
Ana saat ini baru saja tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke IGD karena khawatir pada bayi laki-laki yang makin panas tubuhnya. "Suster, tolong segera tangani putraku."
"Dia demam tinggi dan terakhir tadi saya cek suhunya 38," ujar Ana yang kini langsung membaringkan tubuh mungil yang terlihat pucat dan menangis sangat nyaring tersebut.
Bahkan selama dalam perjalanan tadi menuju ke Rumah Sakit, ia gagal mendiamkan bayi yang sudah dianggap sebagai putra kandungnya sendiri tersebut. Padahal sudah diberikan susu agar tidak menangis, tapi tidak bisa membuat bayi itu diam karena demam tinggi.
"Putraku, kamu akan sembuh, Sayang. Dokter akan mengobatimu," ucap Ana yang kini sedikit merasa lega begitu perawat langsung memberikan pertolongan untuk bayinya.
Bahkan beberapa saat kemudian dokter datang dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ana menjawab semuanya seperti yang terjadi hari ini. Berharap demam putranya segera turun setelah mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit.
Namun, saat tengah fokus menatap ke arah sang dokter yang memeriksa bayi bernama Valerio, ia merasa tubuhnya sangat lemas dan seperti tidak punya tenaga.
'Gara-gara aku akhir-akhir ini kehilangan nafsu makan, jadi lemas seperti ini dan gampang lelah,' gumam Ana yang kini memilih untuk duduk di kursi sebelah kanan ranjang perawatan tersebut karena sangat lemas.
Hingga ia mendengar suara bariton dari pria yang baru saja datang memanggilnya, sehingga menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana dengan anak kita?" Christian yang tadi baru saja tiba di Rumah Sakit, memang langsung menuju ke IGD dan mencari keberadaan Ana dan Valerio.
Begitu melihat siluet sang istri, beralih ke arah malaikat kecilnya yang kini menangis sangat nyaring. Refleks ia langsung mendekati brankar putranya dan menatap ke arah wanita dengan jubah putih yang tengah memeriksa.
"Dokter, bagaimana dengan putraku? Dia tidak apa-apa, kan?" Christian merasa sangat khawatir pada keadaan putranya yang dipisahkan dengan ibu kandungnya.
Ia takut jika putranya demam karena merindukan ibu kandungnya. Bahkan sering mencari informasi mengenai seputar bayi. Hingga ia pernah membaca artikel yang berisi tentang bahaya demam tinggi pada bayi.
"Putraku tidak akan mengalami kejang atau terganggu syarafnya karena demam tinggi, kan Dokter?" tanya Christian yang saat ini tengah menatap ke arah sang dokter yang baru saja memerintahkan pelayan untuk menyuntikkan cairan dari infus.
Namun, yang terjadi adalah ia mengerutkan kening begitu menatap ke arah wanita yang duduk di kursi terlihat sangat pucat. "Apa Anda sakit, Nyonya?"
Refleks Christian menoleh ke arah Ana yang masih duduk di kursi dan bisa melihat wajah pucat istrinya yang menggelengkan kepala.
"Aku hanya sedikit lelah, Dokter. Aku tidak apa-apa karena asalkan putraku sembuh, semua lelahku sama sekali tidak berarti." Ana mencoba untuk menahan rasa sakit pada bagian pinggul agar tidak ada yang berlebihan khawatir.
__ADS_1
Kemudian sang dokter menjelaskan tentang kondisi bayi laki-laki itu hingga bisa berakhir masalah jika demam tinggi.
Sementara itu, Christian saat ini merasa sangat aneh melihat perubahan sikap Ana yang selalu terlihat sempurna tersebut. Namun, tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
'Kata dokter yang menangani Ana, akan kurang nafsu makan dikarenakan penyebaran sel kanker bisa membuat metabolisme tubuh berubah, sehingga berpengaruh terhadap nafsu makan.'
'Hal kedua yang kukhawatirkan adalah Pembengkakan di salah satu tungkai dan dapat terjadi ketika benjolan akibat kanker menekan pembuluh darah di panggul, sehingga menghambat sirkulasi darah ke tungkai. Akibatnya, terjadi penimbunan cairan yang membuat tungkai menjadi bengkak.'
'Apa Ana mulai merasakan gejala yang disebutkan oleh dokter?' gumam Christian yang kini menatap intens sosok wanita di hadapannya tengah bangkit berdiri dari kursi.
Ana kini tersenyum simpul agar tidak membuat sang suami merasa khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Jadi, jangan berpikir macam-macam padaku."
To be continued...
__ADS_1