
Vicky dari tadi duduk di depan ruangan sambil menunggu bosnya berbincang di dalam bersama dengan istri korban kecelakaan. Sesekali ia memeriksa tablet miliknya untuk melihat pekerjaan yang berhubungan dengan jadwal Ana Maria yang selama ini diurusnya.
Hingga beberapa saat kemudian mendengar suara pintu yang terbuka dan membuatnya menoleh ke belakang, sehingga langsung mematikan tablet miliknya.
"Sudah, Nona Ana?" tanya Vicky yang saat ini berpikir bahwa wanita itu hendak pulang.
Hingga kemudian ia bangkit berdiri dari kursi dan melihat Anna Maria menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan.
Ana hari ini terlihat sangat senang karena bisa merasakan kebahagiaan wanita yang tengah hamil di dalam sana dan kini menatap ke arah asisten pribadinya. "Iya, aku sudah berpamitan pada gadis muda itu apa besok akan kembali ke sini. Sekalian Aku ingin memberikannya beberapa perlengkapan bayi."
"Sepertinya besok kau harus menemaniku pergi ke sini lagi, tapi sebelumnya membeli dulu baju-baju bayi yang sangat menggemaskan dan lucu." Wajah Ana yang tadinya terlihat berbinar karena bisa mengetahui bagaimana perkembangan bayi yang ada dalam kandungan.
Bahwa saat merasakan tendangan dari bayi di dalam perut, membuatnya sangat bersemangat dan ingin sekali merasakannya. Namun, menyadari bahwa itu semua hanyalah sebuah tangan semu karena sudah berusaha ikut program kehamilan, tapi tak kunjung hamil juga.
Kini, seketika wajah yang tadinya berbinar, berubah murung. "Seandainya Aku bisa merasakannya sendiri, pasti akan merasa sangat bahagia dan juga suamiku pun merasakan hal yang sama."
Ana yang saat ini menyebut suami, mengingat tentang perkataan dari pria yang sangat dicintainya mendapatkan tawaran luar biasa di luar negeri. "Aku sudah memikirkannya."
Vicky saat ini mengurutkan karena kalimat ambigu dari wanita di hadapannya. "Anda tidak perlu memikirkan masalah yang hanya diketahui oleh Tuhan. Yang penting kita sebagai manusia sudah berusaha dan berdoa, mengenai hasilnya, serahkan saja pada Tuhan."
Vicky yang tadi disuruh oleh bosnya untuk mengatakan pada Ana agar mendukung project besar di New York, tentu saja merasa tidak tega melihat wajah murung yang saat ini tengah memikirkan mengenai keturunan.
Jadi, ia membiarkan saja wanita itu mengambil keputusan sesuai dengan apa yang dipikirkan karena ia juga tidak mau ambil pusing dengan masalah yang dibuat oleh bosnya sendiri.
Ia emang sangat menghormati Christian, tapi juga sama halnya dengan Anna Maria dan membuatnya tidak tega harus selalu membohongi wanita tidak berdosa itu.
Saat ia mencoba untuk tidak peduli dengan keinginan bosnya yang menyuruh membujuk Ana, kini bisa mengetahui jawaban setelah wanita di hadapannya tersebut tiba-tiba membuka suara.
Ana mengungkapkan pemikirannya setelah tadi mempertimbangkan apa yang baru disampaikan oleh sang suami beberapa menit lalu. "Aku akan mengizinkan suamiku mengurus bisnis baru di luar negeri."
"Sepertinya Tuhan benar-benar menguji kami dalam hal kesabaran, tapi memberikan banyak harta yang mungkin bagi kalangan menengah ke bawah sangat sulit didapatkan. Jadi, akan memanfaatkannya tanpa menolak."
Ana ingin melihat respon dari Vicky karena akan meminta bantuan pria itu suatu saat nanti. "Kalau menurutmu bagaimana?"
"Kalau saya setuju-setuju saja karena jika perusahaan semakin berkembang, pasti gaji saya akan dinaikkan," sahut Vicky yang mencoba untuk bercanda karena melihat nada serius dari wanita itu membuatnya seperti tidak bisa bernapas.
Apalagi ia mengetahui bahwa anak sangatlah handal dalam hal bisnis seolah bisa mencium bau uang di mana-mana.
