365 Days With You

365 Days With You
Operasi Laura


__ADS_3

Sosok pria yang saat ini berada di dalam ruangan kerjanya, kini mendapatkan sebuah informasi penting dari orang suruhannya. Pria yang tak lain bernama Andika Syaputra itu membayar orang untuk membuntuti kemanapun perginya sosok wanita yang sangat dibenci karena telah mempermalukannya di ruangan meeting beberapa hari lalu dan merebut posisinya sebagai presiden direktur di perusahaan.


Meskipun pada akhirnya posisinya sudah kembali karena dibantu oleh sang ayah, tetap saja harga dirinya sebagai seorang laki-laki sangat terhina oleh wanita itu. Jadi, berniat untuk memberikan sebuah pelajaran agar tidak berani macam-macam lagi padanya.


Begitu mendapatkan beberapa foto yang sangat menarik dan membuatnya tersenyum menyeringai karena melihat ada hubungan antara wanita itu dan Christian. Bahkan ia bisa menebak hubungan apa yang dimiliki keduanya.


"Jadi, ini alasan Christian tiba-tiba memilih untuk mundur dari perusahaan dan menjual saham pada Anastasya. Ternyata mereka mempunyai hubungan dan pastinya adalah cinta terlarang. Anak yang selama ini dirawat oleh istri Christian, ternyata adalah anak haram."


"Baiklah. Permainan semakin menarik dan aku sudah mengetahui kelemahan wanita arogan itu!" sarkas Andika yang saat ini tersenyum menyeringai karena mengetahui tentang sesuatu hal yang membuatnya bisa menyerang sisi terlemah Anastasya.


Saat ia tengah merencanakan sesuatu hal menghancurkan wanita yang sangat dibenci, kini mendengar suara notifikasi dari ponsel miliknya. Kemudian membaca pesan dari orang suruhannya yang sampai saat ini masih membuntuti Anastasya.


Bos, saat ini wanita itu tengah berbelanja banyak mainan. Apa yang harus saya lakukan sekarang? Apakah tetap mengikutinya sampai kembali ke apartemen?


Malas membalas pesan dari orang suruhannya, kini Andika memencet tombol panggil dan mulai berbicara untuk memberikan perintah. "Berikan pelajaran dengan cara sedikit membuatnya terluka. Pakai pisau yang kau bawa ke mana-mana itu untuk sedikit mengoyak kulitnya."


"Baik, Bos. Saya akan melakukannya," ucap pria memakai pakaian serba hitam di seberang telpon.


Kemudian Andika ketika membayangkan wanita yang dianggap sangat arogan dan sangat dibenci tersebut tidak berdaya dan bersimbah darah.


"Ini hanya sebuah hukuman kecil untukmu, wanita arogan! Aku ingin melihat seperti apa wajah pucatmu dibalik seragam rumah sakit saat aku menjengukmu nanti," sarkas Andika yang saat ini kembali menatap foto-foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya.

__ADS_1


Ia sudah tidak sabar menunggu kabar buruk mengenai wanita itu. "Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui," ucapnya yang saat ini berpikir bahwa Christian akan merasakan imbas dari perbuatan ketika melawannya dan mendukung wanita itu.


"Christian, aku ingin tahu pilihanmu. Apakah kau akan memilih istrimu atau wanita ****** itu saat sama-sama harus dirawat di Rumah Sakit." Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya dan mulai berjalan menuju ke arah jendela kaca raksasa di sebelah kiri.


Ia saat ini menatap ke arah lalu lalang kendaraan yang berada di bawah perusahaan dan menampilkan padatnya ibukota di siang hari. "Anastasya, apa kau akan merintih kesakitan saat kulitmu yang putih di koyak oleh tajamnya pisau?"


Bahkan ia yang merasa sangat bersemangat ketika membayangkan itu, kembali tertawa terbahak-bahak. Ia puas dan berharap bisa melihat sendiri apa yang terjadi pada Anastasya. "Aaaah ... harusnya aku memberitahu agar merekam saat detik-detik tidak berdaya wanita ****** itu."


"Apakah dia sudah melakukan tugasnya?" Ia memilih untuk mengirimkan pesan.


