365 Days With You

365 Days With You
Makan malam


__ADS_3

Mario tidak langsung kembali ke rumah ataupun ke kantornya. Pria itu melajukan mobilnya menuju kantor sang ayah.


Dalih akan bertemu klien hanyalah alasan pria itu untuk menghindari Laura. Bukan tidak ingin berlama-lama bersama dengan wanita itu.


Hanya saja ia tidak kuat jika terlalu lama dengan Laura, maka perasaan aneh itu akan kembali muncul.


Mario harus menunggu di depan ruangan sang papa karena pria itu sedang menerima klien di dalam sana. Sembari menunggu sang ayah, Mario mencari tahu tentang seseorang di ponselnya.


“Anda mau minum apa, Tuan?” tanya sekretaris sang ayah.


“Tidak perlu, terima kasih. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu,” jawab Mario.


“Baik, Tuan. Jika Anda butuh sesuatu beri tahu saya,” imbuh sekretaris tersebut dan mendapat anggukan dari Mario. Wanita cantik bertubuh ramping tersebut kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya.


Satu jam menunggu, akhirnya klien sang ayah keluar dari ruangan pria itu. Mario menghela napas dan ia segera masuk.


Sementara itu, pria paruh baya itu memicing melihat kedatangan putranya.


“Kebetulan sekali kamu datang saat klien Papa baru saja keluar,” imbuh pria itu.


Mario mendesis dan mengempaskan tubuhnya di sofa ruangan sang ayah. “Siapa bilang aku baru datang, Pa. Satu jam aku menunggu di depan,” keluh pria itu.


“Salahmu. Kenapa tidak menghubungi Papa dulu sebelum ke sini,” balas pria paruh baya itu. Ia merapikan dokumen di atas meja kerja dan menghampiri Mario. “Ada apa?” tanyanya.


Jika Mario datang tanpa memberitahuan lebih dulu, pasti ada hal penting yang ingin putranya itu sampaikan.


“Aku menemukan putri dari Zayden Putra dan Suci Prameswari, Pa,” ucap Mario terus terang.


Seketika wajah yang tadinya tenang itu berubah penuh dengan rasa terkejut. Sebuah hal yang berhubungan dengan masa lalu kelamnya di masa lalu, kini kembali hadir dan membuat luka di hati menganga kembali.


“Apa? Putri dari Zayden? Maksudmu Laura? Bukankah ia tengah berada di luar negeri? Tidak mungkin Laura ada di Bandung.” Pria paruh baya itu menatap serius putranya.


“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Pa. Aku bahkan dulu sering bersama Laura kecil dan sangat hafal garis wajahnya. Gadis yang sering kita temui dulu masih berusia 15 tahun, kini sudah dewasa. ”


Mario pun menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Laura. Bahkan semua hal tanpa terkecuali.


Ia menceritakan semua tanpa ada yang disembunyikan sedikit pun. Termasuk apa yang terjadi dengan Laura selama ini.


Bagaimana wanita itu melalui kesulitan seorang diri. Juga tentang Laura yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Termasuk keinginan yang ingin menemui sang paman.


“Apa kamu sudah mengatakan semuanya pada Laura?” tanya pria paruh baya itu dengan wajah gelisah dan mendapat gelengan dari sang putra. Ia pun seketika mengembuskan napas lega.


“Dia ingin membalas dendam pada mantan suaminya dan mengambil kembali putranya.” Mario melanjutkan laporannya.


"Aku ingin tahu apakah Papa tahu tentang pengusaha bernama Raphael Christian di Jakarta?”


“Apa pria itu adalah mantan suami Laura?” tanya pria paruh baya itu dan mendapat anggukan dari putranya untuk kesekian kalinya.


“Namanya tidak asing. Sepertinya ia bukan pengusaha sembarangan dan cukup mempunyai pengaruh dalam dunia bisnis.”

__ADS_1


Mario mengangguk paham. Saat mendengar cerita Laura, ia juga sudah menduga jika pria bernama Raphael


Christian bukanlah orang sembarangan.


Kini ia merasa sedikit cemas. Sepertinya bukan hal yang mudah untuk membalas pria itu. Ia dan Laura harus tetap waspada. Siapa tahu pria itu masih mengawasi Laura dan mengetahui setiap gerak-geriknya.


“Laura ingin bertemu dengan Papa.”


“Oh, ya? Kenapa dia ingin betemu dengan Papa? Apa dia masih mengenal papa?”


Mario mengangguk. “Ya. Hanya sedikit. Dia tertarik untuk memahami hukum lebih dalam.”


“Kami akan bertemu jika waktunya sudah tepat,” jawab pria paruh baya itu yang kini tengah memikirkan sesuatu.


“Mario, tolong jaga dan lindungi Laura. Jangan tinggalkan dia dan bantulah dia,” ujar pria yang kini mengingat tentang sesuatu dan membuatnya dipecat sebagai pengacara keluarga Prameswari


“Ya, Pa. Aku sudah berjanji akan membantunya. Aku ingin mengatakan kebenaran itu padanya, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat."


"Dia baru saja kehilangan bayi yang baru dilahirkan dan dikhianati oleh laki-laki yang dicintai. Aku takut dia akan semakin terpuruk jika tahu fakta yang sebenarnya.” Mario kini meminta pendapat sang ayah tentang keputusannya.


“Sebaiknya kita rahasikan ini lebih dulu. Kita tidak mempunyai bukti. Untuk saat ini, kamu harus melindunginya lebih dulu. Tidak ada yang boleh tahu jika Laura ada di Bandung."


"Jangan sampai orang-orang jahat itu menemukan Laura atau nyawanya bisa terancam lagi. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk membantu wanita itu,” imbuh pria yang bernama Aldiansyah Permana itu.


