365 Days With You

365 Days With You
Jelaskan padaku


__ADS_3

Christian saat ini sudah berada di dalam taksi yang menuju ke rumah sakit yang tadi dikatakan oleh wanita yang membuatnya merasa sangat marah karena tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya diinginkan.


Ia sebenarnya berpikir jika wanita bernama Raisa tersebut hanya tengah mengerjainya dan mengganggu ketenangannya dengan cara menunjukkan foto sang istri yang telah meninggal.


Bahkan sebenarnya ia merasa sangat marah dan ingin sekali menarik rambut wanita yang dianggapnya sangat berlagak dan sok di hadapannya. Namun, saat ingin kembali ke hotel, merasa jika apa yang dikatakan oleh wanita itu sangat mengganggu pikirannya dan membuatnya ingin tahu.


"Sebenarnya apa yang ada di rumah sakit itu? Kenapa ia menyuruhku datang ke sana dan menunjukkan foto Ana? Apa ada hubungannya dengan Ana yang sudah meninggal?" Christian bahkan saat ini memijat pelipis karena berpikir jika wanita itu tengah mengerjainya.


Ia tadinya berpikir jika bisa menghilangkan kesedihan karena kepergian Ana dengan cara menyibukkan diri di Singapura. Ia tidak menyangka jika saat ini malah yang terjadi adalah sebaliknya karena kembali mengingat sosok sang istri yang sudah meninggal 2 bulan lalu.


"Apa hubungan wanita itu dengan istriku? Kenapa Aku selama ini tidak pernah melihatnya? Tapi kenapa dia bisa bersama dengan istriku?" ucap Christian yang saat ini dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan yang menarik-nari di otaknya saat ini ketika mengingat tentang foto sang istri bersama dengan wanita itu.


Bahkan ia sangat mengenal semua teman sang istri karena sering bertemu dengan mereka. Namun, ia tidak tahu sosok wanita yang ada di foto bersama dengan sang istri.


"Awas saja jika dia sampai mengerjaiku, aku benar-benar akan menghabisinya!" sarkas Christian yang saat ini ingin segera tiba di rumah sakit dan mengetahui apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan oleh wanita bernama Raisa Marcella tersebut.


Ia menatap ke arah sang supir dan meminta untuk menambah kecepatan karena tidak sabar ingin segera tiba di rumah sakit.


Sementara itu, sang sopir pun mengikuti perintah dari penumpang dengan menambah kecepatan agar bisa segera tiba di lokasi tujuan dan berpikir jika pria tersebut tengah terburu-buru untuk mengejar sesuatu.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam lebih, taksi yang ditumpangi oleh Christian kini sudah tiba di depan lobby rumah sakit yang tadi dikatakan oleh wanita itu.


Christian saat ini langsung mengambil uang untuk membayar ongkos taksi dan langsung berjalan menuju ke arah lobi rumah sakit.


Namun, ia yang berada di depan resepsionis, merasa sangat bingung harus bertanya tentang apa karena tadi hanya disuruh datang ke rumah sakit itu.


Ia bahkan sudah ditanya oleh pegawai wanita yang ada di hadapannya, tapi tidak tahu harus berbicara apa. Namun, seketika ia menoleh ke arah sosok pria yang baru saja memanggil namanya dan membuatnya mengerutkan kening karena bagaimana bisa mengetahui siapa namanya.


"Anda bisa ikut saya, Tuan Christian," ucap Paul yang baru saja keluar dari lift dan langsung menemui pria yang merupakan istri dari Ana.


Tadi ia berada di dalam ruangan perawatan dan mendapatkan telepon dari majikannya yang menyuruh datang ke lobi perusahaan karena merasa yakin jika Christian akan datang ke rumah sakit sesuai dengan yang dikatakan.


Kini, ia yang sudah melihat suami dari wanita di ruangan perawatan, bisa melihat kebingungan dari wajah pria itu dan membuatnya malas untuk menjelaskan.


Ia berjalan menuju ke arah lift dan berharap pria itu mau mengikutinya.


"Tunggu!" Christian yang berjalan mengekor pria yang sama sekali tidak dikenalnya, semakin membuatnya bingung kenapa bisa dikenal oleh seseorang yang bahkan tidak pernah ia temui dan juga tidak ia kenal.


"Sebenarnya siapa kau sebenarnya? Kenapa kok bisa mengetahui siapa sku hanya dengan melihatku?" Christian yang baru saja menutup mulut dan masuk ke dalam lift bersama dengan pria tak dikenal tersebut, membuatnya ingin sekali meninju wajah pria itu.


Ia benar-benar merasa kesal karena pria itu sama sekali tidak memperdulikan pertanyaannya dan tidak membuka suara sama sekali.


Dengan mengepalkan tangan dan menahan amarah yang membuncah dan bergejolak di dalam hatinya, masih mencoba untuk bersabar dan ingin melihat sampai di mana orang-orang yang tidak dikenalnya itu mempermainkannya.