Sementara bagi orang miskin, baunya saja tidak tercium, apalagi bentuknya, sehingga sangat susah mendapatkan uang.
Ia pun dulu merasakannya saat bekerja keras setiap hari, tapi akhir bulan selalu habis dan begitu seterusnya sampai ia menemukan jalan untuk mengubah nasib.
Kini, Ana yang geram dengan candaan dari Vicky saat berbicara serius, seketika membuatnya langsung mengarahkan pukulan pada lengan kekar itu.
"Dasar matre! Aah ... tapi itu memang benar karena aku akan menaikkan gajimu setelah nanti menggantikan posisi Suamiku di New York sana."
"Maksudnya? Menggantikan bagaimana, Bos?" tanya Vicky yang mencium ada bau-bau masalah yang akan dihadapi oleh bosnya karena sepertinya sang istri memiliki sebuah rencana besar ketika menyetujui.
'Kali ini apa lagi yang tengah direncanakan oleh nona Ana?' gumam Vicky yang saat ini memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan apa yang dimaksud oleh wanita yang mempunyai tubuh sangat seksi tersebut.
Ana tadi sudah memikirkan matang-matang mengenai keputusannya, Jadi sekarang ingin mengeluarkan idenya agar Vicky mengetahui apa yang ingin ia sampaikan.
__ADS_1
"Jadi, setelah nanti perusahaan sudah berjalan di sana, aku akan bicara pada suamiku untuk mengangkatmu menggantikannya di sana. Jadi, suamiku akan fokus mengurus perusahaan di Jakarta bersamaku." Ana saat ini menunggu keputusan Vicky.
Ia sangat mempercayai pria di hadapannya tersebut karena sudah lama mengenal dan tidak pernah berbuat macam-macam.
Jadi, memutuskan untuk menyerahkan seluruh tanggung jawab pada fiqih jika nanti sang suami sudah mulai berhasil merintis perusahaan di luar negeri.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ana yang saat ini ingin segera mendengar jawaban dari Vicky.
"Apa mungkin saya bisa melakukannya, Nona Ana? Rasanya itu sangat tidak mungkin terjadi. Apalagi saya hanyalah seorang pegawai biasa dan tidak punya pengalaman untuk memimpin perusahaan." Vicky saat ini hanya memikirkan jika rencana bosnya gagal karena sudah dirancang oleh sang istri.
Bahwa sang istri jauh lebih cerdas untuk menyelesaikan masalah apapun dan berpikir itu akan membuat masalah oleh bos laki-laki yang sedang sibuk dengan sang istri siri.
'Bagaimana bisa mereka sama-sama menginginkanku? Seperti aku ini adalah orang yang bisa dimanfaatkan untuk keegoisan mereka. Meskipun mendapatkan gaji yang besar, Bukankah aku sama saja dengan menjual kejujuran?'
Merasa bahwa ia jadi rebutan oleh dua Bos yang sama-sama dihormati, malah membuatnya ingin terbahak karena keduanya memiliki alasan yang berbeda, tapi poinnya adalah sama, yaitu ingin bersatu dan tidak meninggalkan atau ditinggalkan.
Pusing, mungkin itulah yang saat ini dirasakan oleh Vicky saat ini. Hingga ia saat ini hanya diam saat mendapatkan sebuah rayuan dari bosnya yang seolah membuatnya harus menyetujui perintah.
"Kamu adalah pria yang cerdas cekatan dan bisa dipercaya, sehingga suamiku mempercayaimu melebihi siapapun dan kamu selalu amanah." Lalu Ana menepuk lengan kekar di balik jas itu dan memberikan sebuah semangat.
"Kamu harus mau dan membiarkan aku hidup bahagia bersama suamiku menjalani LDR, oke! Baiklah. Aku akan pulang. Seperti yang kubilang tadi, kau tidak perlu mengantarku karena aku akan naik taksi," ucap Ana yang saat ini melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan Vicky.
Bahkan melambaikan tangan tanpa berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam lift yang membawa ke lobi rumah sakit.
Sementara itu, Vicky saat ini tidak berkedip menatap ke arah sosok wanita yang sudah menghilang di balik lift dan menghembuskan napas kasar karena berada pada posisi yang tidak menguntungkan di antara pasangan suami istri itu.
