
"Dasar wanita bandel! Jika terjadi sesuatu yang buruk pada lukamu itu, aku akan mengikat kaki dan tanganmu di atas ranjang perawatan agar tidak bisa pergi kemana-mana!" sarkas Mario yang saat ini terpaksa menuruti keinginan Laura dengan mendorong kursi roda menuju ke ruangan di mana jenazah Ana berada.
Laura sebenarnya memahami jika Mario sangat perhatian dan tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk padanya, tapi malah membuatnya merasa sedikit terhibur dengan kalimat pria itu.
"Baiklah, lakukan apapun yang kau mau. Aku akan menurun dan tidak akan melawan asalkan bisa bertemu dengan Ana untuk terakhir kalinya. Bukankah Lebih baik aku menemuinya sekarang daripada pergi ke pemakamannya saat kondisiku seperti ini?" Laura bahkan tidak bisa tertawa mendengar kalimat Mario tadi.
Jadi, saat ini hanya membuat pria itu mengerti bagaimana perasaannya saat ini jika sampai tidak bisa lagi melihat Ana untuk selamanya.
"Ya, kamu pasrah karena sangat ingin berbicara dengannya," sahut Mario yang saat ini sudah menatap ke arah Vicky. "Tolong bukakan pintunya karena Laura ingin berbicara untuk terakhir kalinya dengan almarhumah."
Vicky yang tadi memang disuruh untuk menunggu di depan pintu karena jujur saja ia tidak berani masuk dan melihat jenazah Ana. Jadi, saat ini menganggukkan kepala dan langsung membukakan pintu seperti yang diperintahkan oleh Mario.
"Biar aku saja yang masuk ke dalam dan kalian tunggu saja di luar," ucap aura yang sama sekali tidak merasa takut karena akan menghadapi jenazah wanita yang tidak pernah disukainya dan membuatnya dendam karena telah menghancurkan kebahagiaannya dengan merebut putranya yang telah dilahirkan dengan taruhan nyawa.
Mario yang tidak yakin dengan perkataan dari Laura karena jujur saja ia juga khawatir dengan keadaan wanita yang terlihat mengeluarkan darah di bagian belakang tubuh.
"Apa kau yakin akan melakukan itu sendirian? Apa kamu sama sekali tidak takut melihat jenazah Ana?" tanya Mario yang masih menunggu jawaban tawuran dan tangannya menahan pegangan kursi roda.
Laura yang saat ini hanya menganggukkan kepala karena berpikir tidak perlu untuk menjelaskan tentang keberaniannya untuk menemui wanita yang sudah mengembuskan nafas terakhir di meja operasi.
"Aku bukanlah anak kecil yang takut berhadapan dengan jenazah. Aku bahkan sudah berkali-kali hampir menjadi jenazah, tapi tidak diterima oleh Tuhan karena sampai sekarang bisa bernapas."
"Bahkan kematian sama sekali tidak membuatku takut, apalagi hanya melihat jenazah Ana." Kemudian ia langsung mendorong kursi roda masuk begitu dibukakan pintu oleh Vicky.
"Jika Anda sudah selesai, tolong segera keluar, Nona Laura," seru Vicky yang saat ini juga ikut merasa khawatir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada wanita di hadapannya tersebut.
Ia bukan mengkhawatirkan masalah kondisi fisik Laura, tapi mental wanita itu terlihat jelas sedang tidak baik-baik saja. Jadi, merasa khawatir jika luka di hati seorang Laura akan menimbulkan masalah psikis.
Sampai pada akhirnya tertekan dan menjadi gangguan jiwa yang malah akan berdampak buruk. Jadi, tidak ingin wanita itu berlama-lama di dalam ruangan jenazah Ana yang notabene tidak disukai serta menjadi penyebab balas dendam serta luka yang didapatkan.
"Ya, aku tidak akan lama. Jadi, jangan khawatir," ucap Laura yang saat ini memberikan kode agar Vicky keluar setelah membukakan pintu untuknya.
Kemudian pintu pun tertutup dan ruangan yang sangat hening tidak membuat Laura mengurungkan niat untuk mendekati jenazah wanita di atas ranjang yang sudah tertutup kain berwarna putih.