Paul sebenarnya sangat malas berhubungan dengan pria di hadapannya tersebut karena mengetahui jika telah menyakiti perasaan sahabat dari majikannya tersebut.

__ADS_1


Ia hanya terpaksa menemui untuk mengajak masuk ke dalam ruangan perawatan sesuai dengan keinginan dari Miranti yang ingin sang majikan mendapatkan semangat hidup yang baru.


'Apa dia pikir aku tidak kesal padanya hanya dengan menatapnya? Aku bahkan benar-benar ingin menghancurkan wajahnya karena menyakiti hati nona Ana yang sangat baik hati itu,' gumam Paul yang saat ini melihat siluet belakang pria dengan bahu lebar tersebut.


Ia bisa melihat jika Christian sangat murka apa adanya karena mengepalkan tangan dan tengah menahan amarah atas apa yang dilakukannya.


Saat lift kini terbuka, terlihat Christian langsung berjalan keluar lebih dulu dan menunggu hingga pria yang tadinya berada di belakangnya tersebut berjalan di depan karena ia tidak tahu apa yang diinginkannya.


"Apa kau bisu?" Christian sengaja menyindir pria yang sama sekali tidak membuka suara saat ditanya olehnya.


Meskipun ia tahu jika pria itu tadi memanggilnya, tapi setelah itu sama sekali tidak bersuara ketika ia ingin menanyakan sesuatu hal yang menari-nari di otaknya dari tadi.


Paul saat ini masih terdiam dan berjalan menuju ke arah ruangan dengan menyusuri lorong rumah sakit yang sangat sunyi. Hingga ia seketika terhenti ketika kerah kemejanya ditarik dari belakang oleh Christian.


"Stop! Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi," sarkas Christian yang saat ini langsung mengarahkan pukulan pada wajah pria yang membuatnya tidak bisa menahan amarah yang bergejolak dan bergemuruh di dadanya.


Sementara itu, Paul seketika menahan tangan Christian agar tidak sampai mengenai wajahnya. Ia bahkan sangat tidak suka jika ada orang yang menyentuh wajahnya.


Ia berpikir bahwa saat ini merupakan kesempatan untuknya memberikan pelajaran pada Christian yang dianggap hanyalah seorang pria berengsek.


Refleks ia langsung bergerak secepat kilat untuk mengarahkan pukulan pada bagian perut dan juga wajah. "Ini untuk perbuatanmu yang menyakiti hati seorang wanita!"


Christian yang tadinya menghindar dari pukulan pria yang ingin Ia hajar habis-habisan, kalah cepat dan membuatnya berakhir mengalami memar pada bagian sudut bibirnya.


"Berengsek!" sarkas Christian yang saat ini memegangi sudut bibirnya yang robek dan meringis menahan rasa nyeri di sana.


Sementara itu, Paul yang saat ini hanya tersenyum mengejek karena dianggap tidak tahu apapun. "Aku bahkan tahu semua kebusukanmu! Jadi, jangan berpikir bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang siapa kau sebenarnya."


Suara berisik yang mereka ciptakan berhasil membuat perawat datang melerai.


Christian benar-benar sangat marah dan ingin sekali membalas dendam, tapi tidak bisa melakukannya ketika tangannya ditahan oleh dua perawat pria yang saat ini baru saja datang.


"Jangan membuat keributan karena ini rumah sakit yang harus membutuhkan ketenangan untuk pasien yang dirawat di sini!" ujar salah satu perawat yang mewakili rekannya untuk menghentikan perbuatan dari dua pria yang baku hantam dan saling mengumpat.


Christian saat ini terdiam karena seolah Ia baru menyadari jika Rumah Sakit adalah tempat orang dirawat dan Ia berpikir sesuatu.


'Rumah Sakit dan foto Ana bersama dengan wanita bernama Raisa Marcella itu. Apa jangan-jangan ....'


Christian tidak melanjutkan gumaman yang tiba-tiba terlintas di pikirannya dan saat ini seketika menatap ke arah sosok pria yang tidak dikenalnya tersebut.


"Apakah Ana masih hidup? Apakah saat ini yang didapat di rumah sakit ini adalah Ana—istriku?" Christian yang baru saja hendak bertanya di manakah ruangan yang hendak dituju Karena ia merasa yakin jika itu adalah ruangan Ana.


Namun, saat ini malah mendengar suara pria itu tertawa terbahak-bahak dan membuatnya ingin sekali kembali menghajar pria itu karena belum berhasil membuat wajahnya babak belur.


"Kau benar-benar ingin mati! Aku akan menghancurkanmu jika tidak ada yang menahanku!" umpat Christian yang saat ini melihat pria itu berjalan meninggalkannya.

__ADS_1


Ia yang saat ini masih ditahan oleh dua perawat, seketika ingin mengetahui kemana pria tersebut perginya. Namun, ia tidak jadi pergi karena sudah melihat pria itu memasuki sebuah ruangan dan membuatnya berpikir harus segera mengikutinya.


