365 Days With You

365 Days With You
Pikiran buruk


__ADS_3

Christian yang saat ini tengah mengemudikan kendaraan menuju ke Perusahaan Prameswari karena ingin mencari tahu informasi tentang Laura. Ia benar-benar sangat kesal karena belum selesai berbicara dengan wanita yang tiba-tiba memutuskan sambungan telpon sepihak.


Bahkan saat menghubungi lagi, tidak bisa melakukannya karena nomornya sudah di blok. "Laura benar-benar sangat marah padaku. Sekarang aku tidak bisa berbicara dengannya lagi."


"Padahal aku ingin berlutut di kakinya untuk meminta maaf dan atas kesalahanku padanya. Berharap dengan begitu, dia akan mau mengikhlaskan putra kamu. Aku memang egois, Laura, sehingga bisa melakukan hal seperti ini." Christian mengemudi sambil mengembuskan napas kasar menghiasi mobilnya.


"Harusnya kamu tahu jika aku tidak mau mempunyai anak lagi dari wanita lain karena hanya ingin Valerio. Bahkan sampai sekarang tidak bisa melupakan kenangan kita bersama. Aku ingin selamanya menyimpan kenangan itu di hatiku dan tidak ingin mengisinya dengan yang baru."


Saat Christian menginjak pedal rem begitu tiba di lampu merah, ponselnya berdering dan membuatnya langsung mengaktifkan earphone di telinganya. Karena melihat yang menghubungi adalah sang istri dan membuatnya berpikir ada yang ingin disampaikan Ana padanya.


"Iya, Sayang." Saat menutup mulut, memicingkan mata karena dari seberang telpon sana bukanlah Ana.


"Halo. Apa ini dengan suami dari pemilik ponsel? Karena saya menelpon panggilan teratas dengan kontak husband." Seorang wanita yang saat ini tengah berada di depan IGD salah satu Rumah Sakit, tadi memang sekalian membawakan tas untuk melindungi barang-barang berharga.


Kemudian memilih untuk mencari tahu mengenai wanita itu dari ponsel yang untungnya tidak dikunci dengan sandi dan langsung menghubungi pihak keluarga.


Merasa ada yang tidak beres pada Ana, kini Christian langsung menepikan kendaraan setelah kembali melaju begitu lampu berubah hijau. Ia ingin fokus mendengarkan tanpa mengemudi karena khawatir ada hal buruk yang terjadi pada Ana.


"Iya, benar. Saya adalah suami dari pemilik ponsel ini yang bernama Ana Maria. Apa yang terjadi pada istri saya? Tolong katakan pada saya, Anda berada di mana dengan istri saya?" Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Christian, tapi menahannya dan bertanya satu-persatu.


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban dari seberang telpon menceritakan yang terjadi di pusat perbelanjaan.


"Tolong Anda segera datang ke Rumah Sakit. Ada sesuatu hal penting yang harus Anda ketahui," ucap wanita yang kini masih menyembunyikan tentang kabar mengenai pria yang tadi berbicara akan membuntuti dari belakang saat menggendong bocah laki-laki itu.

__ADS_1


Namun, tidak menyadari jika pria yang membawa putra wanita itu ternyata tidak ada dan tidak kunjung datang, sehingga berpikir jika sudah diculik. Hingga ia yang sudah menyebutkan Rumah Sakit, kini merasa lega saat suami wanita itu tidak bertanya banyak hal padanya.


"Baiklah. Tolong jaga istri saya. Ini saya langsung menuju ke Rumah Sakit." Christian kini langsung mematikan sambungan telpon dan langsung mengemudikan mobilnya membelah lalu lintas kota Jakarta menuju ke tempat di mana Ana sedang ditangani.


"Kenapa Ana pingsan? Bukankah selama ini sudah jarang mengeluh sakit dan kupikir obatnya bekerja dengan baik untuk menyembuhkan penyakitnya. Aku harus berkonsultasi dengan dokter lagi setelah nanti mengetahui penyebab Ana pingsan." Ia menambah kecepatan agar segera tiba di tempat yang dituju.


Hingga beberapa menit kemudian, kini sudah tiba di Rumah Sakit dan berlari ke arah Unit Gawat Darurat untuk melihat keadaan Ana.


