
"Sudah kubilang aku tinggal di sini saja sampai papamu mendapatkan bukti yang ingin ditunjukkan padaku," ucap Laura yang baru saja membuka pintu saat Mario datang ke rumahnya.
Padahal tadi ia akhirnya bersedia untuk menunda ke Jakarta satu bulan, tapi tidak menyetujui permintaan Mario yang ingin ia tinggal di sana. Namun, satu jam kemudian, pria itu malah sudah berdiri di hadapannya.
Sementara itu, Mario yang langsung melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam rumah, kini bertanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tidak memperdulikan apapun selain keselamatan gadis itu.
"Di mana kamarmu?" tanya Mario tanpa menatap ke arah Laura yang berada di belakangnya.
Sementara itu, Laura mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan sikap Mario yang tiba-tiba berubah datar dan diktator padanya. "Mario, kamu harus tahu batasan!"
Kini, Mario berbalik badan dan bisa melihat tatapan penuh kecurigaan dari sosok wanita yang berdiri di hadapannya tersebut. Ia tadi mendapatkan sebuah pesan penting dari sang ayah yang menyelidiki kecelakaan Laura saat baru kembali dari New York.
Ia kini langsung menyampaikan pada Laura agar mau mengerti bahwa tinggal sendiri sangat berbahaya. "Papaku baru mendapatkan laporan dari seorang detektif yang diperintahkan untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpamu di Jakarta, Laura."
__ADS_1
"Itu bukan kecelakaan, tapi percobaan pembunuhan. Ada seseorang yang membayar mahal supir truk besar untuk menabrak taksi yang kamu tumpangi. Apalagi saat itu kebetulan tas milikmu dicopet di Bandara. Bukankah itu sebuah kebetulan yang tidak masuk akal?"
Mario kini menjeda kalimat panjang lebarnya karena berpikir jika Laura mau berubah pikiran.
"Benarkah? Jadi, penjambretan dan kecelakaan yang kualami saling berkaitan dan direncanakan oleh seseorang? Siapa orang yang tega melakukannya padaku? Bahkan aku sama sekali tidak punya musuh dan baru tiba di Jakarta." Laura kini tengah memutar otak untuk mencari tahu siapa yang bisa dipastikan menjadi dalang dari kejadian nahas itu.
Hingga ia pun kini menatap ke arah Mario. "Siapa? Apa kamu sengaja menyembunyikan pelaku utamanya karena tidak mau aku sakit hati? Apa Christian yang melakukannya padaku? Apa dia sudah mengatur semuanya ini sejak awal?"
Laura bahkan mengepalkan tangannya karena merasa sangat marah ketika membayangkan jika pria yang ingin sekali ia tanya agar menjelaskan semua maksudnya membawa putranya dan diserahkan pada istrinya.
Di sisi lain, Mario yang sama sekali tidak berpikir jika suami Laura yang melakukannya, kini langsung menahan kedua sisi lengan wanita dengan wajah memerah itu.
"Tenanglah, Laura. Siapapun yang melakukan ini padamu, aku akan membantumu membalaskan dendam, tapi untuk saat ini, belum bisa dipastikan pelaku utamanya karena supir itu belum mengaku orang yang menyuruhnya." Ingin sekali ia menyebutkan yang dicurigainya adalah Rendi Saputra, yaitu paman Laura.
__ADS_1
Namun, ia tidak ingin semakin membuat Laura hancur mengetahui kenyataan tersebut. Bahwa saat ini wanita di hadapannya tersebut tidak punya keluarga yang bisa dipercaya atau pun mendukungnya.
'Laura bahkan sudah hidup menderita semenjak kecil hingga sekarang. Aku benar-benar tidak tega melihatnya. Apakah aku bisa menjadi obat yang menyembuhkan luka di hatinya?' gumam Mario yang kini hanya bisa menyimpan perasaannya di dalam hati.
Kini, ia yang masih fokus menatap ke arah Laura, kembali membujuk wanita itu. "Hidupmu dalam bahaya dan tidak boleh tinggal sendirian di sini. Percayalah padaku dan keluargaku karena kami akan membantumu untuk menyingkirkan orang-orang jahat itu."
"Jadi, berkemaslah sekarang dan bila perlu aku bantu karena kamu akan jauh lebih aman tinggal di rumah keluargaku. Setelah papaku menemukan bukti untuk menyerang musuhmu, kita langsung berangkat ke Jakarta. Kita harus bersatu karena kamu tidak akan mungkin bisa sendirian."
Mario kini melepaskan kuasa dari kedua sisi lengan Laura. " Bagaimana? Apa kamu berubah pikiran sekarang?"
Karena merasa sangat terharu dengan kebaikan Mario, refleks Laura langsung mengangukkan kepala. "Baiklah. Aku akan berkemas sekarang karena saat ini hanya mempercayai kalian."
"Syukurlah kalau begitu." Mario kini tersenyum lega dan melihat Laura berjalan masuk ke dalam untuk berkemas.
__ADS_1
'Semoga kebahagiaan kamu rasakan suatu saat nanti, Laura dan aku ingin bisa menjadi bagian dari itu,' gumam Mario yang saat ini terus memikirkan sosok wanita yang berhasil menyentuh kalbu.
To be continued...