365 Days With You

365 Days With You
Sama-sama ditinggalkan


__ADS_3

Siang hari, Christian benar-benar mengajak Laura pergi ke supermarket terdekat untuk menemani sang istri berbelanja aneka camilan serta beberapa kebutuhan pokok. Kini, ia setengah mendorong troli dan membebaskan wanita yang sibuk menatap ke arah barisan makanan ringan.


"Sebenarnya jajanan ringan seperti itu tidak sehat, Sayang. Tapi sekali-sekali tidak masalah karena sesuatu yang berlebihan tidak baik. Jadi, kamu tidak boleh makan makanan ringan setiap hari dan juga harus menghindari minuman kemasan."


"Itu sangat berbahaya untuk ginjal serta rawan terkena penyakit kronis seperti kencing manis, ginjal dan jantung. Jadi, harus menjaga kesehatan dimulai dari diri sendiri, oke?" Christian memang membebaskan Laura untuk menikmati aneka snack yang disukai sesekali.


Namun, tetap ia akan mengutamakan buah-buahan yang jauh lebih sehat dibandingkan makanan ringan yang hanya besar kemasannya saja saja daripada isinya.


"Setiap hari lebih baik makan buah, Sayang karena itu tidak ada efek samping di tubuh dan jauh lebih sehat. Nanti setelah ini, kita ke stand buah." Christian baru pertama kali datang ke supermarket itu dan belum tahu di mana stand buah berada.


Jadi, masih mengedarkan pandangan untuk mencari beberapa tempat. Bahkan tadi berencana untuk membeli aneka bumbu serta sayuran hijau untuk memasak. Apalagi ia ingin memasak menu makanan yang sehat untuk sang istri sebelum pergi ke Jakarta untuk menemui Ana.


Apalagi ia sudah cukup lama berpisah dengan Ana dan tidak ingin istri pertamanya tersebut merasa curiga padanya. Itulah sebabnya ia berbicara dengan Laura mengenai kepergian ke luar negeri yang biasanya tiba-tiba.


Jadi, sewaktu-waktu bisa pergi saat kondisi kesehatan Laura semakin baik. Namun, selama beberapa hari ini, ia ingin menghabiskan waktu berbulan madu di rumah tanpa ada yang mengganggu.


Laura saat ini tengah mengambil beberapa Snack yang dianggapnya enak, tidak menyangka jika sang suami sangat cerewet dan membicarakan terus masalah kesehatan.


"Iya, aku juga tidak akan makan setiap hari karena ini hanyalah stok saat sedang ingin saja. Lagipula kamu yang tadi membuatku ingin menikmatinya, ada embel-embel larangan karena berdampak buruk pada kesehatan." Laura mengambil dan juga stik jagung.


Kemudian menaruh ke dalam troli dan beberapa makanan ringan lain juga dimasukkan. Satu hal yang tidak akan pernah dilupakan adalah tangannya kini mengambil coklat batangan dengan kemasan berwarna coklat.


"Coklat untuk menghasilkan kebahagiaan karena rasanya semanis hidupku," canda Laura yang saat ini tersenyum simpul ketika menganggap perkataannya yang sangat konyol.


Hingga ia pun kini sudah banyak membeli aneka makanan ringan serta coklat sebagai stok 1 bulan ke depan. "Banyak sekali, bukan? Aku benar-benar menguras dompetmu hari ini. Lalu, kita beli apa lagi?"


"Apa semua ini sudah cukup? Hanya ini tidak akan menghabiskan uangku, Sayang. Jadi, tenang saja karena suamimu ini Sultan. Sekarang kita membeli beberapa bumbu dapur serta sayuran karena stok daging serta ayam dan seafood sudah ada."


Christian memang sudah menyuruh orang untuk melengkapi stok makanan di kulkas, untuk bumbu dirasa belum lengkap dan juga ada beberapa sayuran yang diinginkannya dan belum ada di sana.


Laura saat ini berjalan mengekor di depan pria dengan bahu lebar yang mendorong troli tersebut. Bahkan ia dari tadi tidak berhenti mengulas senyuman karena merasa sangat bahagia hari ini ketika bisa berbelanja bersama dengan sang suami yang sangat mencintainya.


