365 Days With You

365 Days With You
Tanpa terburu-buru


__ADS_3

Lima hari telah telah berlalu setelah pernikahan Laura dengan Mario. Kini, terlihat keduanya baru saja pulang dari bulan madu. Meskipun bisa dibilang hanya jalan-jalan saja karena Laura belum bisa melayani sang suami sepenuhnya.


Nasib baik Mario hanya membuatnya bekerja keras di hari pertama saja dan setelah itu ia aman. Laura kini baru saja selesai mandi dan terlihat handuk melilit di rambutnya yang basah.


Besok mereka sudah kembali bekerja, jadi harus pulang dan malam ini beristirahat di ranjang nyaman yang sudah beberapa hari ditinggalkan.


Jika selama lima hari mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menikmati keindahan alam, sekarang tinggal melepas penat.


Kakinya yang jenjang kini melangkah ke dalam kamar dan mengunci balkon yang tadi sempat dibuka karena malam semakin larut dan hawa dingin menusuk tulang.


Tadi Mario bilang ingin mengirimkan email pada salah satu rekan bisnis dan ia pergi mandi.


Suara dering ponsel yang sangat nyaring dan memecahkan keheningan malam, membuat Laura langsung memeriksa siapa yang menelpon.


"Apa Christian yang menelpon?" tanya Mario yang baru masuk kamar setelah selesai dengan pekerjaannya.


Ia bahkan merebut ponsel di genggaman Laura untuk memastikan pemikirannya. Selama ini ia merasa sangat terganggu dengan pesan Christian yang selalu mengabarkan tentang Valerio.


Seolah sengaja ingin mencari perhatian istrinya dengan memanfaatkan Valerio, tapi ia selalu diam dan tidak meributkan itu asalkan Laura tidak menanggapi. Namun, kali ini ia yakin jika Christian menelpon karena kesal tidak ditanggapi.


Ia merasa sangat kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan seperti biasa selalu menahan diri. "Apa kamu akan mengangkatnya?"


Laura kini hanya bisa mengerjapkan kedua mata dan mengendikkan bahu karena ia pun serba salah. Di sisi lain tidak ingin dianggap tidak sayang dengan Valerio setelah menikah dan tidak ingin dianggap tidak menjaga perasaan Mario.


Dua pertimbangan itu yang membuatnya bingung sekaligus. "Menurutmu bagaimana? Aku akan ikuti apa katamu biar kamu tidak kesal."


Masih dengan wajah memerah karena kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Mario hanya berjalan menuju ranjang dan membanting tubuhnya di sana.


Sementara Laura hanya mengamati dengan terdiam di tempatnya dan menunggu keputusan pria itu.


Meskipun ia tidak menjawab keinginan Laura, tapi ia menganggukkan kepala agar wanitanya mulai menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo."

__ADS_1


"Kenapa kau tidak membalas pesanku saat sudah membacanya?"


"Yang penting aku sudah melihat jika Valerio baik-baik saja."


Ia menatap pria yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi menghadapnya dan mengarahkan tatapan penuh kecemburuan.


'Bayi besarku yang cemburu itu menggemaskan sekali,' gumam Laura yang kini ingin menyelesaikan masalahnya dengan Christian.


"Kamu tidak perlu melaporkan tentang Valerio padaku karena aku mempercayaimu. Jangan membuatku merasa seolah kamu ingin mencari perhatianku, Christian. Jadi, saat kamu bersama Valerio, fokus saja padanya dan tidak perlu sering mengirimkan pesan padaku!"


Kemudian ia langsung mematikan sambungan telepon karena tidak ingin berbicara panjang lebar dengan Christian dan membuat Mario cemburu buta.


Kemudian ia menaruh ponsel miliknya di atas nakas dan beralih menatap ke arah Mario yang masih masam wajahnya.


"Sudah selesai. Apa kamu masih marah?" Laura tahu jika Mario cemburu karena cinta mati padanya.


Namun, ia tahu jika kecemburuan bisa menjadi bumerang untuk hubungan rumah tangga mereka. Jadi, bersikap tegas pada Christian yang dianggap seperti tengah mencari perhatiannya tiap hari.


"Nah ... gitu dong sayang. Kalau kamu tegas, Christian tidak akan berani lagi mengganggu kamu dengan menggunakan alasan Valerio." Ia kini mendekati sosok wanita yang kini terlihat sangat segar setelah keramas.


"Hari ini kan?" tanya Mario yang kini ingin memastikan janji sang istri setelah sekian purnama ia berpuasa.


