
Karena merasa sangat lelah, tanpa sadar, Christian pun lama-lama tertidur pulas dengan posisi tangan masih menggenggam erat telapak tangan Laura. Seolah terlihat mereka seperti pasangan kekasih yang tidak akan terpisahkan.
Suara embusan bahwa saat ini Laura dan Christian sudah larut dalam alam mimpi. Hingga pesawat yang saat ini menuju ke Jakarta akan 10 jam lagi.
Sementara itu di Jakarta, sosok pria berusia 55 tahun bernama Rendy Saputra yang berada di ruangan kerja, baru saja memeriksa dokumen penting yang berisi tender besar dengan perusahaan asing dan akan meraup pundi-pundi keuntungan sangat fantastis.
Ia bangkit berdiri dari tempat duduk begitu dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun, suara dering ponsel miliknya berbunyi dan membuatnya langsung mengambil dari atas meja.
"Vincent?"
Kemudian tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan internasional yang berasal dari orang kepercayaannya yang disuruh untuk menjaga keponakan di New York.
Bahkan ia berencana untuk menikahkan Laura dengan Vincent suatu hari nanti agar keponakannya itu bisa diatur sepenuhnya olehnya karena menikah dengan orang suruhannya.
Karena ia sadar jika Laura bukan anak kecil lagi yang bisa diatur, tapi sudah menjadi wanita dewasa yang sebentar lagi akan mewarisi semua harta kekayaan dari kakaknya yang telah meninggal 8 tahun lalu dalam kecelakaan.
"Halo," ucap Rendy Saputra yang saat ini mendengar suara bariton dari seberang telpon bernada panik.
"Halo, Tuan Rendy. Maafkan saya karena sangat lalai dan bodoh!" ujar Vincent yang saat ini tengah merutuki kebodohannya.
Sementara itu, Rendy Saputra saat ini mengerutkan kening karena merasa heran apa yang terjadi pada orang kepercayaannya tersebut.
"Apa yang terjadi?"
"Nona Laura kabur dari apartemen dan saya sudah menyelidikinya. Ternyata ia hari ini kembali ke Jakarta dengan menggunakan tiket ekonomi yang dibelikan oleh temannya. Jadi, tidak ada laporan pengeluaran yang mencurigakan dan membuat saya tidak tahu. Apalagi pergi tanpa membawa barang-barang."
__ADS_1
Saat Vincent baru saja menutup mulut, mendengar suara teriakan dari bosnya yang sangat marah begitu mengetahui kelalaiannya. Namun, ia yang menyadari kesalahan, hanya diam saja dan tidak membantah.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa kamu tidak tahu apapun saat selalu berada di dekat Laura? Bagaimana dengan wanita tua itu? Apa ia mengatakan sesuatu?"
Rendy Saputra memijat pelipis karena merasa pusing harus mengurus keponakannya yang sebentar lagi datang dan pastinya akan menagih janji untuk menjadi pemimpin di perusahaan sekaligus menjadi ahli waris utama.
Padahal rencananya besok adalah pengangkatan putranya menjadi CEO di perusahaan untuk menggantikannya karena ia sudah tua jika harus mengurusnya.
Rendy Saputra terdiam beberapa saat dan ia kini melihat jam dinding di dekat lemari kaca raksasa di sudut sebelah kanan.
"Jam berapa pesawat mendarat di Jakarta? Kau sudah mencari tahu semuanya sebelum menelponku untuk mengaku kesalahanmu, bukan? Aku tidak ingin Laura mengacaukan acara besok di perusahaan."
Bahkan tadi melihat putranya sangat bersemangat dan senang begitu ia mengatakan bahwa besok adalah pengangkatan untuk menggantikannya memimpin perusahaan.
Meskipun ia tahu bahwa keponakannya itu mewarisi semua harta kekayaan kakaknya, tapi berpikir bahwa wanita seperti Laura tidak akan bisa mengatur semuanya.