'Aku mungkin adalah salah satu wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki seorang suami yang sangat baik, pengertian dan mencintaiku melebihi apapun,' gumam Laura sambil tersenyum seperti orang gila ketika kebahagiaan makin dirasakan saat melihat Christian pintar memilih bumbu-bumbu dapur.


Bahkan ia sendiri tidak paham dan saat ini hanya melihat pergerakan dari pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut fokus memilih bumbu-bumbu dapur.


"Sayang, kamu membeli apa saja? Aku bahkan tidak paham ini apa. Pasti aku dulu tidak pernah membeli bumbu-bumbu dapur seperti ini." Laura seketika menepuk jidat karena melewatkan beberapa tulisan dan malah bertanya, sehingga mempermalukan diri sendiri.


Hingga ia pun saat ini sudah membaca satu persatu aneka bumbu yang dipilih oleh sang suami.


"Aku suka memasak dengan menggunakan rempah-rempah alami, Sayang. Ini adalah kunyit, jahe, lengkuas, daun jeruk, serai, daun salam, bawang Bombay, kemiri, merica, ketumbar." Bahkan Christian sudah mengambil semua bumbu-bumbu yang disebutkan karena selalu memakai semuanya ketika memasak ayam maupun daging.


Dulu ia selalu menemani sang istri memasak ketika hari libur dan membuatnya hafal bumbu-bumbu apa saja. Apalagi sang istri sangatlah pandai memasak dan juga rasanya sangat lezat, sehingga selalu membuatnya ketagihan masakan Ana Maria.

__ADS_1


Namun, itu hanya dilakukan saat hari Sabtu Minggu saja karena libur bekerja. Sementara hari aktif bekerja, selalu pelayan yang menyiapkan semuanya karena memang tidak sempat memasak saat sudah sibuk dan lelah dengan pekerjaan kantor.


Christian seketika mencubit hidung Laura yang terlihat sangat heran ketika ia hafal menjelaskan mengenai bumbu-bumbu yang dibelinya tersebut.


"Tidak perlu merasa heran seperti itu, Sayang. Aku tahu semua ini karena dulu sering menemani Mama belanja. Apalagi aku sebenarnya sangat suka memasak karena ketika berada di luar negeri cukup lama, terkadang ingin memasak sendiri karena jauh lebih lezat."


Setelah kembali mengarang kebohongan agar Laura tidak makin curiga padanya, kini ia bisa melihat hidung memerah karena perbuatannya.


"Sakit, tahu! Tidak perlu menarik hidung segala!" sarkas Laura dengan wajah masam sambil mengusap hidungnya yang nyeri karena ditarik oleh tangan dengan buku-buku kuat tersebut.


"Aaarggh ... Sayang, Maafkan aku karena tidak bisa menahan diri saat gemas padamu." Kemudian Christian mengusap lembut hidung yang kini berubah memerah dan membuatnya malah tertawa.


"Hidungmu sekarang sangat lucu dan mirip dengan Pinokio. Seandainya bisa ditarik ke depan seperti Pinokio, lucu pasti sangat lucu." Christian saat ini menahan untuk tidak makin tertawa begitu melihat wajah masam Laura.


Kini, ia mengalihkan kekesalan sang istri dan menunjuk ke arah sesuatu yang ingin dibelinya dari tadi. "Ayo, Sayang. Aku ingin menunjukkan sesuatu."


Kemudian Christian berjalan menuju ke arah area seafood dan berniat untuk membeli cumi-cumi besar. Saat ia berada di New York, memasak cumi-cumi besar karena menurutnya jauh lebih nikmat.


Apalagi jika memasak sendiri, tidak akan hemat bumbu dan rasanya pasti jauh lebih lezat. "Apa kamu suka cumi, Sayang?" Menunjukkan yang baru saja diambilnya dari frezer.


Sementara itu, berbeda dengan respon dari Laura yang seketika bergidik ngeri melihat hewan laut yang mengingatkannya pada monster raksasa.


Refleks ia menggelengkan kepala dan bergidik ngeri. "Tidak! Aku suka itu karena sangat mengerikan bentuknya. Apalagi jika harus dimakan, aku akan muntah-muntah sebelum memasukkannya ke dalam mulut."


