
Embusan napas lega kini tengah dirasakan oleh pria yang masih duduk di di kursi tunggu. Pria yang tak lain adalah Christian, kini masih menatap ponsel di tangannya. Bahkan saat beberapa saat lalu berbicara dengan sang istri, membuatnya merasa seperti kesulitan bernapas.
Apalagi berpikir jika Ana adalah seorang wanita hebat yang tahu segalanya dan membuatnya sangat takut jika sampai sang istri tahu jika ia saat ini tengah bersama wanita lain.
"Aaahh ... rasanya sangat lega sekarang. Aku seperti baru saja keluar dari ruangan yang menyesakkan. Semoga semuanya berjalan dengan mudah seperti keputusan Ana hari ini yang langsung setuju tanpa merasa curiga."
Christian masih bisa merasakan degup jantungnya berdetak kencang seperti mau meledak saat berbicara dengan sang istri.
Ia bahkan tadi sangat berhati-hati saat menjawab demi membuat Ana percaya sepenuhnya padanya. "Rasanya aku tidak bisa menyuruh Vicky menghandle semuanya di New York karena Ana akan makin curiga."
Christian kini mencari sebuah ide di kepala dan membuatnya berpikir hal lain yang mungkin akan membuatnya keluar dari masalah. "Aku harus berbicara dengan papa."
"Sepertinya aku harus menyuruh Vicky untuk membawa papa ke sini besok. Sebelum aku membawa Laura ke Bandung. Papa pasti tidak akan merasa keberatan untuk membantuku setelah aku menceritakan semuanya." Christian kini merasa sangat yakin dengan keputusannya untuk melibatkan sang ayah.
__ADS_1
Ia kini bisa melihat seorang perawat berseragam putih yang baru saja keluar dari kantor dan berjalan menuju ke arah ruangan Laura. "Apa terjadi sesuatu pada Laura?"
Karena merasa sangat khawatir pada keadaan istri sirinya, kini Christian buru-buru bangkit berdiri dari kursi dan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruangan perawatan.
Saat ia masuk, melihat perawat tengah memeriksa selang infus dan juga menyuntikkan obat. Bahkan ia seketika bernapas lega kala melihat sosok wanita yang dikhawatirkan ternyata tengah tertidur pulas.
"Syukurlah," lirihnya yang kini berjalan masuk dan menghampiri perawat yang baru saja selesai melakukan tugasnya.
"Tidak ada yang salah, kan Suster? Maksud saya, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari keadaan istriku sekarang, bukan?" Christian masih berdiri di sebelah kiri perawat yang seketika menoleh ke arahnya begitu menuliskan sesuatu pada laporan yang dibawanya.
"Semuanya baik dan saya hanya menyuntikkan obat sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh dokter. Pasien pun kini tengah beristirahat dan itu jauh lebih baik untuk masa pemulihan. Saya permisi," ucap wanita berseragam putih yang kini berlalu pergi begitu melihat pria itu mengangukkan kepala.
Sementara itu, Christian yang kini melihat siluet belakang perawat mulai menghilang di balik pintu, kini beralih menatap ke arah sang istri yang tengah memejamkan mata dan suara napas teratur terdengar.
__ADS_1
"Tidurlah yang nyenyak agar bisa segera pulih dan kita tinggal bersama di rumah baru yang ada di Bandung." Christian kini mengusap lembut pipi putih wanita dengan kelopak mata tertutup itu.
Kemudian ia sedikit membungkuk dan mengecup lembut kening yang terbalut perban itu. Hingga ia pun kembali berdiri tegak dan berniat untuk membersihkan diri agar tubuhnya jauh lebih segar dan berpikir akan beristirahat setelah itu.
Namun, saat ia berbalik badan, merasakan pergelangan tangannya digenggam erat oleh wanita yang ternyata sudah terbangun dan tengah menatapnya.
"Tunggu!" Laura yang tadi sempat sekejap tertidur, terbangun karena mendengar suara bariton dari pria yang ada di hadapannya berbicara dengan perawat.
Apalagi begitu ia merasakan sebuah kecupan lembut di keningnya, membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati. Jadi, ia ingin sekali mencari tahu jawabannya.
"Aku pikir kamu tidur, Sayang." Christian kini berbalik badan dan ingin tahu apa yang diinginkan oleh Laura saat menahannya. "Aku ingin pergi mandi. Apa ada yang kamu butuhkan?"
Laura hanya menggeleng lemah karena bukan sesuatu yang diinginkannya, tapi ia berharap mendapatkan sebuah jawaban. "Apakah kita menikah atas dasar saling mencintai? Kenapa saat kamu menciumku tadi, tidak mengatakan mencintaiku?"
__ADS_1
"Apakah kamu mencintaiku, Christian?" Laura kini mencari jawaban atas pertanyaannya dari iris tajam berkilat milik pria yang membuatnya dikelilingi oleh keraguan.
To be continued...