365 Days With You

365 Days With You
Semua orang terpuruk


__ADS_3

"Nona Ana?" tanya Boby Setiawan dari seberang telepon yang merasa sangat terkejut begitu mendengar suara dari wanita yang sangat dihafalnya karena tidak pernah melupakan klien VIP yang selalu memberikannya uang lebih.


Bukan ... sebenarnya bukan karena masalah uang ia menganggap spesial wanita di seberang telepon tersebut karena diam-diam memiliki perasaan pada klien sendiri dan harus memendam karena sadar diri.


Hingga ia merasa sangat terkejut begitu mendengar permintaan dari wanita yang tadinya mengatakan tidak akan pernah lagi mencari tahu tentang orang-orang yang ada di masa lalu.


"Apa Anda sekarang berubah pikiran dan masih memperkerjakanku, Nona?" tanya Boby Setiawan yang saat ini ingin memastikan lebih jelas karena khawatir jika ia salah dengar.


"Kamu tidak salah dengar karena aku berubah pikiran. Aku merasa penasaran apakah mereka semua sangat senang dan bahagia begitu melihatku mati," sarkas Ana yang saat ini ingin tahu keadaan dari sang suami. "Kalau bisa, kirimkan informasinya hari ini juga karena aku merasa ada sesuatu hal yang buruk terjadi."


Sang detektif akhirnya memutar otak untuk mencari tahu dengan cara pergi ke rumah duka agar bisa melihat secara langsung apakah orang-orang yang dimaksud merasa senang atau benar-benar bersedih.


"Baiklah, Nona. Saya akan bersiap sekarang. Saya akan langsung mengabarkan kepada Anda setelah mengetahui semua informasi yang anda butuhkan. Kalau begitu, saya tutup telponnya." Menunggu sampai wanita yang sangat dihormatinya tersebut menanggapi.


"Baiklah."


Kemudian Ana melihat mematikan sambungan telepon setelah berbicara dengan sang detektif yang selama ini menjadi orang yang membantunya untuk mencari semua informasi tentang perselingkuhan sang suami di belakangnya.


Ia karena akhirnya bisa kembali berhubungan dengan sang detektif yang diyakini akan sangat menjaga rahasianya. Bahwa ia masih hidup dan tinggal di negara tetangga. Kini, ia mengulurkan tangannya untuk mengembalikan ponsel milik sang sopir.


"Terima kasih."


"Iya, Nona." Sang supir tadinya melarang pelayan untuk membuatkan minuman, jadi saat ini membuat sendiri.


Hingga ia yang terlihat menikmati minuman buatannya sendiri, kini kembali mendaratkan tubuhnya di sofa. Ia menatap dua wanita yang seperti sibuk memikirkan sesuatu dan hanya dibiarkan tanpa mengganggu.


Ia hanya melaporkan pada sang majikan jika saat ini semuanya baik-baik saja dan tidak ada hal buruk dari sahabat bosnya.


Ana sebenarnya tadi ingin langsung mengatakan pada pria itu untuk membelikannya ponsel dan juga nomor baru agar bisa berhubungan secara langsung dengan detektif. Namun, ia sengaja menundanya dan membiarkan pria itu duduk bersantai terlebih dahulu.


Sementara sang pelayan saat ini tertarik membuat rajutan. Jadi, menunjuk ke arah paper bag berisi benang rajut. "Apa saya pun bisa memakainya, Nona? Saya ingin coba-coba membuat sarung tangan."


"Daripada duduk diam melamun, memang lebih baik membuat kesibukan. Sahabat Anda benar-benar sangat pengertian dan luar biasa mengerti apa yang diinginkan oleh orang-orang pengangguran seperti kita," ucapnya dengan terkekeh geli karena perkataan konyolnya.


Ana seketika tertawa karena merasa terhibur dengan candaan dari pelayannya yang selalu berhasil mencairkan suasana mencekam di antara mereka.


