365 Days With You

365 Days With You
Menderita


__ADS_3

Satu minggu sudah kejadian Ana meninggal dan Laura masih dirawat di Rumah Sakit untuk pemulihan. Kondisinya sangat baik dan sudah bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda ke mana-mana.


Saat ia baru saja keluar dari kamar mandi, di saat bersamaan melihat Mario yang baru saja datang. Bahkan ia mengerutkan keningnya kala melihat pria yang sudah diterimanya sebagai pasangan tersebut membawa sebuah amplop coklat besar.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," ucap Mario yang baru pulang kerja langsung ke Rumah Sakit untuk menemui sang kekasih.


Ia bahkan mengangkat tangannya yang tengah memegang amplop berisi beberapa informasi yang sangat dibutuhkan.


"Apa itu?" Laura kini kembali mendaratkan tubuhnya di atas ranjang perawatan dan menunggu Mario membukanya.


"Lebih baik kamu sendiri yang membukanya karena aku sudah bersusah payah mengumpulkan ini." Kemudian Mario memberikan amplop coklat itu kepada Laura.

__ADS_1


Merasa sesuatu yang ada di dalam amplop coklat sangat penting, kini Laura mulai membukanya dan membaca serta memeriksa foto-foto yang dilihatnya.


"Ini? Jadi, ini adalah wanita bernama Cleopatra itu? Bahkan aku sama sekali tidak menyangka jika Vincent memberikan kata kunci padaku." Ia masih membaca beberapa hal yang seketika membuatnya mengepalkan tangannya.


Kemudian menatap ke arah Mario dengan wajah memerah. "Bawa putri dari pembunuh orang tuaku itu ke sini. Aku akan memberikan sedikit shock terapi pada orang-orang jahat itu." Laura tidak yakin akan apa yang dilakukan pada putri dari pembunuh tersebut.


Hingga ia seketika membulatkan mata mendengar Mario berbicara dan membuatnya sangat berterima kasih.


"Aku sudah mengajaknya ke sini dan dia sedang berada diuar. Kamu harus bisa menahan diri agar tidak sampai mencekiknya karena merupakan putri dari pria yang telah menyebabkan orang tuamu meninggal." Mario kini memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya tersebut.


Kemudian ia mengeluarkan coklat dari saku jasnya. "Makan sesuatu yang manis dulu agar amarah yang meletup-letup di jiwamu bisa mencair."

__ADS_1


Laura saat ini hanya diam dan mendengar sesuatu di pikirannya seperti tengah memerintahkannya untuk membalas dendam dengan nyawa dibayar nyawa.


"Rasanya aku ingin pria itu merasakan bagaimana rasanya kehilangan putrinya. Namun, sepertinya akan jauh lebih menyiksa jika menyiksa orang-orang jahat itu perlahan-lahan. Aku tidak ingin sama seperti mereka." Kemudian ia langsung menggigit coklat yang sudah dibuka kemasannya dan disuapkan ke dalam mulutnya.


"Seolah aku tidak punya tangan saja saat selalu bersamamu seperti ini karena memanjakan aku terus. Aku sudah tidak apa-apa. Lebih baik cepat suruh wanita itu masuk. Aku akan mengangkatnya sebagai mata dan telinga kedua untukku."


Ia selama ini lebih memperdulikan balas dendam dengan menghancurkan, tapi karena berpikir jika itu terlalu simpel dan cepat, sehingga membuatnya tidak merasa puas.


"Baiklah. Aku akan memanggilnya agar kalian bisa berbicara sebagai sesama wanita. Aku tidak ingin wanita itu merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Jadi urus semuanya dengan baik " Mario kini tersenyum simpul dan memberikan coklat batangan itu pada Laura.


Laura yang sebenarnya tadi mendadak tidak punya mood, kini tersenyum melihat coklat di tangannya dan siluet Mario tersebut menghilang di balik pintu. "Aku akan membuat pria bodoh itu menderita karena Cleopatra!"

__ADS_1


"Bahkan ayah Cleopatra pun akan ketakutan dan khawatir jika mendengar putrinya ada di tanganku," lirih Laura yang kini sudah menyusun rencana untuk membalas dendam.


To be continued...


__ADS_2