365 Days With You

365 Days With You
Sesuatu yang buruk


__ADS_3

"Cleopatra!" teriak Andika Syaputra yang saat ini sangat keras menggema di halaman rumah yang sudah disulap menjadi area pernikahan yang penuh dengan bunga-bunga segar.


Bahkan saat ini ia tidak sabar ingin mengungkap jati diri wanita yang ternyata adalah sepupunya sendiri. Berpikir jika sang ayah akan sangat terkejut begitu mengetahui kenyataan itu dan tidak akan pernah membela lagi wanita yang menyamar sebagai seorang warga asing hanya demi bisa berinvestasi serta merebutnya.


Sampai ia berpikir jika akan kehilangan segalanya jika sampai itu terjadi karena memang pada kenyataannya adalah sepupunya tersebut yang mewarisi semua aset yang dimiliki saat ini.


'Aku akan kehilangan semuanya jika sampai Laura merebut perusahaan serta rumah dan yang lain. Tidak, aku tidak akan membiarkannya karena jika sampai itu terjadi, kami benar-benar akan jadi gelandangan. Pasti Cleopatra akan semakin tidak respect padaku,' gumam Andika yang kembali berteriak memanggil nama wanita yang disukai.


Christian masih menahan lengan kekar Andika, merasa sangat marah karena perbuatan pria yang pernah menjadi sahabatnya tersebut mengacaukan acara hari ini. Refleks ia melepaskan kuasa dan langsung mengarahkan tinju pada wajah Andika.


"Sudah ku bilang berhenti berteriak, berengsek!" sarkas Christian yang saat ini sudah berhasil membuat sudut bibir pria di hadapannya robek. "Atau aku akan menghabisimu di tempat ini!"


Saat Andika mengusap bibirnya yang berdarah dengan ibu jari, ia hanya tertawa terbahak-bahak dan sama sekali tidak merasa takut. "Aku sama sekali tidak ada urusan denganmu, bangsat!"


Semua orang yang hadir saat ini ricuh melihat pertikaian antara dua pria itu dan penghulu pun saat ini berbicara dengan pengantin wanita karena satu setengah jam lagi juga akan menikahkan orang di tempat lain.


"Nona, apa tidak bisa membereskan masalah ini dulu. Saya juga harus pergi setelah dari sini." Sang penghulu yang baru pertama kali menikahkan orang yang pernikahannya dikacaukan, sebenarnya merasa sangat iba dan bersalah jika sampai gagal menikah.


Namun, sudah memiliki jadwal dan tidak mungkin untuk menunda karena sudah ditunggu.


Laura yang saat ini merasa bingung memutuskan, memilih memanggil Mario yang tengah berbicara di telepon. "Sebentar, Pak. Saya akan berbicara dengan calon suami dulu."


Ingin sekali Laura juga ikut andil memberikan pelajaran pada sepupunya yang dianggap sangat tidak punya etika. Namun, ia tidak mungkin melakukannya saat ditunggu oleh penghulu dan akhirnya berjalan mendekati Mario.


"Kamu telepon siapa?"

__ADS_1


"Polisi. Aku sudah melaporkan semua kejahatan ayah dan anak itu agar mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Setelah bajingan itu mengetahui jati dirimu, aku yakin jika pamanmu tidak akan diam saja dan akan berusaha untuk menyakitimu." Mario ini sudah mengakhiri sambungan telepon setelah melaporkan semuanya.


"Jadi, semuanya harus dilaporkan dan sebentar lagi polisi datang untuk menangkap sepupumu." Ia saat ini menatap ke arah Laura yang terlihat kecewa dan marah. "Tenanglah karena acaranya akan dilanjutkan setelah polisi menangkapnya."


"Masalahnya, penghulu harus menikahkan pasangan lain sebentar lagi," sahut Laura yang saat ini ingin Mario mencari jalan keluar karena sepupunya tidak bisa dikendalikan dan semakin berbuat gila.


Bahkan saat ini melihat jika Christian tengah meluapkan kekesalan pada sepupunya, sedangkan para pengawal sekarang sudah berhasil membeku Andika. "Bawa dia keluar dari sini! Jangan sampai masuk lagi ke dalam karena aku akan memecat kalian semua!"


Laura benar-benar sangat marah karena para bodyguard tidak sigap membereskan sepupunya.


