365 Days With You

365 Days With You
Bantu aku


__ADS_3

Ana tidak menyangka jika sang pelayan masih ingin ia mencari tahu seperti apa respon Christian saat ia meninggal. Ia sebenarnya merasa sangat yakin jika pria yang sudah lama menjadi suaminya tersebut pasti akan sangat bersedih karena ikatan batin di antara mereka cukup dalam.


Mulai dari masa menjalin kasih yang cukup lama dan berakhir menikah hingga lebih dari 10 tahun. Jadi, sudah bisa dipastikan jika akan bersedih ketika melihat ia meninggal.


Namun, ia pun juga sadar jika kesedihan itu hanya akan berlangsung sekejap saja karena ada sosok pengganti yang pastinya akan merebut posisinya dengan mudah.


Apalagi sudah ada buah cinta mereka yang akan menyatukan keduanya dan saat membayangkan hal itu saja sudah membuat Ana merasa terluka. Itulah mengapa ia tidak ingin tahu dan membiarkan Christian memilih hidupnya dengan menikahi Laura secara sah.


"Aku sudah memutuskan untuk pergi, itu berarti sudah tidak ingin tahu apa yang semua orang lakukan saat ini, Bik. Biarkan mereka hidup bahagia dengan hidupnya. Aku pun juga demikian karena akan fokus pada pengobatan dan hidup bahagia jika Tuhan masih memberikanku kesempatan." Ia bisa melihat raut wajah kekecewaan dari pelayannya tersebut.


Namun, tentu saja tidak bisa merubahnya karena memang tidak ingin mengetahui apapun yang berhubungan


dengan orang-orang di masa lalunya.


"Sudahlah, Bik. Aku sudah bahagia dengan keadaanku yang sekarang. Jadi, temani aku hidup bahagia di sini. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa Bibik," ucap Ana sambil mengusap punggung tangan pelayannya.


"Maafkan saya, Nona karena membuat Anda bersedih ketika mengingat tuan Christian. Semoga Anda selalu hidup berbahagia dan menemukan pengganti yang bisa menerima Anda apa adanya." Saat ia berpikir jika majikannya akan mengaminkan doa tulusnya, ia lagi-lagi dibuat terkejut atas keputusan yang baru saja lolos dari bibir sensual tersebut.


Refleks Ana langsung menggelengkan kepala karena tujuannya untuk sembuh bukan karena ia ingin menikah lagi. Kekecewaan mendalam yang dirasakan tidak ingin diulanginya dan kembali sakit hati yang mungkin tidak akan pernah sembuh seumur hidupnya.


Ia saat ini menatap kosong ke arah yang sudah mulai memancarkan cahaya masuk menghangatkan tubuhnya. "Tidak, Bik. Aku tidak akan menikah lagi. Semua pria di dunia ini pasti ingin memiliki keturunan saat menikah, sedangkan aku tidak bisa memberikannya."


"Cukup Christian yang merasa kecewa dan tersiksa selama bertahun-tahun menjadi suamiku. Aku tidak ingin ada pria lain yang merasakannya dan akhirnya memilih untuk mengkhianati ikatan suci pernikahan, demi keturunan." Ana yang baru saja mengungkapkan sesuatu yang dipikirkannya, kini melihat pria yang kemarin mengantarkannya.


Bahkan saat ini melihat pria tersebut membawa paper bag di tangan kanan dan kiri dan membuatnya mengerutkan kening karena tidak memesan apapun.


"Apa itu?"


"Majikan saya menyuruh untuk membelikan semua ini untuk Anda," ucap sang supir yang saat ini tengah membawa 2 paper bag dan diletakkan di atas lantai yang berada di seberang ranjang wanita cantik tersebut.


Ia lalu mengambil satu buku yang ada di dalam salah satu paper bag. "Katanya ini untuk menghilangkan kebosanan Anda selamat di rumah sakit, Nona. Bukankah Anda sangat suka membaca?"


"Jadi, bos menyuruh saya untuk membelikan semua ini karena berpikir pakaian serta tas mahal bukan lagi menjadi tujuan Anda." Ia pun menunjukkan isi dari paper bag lain, yaitu benang untuk merajut.


"Jika nanti Anda bosan, bisa merajut ini dan itu ada buku yang menunjukkan pola yang bermacam-macam untuk seorang pemula." Kemudian kembali menurunkannya di tempat semula setelah wanita itu melihat dan berbinar wajahnya.