Ia saat ini menahan rasa sakit pada luka jahitan operasi yang tadi mengeluarkan darah dan mendorong kursi roda mendekati jenazah Ana.
Bahkan tanpa merasa takut, Laura saat ini membuka penutup tubuh Ana dan bisa melihat wajah pucat wanita yang sudah berbeda alam dengannya.
Ini adalah kedua kalinya ia berada di sebelah jenazah karena yang pertama dulu adalah orang tuanya dan saat ini menelan saliva dengan kasar karena perasaan membuncah mewakili apa yang ada di dalam hatinya begitu menatap wajah pucat Ana.
"Akhirnya kita ketemu juga, Ana. Terakhir kita bertemu saat kamu murka padaku karena telah merebut Christian darimu. Bahkan saat itu aku mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan darah daging suamimu yang juga merupakan suamiku. Kita sebenarnya adalah wanita yang sama-sama bodoh karena mencintai Christian."
__ADS_1
"Padahal di luaran sana ada banyak pria yang jauh lebih baik dari Christian, tapi kenapa kita hanya terobsesi dan fokus padanya dengan mencintainya? Apa hebatnya seorang Christian hingga membuat kita tergila-gila padanya meskipun mengetahui telah menduakan cinta kita?" Laura saat ini menertawakan kebodohannya serta perkataannya yang sangat konyol.
Apalagi menyadari jika kebodohannya adalah mencintai seorang pria beristri dan pastinya merupakan cinta terlarang yang berakhir menyesakkan. Hingga kini tidak berkedip menatap ke arah wanita yang ia akui memiliki wajah cantik meskipun sangat pucat tersebut.
"Tapi di sini hanya kamu yang beruntung karena membuat Christian lebih memilihmu dengan mempertahankanmu dan membuangku serta merebut bayi yang kulahirkan. Salahkah aku jika mengatakan sangat iri padamu, Ana?" Kembali menghembuskan napas kasar dan dadanya terasa sesak ketika mengingat tentang perjuangan hidupnya yang penuh dengan banyak rintangan.
"Aku bahkan belum melaksanakan rencanaku untuk membalas dendam padamu, tapi kamu sudah pergi dan hidup tenang di atas sana. Jalanmu terlihat selalu mulus, Ana. Kecuali satu kekuranganmu, itu tidak bisa memberikan keturunan untuk Christian, yang lainnya terasa sempurna di mata orang lain." Laura saat ini menatap intens raut wajah Ana yang yang tidak akan pernah membuka mata kembali.
Laura bahkan saat ini ingin sekali mengangkat tangannya untuk menyentuhnya, tapi mengurungkan niatnya karena tidak ingin Ana yang sangat membencinya itu jijik ketika ia menyentuh.
"Kamu tidak sempat merasakan penderitaan berkepanjangan Karena sekarang hidupmu telah bahagia di atas sana. Tuhan bahkan lebih menyayangimu dan tidak membiarkan aku membalas dendam padamu dengan menyakiti perasaan seorang wanita yang bahkan tidak pernah bisa memberikan keturunan untuk suami."
Saat mengingat kekurangan Ana, ia tetap tidak merasa bisa mengalahkan wanita di hadapannya tersebut. Apalagi meskipun ia sudah memberikan kesempurnaan untuk Christian, tapi yang terjadi malah ditinggalkan.
"Tuhan lebih menyayangimu, Ana. Jadi kamu tidak dibiarkan untuk merasakan penderitaan di dunia ini dalam waktu yang lama. Kamu sekarang sudah tenang di atas sana. Semoga kamu bertemu dengan orang tuaku dan sampaikan salamku pada mereka." Laura yang saat ini masih belum beranjak dari tempatnya, kini kembali menutup kain di tubuh Ana.
Bahkan ia sama sekali tidak merasa takut ataupun aneh ketika melakukannya. Ia saat ini hanya memikirkan tentang wanita yang sudah tenang dan tidak lagi merasakan sakit.
