365 Days With You

365 Days With You
Sebuah kabar


__ADS_3

Laura yang baru saja melihat sikap Mario sangat lembut padanya, malah merasa bersalah karena masih tidak bisa membalas perasaan pria yang sangat mencintainya dengan tulus.


Bahkan sudah menunjukkan keseriusan padanya semenjak lama karena selalu menemaninya dari nol hingga sesukses sekarang. "Mario, aku ...."


"Tidak perlu membuka suaramu jika menolakku. Kamu baru boleh menanggapinya jika memiliki perasaan yang sama padaku." Mario yang kini masih fokus mengemudikan mobil menuju ke arah pantai, memang tidak melirik sedikit pun pada Laura.


Ia hanya ingin memberikan sebuah ultimatum demi menjaga hatinya karena tidak ingin kembali terluka saat mendapatkan sebuah penolakan dari wanita yang sudah lama dicintai begitu besar olehnya.


Sementara itu, Laura akhirnya tidak jadi membuka suara untuk mengungkapkan permohonan maafnya. Ia memilih untuk menuruti Mario dan kembali mengingat foto-foto putranya yang sudah dikirimkan ke nomornya.


'Aku ingin melihat putraku lagi. Ternyata dia sangat tampan dan sudah besar,' gumam Laura yang kini membuka tas dan mengambil ponselnya.


Ia kini membuka galeri untuk melihat foto putranya yang digendong oleh wanita yang paling dibenci di dunia ini. 'Aku harus mengedit fotonya dengan menghilangkan wanita sialan ini.'


Hingga ia pun kini menunduk dan sibuk mengedit foto balita yang digendong tersebut agar tidak kelihatan sosok wanita yang menjadi penyebab utama kehilangan darah daging yang dilahirkannya.


'Yes. Akhirnya aku bisa menyingkirkan wanita sialan ini! Kali ini hanya fotonya saja yang kusingkirkan, lain kali saat tiba waktunya, akan kuhancurkan dia sampai menangis darah,' gumam Laura yang kini sudah tersenyum kala menatap intens foto putranya yang tampan.


Ia yang tidak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, tanpa menatap pada Mario yang masih mengemudi, mengungkapkan hal yang diinginkannya.


"Nanti saat pengawal mengirimkan foto wanita itu dengan putraku, langsung teruskan ke nomorku. Saat ini dia pasti masih mengawasi Ana dan nanti akan mengirimkan gambar lagi." Ia kini kembali mengusap foto bocah laki-laki berusia 1 tahun itu.


"Baiklah. Tidak perlu khawatir karena aku sudah tahu apa yang kau inginkan. Nanti pasti akan langsung mengirimkannya. Apa kamu butuh sesuatu untuk dibawa sebelum kita memasuki area perbukitan." Mario berpikir di depan sana ada rest area dengan supermarket yang menyediakan aneka makanan.

__ADS_1


Selama ini ia mengetahui jika Ana suka makan makanan ringan untuk teman di kesendiriannya. Jadi, tidak ingin wanita yang ingin mencari ketenangan itu merasa stres karena tidak ada camilan di waktu luangnya.


"Benar juga. Aku hampir lupa kalau sekarang butuh asupan nutrisi saat sedang badmood. Berhenti di depan toko saja karena aku ingin membeli anggur." Laura yang semenjak kecil sangat menyukai anggur, tidak pernah melewatkannya karena hampir setiap hari mengkonsumsinya.


Bahkan Christian dulu juga selalu membelikan untuknya saat stok di rumah habis. 'Dulu bajingan itu selalu menyuapiku anggur saat bersantai sambil menonton TV. Bodoh! Kenapa kau malah mengingat si berengsek itu?'


'Kau membeli anggur bukan karena mengingat kenangan kalian, tapi memang dari dulu sangat menyukainya.' Laura yang saat ini mencoba untuk mencari sebuah pembenaran diri, seketika menoleh ke arah Mario yang seperti merasa heran padanya.


"Kamu tidak membeli makanan ringan dan coklat seperti biasanya?" Mario akhirnya tidak jadi berhenti di area supermarket dan mencari toko buah seperti keinginan Ana.


