
Sudah satu minggu lebih Laura dirawat di rumah sakit dan hari ini Christian baru saja mendapatkan sebuah kabar dari Ana yang mempertanyakan sesuatu hal dan mengirimkan pesan padanya.
Ia yang baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi, berencana untuk menyuapi Laura begitu melihat sarapan baru saja diantarkan oleh perawat.
Karena tidak ingin dicurigai oleh Laura ketika membalas pesan Ana, kini beralasan membuang sampah di luar.
"Sebentar, Sayang." Menunjukkan plastik berisi sampah plastik makanan yang semalam belum sempat dibuang.
"Iya," sahut Laura yang baru saja bangun. Ia semalam tidur dengan nyenyak dan sudah merasa jika keadaannya jauh lebih baik, sehingga bisa pulas dan kesiangan.
Hingga ia hanya melihat sedot belakang pria dengan bau lebar yang memakai kaos polos berwarna putih dan bawahan celana hitam.
Ia mengingat tentang pembicaraan semalam hingga larut malam yang membahas mengenai masalah rumah. Christian bertanya padanya apakah ingin menambahkan sentuhan dari desain interior pada area dapur, merasa betah ketika memasak.
Karena ia bahkan tidak tahu apakah bisa memasak atau tidak, sehingga membebaskan Christian mengenai masalah desain dapur. Apalagi semakin lama mengenal sang suami, ia menyadari jika pria yang memiliki paras rupawan tersebut mempunyai selera yang tinggi dalam hal apapun.
Jadi, ia selalu merasa rendah diri dan sekaligus tidak percaya diri. Ia takut jika seleranya akan merusak apa yang sudah diciptakan oleh sang suami.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar pulang dan menempati rumah yang akan menjadi tempat kami memadu kasih. Kira-kira kapan aku boleh pulang? Rasanya sudah bosan berada di rumah sakit. Nanti lebih baik aku bertanya pada suamiku agar mencari tahu."
Saat Laura menebak-nebak apakah bisa pulang secepatnya agar bisa melihat tempat tinggal yang selama ini hanya bisa diketahui dari gambar, berbeda dengan yang saat ini dilakukan oleh Christian di luar ruangan.
Ia sekali lagi membaca pesan singkat Ana yang terkesan seperti curiga pada ayahnya yang hendak melakukan liburan di luar negeri. Apalagi kepergian saya mengajak ibunya juga, jadi wajar saat sang istri bertanya-tanya.
Sayang, apa kamu tahu papa dan mama hari ini berangkat ke Swiss? Tumben sekali mereka pergi berlibur di saat perusahaan baru saja mengalami masalah.
Kini, ia mengetik pesan untuk membalas Ana agar tidak berpikir macam-macam pada orang tuanya.
Papa dan mama ingin menghabiskan masa tua dengan berkeliling luar negeri. Mereka sudah menyiapkan semuanya dan sama sekali tidak memakai uang perusahaan kita. Jadi, tidak perlu khawatir dan biarkan mereka menghabiskan masa tua dengan bahagia.
Selama seminggu belakangan ini, ia tidak menelpon Ana dengan alasan sibuk persiapan bisnisnya. Padahal ia tidak mungkin akan menelpon ketika berada di rumah sakit.
"Aku baru bisa menghubungi Ana setiap hari setelah keluar dari rumah sakit. Karena sudah menyewa sebuah tempat yang akan kugunakan untuk bekerja. Aku pun akan pulang satu bulan sekali dan beralasan pada Laura tengah melakukan perjalanan bisnis."
Christian sudah memikirkan itu jauh-jauh hari dan berencana untuk memakai asisten rumah tangga untuk menemani Laura agar tidak merasa sendirian ketika ia pulang ke Jakarta. Paling tidak ia akan berada di Jakarta selama satu minggu dan di Bandung 3 minggu.
__ADS_1
"Semoga semuanya berjalan lancar tanpa ada sedikitpun masalah," lirih Christian yang saat ini kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana dan berjalan menuju ke arah ruangan perawatan.
Begitu melihat Laura yang ternyata sudah duduk di atas ranjang, kini menghampiri. "Mau makan dulu atau diseka dulu, Sayang?"
"Aku mau pulang karena sudah bosan berada di rumah sakit. Lagipula aku sudah sehat, jadi tanyakan pada dokter kapan diperbolehkan pulang," sahut Laura yang saat ini merasa risih dengan rambutnya yang tergerai di bawah bahu.
Ia tadi berniat untuk mengambil sisir agar rambutnya lebih rapi karena berniat untuk mengikat ke atas, tapi tangan yang tidak bisa mengambilnya karena diinfus.
"Sepertinya istriku yang cantik sudah tidak sabar ingin kembali ke rumah. Aku pun juga merasa seperti itu, Sayang. Baiklah, nanti saat dokter datang, aku akan bertanya." Aku suami kamu dulu saja," sahut kasihan yang saat ini mengambil kotak makanan berada di atas laci.
Refleks Laura menggelengkan kepala karena merasa tidak berselera untuk makan. "Tolong bantu aku dulu untuk merapikan rambutku yang seperti Kunti ini. Aku rasanya ingin bisa segera bebas berjalan ke sana kemari dan juga pergi mandi."
Saat baru saja menutup mulut, Laura seketika memerah wajahnya saat digoda oleh pria yang saat ini mengambil sisir dan membantunya mengikat rambut.
"Saat kita pulang, bersiaplah untuk praktek membuat anak setiap hari." Aku tidak ingin melakukannya saat kamu belum sembuh, Sayang. Jadi, nanti akan kupastikan untuk bertanya pada dokter mengenai semua hal yang berhubungan dengan kesehatanmu."
"Desar mesum!" sarkas Laura dengan bibir mengerucut, tapi sekilas tersenyum karena jujur saja lama-kelamaan ia merasa sangat nyaman dan mencintai pria yang selalu berbuat baik dan dengan sabar merawatnya.
__ADS_1
'Suamiku benar-benar sangat sabar dan tidak pernah mengeluh saat merawatku di rumah sakit. Aku benar-benar sangat beruntung memiliki seorang suami sebaik ini. I love you, suamiku.'
To be continued...