
"Apa? Mengandung benihmu?" Laura yang beberapa saat lalu mengerjapkan kedua mata karena khawatir ia salah dengar, tapi beberapa saat kemudian menyadari bahwa semua itu benar begitu melihat pria di hadapannya mengangguk perlahan.
Sebuah tanda untuk membenarkan perkataan yang bahkan sama sekali tidak pernah ada di pikirannya. Ia memang ingin bercinta dengan pria yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi sama sekali tidak tertarik untuk hamil.
Tentu saja ia tidak ingin hamil karena masih ada tugas besar di depan mata dan tidak ingin jika perjuangannya selama 8 tahun belakangan ini gagal hanya karena hamil.
"Sepertinya kau salah paham pada perkataanku, Christian. Aku memang bilang jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali melihatmu, tapi tidak pernah berpikir untuk hamil karena jika kita bercinta, harus mengunakan pengaman."
"Lagipula aku masih muda dan punya banyak impian untuk kuraih setelah kembali ke Jakarta." Laura yang awalnya kesal karena pertanyaan dari Christian dianggap sangat konyol, kini bisa melihat wajah murung pria itu.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada pria ini? Bukankah ia bisa meminta istrinya hamil benihnya dan melahirkan keturunannya? Kenapa malah memintaku untuk hamil saat aku hanya ingin bercinta dengannya?'
Saat Laura sibuk bertanya-tanya mengenai pertanyaan yang sangat mengganggu, hal berbeda kini dirasakan oleh Christian yang kini memilih untuk merayu wanita itu agar setuju karena merasa mempunyai sebuah ketertarikan.
Apalagi ia tidak perlu merayu wanita karena Laura jatuh cinta padanya, sehingga ingin memanfaatkan itu dengan membuat Laura bersamanya selama setahun.
"Aku sudah menikah selama 10 tahun, tapi sampai sekarang tidak punya keturunan. Sementara aku adalah anak tunggal yang menjadi satu-satunya harapan keluarga untuk meneruskan jalur keturunan. Kamu pasti tahu apa yang kurasakan sekarang."
Christian selalu merasa sesak ketika menyebutkan keturunan, sehingga saat ini memilih untuk meneguk whisky agar tidak merasa pusing. Ia memilih untuk menunggu sosok wanita muda di sebelahnya tersebut tidak menganggapnya bajingan.
__ADS_1
Meskipun sebenarnya ia benar-benar seorang bajingan karena tiba-tiba meminta wanita yang ditemuinya untuk mau mengandung benihnya.
Sedikit demi sedikit, Laura mengetahui tentang pria dengan paras rupawan incarannya tersebut. Bahkan ia kini tertawa karena merasa yakin jika Christian adalah pria yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
Tanpa sengaja bertemu di negeri orang dan jatuh cinta pada pandangan pertama, sedangkan pria itu mempunyai masalah dalam hal rumah tangga.
"Jadi, istrimu mandul?"
"Tidak! Istriku sama sekali tidak mandul."
"Lalu? Apa namanya kalau tidak bisa memberikan keturunan setelah 10 tahun menikah?" Laura kini mengarahkan tangan pada pundak pria yang masih memegang gelas whisky. "Ceraikan saja istrimu yang tidak berguna itu."
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi padaku atau kau akan menyesalinya, Laura! Kamu sama sekali tidak tahu apa arti pernikahan? Jadi, bisa dengan mudah mengatakan hal seperti itu padaku."
"Bagaimana jika kamu yang mengalaminya? Bagaimana jika kamu yang berada di posisi istriku? Apa kamu tidak akan hancur saat diceraikan oleh suami yang kamu cintai?" Christian bahkan mengarahkan tatapan tajam menusuk dengan wajah memerah karena marah.
Mungkin bagi pria lain yang egois, tidak
akan merasa ragu untuk bercerai saat istri tidak kunjung hamil. Namun, ia yang sudah menjalin hubungan dengan Ana selama lebih dari 10 tahun, tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Apalagi ia sangat mencintai Ana dan tidak mungkin menjadi seorang pria bajingan saat istrinya divonis penyakit kronis. Ia bahkan ingin melakukan apapun untuk wanita yang sangat dicintainya itu.
Mungkin jika yang mengatakan adalah seorang pria, pasti akan menghajar habis-habisan, tapi tidak mungkin melakukannya pada seorang wanita seperti Laura.
"Pergilah dan jangan muncul lagi di hadapanku!" sarkas Christian yang kali ini benar-benar sangat kesal dan marah pada wanita muda yang dianggap tidak akan pernah bisa memahami perasaannya saat ini.
Di sisi lain, Laura sebenarnya merasa sangat kagum pada kesetiaan seorang Christian, tapi saat diusir, tentu saja membuatnya marah.
"Sialan!"
Laura refleks mengambil minumannya yang masih tersisa separuh dan menuangkannya ke atas kepala pria yang telah memantik amarahnya.
"Rasakan ini! Aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu, berengsek!" sarkas Laura yang kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah orang-orang yang bergerak mengikuti hentakan musik DJ.
"Aku benar-benar sangat marah karena Christian sangat mencintai istrinya," umpat Laura yang kini sudah bergerak sesuai dengan hentakan musik DJ tanpa memperdulikan apapun.
Ia ingin melampiaskan amarahnya dengan mencari peluh saat menari di mengikuti alunan musik DJ. Tentu saja sambil mengumpat kasar beberapa kali untuk meredam amarahnya pada pria yang telah berhasil menjungkirbalikkan hatinya.
To be continued...
__ADS_1