
Laura saat ini menyadari bahwa perkataan Mario ada benarnya dan jika ia benar-benar mengalami kecelakaan, yang terjadi malah lebih buruk dan tidak bisa bertemu dengan putranya. "Aku ingin bertemu dengan putraku karena ini adalah kesempatan yang tidak mungkin terulang lagi."
"Kenapa tiba-tiba wanita itu pingsan? Meskipun aku merasa senang karena akhirnya mempunyai kesempatan bertemu dengan putraku, tapi penasaran juga kenapa dia tiba-tiba kehilangan kesadaran saat berbelanja." Hal yang sekarang membuat Laura bertanya-tanya, tapi tidak bisa menemukan jawaban.
Apalagi Mario juga mengendikkan bahu karena tidak tahu menahu penyebab tahu menahu pingsan di pusat perbelanjaan.
"Entahlah. Apa wanita itu kelelahan, sehingga sampai pingsan? Nasib baik tadi tidak dalam posisi menggendong putramu. Jadi, tidak sama-sama jatuh terkulai ke lantai." Mario juga sebenarnya merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi hari ini.
Karena hari ini terlalu banyak hal yang membuat Laura menjadi wanita yang berubah-ubah karakter dan menunjukkan sebuah kelemahan yang jika dilihat musuh, pasti akan langsung dimanfaatkan.
"Nasib baik kamu tidak menunjukkan kelemahanmu pada paman dan sepupumu karena jika mereka mengerti, pasti akan menyakiti aku dengan dan kamu pasti menyerahkan segalanya untuk bisa menyelamatkan Valerio." Ia sengaja berbicara seperti itu untuk menyadarkan Laura agar lain kali lebih waspada dan berhati-hati.
"Itu tidak akan terjadi, Mario karena jika benda mereka berani melakukannya, aku akan membunuh dengan tanganku sendiri dan tidak perduli masuk penjara. Yang terpenting adalah putraku baik-baik saja." Laura sama sekali tidak takut dengan apapun setelah banyak menjalani kepahitan hidup.
Ia tahu apa yang sebenarnya dimaksud oleh Mario yang menyuruhnya untuk tidak gegabah ataupun berbuat sesuka hati seperti ini, tapi selalu merasa lemah atas apapun yang berhubungan dengan putranya yang sangat dirindukan.
"Bukan itu maksudku!" Mario benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Laura yang masih belum juga mengerti apa yang dimaksud olehnya.
Namun, saat berniat untuk menjelaskan apa yang ingin disampaikan pada Laura, tidak jadi membuka mata karena sudah dipotong oleh wanita itu.
"Aku sudah tahu apa yang kau maksud, Mario. Jadi, tidak perlu menjelaskan seolah aku seperti anak TK yang tidak tahu apa-apa. Tenanglah, aku tidak akan bersikap bodoh di depan para iblis itu. Lagipula kita akan bertemu di ruangan privat yang tidak banyak orang bisa melihat." Ia sudah berantisipasi dan tidak akan ada yang melihat interaksinya dengan putranya.
__ADS_1
Itu karena ia sudah berpikir untuk melindungi putranya agar tidak terlihat bersamanya. "Aku memang ingin bertemu dengan putraku hari ini, tapi tidak berniat untuk menculiknya dan membawanya kabur dengan cara seperti ini."
"Lagipula aku bukan seorang pengecut yang diam-diam menculik dan kemudian kabur, tapi akan melakukan semuanya secara terang-terangan di depan mereka karena yang berhak menangkap putraku hanyalah aku yang merupakan ibu kandungnya." Laura tetap akan menyuruh pengawal untuk memulangkan putranya nanti.
Ia hanya ingin bisa melihat secara langsung seperti apa berinteraksi dengan putranya dan juga bagaimana rasanya menggendong bayi yang dulu juga dilahirkan dan belum sempat dipeluk serta diberikan ASI olehnya.
"Tenanglah, aku tidak akan bersikap ceroboh yang bisa membahayakan kita dan juga putraku." Laura yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan putranya, menahan diri untuk tidak lagi menyuruh Mario menambah kecepatan.
