
Malam hari, Laura baru saja dipindahkan ke ruangan perawatan setelah kondisinya mulai berangsur membaik karena demam tinggi sudah turun. Selama menunggu Laura di IGD, Christian selalu menyalahkan diri sendiri karena terburu-buru membawa istri sirinya tersebut ke Bandung.
Ia bahkan tidak beranjak sedikitpun dari kursi dan menggenggam erat telapak tangan yang panas karena efek demam tinggi. Bahkan sibuk merapal doa agar kondisi Laura kembali membaik seperti beberapa saat lalu.
Karena tidak sempat mengurus rumah yang akan ditinggali, Christian sudah membayar orang untuk membersihkan rumah baru sekaligus mengisi perabotan tanpa sepengetahuan Laura.
Ia tidak ingin Laura berpikir bahwa itu adalah rumah yang baru saja dibeli dan juga barang-barangnya. Bahkan semua perlengkapan Laura juga sudah disiapkan dengan menyuruh salah satu wanita yang bekerja di butik untuk mengurus semuanya.
Saat Christian sibuk menatap ke arah wajah pucat Laura yang masih memejamkan mata karena efek obat, kini ponsel yang berada di saku celana bergetar karena memang dari tadi sengaja mengaktifkan mode silent agar tidak mengganggu istirahat wanita di atas ranjang tersebut.
Ia pun memeriksa notifikasi yang baru saja masuk. Begitu mengetahui pesan itu berupa beberapa gambar mengenai keadaan rumah serta perabot yang menghiasi, membuatnya fokus menatap satu persatu.
Jika Anda merasa belum puas ataupun ada yang kurang, tolong katakan pada saya agar bisa merubahnya sesuai dengan keinginan.
Christian yang baru saja membaca pesan dari orang suruhannya, ini fokus pada video yang berisi rumah dan seisinya mulai dari halaman depan sampai belakang.
Begitu merasa puas dengan kerja orang yang dibayarnya mahal tersebut, kini ia mulai mengirimkan pesan karena tidak ingin menelpon dan meninggalkan Laura yang sedang beristirahat.
Semuanya bagus dan memuaskan. Aku akan mentransfer uangnya sekarang. Oh ya, untuk kunci rumahnya, taruh di bawah pot bunga yang sekiranya mudah untuk kucari.
Kemudian ia langsung mengirimkan pesan yang baru saja diketik tersebut pada pria yang mengurus rumah baru yang akan ditinggali dengan Laura. Begitu mendapatkan balasan nomor rekening, ia langsung mentransfer sejumlah uang sebagai gaji pria itu.
Begitu semuanya selesai dan masalah rumah sudah beres, Christian saat ini kembali beralih menatap ke arah Laura. Ia kini mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik itu.
__ADS_1
"Sayang, cepat sembuh agar kita bisa pulang ke rumah yang akan mengukir sejarah kita bersama. Aku tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersamamu setiap hari." Saat Christian baru saja menutup mulut, merasakan pergerakan tangan dari Laura dan beberapa saat kemudian melihat kelopak mata dengan bulu lentik itu perlahan-lahan terbuka.
Christian merasa lega begitu melihat iris kecoklatan yang sangat indah itu kini menatapnya. "Syukurlah kamu sudah bangun, Sayang. Apa yang saat ini kamu rasakan?"
Kemudian ia memeriksa kening Laura untuk memastikan apakah masih panas atau tidak. Begitu demam tinggi sudah benar-benar turun, Christian mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah panasmu sudah turun, Sayang."
Sementara itu, Laura yang saat ini menatap sosok pria dengan paras rupawan di hadapannya dan beralih pada ruangan dengan background putih tersebut.
"Apa aku tadi demam tinggi?"
"Iya, Sayang. Itu semua salahku karena mengajakmu kembali ke Bandung saat kondisimu belum benar-benar baik. Maafkan aku," lirih Christian dengan wajah penuh penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Namun, tangannya ditahan oleh Laura dan membuatnya menoleh ke belakang karena tidak jadi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Kebetulan tombol yang ada di atas ranjang perawatan tersebut rusak dan belum dibetulkan, jadi tidak bisa memanfaatkan itu.