Hanya saja, ia merasa aneh karena baru mengetahui jika Laura menyukai buah anggur. "Tumben mau membeli buah."


Laura tahu jika Mario bersikap seperti itu memang karena semenjak hubungannya berakhir dengan Christian, tidak melakukan hidup sehat. Ia melampiaskan semuanya dengan menikmati apapun yang selama ini dihindari, seperti beranekaragam Snack yang pastinya cepat menaikkan berat badan.


"Aku sudah bosan dengan makanan tidak sehat itu, Mario. Jadi, sekarang ingin kembali ke jalan yang benar. Lagipula sepertinya aku tidak akan punya waktu untuk gym setiap hari setelah memiliki saham dari perusahaan anak cabang Prameswari."


Laura bahkan sudah berniat untuk menyusup ke perusahaan itu dan mencari tahu siapa saja yang memiliki saham di sana. Kemudian berniat untuk membeli dan menguasai perusahaan.


"Nanti bantu aku mencari informasi terkait perusahaan itu dan cari tahu nomor para pemegang sahamnya." Laura seketika menunjuk ke arah toko buah di kiri jalan. "Nah, itu toko buahnya. Berhenti!"


"Iya, aku sudah tahu, Anastasya," ujar Mario yang kini mengurangi kecepatan dan menepikan kendaraan tepat di depan toko buah yang banyak memajang aneja ragam buah-buahan segar baik impor maupun lokal.


Laura kini langsung melepaskan sabuk pengaman dan menoleh pada Mario. "Kamu di mobil saja karena aku tidak lama. Oh ya, kamu mau buah apa? Sekalian aku belikan."

__ADS_1


Karena pertama kali ditanya dan berpikir bahwa Laura bisa mengetahui buah favoritnya, kini ia langsung menyebutkan. "Apel merah karena aku sangat menyukainya agar kulitku makin bersih dan tidak kalah bersaing denganmu."


Laura seketika terkekeh mendengarnya dan kini mengangukkan kepala begitu keluar. Kelebihannya adalah mempunyai kulit putih karena gen ayah dan ibu memang bersih seperti China.


Jadi, hanya dengan mewarnai rambut saja sudah terlihat seperti bule sesungguhnya. Kemudian ia mulai memilih anggur dan apel yang merupakan pesanan dari Mario.


Sementara itu di dalam mobil, Mario tidak sedetik pun mengalihkan perhatian dari sosok wanita yang tengah berbicara dengan penjual buah. "Mau berubah nama sekalipun, sebenarnya watak tetaplah akan melekat seumur hidup."


"Kamu memang menjadi Anastasya di depan semua orang, khususnya para musuhmu, tapi saat sendirian, pasti akan kembali pada Laura yang lemah dan suka menyendiri dalam kegelapan." Mario yang saat ini menunggu Laura, ponselnya berdering dan langsung memasang earphone.


Karena saat ini yang menghubungi adalah pengawal. "Halo."


"Halo, Tuan Mario. Ada kabar penting yang harus segera saya sampaikan," ucap pria yang saat ini tengah mengawasi seorang wanita yang baru saja dikerubungi oleh banyak orang.


"Katakan saja. Memangnya ada kabar apa?" tanya Mario yang makin penasaran karena pengawalnya tidak langsung menjelaskan.


Sementara itu, sang pengawal yang beberapa saat lalu sibuk mengambil gambar agar mempunyai sebuah bukti, langsung mengirimkan foto-foto tersebut.


"Jadi, wanita itu tadi pergi ke sebuah rumah dan kembali dengan seorang balita laki-laki. Kemudian pergi lagi menuju ke sebuah supermarket untuk berbelanja. Namun, saat mendorong troli yang di dalamnya ada anak kecil itu, dia tiba-tiba pingsan. Jadi, saya langsung bergerak untuk mendekat dan banyak orang yang berusaha menolong."


Mario yang baru berniat untuk berkomentar, kini melihat Laura masuk ke dalam mobil sambil membawa kantong plastik besar.


Namun, ia tetap fokus pada pengawal yang menunggunya. "Lalu, bagaimana keadaan wanita itu dan bagaimana nasib anak laki-lakinya?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2