"Baiklah kalau kamu tidak suka. Aku tidak akan membelinya. Sekarang kamu pilih saja seafood apa saja yang disukai. Nanti aku akan memasaknya untukmu." Christian yang baru saja menunjukkan ke arah beberapa seafood di stand sama, mendengar suara dering ponsel miliknya.


Ia pun langsung meraih ponsel miliknya dan melihat kontak Ana yang sudah diganti menjadi bu Ana tim humas. Itu dilakukannya agar Laura tidak mengetahui sosok Ana yang merupakan istri pertamanya.


Hingga ia pun kini menoleh ke arah sang istri yang tengah menatap banyaknya siput di hadapan dan beralih padanya begitu ia mengambil ponsel dari saku.


"Telpon dari siapa?" Laura merasa tertarik ingin mengetahui siapa yang menghubungi sang suami.


Sementara itu, Christian yang tidak ingin dicurigai, langsung menunjukkan ponsel miliknya agar dibaca nama dari kontak yang menghubungi. "Ini adalah tim humas di kantor. Ia memang sering menghubungiku untuk membicarakan masalah pekerjaan."


"Jadi, kamu tidak perlu cemburu padaku, Sayang. Kamu pilih saja seafood-nya karena aku akan berbicara dengan staf humas. Sepertinya ada masalah besar, sehingga tidak bisa menyelesaikan sendiri." Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Christian saat ini sudah berjalan meninggalkan Laura dan memilih untuk menuju ke tempat lebih tenang.


Ia bahkan merasa seperti seorang selingkuhan yang ditelepon kekasih gelapnya ketika dihubungi sang istri. Apalagi saat ini perusahaan mengalami masalah dan juga pabrik kebakaran, sehingga tahu bahwa Ana pasti akan membicarakan mengenai masalah itu.


Hingga ia pun berpikiran sesuatu hal yang membuatnya kesal ketika mendengar pembicaraan orang yang berada di dekatnya ketika menelpon Ana


"Jadi, seperti ini rasanya berselingkuh? Aku memang merupakan suami sahnya, tapi masih seperti kekasih gelap karena tidak bisa memperkenalkan atau menunjukkannya pada semua orang.


Christian benar-benar merasa tertampar dengan kalimat dari pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya ketika berbicara dengan beberapa teman laki-laki. Ia akan menunggu sambungan telepon terjawab oleh sang istri sambil mendengarkan pembicaraan di sebelahnya.

__ADS_1


Ia bahkan merasa jika nasib dari pria itu sama dengannya begitu mengetahui cerita dari awal sampai akhir. Hingga ia pun merasa bingung karena Ana tidak mengangkat telepon.


"Apa istriku saat ini tengah marah padaku? Hingga ia tidak mau mengangkat telepon dariku. Padahal barusan saja menelpon. Ayo, angkat, Sayang. Aku tidak bisa berlama-lama di sini dan meninggalkan Laura."


Christian benar-benar merasa bingung menghadapi Ana yang selalu mood berubah buruk dan baik dalam waktu yang bersamaan. Apalagi saat ini ia merasa jika istri pertamanya itu pasti sangat merindukannya.


"Pasti karena efek merindukanku, membuatnya kesal dan ingin mengungkapkan amarah." Masih berusaha untuk menunggu panggilan diangkat dan merasa lega setelah mendengar suara dari seberang telepon.


"Halo," ujar Ana dengan nada ketus karena merasa sangat kesal hari ini ketika ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan akibat pabrik yang terbakar di bagian produksi.


"Sayang. Kamu sedang berada di mana? Maafkan aku karena tidak bisa langsung mengangkat panggilan darimu. Tadi aku sedang berada di ruangan meeting dan sekarang baru saja keluar, meneleponmu karena mempunyai feeling jika saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja."


Christian bisa mengerti jika saat ini sang istri pertama tengah pusing dengan banyak pekerjaan serta rasa rindu padanya yang menyiksa. Ia ingin menenangkan sang istri dengan mengatakan bahwa sekitar satu minggu lagi akan ke Jakarta.