"Mau ke mana? Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Lagipula hanya demam sedikit tidak masalah karena aku saat ini sudah baik-baik saja." Laura sebenarnya merasa kepalanya sangat, tapi tidak ingin menunjukkan pada Christian.
Ia khawatir jika sang suami menyalahkan diri sendiri jika mengeluh nyeri pada kepalanya. Hingga ia pun berakting menjadi wanita kuat yang sudah tidak merasakan kesakitan apapun.
Tadi ia kehilangan kesadaran saat berada di dalam mobil yang sudah masuk memasuki kota Bandung dan tidak mengingat apapun lagi, sehingga saat ini bertanya pada pria di hadapannya itu.
Di sisi lain, Christian yang saat ini merasa iba melihat wajah pucat Laura, tapi masih berpura-pura bersikap baik-baik saja, membungkukkan badan untuk mengecup lembut kening wanita itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang karena tidak menyalahkanku. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu. Kamu pun harus cepat sembuh, oke. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu." Saat Christian kembali berniat untuk melepaskan genggaman tangan Laura, malah mendapatkan nada protes dan tidak jadi melakukannya.
"Jangan pergi dan biarkan saja nanti dokter memeriksaku. Aku ingin kamu menemaniku dan tidak meninggalkanku. Aku baru saja mimpi buruk dan sangat takut." Laura tadi terbangun dari tidur karena mengalami mimpi yang sangat menakutkan.
Bahkan sebenarnya begitu membuka mata, ia sibuk menormalkan degup jantungnya yang tidak beraturan karena efek mimpi buruk.
Hingga ia pun seketika menahan pergelangan tangan kiri Christian agar tidak pergi meninggalkannya. 'Kenapa aku bisa mimpi buruk yang sangat menakutkan?'
Kini, Christian mengerti alasan dari Laura yang tidak ingin ditinggalkan dan membuatnya saat ini tidak tega pergi. Kemudian ia kembali duduk di kursi sambil menggenggam erat telapak tangan Laura.
"Memangnya tadi kamu mimpi apa, Sayang?" tanya Christian yang ingin mencari tahu ketakutan dari Laura. "Mimpi adalah bunga tidur dan tidak perlu ditakutkan, tapi jika kamu ingin aku tetap disini, aku akan menemanimu."
Laura saat ini merasa ragu untuk menjelaskan, tapi berharap setelah menceritakan semuanya pada Christian, kekhawatiran dan ketakutannya akan hilang karena lega telah mengeluarkannya dan tidak memikirkan lagi.
"Entah mengapa aku tadi bermimpi sesuatu yang membuatku sangat takut. Aku bermimpi kamu menikah dengan seorang wanita yang memakai kebaya putih dan terlihat bercahaya, tapi wajahnya tidak begitu jelas karena samar-samar."
Laura berhenti sejenak karena ingin menormalkan perasaannya yang tidak karuan ketika mengingat tentang mimpinya. Ia ingin mengetahui bagaimana respon sosok pria yang saat ini membulatkan mata karena terkejut dan pastinya sama sepertinya.
"Sayang, itu hanyalah bunga tidur. Kamu tidak boleh berpikir macam-macam dan mengganggu kinerja otakmu yang butuh istirahat serta tidak boleh diforsir dengan berbagai macam kekhawatiran." Christian benar-benar merasa sangat terkejut dengan mimpi Laura yang seolah menjadi feeling seorang istri.
Ia bahkan berusaha untuk bersikap natural dan menyembunyikan rasa terkejut atas cerita dari Laura. 'Pasti Ana yang memakai kebaya putih itu karena memang ia lah istri pertamaku.'
'Tapi kenapa Laura bisa bermimpi seperti itu? Padahal ia sama sekali tidak tahu statusku yang memiliki seorang istri. Apa Tuhan sengaja memberikannya mimpi untuk menyadarkan jika aku telah menipunya?' gumam Christian dengan perasaan berkecamuk dan bingung harus seperti apa menyembunyikan statusnya yang merupakan suami dari Ana Maria.
__ADS_1
To be continued...