365 Days With You

365 Days With You
Mengungkapkan terima kasih bernada ejekan


__ADS_3

Beberapa yang lalu, Christian yang menerima cincin dari Vicky, langsung melepaskan cincin kawin yang sudah melingkar selama 10 tahun di jari manisnya dan tidak pernah sekalipun dilepas.


Ia sebenarnya merasa sangat berat melepaskan dari jarinya, tapi berpikir bahwa ia tidak ingin membuat Laura merasa menjadi seorang wanita tidak berharga, sehingga kali ini benar-benar menyingkirkannya karena akan mengganti dengan cincin kawin baru.


'Ana, maafkan aku karena menduakanmu dengan menikahi Laura. Semoga suatu saat nanti kamu bisa mengerti bahwa apa yang kulakukan ini demi kebaikan rumah tangga kita. Aku ingin menolong Laura serta berharap bisa memiliki keturunan darinya.'


'Aku masih tetap mencintaimu dan cintaku tidak akan pernah berubah meskipun saat ini sudah memiliki keyakinan untuk menikahi Laura,' gumam Christian yang saat ini sudah menaruh cincin kawin di atas ranjang sebelah tangan kanan satu-satunya wanita yang diinginkannya untuk menjadi istri kedua.


Sementara itu, sang penghulu menjelaskan mengenai pernikahan bahwa langkah yang pertama untuk memulai proses ijab kabul, yaitu dengan mempertemukan mempelai laki-laki dengan wali nikah yang kemudian keduanya saling berhadapan.


Selain itu, mempelai laki-laki dan wali nikah didampingi oleh dua orang saksi yang berdiri untuk menyaksikan prosesi akad nikah berlangsung.


Christian pun menatap ke arah sosok pria paruh baya yang akan menikahkannya dengan Laura.


"Iya, Pak. Bisa kita mulai sekarang. Aahh ... mengenai nama binti mempelai wanita, saya tidak tahu. Tapi yang jelas, saya mengetahui bahwa orang tua Laura sudah meninggal karena kecelakaan."


Christian masih merasa bingung bagaimana pernikahan terjadi jika ia tidak mengetahui nama ayah dari Laura karena memang wanita itu tidak pernah mengatakan padanya.


Sementara itu, penghulu tersebut mulai menjelaskan bahwa hal tersebut tidaklah menjadi sebuah masalah karena yang terpenting adalah niat dari mempelai pria benar-benar sangat tulus untuk menikahi wanita yang terlihat sangat mengenaskan di atas ranjang perawatan rumah sakit.


"Kita bisa memakai binti Adam jika Anda tidak mengetahuinya."


Christian merasa sangat lega mendengar jawaban penghulu dan berpikir itu tidak akan menjadikan masalah untuk rencananya menikahi Laura.


"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, saya sudah siap sekarang." Christian menunggu hingga pria paruh baya tersebut mengucapkan kalimat ijab dan disambut dengan kalimat kabul olehnya.


Pria dengan mengenakan kopyah hitam tersebut segera menjabat tangan mempelai pria dan mengucapkan kalimat ijab.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, saudara Christian Raphael bin Laymar Raphael dengan ananda Laura bin Adam dengan maskawinnya berupa uang 2000 Dolar, tunai.”


Tanpa membuang waktu, kini Christian langsung menyambung dengan satu tarikan napas dan suara sangat tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Laura binti Adam dengan mas kawin uang 2000 Dolar Amerika dibayar tunai!" ucap Christian yang mengucapkan kalimat kabul untuk menyambung perkataan dari penghulu tadi.


Bahkan tidak ada keraguan ketika mengucapkan kalimatnya setelah mendengar suara bariton dari pria paruh baya tersebut.


Sementara beberapa orang yang menjadi saksi dan termasuk adalah Vicky seolah bisa merasakan suasana yang menegangkan sekaligus sakral saat berada di rumah sakit dengan suasana dipenuhi alat-alat yang menopang kehidupan mempelai wanita.


Bahkan seolah mereka yang berdiri di dekat mempelai pria dan penghulu tersebut seperti menahan napas agar tidak mengganggu jalannya prosesi akad nikah yang berlangsung sangat sakral.