"Bibik bukan pengangguran karena bekerja untukku dengan menjagaku di sini. Justru akulah yang pengangguran karena tidak bekerja sama sekali." Ia kini menunjuk ke arah paper bag tersebut agar diambilkan karena juga ingin mempelajari.


"Aku ingin membuat sweater, Bik. Apakah bisa aku kirimkan pada Valerio nanti? Aku apakah sangat merindukannya saat ini. Tidak ada foto putraku yang bisa kulihat untuk melepas rindu," ucapnya dengan suara serak sambil memeriksa beberapa benang dan perlengkapan untuk merajut.


Miranti seketika mengusap lengan dibalik seragam rumah sakit itu untuk menyalurkan aura ketenangan. "Saya bisa mengerti perasaan kehilangan yang Anda rasakan, Nona. Minta saja detektif untuk membantu menyelesaikan apapun yang Anda inginkan."


Saat Ana berusaha untuk tidak terlihat bersedih, tapi gagal melakukannya karena saat ini tengah berurai air mata. Ternyata rencana tidak sesuai dengan ekspektasiku, Bik. Aku tetap tidak bisa melakukannya." Ia merasa hidupnya sangat miris dan kini membersihkan bulir air mata di pipinya.


"Aku tetap peduli pada mereka hanya dengan satu pecahan gelas yang diartikan sebuah firasat buruk. Kenapa sekarang aku sangat melow seperti ini dan tidak tahu malu menangis di depan orang asing," ucapnya sambil menatap ke arah pria yang duduk di sofa.


Pria yang tadinya tengah menikmati minuman hangat buatannya, sambil mengamati dua wanita yang saling berkeluh kesah dengan penuh keharuan dan begitu ia disebut, seketika tersedak dan tenggorokannya terasa panas.

__ADS_1


Ia saat ini memegangi tenggorokannya dan beberapa kali terbatuk. "Nona, Anda tidak perlu khawatir hanya karena saya melihat Anda menangis."


Kemudian bangkit berdiri dari sofa karena ingin minum air putih untuk menetralkan tenggorokannya yang terasa panas.


Ana yang tadinya berurai air mata saat merasa sedih ketika merindukan putranya dan juga sang suami yang ia relakan bersama dengan pria lain, kini seketika tertawa melihat pria itu terbatuk karena perbuatannya.


"Aah ... maafkan aku karena mengejutkanmu. Aku dari dulu tidak suka ada yang melihatku menangis karena hidupku terlihat sempurna di mata orang lain." Ana yang selalu menjadi public figure karena mempunyai seorang suami pebisnis terkenal dan ia pun juga membantu dengan keahliannya, sehingga usaha mereka semakin berkembang pesat.


Bahkan ia sering diundang untuk menjadi motivator untuk para anak muda agar bersemangat untuk menjadi seorang wirausaha. Bahwa semua orang juga bisa melakukannya asalkan giat dan gigih.


Saat baru saja menaruh gelas di tempatnya kembali setelah berhasil menormalkan tenggorokannya yang panas, pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut bisa menilai seperti apa kehidupan wanita cantik itu di Jakarta.


Kehidupan penuh dengan persaingan ketat di dunia bisnis yang melibatkan harta dan tahta, banyak membuat semua orang menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan. Apalagi dengan menjatuhkan dan saling menyerang.


Jadi, sudah bisa menduga jika wanita itu sangat tangguh dan kuat saat menghadapi semuanya. "Anda tenang saja karena saya tidak akan mengabadikan momen langka Anda saat menangis. Jadi, Anda bisa menangis sepuasnya. Jika merasa tidak nyaman ada saya, sekarang juga akan keluar.


Kebetulan ia yang tadi ingin menyuruh pria itu untuk membelikan ponsel, seketika mengingatnya. "Tunggu!"


Sang supir yang tadinya berniat untuk membuka pintu, kini berbalik badan karena berpikir jika wanita tersebut melarangnya pergi. Ia bahkan berniat untuk kembali ke sofa, tapi tidak jadi melakukannya begitu mengetahui keinginan wanita itu.