"Semoga kamu tenang di atas sana dan amal ibadahmu diterima oleh Tuhan yang Maha Esa." Laura saat ini mendorong roda menuju ke arah pintu keluar.
Saat tangannya terangkat untuk membuka kenop pintu, menoleh sekilas ke belakang untuk menatap ke arah jenazah Ana. "Aku meminta izin padamu untuk merawat Valerio. Meskipun kamu bukan ibu kandungnya, sekarang aku ingin meminta izin padamu untuk memintanya hidup bersamaku."
"Ana, terima kasih karena telah merawat putra kita dengan sangat baik dan mencurahkan kasih sayang tulus seperti pada putra kandung sendiri." Laura bahkan saat ini merasa sesak di dada.
'Aku akan melanjutkan perjuanganmu untuk merawat Valerio dengan baik, Ana,' gumam Laura yang saat ini keluar dari ruangan setelah perasaannya jauh lebih baik begitu mengungkapkan semua keluh kesah yang dirasakan pada wanita yang sudah meninggal di meja operasi tersebut.
Ia saat ini menatap ke arah dua pria yang seketika menghambur berjalan ke arahnya begitu bangkit dari kursi tunggu. "Aku sudah selesai berbicara dengan Ana."
"Syukurlah karena aku dari tadi sangat mengkhawatirkanmu, Laura," ucap Mario yang saat ini berniat untuk segera mendorong kursi roda agar kembali ke ruangan dan diperiksa oleh dokter.
Namun, ia tidak jadi melakukannya ketika Laura tersenyum padanya sambil bertanya pada pria yang berdiri di sebelahnya, yaitu Vicky.
"Vicky, terima kasih karena memberikan izin padaku untuk berbicara pada Ana tanpa curiga jika aku akan berbuat hal-hal buruk di dalam." Laura sebenarnya ingin mengatakan agar Vicky terus menghibur dan memberikan semangat pada Christian yang terlihat sangat terpukul dengan kematian Ana.
Namun, ia tidak jadi melakukan itu karena khawatir dianggap memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan memberikan perhatian untuk menarik hati seorang Christian.
Hingga ia kini hanya tersenyum ketika mendengar suara bariton dari asisten pribadi tersebut.
"Iya, Nona Laura. Saya sangat mengetahui bagaimana perasaan Anda. Saya juga tahu bahwa Anda bukanlah orang jahat karena bisa berakhir di sini karena cinta. Cinta Anda pada tuan Valerio yang membuat Anda bertahan sampai sekarang."
"Semoga Anda kelak menjadi wanita yang sangat kuat dan tangguh lebih dari ini untuk menghadapi orang-orang jahat yang membuat Anda selama ini hidup menderita. Saya sudah mendengar mengenai semua hal buruk yang terjadi pada anda dari tuan Christian yang diberitahu oleh nyonya." Vicky sebenarnya jauh melebihi iba pada wanita di hadapannya tersebut.
__ADS_1
Namun, saat ini tidak bisa berkomentar banyak dan memilih untuk menghibur dengan memberikan suntikan semangat agar Laura tidak menyerah dan terpuruk hanya gara-gara kejahatan dari orang-orang jahat.
"Terima kasih, Vicky. Tapi aku dari dulu sama sekali tidak suka dengan rasa iba atau dikasihani oleh orang lain. Jadi, simpan saja rasa ibamu itu dan anggap tidak pernah mendengar cerita miris mengenai masa laluku." Kemudian ia menoleh ke arah Mario dan mengungkapkan keinginannya.
"Kita kembali ke ruangan sekarang karena tiba-tiba kepalaku pusing." Ana saat ini merasa pandangannya blur dan juga rasa nyeri di bagian belakang makin menjadi, tapi dari tadi ditahannya.
Ia ingin sekali segera pergi dari sana dan mendapatkan obat untuk meredakan rasa nyeri yang dirasakan. Hingga ia yang baru saja menutup mulut, samar-samar melihat seseorang yang berjalan mendekat.
Hingga pandangannya yang dari tadi blur, sedikit jelas melihat pria dan wanita yang berjalan mendekat. Saat ia menebak jika itu adalah mertua dan Christian, tiba-tiba semuanya terasa gelap dan ia kehilangan kesadaran dengan memejamkan kedua matanya.
