
"Aku sebenarnya akan memberitahumu besok pagi saat ada papa juga, tapi karena melihatmu yang seperti kapal di lautan yang terombang-ambing karena orang-orang jahat tidak berperasaan saat dibutakan kekuasaan dan uang, sehingga tidak tega." Mario kini meraih telapak tangan Laura yang berkeringat begitu syok mendengar apa yang dikatakannya.
Ia ingin menjadi pegangan hidup wanita cantik itu agar tidak merasa sendirian di dunia ini. "Kamu sudah bisa sejauh ini dan itu menandakan kamu sangat kuat, Laura. Wanita lain mungkin akan bunuh diri begitu mengetahui hal buruk seperti ini. Tuhan memilihmu dengan membuatmu jatuh berkali-kali karena tahu kemampuanmu."
"Jadilah orang yang semakin kuat dan tidak mudah dijatuhkan oleh orang-orang jahat itu. Bukankah kamu harus menuntut balas pada mereka semua yang menghancurkanmu?" Mario bisa melihat manik bening Laura perlahan berubah memerah karena dikuasai oleh kemurkaan.
Laura saat ini tidak bisa menahan apa amarah yang membuncah di hatinya, kini mengepalkan tangan dan bulir air mata yang tadinya membasahi wajah mulai sirna.
Tangan kanan yang digenggam oleh Mario ia lepaskan karena menghapus bulir kesedihan yang tadi dirasakan. "Aku benar-benar tidak menyangka jika ternyata keluargaku sendiri yang mengkhianatiku."
"Jadi, pamanlah yang mengatur semuanya demi bisa menguasai semua aset kekayaan yang dimiliki orang tuaku? Bagaimana mungkin ada orang seperti mereka di dunia ini. Bukan, pamanku adalah seorang iblis karena tega membunuh saudara sendiri. Apalagi aku hanya keponakannya."
Laura yang merasa sesak di dada, kini tertawa terbahak-bahak saat kenyerian luar biasa menyeruak di hatinya. Ia merasa seperti mendapatkan ribuan anak panah yang menghunus jantungnya.
'Bahkan keluargaku sendiri saja menginginkan kematianku. Apalagi Christian yang notabene sama sekali tidak ada hubungan darah denganku. Kenapa aku bisa sebodoh ini karena merasa apa yang ditunjukkannya selama ini nyata.'
Laura kini merasakan tepukan di pundaknya dan bisa melihat raut wajah Mario yang membuatnya ragu untuk mempercayai orang lain begitu mengetahui kenyataan pahit yang dialaminya.
"Kamu mungkin dikhianati oleh keluarga sendiri, Laura, tapi jangan pernah berpikir bahwa di dunia ini sudah tidak ada orang baik yang tulus menolong. Mungkin kamu tidak bisa mempercayai aku setelah ini, tapi aku akan membuktikan dengan membantumu dan selalu ada di sisimu." Mario bisa melihat keraguan pada tatapan Laura.
Ia khawatir Laura menjaga jarak darinya karena berpikir sudah tidak lagi bisa mempercayai orang lain. "Percayalah padaku karena papaku pun ingin menebus kesalahannya karena dulu hanya diam saat merasa curiga pada pamanmu."
"Sampai ia dipecat dan diancam karena khawatir akan mengalami nasib yang sama. Saat itu pun aku juga masih remaja dan papa takut terjadi sesuatu yang buruk padaku. Namun, sekarang aku bisa diandalkan oleh papa dan kita harus bersatu untuk melawan orang-orang jahat."
__ADS_1
Mario saat ini melepaskan tangannya yang tadi berada di kedua sisi lengan Laura untuk menyadarkan wanita itu. "Kamu percaya padaku, kan?"
Laura yang masih merasa shock, tidak langsung menjawab. Saat ini, hatinya benar-benar terluka dan ia tidak tahu harus berbicara apa.
Namun, beberapa saat kemudian ia membuka suara. "Tolong tinggalkan aku, Mario. Aku ingin menenangkan diri."
"Baiklah. Aku mengerti dan bisa memahami perasaanmu, Laura. Jika kamu butuh teman, hubungi aku." Mario bangkit berdiri dari ranjang dan berjalan menuju ke arah pintu keluar meskipun Laura sama sekali tidak menanggapi.
Ia benar-benar sangat khawatir jika Laura semalaman menangis setelah mengetahui kenyataan pahit yang didengarnya. 'Semoga Laura tidak apa-apa dan menjadi lebih kuat lagi.'