"Lepaskan aku! Apa kalian tidak tahu aku siapa? Aku akan menghabisi kalian semua jika tidak melepaskanku." Andika yang saat ini merasa sangat marah karena tidak bisa berkutik dan diseret keluar.


Ia bahkan belum berhasil menemui Cleopatra karena meskipun berteriak seperti orang gila, tetap tidak bisa bertemu. Berpikir jika sepupunya saat ini tengah menyembunyikannya, sehingga tidak keluar.


"Laura, aku akan menuntut balas karena menyembunyikan Cleopatra dariku!" teriak Andika yang masih berusaha untuk melepaskan diri dari dua bodyguard berbadan gempal yang jauh lebih besar darinya.


Ia menatap penuh kemurkaan pada orang-orang yang sangat dibencinya dan ingin menghubungi sang ayah untuk mengatakan apa yang dilihat dan didengar di rumah wanita yang ternyata tak lain adalah sepupunya sendiri.


'Aku memang tidak berhasil bertemu dengan Cleopatra, tapi berhasil mengetahui siapa sebenarnya Anastasya. Bahwa dia sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari dan pasti berniat untuk merebut semuanya,' sarkas Andika ketika tubuhnya dihempaskan begitu berada di luar pintu gerbang.


Bahkan saat ini merasakan nyeri pada tubuhnya karena perbuatan kasar karena bodyguard yang berjaga di depan pintu dan menghalanginya untuk masuk.


Andika yang tidak ingin membuang waktu untuk meladeni dua pria berbadan gempal yang tidak mungkin bisa dilawannya, kini meraih ponsel miliknya di saku celana karena ingin menghubungi sang ayah.


"Papa harus tahu tentang semua ini dan pastinya akan syok mendengarnya." Saat ia harus saja berniat untuk membuka daftar panggilan, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara mobil datang dan terparkir di belakang ia berdiri saat ini.

__ADS_1


"Anda adalah Tuan Andika Saputra?" tanya seorang pria berseragam coklat yang kini menghampiri pria di hadapannya.


Saat Andika mengerutkan kening sambil menganggukkan kepala untuk membenarkan, ia semakin bertambah kesal dan murka begitu mendengar perkataan dari polisi.


"Anda kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan nona Anastasya. Silakan ikut kami ke kantor polisi dan jelaskan di sana semuanya tanpa terkecuali." Kemudian langsung memborgol tangan pria yang tengah membawa ponsel tersebut.


"Anda bisa menghubungi pengacara untuk membela." Sang polisi kini meraih lengan yang sudah di borgolnya dan mengajak ke mobil.


Tidak ingin salah berbicara dan menimbulkan masalah, Andika menuruti perintah polisi karena tidak ingin memberatkan hukumannya. Begitu ia masuk ke dalam mobil polisi, meminta izin untuk menghubungi pengacara.


Begitu diizinkan, ia yang dari tadi memegang ponsel di tangan, memilih untuk menghubungi saya agar membawakan pengacara ke kantor polisi.


Saat panggilan tersambung, kini langsung mengungkapkan apa yang diinginkan. "Pa, tolong bahwa pengacara ke kantor polisi karena aku mengalami masalah dan juga ada hal besar yang ingin kukatakan."


"Apa maksudmu membawa pengacara ke kantor polisi? Memangnya saat ini kau berada di sana? Masalah apa lagi yang kau buat kali ini, Andika?" Rendi Syaputra saat ini merasa sangat marah dan kepalanya pusing.


Hingga ia yang terbawa amarah, karena berpikir jika putranya membuat masalah lagi, kini bangkit berdiri dan berniat untuk keluar. Namun, tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak dan menimbulkan rasa nyeri luar biasa.


"Aaarhh ...."


Ia memegangi dadanya dan saat ini meringis menahan rasa sakit luar biasa, hingga ia seketika terjatuh di lantai dingin ruangan kamarnya.


"Pa ... apa yang terjadi?" seru Andika yang merasa sangat khawatir pada keadaan sang ayah karena terdengar lirih seperti kesakitan. "Paaa!"


Ia terus berteriak untuk memanggil, tapi tak kunjung menjawab dan merasa yakin jika telah terjadi sesuatu hal buruk pada papanya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2