Bahkan masih sempat mendengar suara-suara dari semua orang yang memanggil-manggilnya, tapi lama-kelamaan ia sudah tidak tahu apa yang terjadi lagi.
Sementara itu, Mario, Vicky beserta Christian yang baru saja tiba bersama dengan sang ibu, seketika membulatkan kedua mata melihat Laura pingsan.
Mario seketika menopang beban berat Laura dan langsung menggendongnya dan merasa sangat khawatir dengan keadaan Laura yang pingsan.
"Sudah kubilang tadi agar kembali ke ruangan karena kamu belum pulih dan buka jahitan berdarah." Meskipun saat ini mengomel, tetap saja tidak tega melihat wajah pucat Laura yang sudah berada dalam gendongannya.
Sementara itu, Christian yang baru saja datang, tadinya berniat untuk melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Mario, tapi mengurungkan niat karena menyadari jika melakukan itu, merasa berdosa pada Ana. Jadi, ia hanya diam menatap perbuatan Mario yang saat ini sudah menggendong Laura.
'Bahkan keadaanmu sedang tidak baik-baik saja karena baru saja melakukan operasi, Laura. Namun, kamu bersusah payah untuk datang ke sini mengucapkan kalimat terakhir untuk Ana. Maafkan aku karena bersikap sinis padamu tadi dan berpikir buruk,' gumam Christian yang saat ini hanya diam melihat Mario melangkah pergi meninggalkannya menuju ke ruangan perawatan Laura.
Hingga ia merasakan pukulan dari sang ibu yang marah padanya karena hanya diam saja dan tidak berniat untuk menolong Laura.
"Apa kok sama sekali tidak peduli atau khawatir pada Laura? Atau Apa kau akan melakukan hal seperti ini lagi ketika Laura meninggal seperti Ana? Apa kau selalu ingin menyesal di kemudian hari?" sarkas Renita Padmasari yang saat ini menatap tajam putranya karena ingin menyadarkan jika menyesal di belakang tidak akan ada gunanya.
Hingga ia pun saat ini berpikir jika putranya akan bertambah menyesal jika Laura meninggal, jadi ingin menyadarkan agar tidak mengulang kesalahan yang sama dan tidak belajar dari pengalaman.
"Mama, jaga bicaranya jangan mengatakan hal-hal buruk karena itu adalah sebuah doa. Bahkan aku masih mengingat bagaimana Ana membahas tentang kematian sebelum dioperasi dan membuatku kesal, sehingga mengiyakan perkataannya." Christian benar-benar sangat marah karena sang ibu malah bersikap kekanak-kanakan.
Apalagi ia tahu bahwa perkataan adalah doa dan tidak ingin sang ibu berbicara sembarangan. Kemudian ia saat ini melangkah masuk menemui jenazah sang istri karena sebentar lagi akan dibawa pulang dengan diantar ambulans Rumah Sakit.
Sementara itu, Renita Padmasari kini bersitatap dengan Vicky begitu melihat siluet putranya menghilang di balik pintu.
"Kamu lihat anak itu? Bukannya menyadari kesalahannya saat diingatkan, malah sibuk menyalahkan. Aku hanya ingin menyadarkannya agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Apa menurutmu aku salah?" tanya Renita Padmasari yang saat ini ingin mendengar jawaban dari asisten pribadi putranya yang dari tadi hanya diam saja.
Vicky yang merasa seperti berada di tengah-tengah, hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan perasaannya yang selalu serba salah jika menghadapi ibu dan anak tersebut.
'Semua orang saat ini sedang tidak baik perasaannya, lalu mengaitkan padaku dan pasti akan terlihat salah jika berbicara tidak sesuai dengan yang diinginkan.'
'Serba salah terus jika berada di sisi ibu dan anak ini,' gumam Vicky yang saat ini mencoba untuk bersikap bijak tanpa membela salah satu dari mereka dan berharap tidak dimarahi ataupun mendapatkan kemurkaan dari sosok wanita yang saat ini menatapnya.
__ADS_1
To be continued...