Ia tadinya merasa jika wanita itu tidak akan senang dan menolak, tapi ekspresi wajah yang sudah mewakili semuanya, membuatnya mengerti jika bosnya benar-benar bisa memahami sahabatnya yang tengah mengalami ujian kehidupan.


Bahkan saat ini seolah merasa terharu melihat perjuangan seorang wanita yang ingin sembuh dari penyakit kronis stadium akhir.


"Terima kasih. Meskipun sahabatku yang menyuruhmu untuk membelikan semua ini, kamu pun juga sudah berkeliling untuk mencari semua ini dan pasti sangat lelah." Ia saat ini menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman karena di ruangan tersebut dilengkapi dengan pantry.


Kemudian sang pelayan langsung mematuhi perintah dengan kode mata dari majikannya dengan membuatkan minuman.


"Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian saat hidupku terasa hampa dan berpikir berada pada detik-detik terakhir kehidupan." Ia seketika berjenggit kaget begitu mendengar suara cangkir yang pecah dan melihat pelayan baru saja memecahkannya hingga kaca berserakan di lantai.


"Hati-hati, Bik!" seru Ana yang saat ini merasa memiliki firasat buruk.


Apalagi mengetahui jika hal buruk bisa ditandai dengan dengan barang pecah atau bingkai foto yang jatuh. Hingga ia saat ini seketika memikirkan mantan suami yang mungkin mengalami sesuatu yang buruk.

__ADS_1


'Apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Christian? Dia tidak apa-apa, kan? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang terjadi,' gumam Ana yang saat ini masih menatap ke arah pelayan tengah membersihkan pecahan kaca dengan memasukkan ke dalam sebuah kotak bekas makanan.


"Maaf, Nona. Tadi tangan saya terkena air panas dan reflek melepaskan cangkir ini," ucap sang pelayan yang menahan rasa panas pada jari telunjuk yang terkena air panas.


Ana bisa melihat jika saat ini pelayannya tengah menahan rasa sakit sambil membersihkan pecahan kaca agar tidak mengenai kaki orang yang masuk ke dalam ruangan.


Ia pun seketika menatap ke arah pria yang tadi langsung bangkit dari sofa dan menatap ke arah pelayan yang membersihkan. "Tolong belikan obat untuk luka bakar karena pasti tangannya melepuh jika tidak segera diobati. Sekali lagi maaf merepotkan karena baru saja datang, tapi harus pergi lagi."


"Tidak apa-apa, Nona. Hanya membeli salep untuk luka bakar ada di apotek sini. Jadi, tidak perlu pergi jauh." Pria yang memakai kaos casual berwarna hitam tersebut seketika berjalan keluar menuju ke arah pintu dan langsung membukanya.


Ia pun kini berjalan cepat menuju ke apotek untuk membeli obat yang dibutuhkan wanita itu.


Sementara di dalam ruangan, Ana saat ini masih belum mengalihkan perhatiannya dari pelayan yang memastikan jika tidak ada pecahan kaca yang tersisa di lantai.


"Apa belum selesai, Bik. Biar nanti cleaning service yang membersihkannya." Ia merasa lega ketika melihat pelayannya sudah bangkit berdiri.


"Sepertinya sudah tidak ada lagi pecahan yang tersisa di lantai karena saya sudah memastikannya, Nona." Ia pun menyisihkan pecahan kaca tersebut dan berniat untuk pada cleaning service agar tidak mencampurkan dengan siapa lain karena khawatir terluka.


Ia tadinya berniat untuk kembali membuat minuman, tapi tidak jadi melakukannya saat suara dari majikan memanggilnya.


"Kemarilah, Bik. Aku ingin melihat apakah luka bakarnya sudah memerah." Ana selama ini sering terkena luka bakar ketika memasak di dapur.


Jadi, sangat hafal bagaimana rasanya jika mengalami kecelakaan saat bertarung di dapur. Meskipun saat ini lukanya karena terkena air panas, tetap saja akan meninggalkan rasa sakit serta bekas.


"Tidak apa-apa, Nona. Ini hanya sedikit terkena air panas dan nanti juga sembuh sendiri. Anda terlalu berlebihan dengan menyuruh supir untuk membelikan obat." Pelayan yang tadinya tidak berniat untuk menunjukkan jari telunjuknya, terpaksa melakukannya karena mendapatkan tatapan tajam dari sang majikan.


