
"Beberapa saat lalu, Ana yang makan disuapi oleh sang suami, menyembunyikan rasa sakit luar biasa pada perutnya. Hingga begitu melihat pria dengan bahu lebar tersebut pergi dari hadapannya untuk membuang sampah, kini seketika meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang datar.
'Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini? Rasanya aku sudah tidak kuat lagi menahannya dan berpura-pura baik-baik saja di depan suami. Jika memang hari ini menjadi hari terakhirku hidup di dunia, aku ingin melihat putraku yang sangat kusayangi,' gumam Ana yang saat ini sudah berkeringat membasahi tubuhnya karena kesakitan.
Ia sangat khawatir jika melihat sang suami mengetahui apa yang dirasakan saat ini karena tidak ingin dikasihani karena membuatnya terlihat seperti sangat menyedihkan.
Apalagi selama ini ia selalu menjadi wanita independen dengan berhasil membuat banyak wanita iri padanya karena kehebatannya menjadi seorang suami pebisnis hebat sekaligus menjadi wanita karir.
Jadi, seolah sudah terbiasa dengan pemikiran itu dan rasa kasihan dari semua orang malah membuatnya seperti wanita tidak berguna. Bahkan ia tahu jika ada banyak orang yang berkomentar miring padanya karena tidak bisa memberikan keturunan pada sang suami, jadi kali ini tidak ingin semakin terlihat menyedihkan ketika kesakitan.
Paling tidak, berharap sang suami tidak memperlihatkan belas kasihan karena penyakitnya yang selama ini diderita dan membuatnya harus selalu mengkonsumsi obat setiap hari. Padahal sebenarnya dari dulu tidak pernah menyukai mengkonsumsi obat-obatan.
"Tahan, Ana! Rasa sakit ini pasti akan seperti biasanya dengan perlahan menghilang." Ia yang mencoba untuk menghibur diri sendiri agar tidak putus asa dalam menghadapi penyakit yang semakin menggerogoti dirinya dengan menyiksa perlahan-lahan, mencoba untuk mengambil napas teratur.
__ADS_1
Berharap jika dengan melakukan itu akan membuatnya kembali baik dan rasa sakit berkurang, selalu lama-lama menghilang. Saat ia melakukan itu, mendengar suara dari sang suami yang tengah berbicara di luar.
"Suamiku tengah berbicara dengan siapa? Apa ia berbicara dengan Mama? Jika benar, aku ingin ia mengatakan pada mama agar membawa putraku ke sini karena khawatir tidak bisa melihatnya lagi untuk selamanya." Ana bahkan saat ini menahan kesakitan sambil memasang indra pendengaran agar bisa mendengarkan pembicaraan dari sang suami.
Namun, tidak begitu jelas dan membuatnya kini hanya bisa menebak-nebak apa yang tengah dilakukan oleh sang suami di depan ruangan perawatan. "Lebih baik menunggu suamiku saja dan memintanya untuk memberitahuku dengan siapa berbicara di telepon."
Ana yang saat ini perlahan merasakan rasa sakit di perutnya sudah sedikit berkurang, di saat bersamaan melihat pintu yang terbuka dan langkah kaki panjang sang suami mulai mengikis jarak di antara mereka.
Sementara itu, Christian yang dari tadi merasa khawatir sekaligus bingung dengan apa yang akan dilakukan Laura karena sang ibu tidak tahu dan tidak ingin bertanya, semakin tertekan mendapat pertanyaan dari sang istri.
Ia yang saat ini sudah berada di hadapan wanita dengan wajah pucat tersebut, memilih untuk mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sebelah sang istri yang tengah berbaring.
"Mama tadi menelpon dan memberitahu tentang Valerio." Ia sengaja menggantung perkataannya karena merasa bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan tentang keberadaan Laura yang semalam bersama dengan putranya.
__ADS_1
"Apa putraku rewel dan tantrum seperti biasanya? Pasti mama sangat kebingungan. Kebetulan aku ingin mengatakan sesuatu agar membawa putra kita ke sini. Aku benar-benar sangat merindukannya meskipun baru beberapa hari tidak melihatnya. Apa mama bisa membawa Valerio ke sini?"
Ana yang saat ini menatap penuh permohonan pada sang suami yang duduk di sebelahnya, mengerutkan kening karena tidak langsung ditanggapi. Namun, ia merasakan genggaman erat pada telapak tangannya ketika pria yang sangat dicintainya itu mengusap lembut punggung tangannya.
Christian yang saat ini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya sebelum berbicara dengan sang istri agar tidak merasa shock atas apa yang akan disampaikan olehnya.
"Sayang, apapun yang terjadi, aku ingin kamu fokus pada pengobatan agar segera sembuh demi aku dan juga putra kita. Sebenarnya ...."
Ana yang saat ini merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi karena melihat sang suami seperti tengah menyembunyikan sesuatu dan sangat berhati-hati ketika menjelaskan padanya. Ia saat ini hanya diam dan memasang telinga lebar-lebar agar bisa mengetahui dengan jelas apa yang akan disampaikan oleh pria dengan wajah pucat tersebut.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Aku harus menyiapkan hati untuk kemungkinan paling buruk,' gumam Ana yang saat ini hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati dan mendengarkan penjelasan dari pria yang tengah menatapnya dengan tatapan sangat teduh.
To be continued...
__ADS_1