Saat Mario masuk ke dalam ruangan kamarnya, di sisi lain, Laura kini bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ke arah balkon. Saat ini, waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
Tanpa memperdulikan embusan angin malam yang menusuk pori-pori kulitnya, ia kini sudah berdiri di balkon sambil mendongak menatap ke arah langit yang dihiasi bintang-bintang.
"Papa, mama, pasti kalian menderita di atas sana setelah mengetahui jika pamanlah yang membunuh kalian. Apa aku harus menyusul kalian agar orang-orang jahat itu puas?" Laura kini menangis tersedu-sedu mengingat semua hal buruk yang terjadi padanya.
Hingga setengah jam berlalu, ia terdiam sejenak dan beberapa saat kemudian menghapus bulir kesedihan di wajahnya. Embusan napas kasar mewakili perasaannya saat ini.
"Tidak, itu bukan yang diinginkan orang tuaku. Papa dan mama pasti menaruh harapan besar padaku, bukan? Bahwa aku harus membalaskan dendam kalian dan merebut hasil jerih payah papa dan mama." Laura kini kembali menatap ke arah langit malam.
"Aku akan menjadi putri kebanggaan kalian, pa, ma. Aku tidak akan membuat kalian bersedih dari atas sana. Laura yang penurut dan lemah telah mati. Mulai besok, putri kalian akan menjadi Anastasya Prameswari yang akan menghancurkan orang-orang serakah itu."
Laura kini langsung masuk ke dalam kamar bukan karena kedinginan. Namun, ia ingin melihat semua informasi mengenai perkembangan Prameswari Grup yang merupakan jerih payah orang tuanya.
__ADS_1
Saat ini, ia mengambil laptop miliknya dan mulai fokus memeriksa semua hal yang berhubungan dengan perusahaan. Hingga setengah jam kemudian, ia kembali mengepalkan tangannya dan wajahnya berubah memerah.
"Jadi, perusahaan sekarang dipimpin oleh sepupuku? Dasar bodoh! Dia bukan sepupumu lagi, Laura. Hubungan kalian tak lebih dari musuh sekarang. Bahkan perusahaan tidak menunjukkan prestasi selama lima tahun belakangan ini." Laura berpikir jika dibiarkan, perusahaan akan mengalami kemerosotan.
Kini, ia berpikir untuk menunda balas dendam pada Christian. "Aku harus fokus merebut perusahaan daripada Christian. Setelah aku mendapatkan hakku, akan dengan mudah menghancurkannya."
Laura berpikir kekuasaan jauh lebih penting dari segalanya dan itu menjadi kunci utama nanti untuk membalas dendam pada Christian.
"Apa yang harus kulakukan untuk merebut kembali perusahaan papa?" Laura terdiam selama beberapa menit dan tiba-tiba ada satu hal yang terlintas di pikirannya.
"Aku akan meminta bantuan temanku yang ada di New York. Aku akan merebut perusahaan bukan mengandalkan nama ahli waris, tapi akan menunjukan bahwa gen papaku mengalir dalam darahku. Bahwa aku akan bisa merebut semuanya dengan kemampuanku."
Laura kini menepuk jidatnya kala tidak tahu nomor sahabatnya karena memang tidak menghafalnya. "Aku terpaksa harus ke New York untuk bertemu dengannya."
Namun, lagi-lagi ia mengingat tidak memegang paspor dan identitas diri. "Sial! Aku benar-benar seperti kapal di lautan lepas yang terombang-ambing oleh ombak."
"Mario, pasti dia bisa membantuku. Aku akan meminta tolong agar mau mengurus semuanya." Laura yang saat ini merasa matanya pedas karena kurang tidur, berniat untuk merehatkan tubuhnya.
Ia sadar jika ini sudah larut malam dan tidak pantas untuk mengganggu waktu istirahat. "Semoga semuanya bisa diurus Mario. Saat ini, aku memang percaya padanya, tapi aku pun tidak sepenuhnya mempercayainya dan harus tetap waspada."
Laura membanting tubuhnya di atas ranjang dan menutup kelopak mata dan berharap bisa tidur saat pikiran dan hatinya sama-sama kacau.
Dengan mata tertutup, ia berbicara lirih. "Valerio, putraku, tunggu mama, ya! Suatu saat nanti, mama pasti akan merebutmu dari orang-orang jahat yang tidak pantas merawatmu."
__ADS_1
To be continued...
To be continued...