Hingga ia memilih untuk menghilangkan kebosanan selama perjalanan menuju ke restoran dengan merutuki kebodohannya tadi. 'Seandainya aku jadi tidak marah dan berencana ke pantai, pasti sudah bisa langsung bertemu dengan putraku.'
Mario yang memilih untuk percaya pada Laura dan tidak lagi mengungkapkan nada protes, kini tidak lagi bertanya banyak hal dan membiarkan wanita itu berbuat apapun yang menuntutnya benar.
Hingga ia saat ini melirik ke arah buah-buahan yang ada di dalam kantong plastik besar yang tadi dibeli. "Kamu sudah membeli banyak buah anggur, tapi tidak jadi ke pantai."
Ia yang saat ini tengah asyik mengunyah buah anggur di mulut, kini berpikir sesuatu. "Apakah putraku suka dengan buah anggur sepertiku atau tidak, ya? Jika suka, bukankah gen dariku menurun padanya? Lebih baik aku membawa sedikit untuk diberikan pada putraku."
"Aku juga jadi penasaran," sahut Mario yang saat ini berpikir bahwa mungkin saja putra Laura juga menyukai buah anggur. "Jika Valerio menyukai buah anggur sepertimu, itu menandakan bahwa pepatah 'darah lebih kental daripada air', itu benar."
"Semoga ada beberapa hal mengenai perilaku yang menurun dariku karena aku tidak ingin perihal tentang wanita sialan itu yang ditiru Valerio." Laura saat ini seketika berminat begitu mobil yang dikemudikan oleh Mario sudah berbelok ke area restoran favoritnya.
Hingga ia seketika melepaskan satu pengaman begitu mobil di parkir di tempat yang disediakan. Kemudian keluar dan berjalan dengan cepat menuju ke arah ruangan pribadi yang tadi dikatakan oleh pengawal.
__ADS_1
Sementara Mario hanya berjalan mengikuti belakang Laura yang terlihat sangat tidak sopan untuk bisa segera bertemu dengan darah dagingnya setelah berpisah selama 1 tahun lebih.
'Dia pasti nanti menangis emang hari sekaligus bahagia saat berhasil berhadapan dengan putra yang dilahirkannya.' Mario berniat untuk mengabadikan momen yang sangat penting dan pastinya akan penuh dengan keharuan luar biasa.
Hingga beberapa saat kemudian, melihat Laura berdiri di depan ruangan privat dan mengambil sampah teratur sebelum membuka pintu di hadapannya. Ia seketika menepuk pundak wanita di hadapannya tersebut.
"Tenanglah dan usahakan Jangan membuat putramu takut saat kamu menangis penuh haru karena bahagia." Ia masih mencoba untuk mengingatkan Laura agar tidak terbawa perasaan dan malah membuat seorang anak kecil ketakutan.
Apalagi ibu dan anak itu belum pernah bertemu dan baru kali ini akan berhadapan. "Jadi, jangan mengacaukan pertemuan pertama dengan putramu dengan memberikan kenangan buruk."
Laura menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Mario benar dan membuatnya berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata bahagia, sehingga berakibat menakuti putranya.
Sekarang ia menoleh ke arah Mario. "Ya, aku akan memberikan kenangan indah pada pertemuan kami. Terima kasih karena sudah mengingatkanku untuk tidak bersikap berlebihan di depan putraku."
Mario hanya menganggukkan kepala dan memberikan kode agar Laura segera membuka pintu setelah mengetuknya.
Laura pun mematuhi perintah Mario begitu melangkah masuk ke private room tersebut, melihat anak laki-laki yang saat ini tengah menikmati es krim duduk di pangkuan pengawalnya.
'Putraku,' gumam Laura yang saat ini berjalan menuju ke arah putranya dengan perasaan berkecamuk.
Bahkan ia merasa tangannya seketika bergetar ketika pertama kali melihat darah dagingnya yang susah payah dilahirkan dengan mempertaruhkan nyawa.
__ADS_1
To be continued...