
Pukul setengah 7 pagi, Aaron sudah selesai menyeka Laura dan mengganti pakaian. Tadinya Laura sama sekali tidak mau dibantu olehnya, tapi kemudian bersedia setelah ia berkali-kali membujuk dengan alasan adalah suami dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Akhirnya sekarang tugas utamaku sudah selesai. Kalau begini kan jauh lebih segar, Sayang. Kamu tidak akan merasa risi maupun kotor meskipun tidak pernah mandi selama di rumah sakit."
Christian yang tadi mendapatkan pesan dari sang asisten jika pukul 7 pagi, sang ayah akan tiba di Rumah Sakit, jadi ingin pergi dari ruangan kamar dengan alasan mencari sarapan di kantin. Ia masih belum siap untuk mempertemukan Laura dengan sang ayah.
Ia tahu jika orang tuanya tidak bisa menerima Laura yang masih belum jelas asal-usulnya. Apalagi dari dulu keluarganya selalu mengutamakan bibit, bebet, bobot. Meskipun itu akhirnya tidak berlaku pada Ana yang sampai sekarang tak kunjung hamil.
Laura yang merasa sangat malu karena semua yang ada di tubuhnya sudah dilihat oleh Christian tanpa terkecuali. Meskipun ia dan pria itu adalah pasangan suami istri, tetap saja ia merasa sangat aneh karena memang tidak bisa mengingat apapun.
"Iya, aku memang sudah sangat segar, tapi rasanya berat sekali bergerak sendiri tanpa bantuan dari orang lain," ucap Laura yang saat ini hanya bisa telentang di atas ranjang.
__ADS_1
Ia takut tidak bisa berjalan karena tubuhnya benar-benar seperti kehilangan tenaga. Jadi, merasa khawatir ada sesuatu hal yang buruk pada tubuhnya akibat kecelakaan yang dialami.
"Aku bisa kembali berjalan saat sehat nanti kan?" Laura kini berusaha untuk menggerakkan kedua kakinya dan memang bisa, tapi masih berpikir negatif terus.
Hingga ia pun kembali mengerjapkan mata karena melihat pria dengan pahatan sempurna itu tiba-tiba mengecup keningnya dan membuatnya seketika diam membisu.
"Jangan berbicara hal buruk, Sayang karena perkataan adalah doa. Aku yakin jika kamu akan bisa kembali seperti sediakala. Jadi, jangan berpikir macam-macam, oke!" Christian yang sudah mendengar penjelasan dari dokter tentang Laura, ingin memberikan sebuah semangat.
Bahkan saat ini ia mengusap lembut beberapa kali pipi putih yang sudah merona seperti kepiting rebus itu. "Penuhi pikiranmu dengan energi positif, oke!"
Sebenarnya ia ingin tertawa melihat ekspresi wajah Laura yang merona karena malu sekaligus kebingungan karena perbuatannya. Namun, ia menahan diri dan membuatnya ingin memberikan waktu berpikir saat Laura hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Aku lapar dan ingin pergi ke kantin untuk sarapan. Tidak apa-apa, kan Sayang jika aku tinggal sebentar?" tanya Christian yang kini merasa sangat lega begitu Laura menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa. Pergi saja karena aku saat ini baik-baik saja. Lagipula kamu harus mengisi tenaga agar kuat merawatku." Laura yang dari tadi sibuk mendamaikan hati agar tidak meledak karena sikap lembut pria di hadapannya, kini narasa lega.
'Lebih baik ia pergi karena aku saat ini benar-benar sangat malu!' gumam Laura yang kini merasa lega begitu Christian yang tadi asyik membungkuk untuk bisa menatapnya sudah kembali berdiri tegak dan membuat jarak.
"Baiklah. Kalau begitu, aku ke kantin dulu, Sayang." Tanpa membuang waktu, Christian berbalik badan begitu melirik arloji mahal miliknya.
Hingga saat ia keluar dari ruangan perawatan, bertemu dengan dua pria yang tak lain adalah ayah serta asisten pribadinya dan langsung diajak ke kantin tanpa bersuara karena hanya memberikan sebuah kode agar Laura tidak mendengar apapun.
To be continued...
__ADS_1