
Christian sengaja meninggalkan Laura di sana. Ia meminta bantuan seorang suster yang dibayar untuk menjaga dan mengawasi wanita itu.
Tidak ingin berlama-lama berdebat dengan Laura, ia memilih untuk membiarkan wanita itu menenangkan diri lebih dulu.
Christian melajutkan mobilnya meninggalkan pelataran parkir rumah sakit, memecah jalanan kota yang ramai oleh lalu lalang kendaraan lain.
Tujuannya bukanlah hotel di mana Ana Maria menginap. Entah, ia pun belum tahu kemana akan pergi. Saat ini, ia hanya ingin menenangkan diri dari dua wanita itu agar bisa berpikir. Langkah apa yang akan ia ambil.
Sebuah bukit dengan pemandangan kota Bandung dari atas sana, menjadi pilihan Christian untuk memarkirkan kendaraannya di sana.
Beruntung tidak banyak pengunjung yang datang karena ini bukanlah akhir pekan. Christian memilih sebuah kursi kayu yang terpisah dari kursi-kursi lain di sekitarnya.
Udara dingin tidak membuat pria itu mengurungkan niat untuk duduk di sana. Kemeja panjang yang membalut tubuh kekarnya tak mampu menghalangi angin untuk menyusup menyentuh kulit.
Cuaca di sana memang cukup dingin, apalagi di waktu malam seperti ini. Christian pikir hidupnya akan mudah setelah mendapatkan anak dari Laura.
Nyatanya semua semakin rumit. Ia sedang berada disebuah persimpangan dan harus memilih jalan mana yang akan dipilih untuk terus melangkah ke depan.
“Kenapa rasanya sangat menyesakkan?”gumam Christian dengan mengembuskan napas berat.
Ya. Ia tidak mungkin mengingkari janjinya pada Ana Maria. Christian sudah mengatakan jika hanya memanfaatkan Laura dan akan mengambil anak mereka. Ia akan merawat anak itu bersama dengan Ana.
Helaan napas panjang terdegar dari pria itu. Ia harus segera mengambil keputusan. Mungkin ia memang memiliki rasa pada Laura, tetapi segera Christian menampik jika itu hanyalah sebatas rasa iba.
Wanita itu memang tulus mencintai Christian, tetapi ia tidak bisa membalas perasaan itu dengan cinta yang sama. Christian begitu mencintai Ana Maria dan tidak mungkin meninggalkan wanita itu.
Memang tidak ada yang salah dengan memiliki dua istri. Selagi ia bisa berlaku adil untuk keduanya. Namun, hal itu hanya berlaku jika kedua wanita itu sama-sama menerima untuk berbagi cinta. Sayangnya Laura dan Ana Maria tidak akan mau.
“Aku harus mengakhiri semuanya sebelum semakin bertambah rumit,” ujar Christian.
Pria itu menatap kerlip lampu-lampu kota Bandung di bawah sana. Memori ingatan memutar setiap momen kebersamaannya yang indah dan menyenangkan bersama Laura.
Dari awal mereka bertemu sampai akhirnya memutuskan untuk menikahi wanita itu secara siri. Laura adalah wanita baik dan tulus.
Tiba-tiba wajah Ana Maria berkelebatan di tengan bayangan kebersamaannya dengan Laura. Seolah-olah menjadi sebuah peringatan dari semesta jika ada wanita lain yang lebih dulu bersamanya. Bahkan, kenangan manis nan indah bersama wanita itu jauh lebih banyak.
__ADS_1
Seketika ucapan seorang dokter terngiang di telinga Christian. Membuat pria itu memejamkan mata mengingat kembali setiap kalimat yang dokter katakan padanya.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Ana. Kamu tetap akan menjadi wanita yang aku cintai. Kamu tetap pemilik tahta tertinggi di dalam hatiku,” ucap Christian.
Pria itu menghirup napas dalam dan mengembuskan perlahan. Melakukan berulang kali hingga ia merasa jauh lebih baik dan tenang.
Dering ponsel di dalam saku celana membuat pria itu tersentak. Ia meraih benda pipih tersebut.
“Ya?” Ia segera menjawab setelah mengusap tombol hijau di layar tersebut.
"Kamu di mana? Bukankah kamu sudah pergi dari rumah sakit sejak tadi?"
Itu adalah pertanyaan pertama yang ia terima dari Ana Maria. Jelas wanita itu tahu jika sudah pergi dari rumah sakit.