"Aku tidak mungkin terus meminjam ponselmu untuk berhubungan dengan detektif itu. Jadi, tolong belikan aku ponsel dan sekalian SIM card." Ia saat ini memberikan kode pada pelayan untuk memberikan kartu kredit miliknya.


Sang pelayan yang tadinya mempelajari tentang dasar-dasar dari pemula untuk merajut, seketika menganggukkan kepala dan bangkit berdiri untuk mengambil dompet miliknya. Kemudian langsung menyerahkan pada pria tersebut dan mengatakan pin-nya.


"Baiklah. Kalau begitu saya pergi sekarang, Nona." Ia masukkan kartu berwarna hitam tersebut ke dalam dompet dan berbalik badan meninggalkan dua wanita yang masih menatapnya.


"Ternyata cukup sulit melakukannya, Nona. Entah saya bisa atau tidak, tapi saya yakin jika anda pasti akan dengan gampang mempelajari ini karena merupakan seorang wanita yang sangat cerdas," ucapnya kembali menatap ke arah buku di tangannya.


Ia bahkan perlu waktu cukup lama untuk memahami caranya. Hingga suara dari majikannya membuatnya sadar jika ia adalah seorang wanita yang bodoh.


"Jika tidak paham dengan apa yang ada di buku, cari saja tutorial di mesin pencarian, Bik. Mungkin itu akan jauh lebih mudah untuk Bibik. Aku saat ini ingin membaca buku ini." Ana saat ini merasa tertarik dengan salah satu buku yang tadi dipilihnya dari paper back.


"Filosofi Cinta," ucap sang pelayan yang baru saja membaca judul buku di tangan majikannya. "Dari sekian banyak buku, kenapa Anda memilih sesuatu yang menyakitkan, Nona? Bukankah Anda baru saja kehilangan itu?"


Ia khawatir jika setelah membaca buku itu, sang majikan malah semakin berlarut-larut dalam kesedihan. Jadi, ingin menyadarkan agar membaca buku lain.


Ana sebenarnya tadi merasa ragu ketika melihat judul buku yang sedang dipegangnya, tapi ia tahu jika itu adalah keinginan dari sahabatnya yang menyuruhnya untuk membaca.


"Aku ingin tahu alasan temanku mau belikan buku ini untukku, Bik. Siapa tahu buku ini malah menjadi penyembuh untukku dari luka yang kurasakan karena perbuatan Christian." Kemudian ia langsung membuka lembaran pertama dan membaca daftar isi mengenai judul-judul tiap bab.


Ia bahkan saat ini merasa semakin tertarik untuk kembali membukanya dan membaca satu persatu tiap bab. "Bibik pelajari saja tutorialnya di ponsel. Aku akan membaca ini."


"Iya, Nona. Kalau begitu saya akan ke sana saja." Menunjuk ke arah sofa karena berpikir akan lebih nyaman berada di sana saat belajar merajut.


Kemudian bangkit berdiri setelah melihat sang majikan menganggukkan kepala dan kembali fokus membaca buku filosofi cinta.


Ana saat ini fokus membaca setiap aksara yang dilukiskan di kertas putih itu. Bahkan setiap kalimat puitis yang menyentuh kalbu seolah berhasil menjadi pengobat hatinya yang terluka.

__ADS_1


Ia benar-benar sangat menikmati bacaannya saat ini dan tidak mau berhenti. Hingga beberapa jam telah berlalu dan ia sudah hampir menghabiskan buku yang dibacanya saat ini.


Namun, ia merasakan kejadian luar biasa pada bagian perutnya yang merupakan bekas operasi. Ia seketika meringis menahan rasa nyeri dan menaruh bukunya di sebelah bantal.


Ia yang tidak ingin mengganggu pelayan ketika serius mempraktekkan apa yang diketahui dengan mulai merajut. Hingga di saat bersamaan melihat pintu yang terbuka dan dokter bersama perawat datang, sehingga membuatnya benar-benar lega.


