
"Denyut jantung pasien terhenti saat operasi belum selesai. Pasien mengembuskan napas terakhir pada pukul 21.15 WIB. Kami tim Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencoba mengembalikan denyut jantungnya dengan melakukan semua yang terbaik." Sang dokter kini melihat wajah dari 3 orang di hadapannya sangat syok.
Namun, ia tetap harus melanjutkan penjelasan sesuai dengan apa yang terjadi di ruangan operasi. Bahwa hari ini gagal melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter ahli bedah terbaik di rumah sakit karena tidak bisa menyelamatkan pasien.
"Semuanya tidak berhasil membuat denyut jantungnya kembali dan pasien meninggal sebelum operasi selesai," ucap sang dokter yang saat ini mengucapkan turut berduka cita atas kematian dari pasien yang merupakan istri dari pria yang terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Christian saat ini sangat syok mendengar penjelasan dari sang dokter, seketika membuat tubuhnya lemas dan beberapa langkah ke belakang. Nasib baik tubuhnya ditahan oleh tangan kuat Vicky, sehingga tidak sampai terhempas ke rantai karena kekuatannya seperti menghilang seketika.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" Christian yang saat ini tertawa karena benar-benar tidak percaya dengan penjelasan sang dokter.
Bahkan ia beberapa saat lalu masih bisa berbincang dengan sang istri dan mengingat jika wanita yang sangat dicintainya tersebut membahas tentang kematian dan dijawab dengan mengiyakannya dan tentu saja saat ini membuatnya sangat menyesal.
Bahkan degup jantungnya tidak beraturan seperti mau meledak saat ini juga. Rasa sesal luar biasa dirasakan olehnya karena tadi sama sekali tidak menghibur sang istri yang Bahkan merasa sangat gugup sekaligus dipenuhi kekhawatiran saat hendak dioperasi.
"Istriku masih hidup dan belum meninggal, kan Dokter? Anda saat ini sedang bercanda, kan?" Suara Christian bahkan saat ini benar-benar sangat serak dan bola matanya bahkan sudah meloloskan bulir air mata yang mewakili kesedihan luar biasa dirasakannya.
Ia berharap jika sang dokter membenarkan harapannya, tapi begitu melihat pria tersebut sama sekali tidak membuka suara dan seolah apa yang baru saja dijelaskan benar-benar terjadi, membuatnya menelan saliva dengan kasar dan mendadak lidahnya kelu untuk berbicara.
"Tidak! Ana masih hidup. Sayang, kamu masih hidup dan bernapas sampai saat ini, kan?" lirih Christian dengan suara bergetar dan serak karena menahan rasa sesak di dada begitu mengetahui tentang nasib sang istri yang mengembuskan napas terakhir di ruangan operasi.
Ia saat ini benar-benar kehilangan tenaga dan sudah berpegangan pada Vicky agar tidak jatuh terhempas lantai. Bahkan ia saat ini bisa merasakan sentuhan dari sang ibu yang berusaha untuk memberikan penghiburan padanya agar tidak terpuruk menghadapi kenyataan.
"Sayang, sabarlah. Kamu harus kuat menghadapi ini semua. Tuhan lebih sayang pada istrimu, sehingga mengangkat penyakitnya dengan cara seperti ini. Sekarang Ana tidak tersiksa lagi dengan rasa sakit." Renita Padmasari takkan berbicara dengan suara serak dan bola mata berkaca-kaca seperti putranya.
Ia bahkan dari awal sangat syok begitu mendengarkan penjelasan dari sang dokter dan sekuat tenaga menahan bulir kesedihan yang memenuhi bola matanya agak tidak jatuh membasahi pipinya karena ingin terlihat kuat.
Berpikir jika putranya akan semakin hancur ketika melihatnya menangis tersedu-sedu menangisi menantunya yang sudah meninggalkan dunia ini. Bahkan ia dipenuhi oleh rasa bersalah karena belum sempat meminta maaf atas semua kesalahannya pada menantunya tersebut.
