
Mario semalaman menjaga Laura yang pingsan gara-gara lukanya robek akibat pergerakan ketika mendorong kursi roda saat menemui Christian. Nasib baik tidak sampai menimbulkan efek infeksi dan kemarin sudah ditangani oleh tim medis.
Bahkan ia kemarin mendapatkan omelan dari para perawat karena membawa pergi pasien yang bahkan baru saja selesai dioperasi dan belum sepenuhnya pulih. Akhirnya ia yang menanggung kesalahan karena dimarahi habis-habisan.
Bahkan meskipun menanggung kesalahan dari Laura hingga membuatnya mendapatkan omeran dari perawat serta dokter, tidak membuat Mario kesal pada wanita yang dari semalam belum sadarkan diri karena sudah mendapatkan obat.
Apalagi efek obat membuat Laura tidur cukup lama dan Mario tidur dengan posisi duduk di sebelah ranjang dengan menunggu kedua tangannya. Bahkan ia menggenggam erat telapak tangan Laura agar mengetahui jika sampai wanita itu sadar.
Hingga saat pagi hari, terlihat pergerakan dari jemari Laura dan perlahan ia membuka mata dan menetap ke arah sekeliling ruangan rumah sakit.
Di saat bersamaan, ia melihat pergerakan dari pria yang juga baru saja terbangun. Dengan berbicara sangat lirih, Laura kini ingin menanyakan sesuatu.
"Mario, kamu di sini dari semalam? Bahkan kamu tidur dengan posisi seperti itu?" Laura merasa kasihan pada pria yang terlihat kusut wajahnya.
Bahkan saat ini terlihat mata Mario memerah karena seperti efek kurang tidur dan ia tahu jika itu semua karena dirinya yang semalam meminta pria itu untuk mengantarkannya menemui Christian dan juga Ana yang baru saja meninggal.
Mario saat ini mengucek mata serta membenarkan posisi rambutnya agar tidak berantakan dan tidak terlihat jelek di mata wanita yang sangat dicintainya tersebut.
Kemudian ia menggelengkan kepala agar Laura tidak mengkhawatirkan keadaannya. "Aku tidak apa-apa dan sudah terbiasa tidur dalam posisi seperti ini jika sibuk bekerja dan kadang sampai tertidur tanpa kusadari hingga pagi."
"Syukurlah kamu sudah sadar. Bagaimana, apa lukamu masih terasa nyeri? Semalam dokter sudah menanganinya," ucap Mario yang sama sekali tidak menceritakan kejadian semalam ketika mendapatkan omelan.
"Aku sudah tidak merasakan rasa nyeri seperti semalam. Apa kata dokter dan perawat? Apakah mereka marah padamu karena mengantarkanku pergi dari ruangan untuk menemui Christian dan almarhumah Ana?" Laura merasa tidak enak pada Mario karena selalu terus menerus menyusahkannya.
Hingga ia mengetahui jika pria dengan wajah khas bangun tidur tersebut tengah berbohong padanya agar tidak merasa bersalah dan membuatnya makin berdosa.
"Aku sangat mengenalmu, Mario. Jadi, jangan teruskan kebohonganmu itu karena aku tahu jika saat ini tengah membohongiku. Bukankah kamu sebenarnya hanya menutupi kejadian sebenarnya agar aku tidak merasa bersalah padamu?" tanya Laura yang saat ini tengah memikirkan sesuatu hal.
Ia yang semalam berbicara dengan jenazah Ana, membuatnya merasa ada yang kurang. Bahwa saat ini ingin datang ke pemakaman wanita yang telah merawat putranya dengan baik layaknya anak kandung sendiri.
Namun, ia tahu jika melakukannya, kembali menyusahkan pria yang selalu bersikap baik dan tidak pernah menolak permintaannya. Sekarang ia tahu jika lebih baik dicintai daripada mencintai.
Ia berpikir jika menikah dengan Mario, hidupnya akan dipenuhi oleh kebahagiaan karena pria itu sangat mencintainya dan tidak akan pernah mengkhianatinya.