Ana mengulurkan tangan agar pelayanan tersebut patuh. "Bibik seperti anak kecil saja yang takut kumarahi jika ketahuan. Aku hanya ingin melihatnya sebentar dan tidak akan marah ataupun menggigit."


"Seperti ini dibilang hanya sedikit dan sudah biasa? Bahkan jika dibiarkan nanti akan menjadi luka dan terasa perih. Makanya harus mengobatinya agar tidak jadi seperti itu." Ia pun kini sudah melepaskan tangan wanita yang ingin ia ajak bicara serius.


"Tadi saya pikir hanya sedikit terkena air panasnya, Nona. Ternyata lama kelamaan semakin melebar rasa nyerinya. Benar apa yang Anda katakan jika saat ini harus mengobatinya." Ia saat ini bahkan sudah beberapa kali meniup lukanya agar tidak semakin nyeri.


Berharap sang sopir segera datang dan ia bisa segera mengoleskan salep untuk tangannya yang seperti terasa terbakar. Saat menatap intens jarinya yang sudah berubah memerah, seketika mengalihkan perhatian begitu suara dari sang majikan membuatnya mengangkat pandangan.


"Bik, bukankah gelas yang pecah sering diartikan dengan musibah? Entah mengapa aku memiliki firasat buruk. Apakah terjadi sesuatu pada salah satu orang yang kukenal? Tapi aku tadi sudah berjanji untuk tidak ingin mengetahui apapun tentang mereka." Ada perasaan keraguan sekaligus ingin tahu yang dirasakan secara bersamaan oleh Ana saat ini.


Ia benar-benar bimbang harus melakukan apa dan memilih untuk meminta pendapat dari perayaan yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.


Sang pelayan yang tadi juga berpikir demikian karena orang tuanya dulu juga selalu menyuruhnya berhati-hati agar tidak sampai terjadi hal yang dikaitkan dengan musibah.


Ia selama ini tidak pernah memecahkan gelas saat bekerja karena selalu fokus dan berhati-hati, tapi kali ini berpikir sikap mungkin ada sesuatu hal yang terjadi dan membenarkan kecemasan dari sang majikan.


"Sepertinya Anda benar, Nona. Memang mayoritas orang mengartikan jika gelas yang pecah merupakan sebuah pertanda buruk. Jika memang Anda ingin tahu mengenai siapa yang mengalami itu, hubungi saja nomor detektif yang bekerja sama dengan anda ketika pergi dari rumah sakit."


Sang pelayan merasa lega karena akhirnya rasa penasarannya akan terjawab jika sama jika kembali menyuruh detektif untuk menyelidiki tentang keluarga mantan suami serta wanita yang telah menjadi istri siri tersebut.


Namun, seketika merasa kecewa karena saat ini yang terjadi adalah sebaliknya ketika raut wajah sang majikan muram.


"Aku tidak tahu nomornya, Bik. Bukankah aku meninggalkan ponselku dan belum membeli lagi karena keburu pingsan dan tidak sadarkan diri saat berada di dalam mobil, kan?" Ana kita akan menyesal karena tidak membawa kartu nama pria itu karena semuanya tertinggal di dalam dompet miliknya yang berada di dalam tas.

__ADS_1


Saat Miranti tengah memikirkan jalan keluar dari masalah majikannya pintu yang terbuka membuatnya menoleh dan dini melihat pria yang membawa obat untuknya.


"Ini obat oles dan bisa langsung dioleskan di atas lukanya." Sang supir ya kan kini sudah membukakan kemasannya setelah melihat tangan wanita itu memerah.


"Biar aku bantu."


"Tidak perlu karena aku bisa sendiri." Miranti langsung merebut salep dari tangan sang supir. Hingga ia yang mengingat jika pria itu selalu membantu masalah mereka, sehingga kini mengurungkan niat untuk mengoleskannya.


"Apakah kamu bisa membantu mencari nomor seorang detektif yang ada di Jakarta? Nona saat ini benar-benar membutuhkannya," ucapnya yang menoleh ke arah sang majikan. "Oh ya, Nona. Siapa nama detektif itu?"