Ia saat ini terdiam ketika memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Ana. "Jika aku disuruh menggantikan suatu saat nanti agar bos bisa pulang, kini ia memikirkan tentang rencana pria itu yang semalam dikatakan padanya.
"Kebetulan nona Ana tidak ingin diantarkan, jadi aku bisa langsung menemui bos dan mengatakan semuanya agar ia memikirkan cara lain untuk membodohi istrinya agar mempercayai perkataannya." Vicky menatap angka digital yang bergerak ke atas.
Hingga beberapa saat kemudian terbuka dan langsung menuju ke ruangan wanita yang saat ini menjadi istri kedua bosnya. Ia hanya mengetuk pintu dan tidak berani masuk karena khawatir jika sampai istri kedua bosnya sadar dan melihatnya, tidak mungkin bisa menceritakan tentang istri pertama.
Jadi, ia menunggu di depan pintu agar pria yang dicari keluar. Hingga beberapa saat kemudian menunggu, melihat pintu yang terbuka dan pria yang dari tadi ingin ia temui.
"Bos." Membungkuk hormat sebagai bentuk penghormatan pada pria yang terlihat wajahnya sangat kuyu dan mengadakan kurang tidur serta banyak pikiran.
Christian saat ini memicingkan mata karena merasa heran asistennya datang secepat itu. Karena tidak ingin suaranya didengar dari dalam oleh Laura, seketika menutup pintu dan berjalan sedikit menjauh di ruangan.
"Apa kau sudah mengantarkan istriku pulang?" tanya Christian yang tidak yakin dengan pemikirannya dan mendapatkan jawaban setelah melihat asisten pribadinya menggelengkan kepala dan membuatnya kesal, sehingga langsung meninju lengan kekar Vicky.
Vicky sedikit meringis menahan perbuatan bosnya dan memilih untuk menjelaskan agar tidak berlanjut dengan mencekik lehernya.
"Maaf, Bos. Tadi nona Ana tidak mau saya antarkan dan memilih untuk naik taksi dengan alasan khawatir ada gosip di kompleks perumahan mewah tempat tinggal Anda."
"Nona Ana benar-benar menjaga nama baiknya agar tidak sampai tercemar saat ada orang yang salah mengartikan ketika saya mengantar pulang," ujar Vicky yang saat ini berusaha untuk mengatakan sesuai dengan yang tadi dikatakan oleh wanita itu.
Kini, Christian merasa sangat bersalah pada Ana karena telah menduakan cinta sang istri yang masih sangat dicintai. "Aaah ... jadi seperti itu. Lalu, apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?"
Saat Vicky langsung menganggukkan kepala dan terlihat sangat serius ingin menyampaikan sesuatu padanya, Christian menunjuk ke arah kursi dan menyuruh untuk duduk di sana karena tidak mungkin berbicara sambil terus berdiri dan akan membuat kaki.
"Katakan sekarang!" seru christiannya saat ini baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu.
__ADS_1
Vicky kemudian duduk di sebelah bosnya dan menceritakan mengenai ide dari Ana Maria saat hendak pulang tadi tanpa ada yang dirahasiakan.
"Jadi, nona Ana sudah memikirkan semuanya dan Anda tinggal mengatur bagaimana baiknya. Saya akan menuruti perintah kalian karena tidak mungkin bisa menolak. Lagipula itu adalah perintah yang sama saja pergi ke sana untuk menggantikan Anda."
Kemudian Vicky Vicky menunggu hingga bosnya yang terlihat sangat bingung tersebut membuka suara. Tentu saja seperti biasa, merutuki kebodohan pria itu yang memilih jalan untuk menyusahkan diri sendiri.
Christian sebenarnya merasa sangat lega karena Ana sudah tidak lagi melarangnya dan dengan senang hati memberikan izin meskipun belum menyampaikan secara langsung padanya.
Namun, begitu mengetahui rencana sang istri yang tidak ingin menjalani hubungan LDR dengannya, kini tengah memutar otak untuk menyelesaikan itu.
"Aku akan mengurus itu dan sepertinya melibatkan papa. Aku akan meminta pertolongannya dan mengatakan semua hal mengenai Laura, tapi akan merahasiakannya dari mama." Christian mempunyai alasan untuk tidak mengatakan pada sang ibu mengenai Laura.