"Iya, aku tahu kamu sibuk. Jadi, tidak akan mengganggumu saat aku tidak membutuhkan bantuan, tapi sekarang benar-benar rasanya kepalaku pusing tujuh keliling dengan banyaknya pekerjaan akibat pabrik yang terbakar beberapa hari lalu." Sebenarnya ada sesuatu yang Ana pendam dan ingin disampaikan pada sang suami.


Namun, karena tidak ingin menambah beban sang suami ya sudah banyak berjuang untuk kesuksesan perusahaan, tidak jadi melakukannya.


'Lebih baik aku mengatakan nanti saat suamiku kembali agar bisa berbicara secara langsung, bukan melalui ponsel seperti ini.'


'Mengenai sikap mama padaku ketika berada di bandara yang sangat sinis padaku, sekaligus untuk mencarikan perempuan yang bisa menyewakan rahimnya agar memberikan keturunan untuk suamiku,' gumam Ana yang hanya bisa mendengar apa yang diucapkan oleh sang suami tanpa berkeluh kesah menunjukkan kelemahannya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji akan menebus waktu yang kamu habiskan di ruangan kantor dengan menyelesaikan banyak masalah yang terjadi. Kita bahkan sekarang seperti berjuang dari bawah dan akan tersenyum saat berhasil dan sukses." Christian sebenarnya tidak tega pada Ana yang harus mengurus perusahaan.


Namun, karena tidak ada pilihan lain, sehingga terpaksa untuk membuat sang istri bekerja lebih keras tanpanya. "Aku berencana pulang ke Jakarta satu minggu lagi, Sayang. Jadi, tunggu aku, ya! Aku akan memanjakanmu selama lima hari di rumah karena hanya bisa mengambil libur selama itu."


Tentu saja awalnya raut wajah Ana berbinar begitu mendengar jika sang suami akan pulang satu minggu lagi, ada kalimat terakhir yang menyatakan bahwa hanya libur beberapa hari saja, seketika merubah wajahnya menjadi muram penuh kekecewaan.


"Kenapa tidak 10 hari berada di Jakarta? Aku benar-benar sangat merindukanmu, Sayang. Lima hari adalah waktu yang sangat singkat dan rasanya pasti kurang karena aku sudah lama tidak bertemu denganmu, Sayang." Ana ingin sekali berteriak dan menunjukkan sikap manjanya agar sang suami mau menambah liburnya genap satu minggu atau 10 hari.


Tapi yang terjadi malah sebaliknya karena saat ini hanya diam saja dan tidak menunjukkan sifat manjanya pada sang suami melalui telepon. Akhirnya ia hanya menatap ke arah ponsel miliknya dengan wajah datar.


"Tidak bisa, Sayang karena saat ini aku baru merintis di sini. Jadi, tidak bisa lama-lama berada di Jakarta. Aku yakin seiring waktu yang berjalan, semuanya akan kembali seperti semula dan bisa bersamamu lebih lama, Sayang."


Christian yang baru saja mendengar suara embusan napas kasar dari sang istri yang seperti mengeluh di seberang telepon, berniat untuk menghibur lagi. Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena saat ini melihat Laura berjalan mendekat sambil mendorong troli.


'Astaga! Kenapa Laura datang ke sini saat aku belum selesai berbicara dengan Ana?' Christian tahu harus buru-buru mematikan sambungan telepon agar tidak didengar oleh Laura, Ana curiga padanya.


Ia benar-benar merasa bingung harus melakukan apa untuk mengakhiri panggilan dengan sang istri pertama.


'Kira-kira apa yang harus kulakukan untuk mematikan sambungan telepon sekarang juga?' gumam Christian yang saat ini tengah menatap ke arah sosok wanita yang semakin mendekat dan tersenyum padanya. Bahkan ia melihat Laura melambaikan tangan padanya. Seolah memberikan sebuah kode jika saat ini sudah selesai berbelanja.


'Mati, aku! Aku yakin jika sampai ketahuan, maka akan kehilangan semuanya. Ana akan meninggalkanku dengan penuh dendam dan kebencian, sedangkan Laura akan melakukan hal yang sama, tapi dengan alasan dikhianati kepercayaan.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2