
Ana dan sang pelayan sudah tiba di bandara setelah melakukan perjalanan selama satu jam ke Singapura.
Begitu pesawat mendarat di bandara, para penumpang yang turun langsung berjalan menuju ke arah terminal kedatangan setelah sebelumnya mengambil koper masing-masing.
Ana yang tidak membawa apapun selain tas jinjing, kini menunggu pelayan mengambil koper. Hingga beberapa saat kemudian mereka berjalan menuju terminal kedatangan dan sudah ada mobil yang menjemput karena tadi ada orang yang membawa papan nama dengan tulisan Ana Maria.
Itu adalah orang suruhan dari teman baik Ana Maria yang disuruh untuk mengantarkan ke apartemen yang akan ditempati.
"Silakan, Nona," ucap pria yang baru saja menurunkan papan nama yang tadi diangkat untuk mencari wanita yang merupakan teman dari bosnya.
"Terima kasih." Ana langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan pelayan.
Ia mengetahui jika sahabatnya saat ini tengah melakukan perjalanan bisnis ke Jepang. Itulah mengapa ia bisa dengan mudahnya mengelabui orang-orang dengan boneka tiruan yang sama persis dengan dirinya.
Kini, mobil sudah bergerak meninggalkan bandara menuju ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal mereka.
"Apa apartemennya jauh dari sini?" Ana hanya mengetahui jika apartemen yang ditempati itu berada dekat dengan rumah sakit, sehingga akan mudah jika pelayannya ingin pulang.
"Jauh, Nona. Masih sekitar satu jam dari sini," ucap pria dibalik kemudi yang kini menatap sekilas pada spion.
"Oh ... baiklah kalau begitu." Ana sekarang menoleh ke arah pelayan yang saat ini fokus menatap jalanan.
Ana berencana untuk beristirahat selama 1 hari di apartemen karena ingin menenangkan pikiran setelah banyaknya beban berat yang ada di pundaknya.
Hingga ia pun kini lupa jika belum bertanya pada pelayannya. "Bik, apa nanti saat menemaniku di rumah sakit ketika dirawat, mau pulang pergi atau beberapa hari sekali baru pulang?"
__ADS_1
Ana sudah memikirkan bagaimana kendaraan pelayannya tersebut dan akan memperkerjakan orang untuk mengantarkan pergi ke mana pun.
"Tidak, Nona. Saya mau tetap berada di dekat Anda di rumah sakit dan tidak mau pulang pergi ke apartemen. Membayangkannya saja membuat ia merinding karena takut jika ada orang jahat yang menerobos masuk dan melakukan kejahatan padanya.
Ana yang tadinya memang berpikir membutuhkan tempat tinggal selama berada di sana, kini mengurutkan kening karena berpikir jika apartemen itu akan kosong.
"Berarti apartemen tidak ada yang menempati. Memangnya Bibik bisa tidur di rumah sakit? Sesekali mungkin Bibik harus pulang agar bisa beristirahat dengan tenang. Biar nanti aku suruh orang untuk menggantikan karena temanku di sini punya banyak pelayan yang bisa diandalkan." Ana tiba-tiba merasa dari luar biasa pada bagian bawah tubuhnya.
Ia seketika memegangi perutnya dan merimis kesakitan. "Aaarh ... kenapa sakit sekali?"
Sang pelayan yang tadinya melihat kendaraan-kendaraan mewah di depan, seketika menoleh ke arah majikannya yang meringis menahan rasa nyeri di perut. "Nona, Anda tidak apa-apa? Sepertinya penyakit Anda kambuh. Lebih baik segera pergi ke rumah sakit saja. Tidak perlu ke apartemen."
Kemudian menatap ke arah sang sopir dan mengatakan untuk membawa pergi ke rumah sakit. Ia bahkan tidak berbicara bahasa asing karena memang tidak bisa.
Namun, ia merasa sangat lega begitu pria tersebut menjawab dengan bahasa yang sama.
