
Laura meminta Mario untuk satu ruangan dengan putranya agar bisa dengan mudah merawat ketika tersadar nanti. Meski ia merasa sangat gugup ketika pertama kali putranya nanti membuka mata dan melihat yang, sosok wanita yang selama ini dianggap ibu kandung.
Ia bahkan dari tadi duduk di kursi roda sambil menggenggam erat telapak tangan putranya yang mungil dan sangat menggemaskan wajahnya ketika tertidur.
Sementara Mario sibuk mengurus keinginan Laura dan saat ini mondar-mandir pada bagian administrasi demi pangeran yang masih tertidur pulas di atas ranjang perawatan tersebut.
Namun, ia kembali dengan kantong plastik di tangan yang berisi makanan dan ingin diberikan pada atasannya. Begitu mengetuk pintu dan masuk, ia melihat punggung belakang wanita yang sangat dicintai.
"Jika kamu ingin merawat Valerio, kamu pun harus makan dan segera pulih. Tenang saja karena aku akan membantumu nanti saat Valerio menangis. Jangan menyiksa diri dengan pemikiran negatif atau pun tidak percaya diri dan akhirnya tidak bisa merawat dengan baik putra kita."
Saat baru menutup mulut, ia mendengar suara dari Laura yang seketika membuatnya tersenyum.
__ADS_1
"Suapi aku karena aku ingin bisa merasakan ketika pertama kali putraku sadar dengan cara menggenggam erat telapak tangannya seperti ini." Laura sebenarnya sangat malas dan tidak berselera untuk makan, tapi tidak ingin menolak kebaikan dari Mario.
Akhirnya ia mengatakan hal itu dan melihat senyuman lebar dari bibir pria yang bergerak untuk membuka makanan yang baru saja dibeli dan langsung menyuapinya.
"Alhamdulillah. Syukurlah kamu sekarang sudah berubah dan tidak keras kepala seperti dulu. Makan yang banyak dan aku tidak akan bosan untuk menyuapimu seperti ini." Mario memilih untuk duduk di atas ranjang sebelah bocah yang laki-laki yang masih menutup kelopak mata karena larut dalam alam bawah sadar.
Ia sebenarnya ingin sekali mencubit gemas pipi putih Laura, tapi tidak bisa melakukannya karena melihat tengah mengunyah makanan. "Teruslah seperti ini dan jangan pernah merasa sungkan padaku untuk meminta tolong dalam hal apapun."
"Laura, bagaimana bila kita menikah setelah kondisimu pulih dan Valerio keluar dari rumah sakit? Tidak perlu pernikahan yang besar-besaran karena yang penting kita sah dan bisa hidup bersama agar selalu bisa melindungi kalian. Bagaimana?" Menunggu jawaban Laura dan tidak menyuapinya terlebih dahulu.
Ia berharap mendapatkan persetujuan tanpa penolakan dari seorang wanita yang baru saja selesai mengunyah makanan.
__ADS_1
"Apa kamu yakin menikahi seorang wanita seperti itu yang bahkan sudah memiliki seorang anak? Kamu masih perjaka dan berhak mendapatkan wanita perawan, Mario. Apa kamu siap mendapatkan sindiran dari banyak orang karena menikahi seorang janda beranak satu sepertiku?"
Laura yang selama ini memang tidak berniat untuk menikah lagi, ingin membuat Mario menyadari jika ia bukanlah pilihan yang tepat.
Apalagi ia tahu jika sosok pria yang ada di hadapannya tersebut adalah seorang pengacara hebat yang mengundurkan diri hanya demi dirinya, agar bisa menjadi asisten pribadi untuknya. Jadi, merasa menjadi seorang wanita bodoh karena masih bertanya serta ragu setelah effort yang ditunjukkan Mario begitu luar biasa.
"Jika berbicara hal itu lagi, aku akan membungkam mulutmu! Jadi, lebih baik jalani semua yang terbaik untuk ke depannya. Jadi, kamu setuju untuk menikah denganku, kan?" Mario ingin jawaban yang pasti agar tidak merasa digantung oleh garapan.
Tanpa pikir panjang untuk mempertimbangkan, Laura kini langsung mengangukkan kepala tanda setuju. "Ya, aku bersedia untuk menikah denganmu setelah keluar dari rumah sakti."
'Tuhan, ini adalah pilihan yang tepat untukku, kan?' gumam Laura yang kini berharap tidak salah pilih atau pun merasakan luka seperti dulu.
__ADS_1
To be continued...