Sebelumnya ia sudah tidak ingin mencari tahu tentang keberadaan keturunan keluarga Prameswari, tetapi takdir mempertemukan putranya dengan wanita itu.


Ia berpikir mungkin Tuhan memang ingin ia dan putranya membantu Laura.


“Untuk sementara, kamu minta Laura untuk memahami tentang perusahaannya dan memperdalam pengetahuan dalam dunia bisnis. Papa akan membantu mengumpulkan beberapa bukti kejahatan pria itu dan kita akan memberikanya pada Laura.”


“Aku setuju dengan Papa. Sembari mengulur waktu, aku kan mengalihkan Laura untuk fokus belajar lebih dulu.”


Obrolan ayah dan anak itu berlangsung hingga jam kantor habis. Mario pulang bersama sang ayah.


Sesampainya di rumah, pria itu segera membersihkan diri dan bersiap untuk menjemput Laura.


Sementara itu di tempat berbeda, yaitu di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Laura. Terlihat wanita itu sedang bersembunyi di balik jendela besar di kamarnya. Ia sedang memastikan sesuatu.


Dari tempatnya saat ini, ia bisa melihat dengan jelas orang di rumah seberang sana karena kamar Laura berada di lantai dua. Laura tersenyum miring.


“Baiklah. Besok aku akan memastikannya,” gumam wanita itu.


Ia kemudian bergegas membersihkan diri. Masih ada waktu 30 menit sebelum Mario menjemputnya.


***


Bukan restoran mewah berbintang lima yang Laura pilih untuk menikmati makan malam bersama dengan Mario. Hanya restoran biasa yang menyajikan menu makanan seafood. Laura sengaja memilih tempat itu karena ia rindu dengan masakan laut tersebut.


Kepiting asam manis, Ikan kakap bakar, kerang rebus, dan beberapa menu lain sudah tersaji di atas meja.

__ADS_1


“Apa kamu yakin bisa menghabiskan semua ini?” tanya Mario dengan ragu. Pasalnya mereka hanya berdua, sedangkan menu yang ada diatas meja cukup banyak.


“Tentu saja. Karena kita akan menghabiskan semua ini bersama,” jawab Laura dengan senyum tanpa dosa.


“Aku tidak yakin,” ucap Mario sembari meringis ragu.


“Harus yakin,” tukas Laura yang kemudian menyantap makan malamnya tanpa nasi.


Laura terlihat sangat lahap saat menikmati makanan itu. Ia makan dengan santai tanpa malu dan jaim.


Bersama Mario, Laura merasa bebas untuk menjadi dirinya seperti yang ia inginkan. Tidak perlu makan steak mewah yang saat menyantapnya harus terlihat anggun.


Di sini, Laura bisa makan tanpa menggunakan sendok. Mengupas kepiting dan udang sendiri. Ia tidak menerima tawaran Mario yang akan membantunya.


“Aku bukan anak kecil. Bukankah tanganku masih berfungsi dengan baik?”


Itulah kalimat yang Laura ucapkan saat Mario menawarkan diri untk membantu mengupas kepiting dan udang.


Selesai makan malam, keduanya tak langsung pulang. Mario mengajak Laura pergi ke sebuah tempat yang memiliki keindahan tersendiri di waktu malam.


“Wah, ini indah sekali,” ucap Laura menatap kagum tempat itu. Ia memejamkan mata dan merentangkan kedua tangan.


Laura membiarkan angin malam menerpa kulit putihnya. Ia merasakan sejuknya angin malam. “Aku baru tahu ada tempat seindah ini di Bandung,” ucapnya tanpa membuka mata.


Mario hanya tersenyum sembari terus memperhatikan wanita itu dari belakang. Laura tersenyum senang melihat keindahan Kota Kembang dari atas sana.


“Apa kamu sering datang ke sini?” tanya Laura. Kemudian duduk di samping Mario.


“Tidak terlalu. Hanya saat aku sedang merasa penat saja. Di sini cukup tenang untuk aku kembali mewaraskan pikiran dari penatnya menghadapi masalah klien,” jawab Mario.


Pria itu membuka jaket yang ia pakai dan menyampirkan di punggung Laura untuk menutupi lengan wanita itu. “Pakai ini. Udaranya cukup dingin.”


“Terima kasih,” ucap Laura diiringi senyum.


“Hem.”


Hening. Keduanya sama-sama diam dan menatap pada kerlip lampu di bawah sana. Benar apa yang dikatakan Mario. Tempat ini cukup tenang untuk menyendiri.


Meskipun ada beberapa pengunjung di sana, tetapi suasana tidak gaduh. Entah jika itu adalah akhir pekan dan pengunjung yang datang juga semakin banyak.


“Mario, apa kamu bisa membawaku ke tempat ini lain waktu?”


“Tentu saja, tapi jangan setiap hari. Kamu bisa masuk angin nanti,” kekeh Mario.


Mereka tidak bisa berlama-lama berada di sana, kerena hujan tiba-tiba saja turun dan membuat pengunjung yang ada di sana berhamburan meninggalkan tempat itu. Termasuk Laura dan Mario.


“Seharusnya kamu tetap memakai jaketmu, setidaknya kamu tidak akan basah seperti itu,” ucap Laura merasa bersalah.


“Kalau aku tetap memakai jaketku, bajumu yang akan basah dan itu sangat berbahaya,” balas Mario.

__ADS_1


Ia kemudian menghidupkan mesin mobil dan melajukan kendaraan tersebut meninggalkan tempat itu menuju tempat tinggal wanita yang kini duduk di sebelahnya dengan rambut basah.


To be continued...


__ADS_2