Sang supir yang terbiasa melakukan apapun dengan mudah karena memiliki banyak kenalan yang bisa membantunya. Ia tadi langsung menganggukkan kepala dan kini beralih menatap ke arah wanita cantik dengan raut wajah pucat itu.


"Boby Setiawan yang merupakan seorang detektif terkenal di Jakarta," sahut Ana yang kini merasa lega karena meskipun ia tidak berdaya di atas ranjang, mempunyai seorang teman baik yang membantunya dan sekaligus memiliki sopir sangat hebat.


Sang supir yang kini mengerti, langsung menelpon salah satu temannya di Jakarta untuk mencari nomor sang detektif. Apalagi saat ini mengetahui jika media sosial sering digunakan oleh banyak orang dan memudahkan mencari informasi apapun.


Namun, ia mengecek sendiri terlebih dahulu apakah nama sang detektif ada dalam akun media sosial. Saat memeriksanya, ia menguruskan kening karena ada banyak akun bernama yang sama.


Ia pun menunjukkan pada wanita itu akan memberitahu mana akun sang detektif. "Ini yang mana detektifnya, Nona?"


Ana yang hanya melihat sekilas ke arah layar ponsel dan langsung menggelengkan kepala. "Dia tidak memiliki akun sosial media. Aku dulu bertemu dengannya tanpa sengaja di sebuah cafe ketika ia menemui klien dan mendengarkan pembicaraan mereka."


Ia berpikir jika informasi dari mulut ke mulut jauh lebih cepat karena memang detektif tersebut selalu membuat puas para klien dan akhirnya membawa beberapa teman yang membutuhkan bantuan dalam masalah berbeda.


"Di zaman seperti ini tidak mempunyai akun di media sosial? Wah ... sangat langka sekali," ucap sang supir yang akhirnya memilih menunggu informasi dari sahabatnya.


"Ya, begitulah detektif itu. Tapi aku suka dengan pekerjaannya karena sangat rapi dan selalu cepat menyelesaikan perintah." Ana yang saat ini berharap bisa segera menghubungi detektif untuk menyelidiki apa yang terjadi pada sang suami setelah ia meninggal.


'Aku jadi ingin tahu seperti apa reaksi seorang Christian ketika aku mati. Apakah ia akan menangis 7 hari 7 malam atau hanya saat hari kematianku saja,' gumam Ana yang saat ini tengah ibu menebak tentang suaminya yang berakhir menjadi seorang duda ditinggal mati.


'Christian, apakah kamu akan menikah dengan Laura setelah lama aku meninggal? Jika benar, bukankah kamu harus berterima kasih padaku karena membiarkanmu hidup berbahagia dan aku memilih mundur,' gumam Ana yang saat ini dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan di pikirannya.


Ia akan merasa sangat yakin jika sang suami pasti akan cepat melupakannya dan bersatu dengan Laura. Tidak ada sedikit pun keraguan di pikirannya saat ini.


Hingga beberapa saat kemudian sang sopir kini berjalan mendekati sosok wanita yang terlihat dengan pandangan kosong seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Saya sudah mendapatkan nomor detektif itu, Nona." Kemudian langsung menunjukkan pesan dari sahabat baiknya yang merupakan ahli IT.


Ia sebenarnya dulu adalah seorang ahli IT di sebuah perusahaan besar di Jakarta, tapi difitnah oleh sesama rekan kerja dan membuatnya berakir dipecat hingga kehilangan pekerjaan dan sulit mendapatkan lagi karena nama baiknya sudah tercemar.


Akhirnya memilih merantau ke luar negeri dan bertemu dengan sang majikan yang sangat baik dan mengetahui jika ia merupakan seorang Ali dalam IT, sehingga sering mendapatkan tugas rahasia dan mendapatkan bonus besar.


Jadi, pekerjaan sebagai sopir hanyalah sebuah kerja cadangan untuknya karena yang paling utama adalah mengerjakan tugas dari bosnya.


Kini, ia langsung menyimpan nomor sang detektif dan menyerahkan ponselnya setelah memencet tombol panggil. "Silakan, Nona."


Ana saat ini masih menunggu panggilan diangkat oleh sang detektif dan begitu mendengar suara bariton dari seberang telepon, seketika memperkenalkan diri.


"Halo."

__ADS_1


"Bantu aku untuk menyelidiki semua yang terjadi di keluarga Raphael saat aku meninggal."


To be continued...


__ADS_2