365 Days With You

365 Days With You
Mimpi buruk


__ADS_3

“Mama, Papa, kenapa belum sampai juga?” amuk seorang gadis berusia 15 tahun yang sedang duduk di sebuah kursi. Di hadapannya tampak kue ulang tahun lengkap dengan lili yang belum ia nyalakan.


Ia benar-benar sangat kesal pada orang tuanya yang setiap hari selalu sibuk dengan pekerjaan dan selalu pulang malam. Padahal kemarin sudah mengingatkan agar menyisihkan waktu untuknya karena ingin merayakan ulang tahunnya.


Sementara itu, sang pelayan yang berada di dalam kamar tengah mendampingi gadis itu terus menenangkan majikannya. Tentu saja untuk menenangkan perasaan dari majikannya yang diliputi oleh amarah.


“Nyonya dan tuan besar pasti akan segera pulang, Nona.” Sang pelayan membujuk agar majikannya tidak marah.


“Ini sudah lewat dari janji mereka, Bik. Apa yang mereka pikirkan hanya bekerja saja? Mereka tahu ini adalah hari istimewaku dan semalam berjanji akan memberikan hadiah istimewa untukku,” gerutu gadis itu.


Waktu untuk meniup lilin sudah terlewatkan, tapi gadis itu masih bersikukuh ingin menunggu kedua orang tuanya. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tetapi orang yang ditunggu masih belum kembali. Sampai sang gadis tertidur di atas sofa.


Samar-samar gadis itu mendengar percakapan dari dua orang yang sedang berdebat. Menarik paksa ia untuk segera bangkit dari tidurnya. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum membuka mata sempurna.

__ADS_1


“Sebaiknya Anda beritahu kabar ini besok saja, Tuan. Biarkan Nona muda istirahat lebih dulu,” ucap pelayan memberi saran pada pria yang baru saja datang dan berniat ingin menjemput gadis itu.


“Baiklah. Besok antar dia ke rumah sakit,” balas pria berwajah angkuh itu.


“Siapa yang ada di rumah sakit, Paman?” tanya gadis itu.


Ia sudah bangun dari tidurnya dan berjalan menghampiri pria yang ia panggil ‘paman’ tersebut.


“Bagus kalau kamu sudah bangun. Jadi, kamu bisa ikut Paman ke rumah sakit sekarang.”


Langkah gadis itu terhenti di ambang pintu sebuah ruangan. Di sana ada dua pasien yang berbaring di atas brankar. Gadis itu melangkah dengan jantung yang berdegup kencang. Semakin dekat, jantungnya semakin terpacu.


“Mama, Papa.”

__ADS_1


Suaranya bergetar dan nyaris tak terdengar. Uraian air mata sudah membasahi pipi. Kakinya menjadi lemah dan tidak mampu menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk di tengah dua brankar kedua orang tuanya.


“Nona.” Pelayan yang menemani segera memeluk gadis itu.


Dunianya hancur seketika melihat bagaimana dua orang yang sedang ia tunggu kepulangannya justru sudah terbujur kaku tak bernyawa. Gadis itu menunduk dan tenggelam dalam tangisnya. Ia tidak sanggup melihat orang yang dicintai sudah tak bernyawa dengan wajah yang hampir dipenuhi oleh luka dan darah.


“Mama ... Papa!” Teriak Laura yang tersadar dari mimpi buruknya.


Wanita itu mengusap air bening yang entah sejak kapan sudah merembas keluar.


Ia seketika bangkit dari posisinya yang tadinya telentang. Bahkan saat ini masih dengan jelas mengingat tentang mimpi buruknya.


Peluh yang membanjiri wajah dan seluruh tubuh seolah menandakan bahwa ia baru saja mengalami hal yang sangat menakutkan.

__ADS_1


Mimpi itu benar-benar terasa nyata dan membuat jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal. Bahkan ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar.


To be continued...


__ADS_2