'Ana, maafkan Mama yang selama ini selalu berbuat jahat padamu. Kenapa Tuhan memanggilmu secepat ini, sayang. Ya Allah, aku benar-benar berdosa pada menantuku karena hanya memikirkan penerus keturunan keluarga Raphael.'
'Jika tahu akan berakhir seperti ini, aku pasti akan meminta maaf dengan berlutut di kaki Ana karena selalu berbuat jahat padanya hanya gara-gara tidak bisa memberikan keturunan untuk putraku,' gumam Renita Padmasari yang saat ini semakin terluka melihat putranya hancur dan tidak bisa menerima kenyataan tentang apa yang menimpa sang istri.
"Tidak, Ma. Ana masih hidup dan belum meninggal. Aku akan memastikannya sendiri. Istriku pasti hanya sedang tertidur dan aku akan membangunkannya." Christian saat ini berniat untuk masuk ke dalam ruangan operasi karena ingin melihat wanita yang sangat dicintainya.
Namun, tangannya ditahan oleh sang ibu yang malah menangis tersedu-sedu dan membuat perasaannya bergejolak.
"Christian sadarlah, Sayang. Kamu harus bersabar dan bisa menerima kenyataan. Ikhlaskan Ana karena dia sudah tenang di atas sana dan juga tidak merasakan sakit lagi." Renita Padmasari saat ini masih berusaha untuk menyadarkan putranya.
Ia bahkan memberikan kode pada Vicky agar menahan tangan putranya yang hendak menerobos masuk ke ruangan operasi.
__ADS_1
Vicky benar-benar merasa sangat kehilangan atas kematian wanita yang selama ini sangat dihormati dan menjadi panutannya. Sampai ia merasakan sesak di dada ketika mengingat semua hal yang berhubungan dengan istri dari bosnya tersebut.
Hingga ia yang masih belum bisa menormalkan perasaannya saat dipenuhi oleh kesedihan, mengerti dengan kode dari wanita paruh baya di sebelah kanannya tersebut, sehingga langsung bergerak untuk menghentikan bosnya yang masih belum bisa menerima kenyataan.
"Tuan Christian, benar apa yang nyonya katakan. Anda harus kuat dan bisa menerima kenyataan bahwa Nona Ana saat ini sudah tenang karena sudah tidak merasakan kesakitan lagi. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk nona Ana." Ia tidak melepaskan kuasa agar bosnya tidak menghambur masuk karena tidak sembarangan orang bisa ke dalam ruangan operasi.
Hingga tangannya terhempas begitu bosnya tersebut marah dan menatapnya tajam serta melampiaskan kemurkaannya dengan meninju wajahnya sampai sudut bibir sebelah kanan terluka dan mengeluarkan darah.
"Lepaskan aku, berengsek! Ana tidak mati karena dia hanya sedang tertidur dan hanya aku yang bisa membangunkannya!" teriak Christian yang saat ini menatap tajam asisten pribadinya yang dianggap sudah gila dan kelewat batas karena berani menghentikannya.
Namun, ia seketika terdiam begitu mendapatkan sebuah tamparan keras yang mendarat di pipinya.
"Sadarlah, Christian!" teriak Renita Padmasari yang akhirnya mengambil langkah dengan kasar untuk menyadarkan putranya yang tidak bisa menerima kenyataan dan merasa syok atas kematian sang istri.
Awalnya ia membulatkan mata begitu melihat putranya meninju Vicky, tapi karena merasa bahwa putranya harus disadarkan, sehingga refleks memberikan sebuah tamparan keras hingga membuat tangannya terasa sangat panas.
Ia yakin jika asisten pribadi putranya tersebut tidak akan membalas dan hanya diam, sehingga membuatnya bertindak agar putranya tidak terus terpuruk dengan kenyataan pahit yang dialami oleh menantunya.