"Saatnya diperiksa, Nona," sahut sang dokter yang saat ini bisa melihat raut wajah pucat dari pasien. "Sepertinya efek obat biusnya telah benar-benar habis."


Ia memberikan kode pada perawat untuk langsung memberikan suntikan pada infus. Kemudian memeriksa tanda-tanda vital dengan stetoskop.


"Bagaimana perasaan Anda sekarang, Nona Ana?"


"Sangat baik, Dokter. Saya akan berjuang demi kesembuhan dan percaya pada Anda bisa melakukannya. Saya akan mengikuti semua perintah Dokter." Ana berbicara sambil menahan rasa nyeri pada bagian perutnya.


Sementara sang dokter seketika tersenyum simpul karena merasa senang dengan semangat dari pasiennya. "Inilah yang menjadi dasar utama pasien untuk bisa sembuh. Selanjutnya serahkan pada aparat medis serta berdoa pada Tuhan."


Ana kini menganggukkan kepala dan tersenyum simpul. "Iya, Dokter. Saya akan melakukannya."


Sang dokter yang baru saja memeriksa, kini melirik sekilas ke arah buku yang ada di sebelah pasien.


"Wah ... ternyata juga ada di sini buku kesukaan istriku. Pasti dia akan sangat senang jika aku menceritakan ada pasien yang memiliki selera sama dengannya. Sepertinya kalian akan cocok jika bertemu." Sang dokter yang merasa jika usia pasiennya sepantaran dengan sang istri, sehingga berniat untuk membuat keduanya berteman.


Ana yang merasa sangat bersemangat karena mungkin bisa berteman dengan istri pria itu. Apalagi ia masih baru berada di sana dan tidak mempunyai kenalan selain sahabat baiknya yang masih sibuk di Jepang.


"Tentu saja sangat senang jika istri Anda mau berteman dengan saya, Dokter. Jika berkenan, mungkin bisa datang ke sini karena saya punya banyak buku yang mungkin disukainya." Ana bahkan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri dari sang dokter.


"Baiklah. Nanti aku akan memberitahu istriku akan datang menemuimu dan meminta buku gratis," ucapnya dengan tertawa untuk membuat candaan yang berhasil membuat pasien tertawa. Setelah selesai memeriksa, ia kini berlalu pergi.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan kamar perawatan tersebut terbuka dan terlihat cocok sang supir membawa pesanannya.


"Semoga Anda cocok dengan ponselnya, Nona. Tadi saya sudah meminta untuk langsung memasang semuanya dan sekarang sudah bisa digunakan." Ia kini mengeluarkan ponsel tersebut dari kotaknya.


"Saya pun juga telah menyimpan nomor detektif itu di sana dan mengirimkan nomor Anda sekalian." Berpikir bahwa jika ia tidak ada di rumah sakit, bisa langsung menghubungi nomor baru wanita itu.


Seketika wajah Ana berbinar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan. "Terima kasih selalu mau ku repotkan."


"Sama-sama, Nona karena tugas saya memang untuk melayani Anda. Itulah pesan dari bos ketika berangkat ke Jepang. Jadi, tidak usah sungkan dan katakan apapun yang Anda inginkan. Saya sekarang akan kembali ke apartemen." Ia kini melirik sekilas ke arah jam tangan di tangannya.


"Jika butuh bantuan, langsung telepon saja karena sudah menyimpan nomor saya di sana." Kemudian berlalu pergi begitu wanita itu menganggukkan kepalanya.


Sementara itu, Ana saat ini langsung mengecek ponsel baru miliknya. Baru beberapa menit berlalu, dering ponsel miliknya menggema di ruangan dan melihat kontak dari sang detektif.


"Sepertinya dia sudah mendapatkan informasi," ucapnya yang saat ini langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.


"Nona, ternyata benar firasat Anda. Meninggalnya Anda benar-benar membuat semua orang terpuruk. Mulai dari tuan Christian, mertua Anda dan juga tuan Valerio. Bahkan sampai dilarikan ke Rumah Sakit."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2