Begitu masuk ke dalam dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan sang istri, kini melihat sosok wanita yang masih mengenakan pakaian kerja berwarna hitam itu tengah terbaring tidak sadarkan diri.


"Sayang!" teriaknya dan berjalan menghampiri ranjang perawatan sang istri dan di sebelah kiri ada seorang wanita sekitar 40 tahunan duduk di sana.


"Anda suami pasien?" tanya wanita bertubuh gemuk yang langsung bangkit berdiri dari kursi begitu melihat pria yang menjadi suami pasien itu memiliki paras rupawan seperti seorang artis yang dilihatnya di televisi.


"Iya, Tuan." Wanita itu bingung harus memulai dari mana untuk mengatakan tentang putra pria itu yang dibawa pergi orang lain.


"Apa kata dokter?" tanya Christian yang ingin tahu keadaan sang istri yang terlihat pucat. Bahkan ia sudah mengecek bening serta telapak tangan Ana untuk memastikan suhu tubuhnya.


Hingga ia menoleh ke arah wanita yang kini menjelaskan perkataan dari sang dokter.


"Dokter ingin berbicara dengan keluarga pasien dan tidak menjelaskan pada saya karena bukan sanak saudara. Jadi, makanya tadi menghubungi anda untuk mencari informasi mengenai keluarga nona ini. Anda bisa bertanya pada dokter untuk mengetahui apa yang terjadi pada istri Anda."


Ia yang baru saja menjelaskan sesuai dengan perkataan dari sang dokter dan melihat pria itu hendak menemuinya, langsung menghentikannya. "Tuan, tunggu! Ada hal penting lainnya yang harus anda ketahui."

__ADS_1


"Nanti saja karena tidak ada hal yang lebih penting dari keadaan istriku. Aku akan bertanya pada dokter dulu. Tolong Anda tetaplah di sini sebentar." Christian baru saja berjalan satu langkah, seketika menghentikannya begitu mendengar suara wanita yang membuat hatinya berdegup kencang dan menoleh ke belakang.


"Ini tentang putra Anda yang dibawa pergi oleh seorang pria, Tuan." Ia tidak mau membawa waktu karena khawatir disalahkan, sehingga langsung mengungkapkan apa yang dilihatnya.


"Putraku? Apa putraku bersama istriku tadi? Tidak. Aku pikir tadi istriku berbelanja ke Mall sendirian karena saat ini putraku berada di rumah neneknya." Christian seketika mengacak frustasi rambutnya begitu melupakan hal penting.


'Tadi putraku menangis tidak berhenti dan mama menelpon agar Ana segera menjemputnya. Pasti Ana sudah menjemputnya dan mengajak berbelanja di supermarket, lalu ada orang yang jahat yang menculik putraku,' gumam Christian yang saat ini merasa sangat khawatir pada keadaan putranya.


Bahkan saat ini ia langsung membuka ponsel miliknya dan menunjukkan salah satu foto putranya. "Apa anak ini yang Anda maksud?"


Wanita itu menatap ke arah layar ponsel dan begitu merasa yakin jika foto itu sama dengan anak kecil yang dibawa tadi, seketika mengangukkan kepala.


"Iya, anak inilah yang dibawa pergi oleh seorang pria tadi. Maaf karena kami fokus pada istri Anda yang pingsan, sehingga berpikir jika pria yang menggendong putra Anda adalah orang baik dan mau menolong. Ternyata begitu tiba di Rumah Sakit, pria itu tidak kunjung tiba sampai sekarang."


Ia menunggu hingga pria yang terlihat langsung menelpon seseorang itu selesai berbicara. Khawatir jika ia akan disangkutpautkan tentang hilangnya putra pria itu, sehingga masih mendengarkan.


Sementara itu, Christian yang sebenarnya merasa sangat lemas karena putranya diculik, berusaha untuk tenang. Meskipun tangannya saat ini gemetar luar biasa saat mengkhawatirkan keadaan putranya yang dibawa kabur oleh seorang wanita.


Ia yang tidak mungkin bisa sendiri mengurus semuanya, kini menghubungi Vicky agar membantunya. 'Lindungi putraku, Tuhan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada putraku. Aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada putraku.


Christian saat ini menunggu Vicky mengangkat telpon dengan perasaan bergejolak dan dikuasai oleh pikiran buruk tentang putranya.


To be continued...

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2