Jadi, tetap ini menjadikan Laura pihak kedua yang berada di bawah kekuasaannya.
"Pesawat akan tiba di Jakarta pada pukul lima pagi, Tuan Rendy. Tadi saya sudah mencari tahu semuanya dan karena pelayan tidak mau mengatakan apapun saat ditanya, jadi butuh waktu untuk mencari informasi. Begitu mengetahui semuanya, udah terlambat karena pesawat nona Laura telah lepas landas."
Vincent bahkan tadi juga pergi ke bandara, tapi ia terlambat 10 menit dan tidak bisa mencegah kepergian sang nona muda yang selama ini dijaganya selama 8 tahun.
Ia merasa sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada Laura, tapi menyadari tidak bisa melakukan apapun, sehingga menyerahkan semuanya pada bos yang ada di Jakarta dan menunggu perintah selanjutnya.
"Baiklah! Aku yang akan mengurus Laura di sini! Kau urus semua yang ada di New York dan kembali ke Jakarta setelah selesai semuanya," ujar pria paruh baya yang saat ini memikirkan sesuatu dengan terpaksa menyingkirkan keponakannya.
__ADS_1
Kemudian langsung memencet tombol merah untuk mengakhiri panggilan secara sepihak tanpa mendengarkan tanggapan dari Vincent yang dianggap tidak berguna.
Kemudian ia mencari nomor salah satu anak buahnya dan menunggu panggilan tersambung. Begitu mendengar suara dari bariton dari seberang telepon, seketika mengungkapkan perintah.
"Pergilah ke bandara pukul lima pagi dan singkirkan seorang wanita muda yang akan kukirimkan fotonya. Tapi sebelum itu, suruh orang untuk mencopet tas yang berisi semua data dirinya. Baru singkirkan dengan membuat seolah-olah benar-benar murni kecelakaan."
Kemudian Rendy Saputra mematikan sambungan telpon setelah mendengar orang suruhannya bersedia melakukannya.
Hingga ia pun kini menatap ke arah lemari yang berisi beberapa dokumen penting dan juga buku-buku bacaan yang tentang dunia bisnis.
"Maafkan aku, Kakak karena mengirim putrimu untuk menyusulmu. Pasti kalian merasa senang bisa bertemu dengan putri yang kalian rindukan. Laura tidak akan bisa menghandle semua yang kalian wariskan padanya. Biarkan aku dan putraku yang mengurusnya."
Kemudian ia berjalan menuju ke arah brankas yang ada di balik laci yang ada di sebelah meja kerjanya dan membukanya setelah memencet sandi rahasia.
Kemudian mengambil beberapa map dan mengeluarkannya dari sana. Kini, ia membuka map coklat berisi beberapa lembar kertas yang berisi semua bukti mengenai perbuatannya 8 tahun yang lalu.
"Jika aku tidak mengirimmu ke surga, mana mungkin bisa menjadi pemimpin perusahaan. Pasti sampai sekarang kakak akan menjadikanku sebagai pelayanmu," ucap Rendy Saputra yang saat ini tengah menatap ke arah koran yang berisi tentang kecelakaan yang dialami oleh kakak dan iparnya.
"Maafkan aku karena memilih hari kematian saat putri kalian berulang tahun karena aku ingin meninggalkan kenangan paling menyedihkan di hati Laura agar tidak bisa menjalani hidup setelah ditinggalkan orang tua."
"Tapi ternyata putri kalian bisa bertahan sampai sekarang dan membuatku benar-benar sangat marah. Jadi, hari ini akan mengakhiri semuanya. Kalian harus berterima kasih padaku karena mempertemukan dengan Laura."
Rendy Saputra saat ini masih tidak berkedip ketika menatap bukti-bukti kejahatan yang dilakukannya 8 tahun lalu dan saat ini berharap jika semuanya akan tersimpan rapi di brankas rahasia tanpa diketahui oleh para aparat kepolisian.
To be continued...
__ADS_1