Jika memungkinkan, rekam saat wanita jalan itu merintih kesakitan tidak berdaya setelah kau mengoyak kulitnya.


Kemudian langsung mengirimkan pesan pada orang suruhannya tersebut. Ia menunggu balasan dan berharap apa yang diinginkannya bisa dipenuhi oleh orang yang akan membalaskan dendamnya.


Ia benar-benar tidak menyangka dan sangat terkejut dengan apa yang dialami oleh Laura karena ada orang jahat yang menusuk dari belakang. Refleks ia bangkit berdiri dari kursi dan membuatnya seketika menghubungi asisten pribadinya.


Hanya itu yang saat ini terpikirkan olehnya karena ingin melihat kondisi Laura secara langsung yang saat ini menuju ke Rumah Sakit. Bahkan ia saat ini sudah berjalan menuju ke arah lift yang membawanya turun ke lobi.


Ia berniat untuk menunggu Laura di depan IGD. Tadi ia memastikan bahwa Ana masih tertidur pulas karena efek obat yang tadi disuntikkan oleh perawat. Jadi, merasa sangat bersyukur karena tidak mendengar saat sang ibu menelpon ketika mengabarkan tentang musibah yang dialami oleh Laura.


"Laura, kenapa kamu selalu mengalami musibah dengan nyawa taruhannya? Aku benar-benar tidak habis pikir karena kamu selalu mendapatkan hal buruk dari orang lain. Apakah ada banyak musuh yang mengincarmu?" lirih Christian ya saat ini masih berdiri di depan IGD dan menunggu kedatangan ibu serta Laura yang tadi pergi dengan putranya.

__ADS_1


Sepanjang menunggu, ia tidak berhenti merapal doa untuk keselamatan Laura karena tidak ingin wanita yang masih berusia sangat muda dan sangat cantik tersebut kehilangan nyawa.


Bahkan berkali-kali ia mengacak frustasi rambutnya dan berjalan mondar-mandir demi bisa menenangkan perasaannya yang dipenuhi oleh kekhawatiran. Hingga beberapa saat kemudian melihat mobil yang berhenti tepat di depan IGD dan sudah menduga jika itu adalah kendaraan milik Laura.


Ia langsung berlari mendekat dan melihat sang ibu yang keluar dari mobil. "Bagaimana semuanya bisa terjadi, Ma? Apa Mama melihat wajah orang yang menusuk Laura?"


"Tidak, Christian. Tadi Mama menunggu di mobil bersama dengan putramu dan tidak menyadari jika ada orang yang telah menusuk Laura dari belakang." Ia yang saat ini masih menggendong cucunya yang rewel karena terbangun, sehingga berusaha untuk menenangkan agar tidak sampai menangis.


Christian yang saat ini langsung berusaha untuk mengeluarkan tubuh tidak berdaya yang bersimbah darah itu dari mobil, lalu berjalan masuk ke IGD.


"Dokter, ada pasien yang mendapatkan luka tusukan di bagian belakang!" Christian langsung membaringkan tubuh Laura dengan posisi miring ke kanan.


Hingga ia merutuki kebodohannya karena tadi tidak mengatakan pada para petugas medis di IGD sebelum Laura datang.


Para perawat dan dokter saat ini langsung bergerak sikap untuk memberikan pertolongan pertama pada korban.


Setelah dokter memeriksa tanda-tanda vital dari pasien, saat ini menatap ke arah pria di hadapannya. "Pasien mengalami luka yang cukup dalam dan harus segera dioperasi. Apa Anda tahu golongan darah pasien karena sepertinya harus mendapatkan transfusi saat kehilangan banyak darah."


"Tolong selamatkan istri saya, Dokter! Dia memiliki golongan darah O." Christian yang saat ini berbicara tanpa mengalihkan perhatian dari Laura yang sudah diubah posisinya menjadi tengkurap ketika diperiksa kondisi lukanya.


Ia bahkan merasa tidak tega melihat tubuh yang saat ini bersimbah darah dan tidak sadarkan diri. Seolah merasakan Dejavu seperti satu tahun silam ketika Laura mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Hingga ia pun ikut membantu mendorong berangkat menuju ke ruangan operasi setelah sang dokter memastikan kondisi Laura.


To be continued...


__ADS_2