365 Days With You

365 Days With You
Kebingungan


__ADS_3

Pagi hari, Laura yang baru saja terbangun dengan kondisi tubuhnya yang remuk redam, kini membuka mata dan mengerjapkan mata begitu melihat apa yang diulurkan oleh Mario padanya.


Mario yang dari tadi sudah bangun dan tidak berhenti memuaskan indra penglihatannya dengan menatap wajah sang istri yang telah menjadi miliknya seutuhnya, kini memberikan kotak kado di tangannya pada wanita yang terlihat berbinar tersebut.


"Surprise. Bukalah!"


Untuk beberapa saat Laura terkejut karena baru bangun tidur sudah mendapatkan sebuah kejutan. Ia terlihat sangat senang mendapatkan sebuah hadiah.


"Ini apa?"


Tidak sabar untuk segera mengetahui isinya, kini ia langsung membukanya karena Mario seolah tidak ingin memberitahunya agar melihatnya sendiri.


Begitu membuka kotak dan melihat di dalamnya ada sebuah gelang kaki dengan kilauan yang menyilaukan mata.


Wajahnya semakin berbinar begitu melihat gelang kaki yang menurutnya sangat indah tersebut.


Sementara itu, Mario yang dari tadi tidak berkedip menatap sang istri, kini mengambil gelang kaki yang ada di dalam kotak tersebut dan menunjukkannya tepat di hadapan mata wanita dengan sudut bibir melengkung itu.


"Sebenarnya aku ingin membeli kalung atau cincin, tapi berpikir kamu sudah punya. Jadi, aku ingin membeli sesuatu yang belum kamu milikilah dan inilah pilihanku. Kamu akan selalu mengingatku setiap melangkahkan kaki."


Mario tidak memesan berlian karena ingin membelikan sesuai dengan kemampuannya. Karena itulah, ia membeli gelang kaki itu.


"Apa kamu suka?" Kemudian memakaikan di kaki putih Laura yang terlihat makin cantik.


"Tentu saja aku sangat suka karena ini cantik sekali."


"Jangan pernah melepaskan ini karena aku menganggap ini adalah hal yang spesial untukmu. Ini akan selalu bersamamu."


Laura yang saat ini merasa sangat terharu karena bingung harus berkomentar apa.


Ia saat ini tengah mengamati gelang kaki dari Mario. Merasa semakin terlihat cantik saat memakai pemberian dari pria yang duduk di tepi ranjang tersebut, ia kini mendaratkan tubuhnya di sebelah tubuh penuh dengan otot perut tersebut.

__ADS_1


"Aku pasti akan selalu memakainya. Terima kasih, Suamiku," bisik Laura yang saat ini tengah mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga sang suami.


Tidak hanya itu saja karena saat ini ia beralih mencium pipi dengan rahang tegas tersebut, tetapi nahas, saat ia melakukannya, di saat bersamaan malah Mario menoleh ke arahnya. Tentu saja yang terjadi adalah bibir mereka saling menempel dan merasakan getaran masing-masing.


Tanpa membuang waktu, Mario yang sudah tersenyum smirk, tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menyesap habis bibir sensual yang menjadi candunya.


Pipi Laura seketika terasa seperti terbakar saat merasakan bibir tebal suami membuat urat syaraf menegang.


Ia yang ingin menyelamatkan diri dari kekuasaan sang suami, kini mengarahkan tangan untuk mendorong dada bidang kuat pria yang mengungkung posisinya hingga tidak berkutik. Namun, tenaganya yang tentu saja tidak sebanding dengan Leo, sama sekali tidak bisa berhasil untuk melepaskan diri.


Mungkin ia akan meliuk-liuk seperti cacing kepanasan dan tidak bisa menolak setiap sentuhan dari jemari dengan buku-buku kuat itu.


Mario yang terpaksa melepaskan pagutannya dan menatap intens wajah cantik yang sangat dipujanya tersebut.


"Kenapa? Tidak mau nambah di pagi hari?"


Mengarahkan tangannya untuk membaringkan dengan lembut tubuh seksi sang istri agar berbaring telentang di atas ranjang dan berbaring di sebelahnya.


Sementara itu, Laura tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Mario terasa sungguh nikmat. Sebuah kenikmatan murni yang seolah membuat jantungnya berhenti berdetak saat itu juga.


Wajah Serena semakin berubah memerah begitu mendengar kalimat bernada ejekan dari Mario.


"Kita harus bekerja, Mario. Nanti terlambat. Aku pun juga capek."


Mario kini melingkarkan tangan pada perut datar Laura, seolah ingin menunjukkan kekuasaannya. "Aku sudah halal mau ngapain aja."


Kemudian ia mengusap lembut wajah yang mulai berangsur kembali seperti semula karena sudah tidak semerah tadi.


Hal berbeda kini tengah dirasakan oleh Mario saat ini karena merasa sangat malu pada sosok pria yang baru saja mengungkapkan sejuah kebenaran.


'Rasanya aku ingin segera pergi dari sini dan tidak mau melihat wajahnya,' umpatnya di dalam hati.

__ADS_1


Hingga suara dari sosok pria yang makin mengeratkan pelukan, kini membuat kulitnya lagi-lagi meremang seketika.


Mario yang dari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari pahatan sempurna yang sangat dipujanya tersebut, kini tersenyum smirk saat menyadari bahwa Laura saat ini tengah malu padanya.


"Aku sangat suka melihatmu malu seperti ini." Beralih mengedipkan mata dan bisa melihat raut wajah sang istri kembali merona dan diketahuinya merasa malu.


Ia semakin merasa sangat senang melihat sikap menggemaskan dari sosok wanita yang berniat untuk memalingkan wajah dan menghindarinya.


Laura yang tadinya mengerti dengan arti dari kalimat bernada vulgar dari Mario, berniat untuk segera kabur dari atas ranjang dan berlari ke arah kamar mandi.


Setelah memalingkan wajah, ia bangkit dari posisi yang awalnya berbaring di atas ranjang dan berniat untuk turun.


"Aku mau mandi."


"Aku mau mandi bersama."


Laura lagi-lagi menelan kasar salivanya saat mendengar pertanyaan yang malah membuat otaknya traveling ke mana-mana.


"Astaga! Mandi sendiri-sendiri," sahut Laura yang kali ini berbicara tanpa menatap netra tajam yang selalu dianggap sanggup menenggelamkan dirinya.


Baru saja ia menutup mulut, Laura mendengar suara dari sosok pria yang semakin membuatnya seperti tidak mempunyai muka lagi.


"Istri harus patuh pada suami, oke!"


Mario memanfaatkan waktu dengan bermesraan bersama sang istri dengan sebaik-baiknya. "Aku tidak ingin menyia-nyiakan momen kebersamaan kita."


Sementara itu, Laura kini memilih untuk pasrah atas apapun yang dilakukan oleh Mario. "Percuma aku menolak karena kamu tidak akan berhenti."


Awalnya, Mario hanya terkekeh geli mendengar Laura mengungkapkan nada protesnya. Namun, saat ia memikirkan sesuatu hal, kini memilih untuk mengungkapkannya.


"Kamu bisa melakukan apapun padaku sekarang karena aku pasrah."

__ADS_1


Laura yang sama sekali tidak berpikir akan hal itu, kini mengerjapkan mata dan kebingungan untuk menjawab pertanyaan pria yang sudah menurunkannya di dalam kamar mandi.


To be continued...


__ADS_2