"Kau tidak boleh seperti ini, Christian karena harus mengurus kematian istrimu. Kau yang menjadi imamnya dan harus mengurusnya dengan baik!" ucapnya dengan menatap tajam putranya agar sadar dan tidak terus-menerus terpuruk dalam kesedihan.
Vicky saat ini mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah dan juga menatap ke arah bosnya yang terdiam membisu di tempat. Ia sebenarnya ingin juga menghibur perasaan bosnya yang tidak baik-baik saja saat ini, tapi ia tahu bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk melakukannya karena berpikir sang ibu lah yang bisa mengobati perasaan hancur sang putra kebanggaan.
Christian bahkan sama sekali tidak merasakan sakit pada pipinya yang baru saja ditampar oleh sang ibu karena ia hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Saat ini, rasa sesak luar biasa membuatnya kehilangan kekuatan.
Hingga ia pun saat ini berjongkok di lantai dan masih terdiam memikirkan tentang semua hal yang terjadi pada sang istri. "Mama, kenapa tidak mau menghiburku dengan mengatakan bahwa istriku masih bernapas?"
"Itu hanyalah sebuah kepalsuan, Putraku. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini. Bahwa Ana saat ini sudah meninggal saat dioperasi." Ia pun menyamakan posisi dengan berjongkok di sebelah putranya dan mengusap lengan kekar di balik kaos casual berwarna putih tersebut.
Hingga ia mendengar suara dari sang dokter yang berdiri menjulang di hadapannya dan membuatnya mendongak saat pria itu kembali berbicara.
"Pasien akan dibawa ke ruang jenazah. Jadi Anda bisa mengurus semuanya sebagai syarat sebelum diantar pulang dengan ambulance. Saya harus kembali ke dalam," ucap sang dokter yang saat ini berbalik badan dan berjalan meninggalkan tiga orang yang hancur begitu mendengar apa yang terjadi pada pasien.
Saat melihat dokter yang sudah menghilang di balik lorong rumah sakit, kini Renita Padmasari memberikan kode pada Vicky agar terus memberikan semangat pada putranya.
Ia berniat untuk mengurus semuanya karena tidak tega melihat putranya yang hancur. Namun, sebelum melakukan itu, memilih untuk menghubungi Laura dan mengatakan tentang Ana.
Bahkan sengaja berbicara agak jauh dari putranya yang saat ini malah mengempaskan tubuhnya di atas lantai. Ia tidak ingin putranya mendengar pembicaraannya dengan Laura.
Begitu mendengar suara Laura dari seberang telepon, ia mulai menjelaskan perkataan dari dokter pada menantu kesayangannya tersebut.
__ADS_1
"Christian saat ini benar-benar terpuruk dan merasa bersalah pada Ana. Mama menelponmu hanya ingin mengatakan itu, Sayang. Bukan bermaksud untuk mengganggu waktu istirahatmu karena kamu juga baru saja dioperasi," ucapnya dengan suara serak menahan air mata yang kini memenuhi bola matanya.
Hingga tidak bisa menahannya lagi begitu mendengar suara menantunya dari seberang telepon.
"Ana meninggal, Ma." Laura yang merasa sangat terkejut dengan kenyataan pahit yang baru saja didengarnya, seketika mengucapkan kalimat bela sungkawa.
Ia bahkan sama sekali tidak pernah berpikir jika operasi Ana mengakhiri nyawa wanita yang mengidap penyakit kronis tersebut. Tadinya ia berniat untuk mengurus hak asuh agar jatuh ke tangannya dan tidak mau memberikan toleransi pada Ana untuk membesarkan putranya lagi.
Namun, sekarang mendadak menyesal dan merasa bersalah. Ia tadinya berpikir semuanya akan baik-baik saja, bahwa Ana akan sepertinya. Keluar masuk ruangan operasi dan akan kembali sehat.
Ternyata sekarang ia sadar jika kematian adalah rahasia Illahi yang tidak siapapun bisa mengetahuinya. Apalagi selama ini ia yang sangat berharap segera meninggalkan dunia yang penuh dengan kekejaman padanya agar bisa bertemu dengan orang tua di surga, tapi sampai sekarang masih hidup.
