apa tujuanmu padaku."
Raisa yang kini terdiam karena ingin melihat reaksi dari sosok pria di hadapannya emosi.
"Maaf."
"Astaga. Baru kali ini aku bertemu dengan seorang wanita yang sangat menjengkelkan,' sarkas Christian yang benar-benar merasa sangat kesal.
"Maaf. Hanya saja, aku ingin mengatakan padamu bahwa kemungkinan besar kau akan berterima kasih padaku."
Raisa kini mencari sesuatu di laptop dan berniat untuk menunjukkan pada Christian.
Tidak tertarik dengan apapun yang dikatakan oleh wanita di hadapannya.
"Aku sama sekali tidak tertarik untuk penawaran apapun darimu. Anggap saja urusan di antara kita telah selesai."
Christian yang kini sudah kembali bangkit berdiri dari posisinya, memilih untuk melangkah menuju ke arah pintu keluar dan saat ia mengarahkan tangan untuk membuka kenop pintu, mendengar suara dari wanita tersebut.
"Anda akan menyesal jika tidak ke sana!"
Tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan kerja wanita tersebut dan mungkin akan memicu gosip miring, Christian memilih untuk segera pergi.
'Dasar wanita aneh!' ucap Christian yang kini sudah berjalan menuju ke arah lift yang membawanya turun ke loby.
__ADS_1
To be continued...