Namun, ia terkesan seperti memanfaatkan Mario jika mengatakan ingin pergi ke pemakaman Ana. Jadi, saat ini hanya diam saja dan tidak mengatakan keinginannya untuk datang.
"Jika kamu sangat mengenalku dengan baik, jangan membuatku lelah dengan sikapmu karena tidak mau menerima cintaku, Laura. Aah ... maaf karena mengatakan ini saat kondisimu tidak sedang baik-baik saja." Mario yang tadinya tidak ingin membuka tentang kejadian semalam, akhirnya terpaksa jujur begitu melihat ekspresi wajah kesal Laura.
"Aku semalam memang dimarahi habis-habisan oleh perawat dan juga dokter, jadi mulai sekarang jangan membuat ulah lagi, oke?" Saat ini, Mario bangkit berdiri dari posisinya karena ingin mengambil air minum.
Apalagi saat ini tenggorokannya terasa kering dan terbiasa minum air putih cukup banyak saat bangun tidur dan belum mencuci muka ataupun menggosok gigi karena sangat baik untuk kesehatan yang berguna menghilangkan racun-racun di tubuh.
Namun, ia tidak meminumnya karena memberikan pada Laura. "Minumlah dulu agar racun-racun di tubuhmu luntur."
Laura yang awalnya berpikir jika Mario hendak minum sendiri, kini mengerutkan kening karena malah diberikan kepadanya. Hingga ia pun saat ini langsung menerimanya dan minum dengan dibantu oleh Mario.
__ADS_1
"Harusnya kamu terlebih dulu minum, baru memberikannya padaku karena aku cukup lama melakukannya saat tidak leluasa seperti ini." Ia minum dengan sedotan yang sudah dimasukkan ke dalam botol air mineral itu.
Sementara itu, Mario saat ini tidak memperdulikan nada protes dari Laura. Ia hanya fokus pada wajah natural Laura yang menurutnya terlihat sangat memesona karena baru bangun tidur saja masih terlihat cantik.
"Aku baru pertama kali melihatmu tidak memakai make up, Laura. Jika biasanya kamu terlihat sangat sempurna, sekarang terlihat sangat manis dengan penampilan natural."
"Seolah sekarang ini merasa sepadan bersamamu, tapi ketika kamu sudah merias wajahmu dan berubah menjadi Cinderella, rasanya aku seperti pelayan di dekatmu." Mario yang baru saja menutup mulut, meringis menahan nyeri karena Laura malah mencubit lengannya.
"Pagi-pagi malah sudah ngegombal," rengut Laura yang saat ini mengerucutkan bibirnya karena mendapat kalimat rayuan dari pria yang iya ketahui tergila-gila padanya dan tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya.
Refleks Mario mengusap lengannya yang terasa panas akibat perbuatan Laura. Ia saat ini menatap kesal pada wanita yang malah terkekeh melihatnya kesakitan. "Cubitanmu sangat panas, Laura."
"Makanya jangan buat aku geram sekaligus gemas karena perkataanmu." Laura saat ini tengah memikirkan sesuatu.
Setelah melihat sikap yang ditunjukkan oleh Christian semalam, membuatnya tersadar bahwa cinta pria itu sangatlah besar pada Ana Maria, sehingga ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wanita yang sudah meninggal tersebut.
"Kenapa aku dulu tidak bertemu denganmu sebelum Christian? Mungkin aku tidak akan berakhir senahas ini. Mencintai itu ternyata sangat sakit rasanya jika dengan orang yang salah," ucap Laura dengan raut wajah muram.
"Bahkan aku benar-benar bersalah mencintai Christian yang sangat mencintai Ana Maria." Laura bahkan mengingat pertemuan pertamanya di klab malam ketika pria itu menyebutkan sang istri yang sangat dicintai dan hanya menginginkan keturunan saja dengan menyewa rahimnya.
Ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak ketika mengingat kebodohannya yang malah tergila-gila dengan pria yang sudah jelas mengungkapkan cinta pada istrinya. Namun, ia tidak bisa tertawa ketika masih merasakan nyeri pada bagian belakang tubuhnya.
