
Saat ini, Mario dan Vincent melihat interaksi dari dua wanita berbeda usia di hadapannya. Hingga keduanya kini saling bersitatap dan seolah mempunyai pemikiran yang sama.
Hingga Mario mulai membuka suara untuk menyadarkan wanita paruh baya yang tidak disukainya tersebut. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa. "Maaf, Nona Anastasya, saya akan pulang dengan Vincent."
Vincent yang sebenarnya bingung atas panggilan Laura pada wanita paruh baya tersebut, berniat untuk bertanya pada Mario saat sudah tidak lagi berada di dalam apartemen. Jadi, ia sangat setuju saat Mario berpamitan.
"Iya, nona Laura. Saya pun harus pulang karena ada tugas yang harus dikerjakan. Saya permisi," ucapnya sambil membungkuk hormat.
Laura yang saat ini masih menggendong putranya setelah minum susu dan mendapatkan pelukan hangat dari sosok mertua yang dari dulu sangat baik padanya, benar-benar tidak menyangka hari ini bisa bertemu.
Namun, ia terlebih dahulu mengiyakan perkataan dari Mario dan Vincent. "Baiklah. Hati-hati di jalan. Untuk sementara, aku serahkan semua pekerjaan padamu, Mario. Aku ingin fokus mengurus putraku."
__ADS_1
Kemudian beralih menatap ke arah mantan pengawalnya. "Kau juga, Vincent. Aku akan menghubungimu nanti untuk membicarakan mengenai kerja sama."
Laura yang kini melihat dua pria itu berlalu pergi setelah menganggukkan kepala padanya, kini mendengar suara dari sosok wanita paruh baya yang sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan hingga bingung harga menjawab yang mana.
"Apa yang terjadi padamu selama satu tahun ini, Menantuku? Mama benar-benar sangat mengkhawatirkanmu. Bahkan merasa sangat bersalah karena tidak tahu saat Christian mengambil keputusan segila itu. Pasti kamu selama ini hidup menderita sendirian." Mengusap lembut punggung menantu kesayangannya.
Ia bahkan saat ini merasa sangat terharu melihat interaksi dari cucu dan sang ibu yang seperti menegaskan bahwa ikatan batin ibu dan anak sangatlah kuat meskipun terpisah.
"Tahu alamat tempat tinggalku dari Vicky atau putra Mama? Aku saat ini hanya ingin menikmati momen demi momen bersama putraku, Ma. Jadi, lebih baik jangan membahas hal yang telah berlalu. Duduk, Ma." Laura yang merasa cukup pegal setelah lama menggendong putranya, berjalan menuju ke arah sofa.
Ia bahkan kini menunjukkan kantong plastik berisi beberapa aneka mainan yang tadi dibeli oleh Mario karena ia yang menyuruh.
__ADS_1
Renita Padmasari yang saat ini tengah menatap ke arah sosok menantunya yang tidak pernah dianggapnya mantan, kini terpaksa menuruti perintah karena tidak ingin membangkitkan kesedihan. Begitu mendaratkan tubuh di sebelah kiri Laura, ia mengungkapkan sesuatu.
"Malam ini Mama boleh tidur di sini, kan? Mama sudah memimpikan bisa merawat cucu bersamamu, Sayang." Tadi ia sudah berbicara pada sang suami dan mendapatkan izin meskipun pada awalnya diinterogasi panjang kali lebar.
Hingga ia pun kini berpikir jika harapannya terkabul dan benar-benar sangat bersyukur.
Meskipun sebenarnya sadar jika ia adalah mertua yang jahat untuk Ana Maria yang masih sah menjadi istri putranya, tapi tetap saja tidak bisa membuang perasaan peduli dan sayang pada Laura yang telah memenuhi impiannya agar garis keturunan keluarga Raphael tidak putus.
Tanpa pikir panjang, Laura kini tersenyum sambil mengusap lembut rambut putranya. "Tentu saja boleh, Ma. Meskipun ini hanyalah apartemen kecil, tapi ada satu kamar kosong di sini. Mama bisa tinggal semaunya."
Saat Laura baru saja mengakhiri jawaban atas pertanyaan mantan mertuanya, kini membulatkan matanya begitu melihat sosok anak kecil di pangkuannya tiba-tiba menangis dan beberapa saat kemudian muntah-muntah di bajunya dan lantai.
__ADS_1
To be continued...