“Iya, Sayang. Aku hanya sedang ingin pergi ke sebuah tempat. Aku akan kembali sekarang. Tunggu aku, oke?” Christian mengulas senyum tipis.
Ia kemudian menutup panggilan di ponselnya setelah mendapat jawaban dari istrinya di seberang sana.
Christian beranjak dari duduknya dan melangkah menuju mobil yang ia parkirkan tidak jauh dari sana. Pria itu segera melajukan kendaran tersebut. Ia tidak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama.
Malam ini, ia tidak akan kembali ke rumah sakit. Ia akan menemani Ana di hotel.
Ia sudah tidak mengharapkan lagi kedatangan Christian untuk menemaninya. Pria itu pasti lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama istri pertamanya.
Laura berusaha keras untuk memejamkan mata. Rasa lelah di tubuh tetap saja membuat mata enggan untuk terpejam. Ia memiringkan tubuh ke kanan dan kiri. Pikirannya sangat gaduh saat ini.
Laura hanya ingin sebuah kepastian. Jika memang pada akhirnya Christian akan memilih Ana Maria, Laura akan melepaskan pria itu. Ia akan memilih untuk pergi dari kehidupan pria itu dan hidup berdua saja dengan putranya.
Berbeda dengan Laura yang sulit untuk memejamkan mata, Ana Maria justru tertidur dengan pulas karena pelukan sang suami.
***
Mentari telah menyapa dengan sinarnya yang menghangatkan. Langit cukup cerah hari ini, tidak tampak onggokan awan di langit biru.
“Morning, Sayang?” sapaan selamat pagi dari Christian saat Ana membuka mata.
__ADS_1
“Pagi,” balas Ana sembari memicingkan mata. Menyesuaikan cahaya yang masuk melaui retina mata. “Argh!” erang wanita itu.
“Sayang ….” Christian segera menghampiri istrinya. Pria itu duduk di sisi tempat tidur di samping Ana. “Apa kamu baik-baik saja?”
“Perutku rasanya sakit.” Ana terus meringis. Christian segera memberinya air putih.
Christian meminta Ana untuk kembali berbaring. Tidak ada bantahan dari wanita itu, karena memang badannya terasa begitu lelah dan sakit di perut yang tidak biasa.
Ana kembali mengingat tanggal menstruasinya dan ini bukanlah waktunya datang bulan.
Menjelang sore, Christian kembali ke rumah sakit. Ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Laura dan membawa Ana kembali ke Jakarta.
Christian sudah mendapat kabar dari perawat yang menjaga Luara jika wanita itu sudah jauh lebih baik. Christian semakin yakin jika ini adalah waktu yang tepat untuk ia mengatakan semuanya pada wanita itu.
Satu jam berlalu, setelah tiba di rumah sakit, dengan hati-hati, Christian masuk ke dalam ruangan di mana Laura dirawat. Ia mengulas senyum tipis saat Laura menyadari kehadirannya.
“Bagaimana keadaanmu, Sayang? Dokter bilang hari ini kamu sudah bisa pulang?” Christian duduk di samping Laura. Sepertinya sang istri baru selesai menidurkan putra mereka. “Aku ingin bicara denganmu,” imbuh Christian.
Beberapa saat kemudian, sebuah kursi di taman rumah sakit menjadi pilihan pasangan itu. Mereka duduk di sebuah kursi besi di bawah pohon rindang.
“Katakan. Aku harap kamu sudah menentukan pilihanmu.” Laura membuka obrolan setelah hening beberapa saat.
“Laura … terima kasih,” ucap Christian.
Pria itu tidak berani menatap wajah wanita yang duduk di sampingnya.
“Kamu tahu apa yang ingin aku dengar, bukan?” Laura menatap pria yang duduk di sampingnya.
“Maaf. Aku tidak bisa meninggalkan Ana. Seharusnya kita memang tidak menikah. Seharusnya dari awal aku mengatakan padamu jika hanya butuh rahimmu untuk mengandung seorang anak untukku dan Ana. Seharusnya aku tidak membiarkanmu jatuh cinta padaku.”
Seperti ada ribuan anak panah yang menghujam tubuh Laura. Pengakuan Christian semakin menyayat hatinya.
“Ma-maksudmu?”
“Ya. Laura. Aku hanya memanfaatkanmu untuk melahirkan seorang anak, karena Ana tidak bisa memberiku keturunan. Meskipun demikian, aku sangat mencintainya dan tidak akan pernah meninggalkannya. Maafkan aku.”
__ADS_1
“Ka-kau ….”
To be continued...