"Kamu tahu sendiri bahwa mulut wanita itu kebiasaan buruknya selalu keceplosan, kan? Jadi, daripada nanti mamaku tiba-tiba berbicara pada Ana mengenai pernikahan siri dengan Laura, sudah kuliah dipastikan hidupku akan berakhir saat mendapatkan kebencian serta kemurkaan istriku."
Christian yang saat ini kembali merasakan pusing di kepalanya karena kurang tidur serta banyak pikiran, kini menatap ke arah asistennya karena ingin meminta bantuan.
"Cepat belikan aku obat sakit kepala serta vitamin agar tidak drop karena menjaga Laura di rumah sakit. Lagipula aku tadi ingin menyuapi Laura dan pasti sekarang dia bertanya-tanya dengan siapa aku berbicara." Christian bangkit berdiri dari kursi dan berniat untuk berjalan masuk dalam ruangan.
Namun, langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara hariton dari pria yang sudah bekerja untuknya lebih dari 3 tahun.
"Apa Anda sudah makan, Tuan Christian? Jika belum, Anda ingin dibelikan apa?" tanya Vicky yang kebetulan merasa kelaparan dan hendak membeli makanan.
Jadi, berpikir sekalian untuk bosnya yang ditebaknya belum makan karena dari tadi tidak boleh keluar dari ruangan agar tidak bertemu dengan Ana Maria.
Christian menggelengkan kepala karena memang ia belum makan. "Belikan makanan apapun, pasti akan kumakan."
"Siap, Bos. Kalau begitu, saya akan pergi sekarang. Silakan menyuapi istri baru Anda." Vicky makan sakit ini merasa iba pada bosnya yang harus mengurusi istri yang baru dinikahinya.
Ia berjalan meninggalkan bosnya dan masuk ke dalam lift untuk membeli obat serta makanan di bawah.
'Jika mayoritas pasangan pengantin baru akan menghabiskan malam penuh gairah, sedangkan tuan Christian sibuk memfosir tenaga untuk merawat istri barunya,' gumam Vicky yang merasa bahwa bosnya tersebut benar-benar sangat mencintai Laura karena dengan sabar menjaga di rumah sakit.
Sementara itu, Christian yang kembali masuk dalam ruangan, ini bisa melihat jika sang putih itu tidur sudah membuka mata lebar dan bersitatap dengannya.
"Siapa di luar?" tanya Laura yang saat ini merasa bahwa ia sangat penasaran dengan siapa pria yang bahkan
tidak diketahui namanya tersebut
Jadi, dari tadi tidak sabar menunggu pria itu kembali ke dalam ruangan agar ia bisa bertanya. Bahkan ia melupakan makanan yang ada di atas laci karena fokus pada pria yang terlihat sangat mencurigakan.
"Itu tadi orang yang berasal dari salah satu keluarga sopir yang telah meninggal. Jadi, aku memberikan santunan pada sopir itu dan tadi pihak keluarganya mewakili untuk mengerjakan terima kasih secara langsung."
Christian yang mengarang cerita karena tidak mungkin mengatakan mempunyai asisten pribadi yang tengah mengurus istrinya. Hingga ia sangat terkejut mendengar respon dari Laura.
"Kenapa tidak membawanya masuk saja agar aku juga bisa bertemu? Atau ada yang sedang kamu tutupi dariku?" Menatap sosok pria yang saat ini berniat untuk membuka kotak makanan yang tadi dibawa oleh perawat.
Sementara itu, Christian yang saat ini merasa kebingungan karena mendapatkan kecurigaan dari sosok wanita yang masih menatap tajam ke arahnya.
'Sial! Kenapa sekarang malah Laura yang mencurigaiku seolah aku adalah penjahat yang jahat padanya dengan mengambil keuntungan?' Christian saat ini bahkan memijat pelipis untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
'Padahal aku sudah mengeluarkannya dari masalah dan ingin tulus merawatnya hingga menikahinya seperti yang diinginkannya,' lirih Christian yang saat ini tiba-tiba merasa seperti dianggap seorang pria jahat oleh wanita yang merupakan istri sirinya.
__ADS_1
To be continued...