Hingga begitu mempelai pria sudah sangat lancar menyambung perkataan dari penghulu, seketika semua bernapas lega dan ikut merasakan aura kebahagiaan setelah ketegangan berlangsung beberapa menit.


Sang penghulu saat ini menoleh ke arah para saksi untuk bertanya. "Bagaimana, para saksi?"


"Saaah!!" sahut 4 orang yang menjadi saksi pernikahan tersebut.

__ADS_1


"Alhamdulillah," sahut semua orang yang saat ini ikut merasa senang karena proses pernikahan akhirnya berjalan lancar dan selesai.


Refleks Christian langsung memakaikan cincin kawin pada jari manis Laura.


"Alhamdulillah sekarang kita sudah sah menjadi suami istri, Sayang. Aku harap kamu akan bahagia setelah mengetahuinya nanti. Aku akan menjagamu sampai kamu benar-benar sembuh."


Kemudian ia memakaikan cincin di jarinya sendiri karena tidak bisa menyuruh Laura yang masih belum bangun dari tidur panjangnya.


Pak penghulu pun langsung membaca doa penutup setelah ijab kabul sudah dianggap sah bagi para saksi.


“Ya Allah, dengan amanat-Mu, ku jadikan ia istriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya."


"Jika Engkau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya."


Semua mengaminkan doa dari penghulu, khususnya Christian yang berharap doa-doa baik tersebut akan mengiringi rumah tangganya dan menyembuhkan kegundahan hatinya selama ini.


Meskipun ia hari ini merasa lega sekaligus bahagia ketika sudah menjadi suami sah Laura, tetap saja di dalam hati kecilnya merasa bersalah pada Ana.


Karena melakukan perbuatan secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang istri yang pastinya tidak akan pernah setuju jika mengetahui keputusannya.


Jika dalam pernikahan sah secara agama dan negara akan dilakukan penandatangan buku nikah setelah doa penutup selesai dibacakan.


Namun, karena ini adalah pernikahan siri, tidak dilakukan penandatanganan buku nikah oleh kedua mempelai disaksikan oleh petugas pencatat nikah dan juga penghulu.


Meskipun mengetahui bahwa buku nikah sendiri menjadi salah satu dokumen sah untuk pasangan suami istri yang sudah menikah dan dicatat dalam dokumen negara.


"Semua pasangan nikah siri dapat mendapatkan buku nikah jika telah melakukan isbat nikah dan disahkan oleh Pengadilan Agama dan Kantor Urusan Agama, Tuan. Jadi, Anda bisa mengurusnya nanti dan saya akan membuatkan surat nikah siri."


Christian kini hanya mengangguk perlahan karena ia berpikir layaknya buku nikah, perlu memiliki surat nikah siri sebagai syarat sah perkawinan.


"Iya, Pak. Saya tahu jika membuat surat nikah siri perlu mendapat keterangan resmi sebagai bukti yang sah dalam agama. Nanti biar Vicky mengambilnya setelah selesai diurus."


Christian melirik sekilas ke arah asisten pribadinya yang seketika menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan dan mengerti.


Sementara itu, penghulu tersebut menganggukkan kepala dan merasa bahwa semuanya sudah selesai dan berniat untuk langsung pulang karena tadi sudah mendapatkan ultimatum agar tidak boleh berlama-lama di ruangan tersebut.


Tadi memang Christian sudah meminta izin pada perawat untuk melakukan pernikahan. Meskipun awalnya beberapa perawat sangat terkejut, tapi seolah mengerti dan tidak melarang.


Namun, sudah berpesan agar tidak berlama-lama di ruangan karena sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruangan perawatan karena kondisi perkembangan sudah jauh lebih baik.


Pak penghulu tersebut langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada pria yang sudah resmi menjadi suami pasien.


"Saya akan mengabari jika suratnya sudah selesai karena tadi memang tidak ada persiapan sama sekali saat semuanya terjadi secara mendadak. Kalau begitu, saya pamit undur diri, Tuan. Selamat, Anda sekarang telah resmi menjadi istri nona Laura."


Christian mengulas senyuman dan membungkuk hormat pada pria paruh baya tersebut dan berkali-kali mengucapkan terima kasih karena sudah mau direpotkannya.