"Rumah Sakit yang paling dekat saja karena Nona harus segera ditangani." Sang pelayan berani mengambil keputusan karena berpikir jika terlambat, akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada majikan.
Namun, Ana yang merasa masih bisa menahan rasa sakit itu, menggeleng perlahan untuk tidak mengiyakan apa yang dikhawatirkan oleh wanita di sebelahnya tersebut.
"Aku ingin langsung ditangani oleh ahlinya, agar bisa sembuh, Bik. Jadi, tidak ingin pergi ke rumah sakit terdekat yang belum tentu lengkap peralatannya." Ia bahkan saat ini mencoba tersenyum dan menyembunyikan rasa sakit luar biasa yang menyerangnya.
Ingin sekali ia memeluk karena merasa iba pada majikannya. Namun, tidak berani melakukannya. "Baiklah, Nona. Itu memang jauh lebih baik jika anda bisa menahan rasa sakit yang dirasakan."
"Bisa. Tenanglah. Biar aku yang mengarahkannya untuk tidak membuatku tersiksa." Ana Maria kini menyandarkan tubuhnya pada jok mobil di kursi belakang dan memejamkan mata.
__ADS_1
Berharap dengan mengambil napas teratur akan membuatnya merasa sedikit berkurang sakitnya. Hingga ia pun merasa jika beberapa saat kemudian sedikit berkurang sakitnya.
"Syukurlah sudah sedikit berkurang dan membuatku tidak terlalu kesakitan seperti beberapa saat lalu." Ana yang saat ini memegangi perutnya, masih memejamkan kedua mata.
Sementara wanita yang duduk di sebelahnya merasa sangat iba dan dari tadi tidak bergerak serta tidak mengalihkan pandangannya dari sang majikan.
Ia khawatir jika sang majikan tiba-tiba tidak bernapas, tentu saja benar-benar akan kebingungan karena berada di negeri orang. "Syukurlah, Nona. Semoga semuanya semakin membaik."
Sementara sang supir yang saat ini menambah kecepatan agar segera sampai, tapi masih tidak mengurangi kenyamanan penumpang di belakangnya.
"Jika merasa tidak nyaman, tolong katakan saja," ucap pria dengan tubuh kurus tinggi yang fokus menatap ke arah depan.
Sang pelayan tadinya tidak ingin memberitahu, tapi merasa jika akan membuat majikannya tidak tenang. "Iya, pasti itu karena membawa penumpang yang sedang sakit harus memperhatikan segalanya. Jika sampai membuat nona tidak nyaman, pasti akan dimarahi bosmu, kan?"
Ana yang dari tadi tidak bergerak karena masih berusaha untuk menenangkan perutnya, kini malah berpikir jika ia mungkin bisa saja mati dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
"Bik, maafkan aku jika melakukan kesalahan. Aku tidak tahu namaku akan sampai di mana, tapi tetap harus meminta maaf pada orang terdekatku dan itu adalah Bibik." Ana bahkan saat ini mengulurkan tangan agar disambut oleh pelayannya.
Sang pelayan tadinya tidak ingin melakukannya karena merasa tidak pantas. Apalagi berpikir jika perkataan majikannya seolah menunjukkan akan pergi dari dunia.
"Nona tidak boleh berbicara hal yang buruk karena itu adalah doa. Penuhi pikiran dengan hal-hal positif dan keyakinan." Saat wanita itu menjabat tangan bosnya yang berkeringat, sehingga membuatnya khawatir.
"Nona, Anda berkeringat berlebihan. Bertahanlah, Nona karena sebentar lagi akan tiba di Rumah Sakit." Ia makin dibuat ketakutan ketika tidak melihat bosnya tidak bergerak.
Ia bahkan sudah menggerakkan beberapa kali tangan wanita itu agar sadar. "Nona, Anda akan baik-baik saja. Bersabarlah dan terus berjuang untuk melawan penyakit yang Anda derita."
__ADS_1
To be continued...