Sementara Ana yang mendapatkan vonis penyakit yang susah disembuhkan, meninggal saat baru pertama kali dioperasi.
"Mama harus kuat agar bisa menghibur Christian yang terpuruk dan dipenuhi oleh rasa bersalah sekaligus penyesalan. Semua yang terjadi pada Ana sudah menjadi takdirnya karena kita sebagai manusia hanyalah mengikuti skenario dari Tuhan." Laura sebenarnya tidak berniat sama sekali untuk menasehati wanita yang Bahkan jauh lebih berpengalaman darinya.
Namun, hanya berniat untuk memberikan sebuah kekuatan pada mertuanya yang pastinya juga merasa sangat bersedih dan dipenuhi oleh rasa penyesalan.
Apalagi ia tahu jika mertuanya tersebut harus menghibur putranya yang hancur begitu mengetahui kenyataan pahit tentang kematian Ana.
"Mama yang sabar, ya. Selalu temani Christian karena pastinya tidak bisa memaafkan diri sendiri setelah semua ini terjadi. Dia saat ini merasa sangat menyesal atas perbuatannya yang sempat menyakiti hati Ana dulu." Laura bahkan saat ini bisa mendengar suara mertuanya yang sudah tidak bisa menahan air mata.
Ia mendengar mertuanya menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya yang selama ini menyakiti hati Ana karena mengungkit masalah tentang keturunan.
"Ana pasti tidak akan pernah memaafkanku, Laura. Aku selama ini sangat jahat padanya dan tadi belum sempat meminta maaf padanya, tapi sekarang sudah tidak ada di dunia ini lagi," ucap Renita Padmasari dengan suara serak, efek menangis tersedu-sedu.
Ia tadinya tidak ingin menangis dan berusaha kuat di depan putranya yang masih belum bisa menerima kenyataan tentang kematian istrinya. Namun, tidak bisa menahannya lagi lebih lama begitu mendengar kalimat bijak dari Laura.
"Aku tadi berpikir untuk meminta maaf padanya setelah Ana sadar, tapi ternyata Tuhan tidak memberikan kesempatan untukku melakukannya karena lebih menyayanginya." Ia bahkan tidak memperdulikan wajahnya yang sembab dan membiarkan bulir air mata memenuhinya.
"Aku sangat tahu bagaimana perasaan Mama sekarang karena kehilangan orang-orang terdekat bukanlah sebuah hal yang mudah. Mama tidak boleh menyalahkan diri sendiri terus menerus karena yang saat ini dibutuhkan oleh Ana bukanlah itu, tapi hanyalah doa untuk mengiringi kepergiannya." Laura berusaha untuk bersikap bijak.
Ia selama ini selalu teringat dengan orang tuanya yang meninggal karena dibunuh oleh pamannya dan menguatkan diri sendiri tanpa bantuan orang lain dengan cara selalu mendoakan. Jadi, berharap mertuanya tidak sibuk menyalahkan diri sendiri karena itu sama sekali tidak ada gunanya saat ini.
"Maafkan aku, Ma karena malah sok bijak untuk menasehati," lirih Laura yang tadi langsung mengirimkan doa untuk Ana yang telah meninggal begitu mendengar kabar dari mertuanya tersebut.
Ia bahkan juga merasakan hal yang sama seperti mertuanya karena sempat berpikir untuk tidak memperdulikan perasaan wanita itu ketika berniat untuk mengurus hak asuh di pengadilan.
'Maafkan aku, Ana. Semoga kamu tenang di atas sana. Meskipun kamu menjadi penyebab utama penderitaanku ketika membesarkan Valerio, aku akan tetap mendoakanmu dengan tulus sebagai perikemanusiaan sesama insan ciptaan Tuhan,' gumam Laura yang saat ini merapal doa untuk wanita yang sudah tenang di alam yang berbeda dengannya.
__ADS_1
To be continued...