"Menikah dengan pria yang cintanya jauh lebih besar daripada perempuan, akan membuat sang istri menjadi ratu. Bahkan berlaku untuk kebalikannya karena aku merasakannya. Aku memang terlihat seperti menjadi ratu di awal-awal, tapi ternyata itu semua hanyalah semu karena Christian kembali pada istrinya begitu aku melahirkan."
Mario yang baru saja meneguk air mineral hingga tersisa separuh, membuatnya merasa sangat iba begitu mendengarkan pengakuan dari Laura.
"Jangan berbicara seperti itu karena kamu sangat berharga di mata orang lain yang melihat keistimewaan dibandingkan wanita manapun," ucap Mario yang saat ini tersenyum simpul pada Laura dan mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik tersebut.
"Kali ini tulus dari dalam hatiku dan bukan merupakan sebuah gombalan receh. Aku ke kamar mandi dulu. Kamu tidak boleh berpikir macam-macam lagi!" Kemudian ia melangkah menuju ke arah kamar mandi yang ada di sebelah kiri ruangan setelah Laura menganggukkan kepala.
Saat Laura menatap siluet pria dengan bahu lebar yang menghilang di balik pintu ruangan kamar mandi, ia merasa jika Mario selama ini selalu melindunginya dengan baik.
Namun, ia yang terkadang sangat ceroboh dan tidak memperdulikan keselamatan sendiri karena mengabaikan perintah dari Mario agar mengatakan apapun ketika akan pergi kemana-mana.
'Jika aku tidak mengabaikan perintah Mario, mungkin tidak akan ada yang menyakitiku karena ada para bodyguard di sekelilingku yang bisa menghabisi orang-orang yang berniat jahat padaku,' ucap Laura yang saat ini mengingat tentang bagaimana perjuangan seorang Mario semenjak pertama bertemu dengannya sampai sekarang.
Ia selalu mengingat kata-kata mutiara yang sangat cantik dan dari dulu ingin mendapatkannya. "Wanita akan terlihat sempurna di tangan seorang pria yang selalu menghargai memilikinya."
Berpikir jika ia akan selamanya hidup bahagia jika memiliki seorang suami sebaik Mario, sehingga saat ini berpikir untuk merubah pemikirannya yang berniat untuk hidup sendiri dan tidak menikah lagi karena tersakiti oleh cinta.
'Apa sebaiknya aku menerima Mario saja sebagai pria yang bertanggung jawab untukku sebagai suami, partner kerja sekaligus teman berkeluh kesah karena ia bisa melakukan semuanya.' Laura ya saat ini tidak ingin larut dalam perasaannya pada Christian, sehingga terpikirkan hal itu.
Hingga begitu Mario keluar dari kamar mandi dan sudah terlihat segar karena mencuci muka dan membasahi rambut, ia masih terdiam dan mempertimbangkan tentang keputusannya barusan.
"Mario, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Akhirnya ia membuka suara begitu melihat Mario berjalan mendekat.
__ADS_1
Saat ini, Mario mengerutkan kening karena merasa jika Laura memiliki sebuah permintaan yang mungkin kembali membuatnya dalam masalah.
'Kali ini apa yang diinginkan Laura? Apa ia ingin pergi ke pemakaman Ana Maria dan kembali membuatku dalam masalah?' Mario yang saat ini hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati karena tidak berani untuk bertanya secara langsung.
Ia merasa yakin jika Laura ingin datang ke pemakaman Ana Maria untuk terakhir kalinya. Hingga ia pun saat ini memilih untuk langsung menanyakannya sendiri. "Apa sekarang kamu berniat untuk pergi ke pemakaman Ana Maria?"
Memang hal itulah yang tadi ingin Laura katakan pada Mario, tapi yang dimaksud saat ini bukanlah itu. Jadi, iya refleks menggelengkan kepala. "Bukan itu. Sebenarnya aku tadi sibuk mempertimbangkan sesuatu."
"Mempertimbangkan apa?" Mario saat ini yang makin dibuat penasaran oleh Laura, sehingga membuatnya berpikir untuk segera membuat wanita itu berbicara jujur mengenai apa yang sebenarnya diinginkan darinya.