__ADS_1


"Tolong antarkan bapak ini keluar, Vicky."


"Iya, Bos." Vicky saat ini menunggu beberapa orang yang tadinya menjadi saksi tersebut juga berpamitan, termasuk sahabatnya.


Ia menepuk pundak Rudi dan berbicara lirih. "Kirimkan nomor rekeningnya karena aku akan langsung mentransfer uangnya."


Rudi yang baru saja berpamitan dengan berjabat tangan pada pria hebat dan membuatnya merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan bos dari sahabatnya, seketika mengarahkan ibu jari untuk memberikan jawaban.


"Terima kasih jobnya, Bro. Lain kali jika ada lagi, aku tidak akan pernah menolaknya." Kemudian Rudi menepuk bahu kokoh sahabatnya dan melingkarkan tangan pada pundak Vicky.


"Sip. Nanti aku akan mengabarimu lagi karena sepertinya akan ada job kedua dan seterusnya setelah hari ini." Kemudian Vicky langsung mengantarkan ke depan pintu karena ia masih ingin berbicara dengan bosnya.


Begitu melihat tiga pria itu berlalu pergi, tanpa membuang waktu, ia langsung masuk kembali ke dalam ruangan sambil melirik mesin waktu yang sudah menunjukkan pukul 7.


Merasa masih ada waktu untuk berbicara karena biasanya ia berangkat ke kantor pukul setengah 8, kini menghampiri pria yang terlihat jauh lebih baik setelah sah menjadi suami wanita di atas ranjang tersebut.


"Tuan Christian, ada sesuatu yang ingin saya katakan mengenai proposal project baru di New York."


Sementara itu, Christian yang dari tadi tidak mengalihkan pandangan dari jemari lentik dengan cincin yang sangat pas di jari manis itu, sehingga membuatnya tersenyum simpul.


Ia seolah tidak memperdulikan pertanyaan dari asisten pribadinya karena tengah mengatakan sesuatu hal yang ada di pikirannya saat ini.


"Ternyata kau sangat pandai memilih cincin yang sangat pas di jemari istriku. Aku akan memberikan bonus untukmu hari ini." Kemudian menoleh ke arah pria yang terlihat berbinar wajahnya.


"Terima kasih karena sudah membereskan semuanya." Kemudian mengangkat ibu jari untuk mengungkapkan kepuasan dari pekerjaan yang dilakukan oleh asisten pribadinya tersebut.


"Terima kasih, Bos. Itu sudah menjadi tugas saya untuk memberikan yang terbaik. Tadi hampir terlambat karena pemiliknya yang langsung datang untuk membuka toko agar saya bisa mendapatkan cincin kawinnya. Lalu, bagaimana dengan proposal yang saya kirim kemarin malam?"


Saat Vicky baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari bosnya yang malah membuatnya merasa seperti pria yang tidak laku oleh wanita.


"Aku belum mengeceknya karena sibuk menatap wajah istriku yang cantik. Kau segera cari pasangan agar aku nanti bisa membelikan cincin kawin yang pas untuk kalian nanti. Aku akan membalas budimu hari ini." Kemudian Christian menoleh ke arah Vicky dan tersenyum menyeringai.


"Atau kau akan menjadi perjaka tua selamanya karena aku tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita manapun? Masa, kau kalah dengan pria tua sepertiku? Aku saja yang jauh lebih tua darimu, punya dua istri sekarang?"


Kemudian ia mendengar perkataannya sendiri karena merasa sangat konyol menyombongkan diri di depan asistennya yang terlihat memerah wajahnya karena malu saat tidak punya satupun pasangan.


Sementara itu, Vicky yang merasa sangat tertampar dengan perkataan dari bosnya yang menyindirnya habis-habisan, tentu saja membuatnya kesal karena mengucapkan terima kasih diiringi dengan sebuah ejekan.


'Astaga! Jika ia hanyalah seorang teman, aku pasti sudah meninju wajahnya,' gumam Vicky yang saat ini mencoba menahan diri agar tidak menampilkan wajah masam.


To be continued...



, para

__ADS_1



__ADS_2