Laura yang tahu ke mana arah pembicaraan dari sang suami, hanya tersenyum simpul. "Kalau masalah itu selalu ingat."


"Gimana nggak ingat, aku sudah jadi suamimu tapi belum sepenuhnya menjadi suami karena belum merasakan apa yang namanya surga dunia para pasangan suami istri." Mario yang merasa sangat kesal karena Laura tidak memahaminya.


Laura kini hanya terkekeh melihat sikap menggemaskan Mario seperti anak kecil tidak dibelikan permen oleh ibunya. "Iya, maaf. Sekarang terserah kamu mau melakukan apa. Aku pasrah."


Tanpa membuang waktu, Mario yang ingin mengintimidasi wanita yang telah menyerahkan diri padanya, sudah menelusup masuk dengan mengincar pusat dari kelemahan wanita di hadapannya.


Bahkan saat ia melakukannya, mendengar suara rintihan wanita yang langsung berpegangan kuat pada pinggangnya.


Dengan suara bergetar karena sensasi berputar tengah menjungkirbalikkan dirinya.

__ADS_1


Bahkan ia sudah memejamkan kedua mata untuk menikmati sensasi kenikmatan yang menjalar dan mengakar di setiap urat syarafnya karena perbuatan pria yang sudah sibuk mengintimidasinya dan kembali membuatnya lemah.


Sementara itu, Mario yang merasa diambang kemenangan, hanya tersenyum smirk karena usahanya telah berhasil dan wanita yang ada di hadapannya seolah telah menyerahkan diri padanya.


"Aku sudah berpuasa untuk menahannya, Sayang. Sekarang aku tidak bisa. Lebih baik kita tidak memikirkan hal lainnya saat ini."


Ia tadi memang langsung berjalan cepat ke arah sosok wanita yang membuatnya harus bersabar. Tentu saja ia kini sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi dan langsung meraup bibir sensual yang merupakan candu untuknya.


'Malam ini, kita akan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya, Sayang,' gumam Mario yang kini tengah sibuk mengirimkan gelombang gairah tak tertahankan.


Tangan kirinya terlihat menahan tulang rusuk wanita yang sudah berada dalam kuasanya dan tidak akan pernah dilepaskan.


Seperti orang yang sangat kehausan dan ingin segera mereguk kenikmatan dari bibir sensual itu untuk mengecap sari kemanisan yang sangat diharapkan, bahkan kali ini benar-benar sangat brutal karena kepalanya serasa mau meledak saat terlalu lama menahan diri.


Melihat tubuh sang istri, tentu saja langsung membuatnya bergairah.


Saat ini Laura merasa jantungnya berdetak sangat kencang karena merasakan bahwa Mario seperti seekor binatang buas yang mengincar mangsanya dan benar-benar ingin mengoyak tubuhnya.


'Bahkan Mario seperti binatang buas yang kelaparan saat ini. Ia mungkin sebentar lagi akan mengoyak tubuhku.' Laura yang hanya bisa mengungkapkannya di dalam hati karena tidak bisa membuka mulut untuk menolak perbuatan Mario.


Lonjakan gairah yang menunjukkan seksualitas yang mungkin saat ini bertalu-talu di dalam darah Mario saat menciumnya dengan liar dan brutal hingga tidak bisa mengimbanginya dan membuatnya dicengkeram kegelisahan.


Ia sekarang menyadari bahwa kaum pria selalu mudah membawa kerapuhan seorang wanita ke permukaan dengan mengeluarkan kemampuan hebatnya di atas ranjang.


Saat ia ingin menghentikan perbuatan pria yang semakin membuat gelombang gairah menyeruak dalam darahnya. Ia mendesah dan merintih lepas. Menghiasi ruangan kamar kedap udara itu dengan suaranya.


Saat ini, tangan Laura menegang dalam genggaman Mario dan ia melihat pria itu berhenti di tempat tidur, melepaskan pertautan bibirnya karena kini telah berpindah ke daun telinganya, seketika membuat darahnya berdesir.


Mario yang saat ini tidak ingin terburu-buru melakukannya, benar-benar menahan sekuat tenaga gelombang gairah yang sebenarnya sudah hampir meledak dalam jiwanya. Ia menarik Laura lebih dekat dan hawa panas menjalari tubuhnya.


"Aku ingin kita menikmatinya tanpa terburu-buru, Sayang. Bersama kita berbagi semua kehangatan untuk mendaki puncak kenikmatan bersama malam ini."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2