"Jangan bertele-tele dan membuatku merasa sangat penasaran seperti ini." Mario saat ini memilih untuk duduk di kursi yang ada di sebelah panjang perawatan sambil menunggu Laura membuka suara.
Laura sebenarnya tidak ingin membuat kesalahpahaman dari pemikirannya, jadi agak ragu untuk mengungkapkannya pada Mario. Namun, karena pria itu terlihat sangat penasaran dan ingin segera mengetahui pemikirannya, sehingga mengungkapkan apa yang tadi dirasakan.
"Aku ingin memiliki pasangan yang mempunyai cinta lebih besar dariku karena itu akan jauh lebih baik dibandingkan apapun. Pria yang cintanya jauh lebih besar dari wanita, akan melakukan apapun dan tidak akan pernah menyakiti hati wanitanya." Laura menjeda ucapannya karena ingin melihat ekspresi wajah dari Mario.
Apakah pria di hadapannya tersebut mengerti apa yang dimaksud olehnya. Namun, ia saat ini merasa sangat kesal karena pria itu sama sekali tidak paham dengan kode darinya.
"Itu kamu tahu, tapi kenapa tidak pernah mau menerima cintaku yang jauh lebih besar? Wanita selalu mengejar hal yang menyakitinya dan selalu menyesal dengan terus-menerus menangis serta menutup hati dengan mengatakan mati rasa hanya gara-gara satu pria. Bukankah seperti itu?" Mario saat ini mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan.
Sementara itu, Laura membenarkan semua yang dikatakan oleh Mario dengan menganggukkan kepala. "Ya, wanita kebanyakan sangat bodoh, bukan?"
"Seperti aku ini yang sangat bodoh karena mencintai pria yang salah. Lalu, Apakah kamu ingin memiliki pasangan yang bodoh seperti ini?" Laura bahkan saat ini menghembuskan napas kasar karena kesal pada diri sendiri, tapi menyadari jika masih sudah menjadi bubur.
Mario saat ini mengerjakan mata karena merasa kalimat terakhir dari Laura seolah membukakan jalan untuknya. "Kamu saat ini bertanya padaku?"
"Iya, memangnya aku harus bertanya pada siapa karena di ruangan ini hanya ada kamu seorang." Laura bahkan terkekeh geli melihat respon dari Mario yang seperti merasa tidak percaya akan pertanyaannya.
"Kamu benar-benar serius bertanya seperti itu padaku?" Mario bahkan kembali bertanya untuk memastikannya.
Ia khawatir jika salah mengartikan apa yang tadi ditanyakan oleh Laura.
"Sudahlah, apa saja apa yang kutanyakan tadi." Laura yang saat ini kesal karena menganggap jika Mario sangat tidak peka karena masih terus-menerus bertanya dan membuatnya malas menjawab.
Mario yang merasa sangat kecewa sekaligus merutuki kebodohannya karena membuat wanita di hadapannya tersebut kesal, sehingga saat ini memilih untuk mengikuti instingnya.
"Jika benar apa yang kamu tanyakan tadi padaku, rasanya seperti mendapatkan berkah luar biasa jika kamu menerimaku sebagai pendamping hidup yang membahagiakanmu selamanya. Kamu tidak perlu bertanya padaku karena yang harusnya pertanyaan adalah aku."
"Apakah kamu mau menerima cintaku dan menjadi pendamping hidupku?" tanya Mario yang saat ini menggenggam erat telapak tangan wanita yang selama ini ia cintai begitu dalam dan tetap menunggu sampai mau membuka perasaan padanya.
Laura benar-benar merasa sangat terharu karena melihat ketulusan dari sosok pria yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Ia sangat yakin jika hidupnya akan bahagia jika memiliki pendamping hidup seperti Mario karena sangat mencintainya luar biasa dan rela mengorbankan apapun untuknya.
Refleks ia tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Ya, aku mau. Aku bersedia menikah denganmu, Mario."
To be continued...
__ADS_1