"Tolong lepaskan tanganku karena aku ingin menemui pasien yang ada di ruangan itu. Apa kalian tahu siapa nama pasien yang saat ini berada di sana?" Christian berharap mendapatkan jawaban dari 2 perawat pria yang berada di sebelah kanan dan kirinya tersebut.


Namun, jawaban dari pria tersebut membuatnya semakin merasa kesal.


"Anda bisa memeriksanya sendiri jika tidak melakukan masalah di rumah sakit ini karena jika kembali berbuat atau melakukan hal yang memancing keributan, security akan mengusir Anda dari sini. Jika Anda ingin segera melihat siapa pasien yang berada di sana, tolong jangan berteriak-teriak seperti ini"


Sang perawat yang saat ini melihat pria itu sudah tidak lagi berteriak, mulai melepaskan kuasa dari tangan kanan dan kiri.


"Anda bisa memeriksa langsung dan tidak boleh membuat bising karena ini adalah ruangan VIP dan banyak orang tidak nyaman jika mendengar suara teriakan Anda." Ia pun kini menatap ke arah pria tersebut dengan tatapan penuh penghakiman dan berharap tidak ada lagi kebisingan yang terjadi.


Sementara itu, Christian yang sudah tidak sabar ingin melihat siapa yang berada di ruangan itu, seketika berjalan melangkahkan kaki panjangnya ke ruangan tersebut.


Ia bahkan berjalan dengan perasaan membuncah dan tidak menentu karena sesuatu yang ada di pikirannya saat ini benar-benar membuatnya dipenuhi oleh kekhawatiran sekaligus pengharapan.


'Ya Allah, apakah yang berada di ruangan tersebut adalah istriku? Apakah istriku masih hidup? Lalu, siapa yang dulu kumakamkan? Padahal itu adalah benar-benar Ana karena aku melihatnya sendiri?' gumam Christian yang saat ini sudah berada tepat di hadapan pintu yang tertutup tersebut.


Ia seketika mengetuk pintu dan membuatnya menunggu selama beberapa saat karena ingin menormalkan perasaannya.


Begitu perasaannya sudah jauh lebih baik dan siap untuk melangkah masuk ke dalam, ia pun membuka pintu yang tertutup tersebut dan berjalan dengan perasaan tidak menentu.


Hingga ia pun seketika melangkahkan kaki panjangnya ke dalam ruangan perawatan yang kini terlihat ada pria yang tadi hendak ia tinju wajahnya dan juga seorang wanita yang duduk di kursi.


Namun, ia jauh lebih tertarik dengan sosok wanita yang berada di atas ranjang perawatan dengan alat-alat yang menopang kehidupannya.


Ia saat ini berjalan mendekat untuk memastikan jika pandangannya saat ini tidak salah. Bahkan debaran jantung semakin tidak beraturan ketika tatapannya tertuju pada sosok wanita yang sama sekali tidak ada rambut di kepalanya dan juga tubuh yang kurus terlihat sangat jelas.


Ia seketika membekap mulutnya begitu langkah kakinya terhenti tepat di samping di sebelah kiri ranjang perawatan tersebut. Hingga bola matanya berkaca-kaca dan tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini.


"Ana?" Suara Christian saat ini bergetar hebat dan juga bulir air mata sudah jatuh menganak sungai di pipinya.


Ia bahkan seketika langsung menghambur ke arah tubuh kurus wanita yang terlihat masih memejamkan kelopak mata dan bunyi dari alat-alat yang bekerja di ruangan itu bagaikan sebuah hal yang membuatnya bergidik ngeri.


"Ana? Ini Ana —istriku, kan?" lirik Christian yang saat ini merasa semangat hidupnya seperti telah kembali secara tiba-tiba begitu melihat sosok wanita yang tak lain adalah sang istri yang sangat dicintai.


Ia seketika sudah menghambur memeluk erat tubuh kurus wanita yang saat ini sama sekali tidak mengetahui kedatangannya. Bahkan ia sudah menangis seperti seorang anak kecil dan bulir air mata tidak pernah berhenti mengalir membasahi wajahnya.


"Ana! Kamu benar-benar Ana istriku. Aku benar-benar sangat bersyukur mengetahui kamu masih hidup, Sayang," lirik Christian dengan suara bergetar hebat dan juga tidak berhenti menangis saat mengetahui jika wanita yang selama ini membuatnya tidak bersemangat hidup telah kembali.


"Ana, kamu telah kembali padaku. Aku akan menjagamu dan tidak akan membiarkanmu pergi lagi." Ana saat ini benar-benar merasa sangat bersyukur atas apa yang dilihatnya.


Ia seperti baru saja melihat sebuah keajaiban yang tidak pernah terpikirkan olehnya dan membuatnya menoleh ke arah dua orang yang hanya diam mengamati perbuatannya.


"Tolong jelaskan padaku tentang apa maksud dari semua ini!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2