
"Sebelum operasi, Anda harus menandatangani surat pernyataan sebagai pihak keluarganya," ucap sang perawat yang mencoba untuk mengingatkan agar tidak terlupa.
Christian saat ini hanya mengangguk perlahan karena masih fokus pada wajah pucat Laura. "Sayang, kamu pasti akan baik-baik saja setelah dioperasi."
'Ada Valerio yang membutuhkan kasih sayangmu. Apalagi saat ini kondisi Ana juga sedang tidak baik dan harus kamu yang menggantikannya sebagai ibu kandungnya. Kamu harus sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala,' gumam Christian yang saat ini masih tidak mengalihkan perhatiannya pada wajah wanita dengan menutup kedua mata tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian tiba di ruangan operasi dan membuatnya tidak bisa ikut sampai ke dalam begitu pintu tertutup dan para perawat masuk membawa Laura.
"Selamatkan Laura, Tuhan. Jangan sampai putraku tidak bisa melihat ibu kandungnya lagi. Aku yang akan merasa sangat berdosa dan tidak bisa memaafkan diriku karena gagal melindungi Laura dari orang-orang jahat yang berniat untuk menyakitinya." Christian saat ini menuju ke kantor untuk menandatangani surat pernyataan dilakukan proses operasi.
Ia memang sudah menjatuhkan talak pada Laura, tapi berpikir bahwa saat ini tetap ada hubungan sebagai mantan suami sekaligus ayah dari putra yang dilahirkan mantan istrinya tersebut. Apalagi tidak tahu menahu mengenai sanak keluarga dari Laura dan menganggap bahwa Mario hanyalah seorang asisten pribadi.
Meskipun ia pernah merasa cemburu pada Mario dan berpikir jika pria itu adalah calon suami Laura, tetap saja tidak ingin membuatnya berpikir untuk menghubunginya.
Saat ia hendak kembali lagi ke ruangan operasi untuk menunggu di sana, mendengar suara bariton dari asisten pribadinya yang berjalan menuju ke arahnya.
"Tuan Christian!" seru Vicky yang saat ini melihat raut wajah kekhawatiran dari pria yang menjalani cinta segitiga tersebut.
Ia bahkan merasa iba karena melihat bosnya pontang-panting selama beberapa hari ini. "Bagaimana keadaan nona Laura? Lalu, bagaimana ceritanya bisa sampai ditusuk oleh orang jahat?"
__ADS_1
Vicky benar-benar merasa heran karena dari dulu wanita itu selalu mendapatkan kemalangan di Jakarta. Sementara di Bandung aman dan tidak mendengar musibah apapun selain diceraikan di hari meninggalkan oleh bosnya tersebut.
Ia tadi memang tidak langsung menuju ke ruangan kamar anak karena ingin tahu terlebih dahulu kejadian sebenarnya tentang wanita yang sudah berada di dalam ruangan operasi.
Christian yang saat ini hanya menggeleng lemah karena jujur saja ia masih sangat shock melihat keadaan dari Laura yang tadi bersimbah darah. Ia bahkan saat ini menunjukkan tangannya yang sudah dihiasi darah kering Laura.
"Aku tidak tahu kenapa semua kemalangan dialami oleh Laura saat berada di Jakarta. Aku sangat yakin jika ada musuh yang mengincarnya. Dulu aku sempat menyelidiki dengan menyuruh detektif untuk mencari tahu, tapi seolah semuanya abu-abu dan tidak bisa menemukan siapa dalang di balik kejadian yang menimpa Laura."
Ia saat ini menatap ke arah pakaiannya yang sudah bersimbah darah. "Harusnya aku menyuruh membawakan pakaian ganti karena tidak mungkin terus seperti ini. Aku pun tidak bisa menemui Ana dalam keadaan seperti ini. Terserah kamu akan beralasan apa saat Ana bertanya karena aku tidak tahu dan otakku benar-benar tumpul."
Ia pembeli untuk menyerahkan semuanya pada asisten pribadinya karena mengetahui jika pria itu selalu mendapatkan ide-ide cemerlang saat membohongi Ana.
Hingga ia pun kini mulai berpikir tentang sesuatu hal yang membuatnya mencurigai seseorang yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia berani menatap ke arah asisten pribadinya tersebut.
"Siapa, Tuan?" Vicky mengerutkan kening karena tidak tahu siapa yang dimaksud.
"Andika Syaputra yang posisinya berhasil direbut oleh Laura saat meeting perusahaan. Dia pasti tidak terima dan berusaha untuk menyingkirkan Laura agar tidak merebut kursi presiden direktur di Perusahaan Prameswari." Hanya itu yang saat ini terbersit di pikiran Christian.
Bahkan ia pun merasa sangat yakin jika pemikirannya benar karena mengetahui jika pria itu sangatlah arogan dan licik, tapi menyadari hal itu sudah sangat terlambat dan membuatnya menyesal mengenal seseorang Andika Syaputra.
__ADS_1
"Itu bisa saja terjadi, Tuan Christian. Hanya saja, jika tidak ada bukti yang mengarah padanya, tidak bisa menyeret ke pengadilan." Vicky saat ini beralih menatap ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Saya akan mencari tahu tentang itu. Semoga mendapatkan buktinya."
"Kalau begitu, saya ruangan nona Ana sebelum terbangun. Nanti saya akan menyuruh orang untuk mengantarkan pakaian ganti untuk Anda." Vicky membungkuk hormat dan berbalik badan meninggalkan bosnya yang langsung mengangukkan kepala.
Hingga ia pun kini mulai berjalan menuju ke arah lift menuju ke lantai ruangan istri bosnya dirawat.
Saat Christian mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu, ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan begitu membaca pesan dari nomor tidak dikenal, membuatnya mengepalkan tangannya.
Di sana, ia melihat beberapa foto Laura yang tadi berbicara dengannya dan juga saat bersama dengan putranya. Meskipun tidak ada kalimat apapun yang diinginkan oleh pengirim pesan, tapi mengerti jika rahasianya telah diketahui oleh orang lain yang tidak dikenal.
Ia saat ini berpikir jika ada yang berniat untuk memerasnya karena mengirimkan foto-foto saat berinteraksi dengan Laura. "Berengsek! Siapa orang yang mengirimkan foto-foto ini padaku?"
Christian saat ini langsung mengirimkan nomor yang berada di ponselnya pada ahli IT perusahaan agar menyelidiki pemiliknya. Kemudian langsung menghapus semua foto-foto tersebut karena khawatir jika nanti terlupa dan diketahui oleh Ana.
Ia saat ini memilih untuk memencet tombol panggil dan ingin mendengar suara dari pemilik nomor tersebut. Namun, sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dan membuatnya kembali dikuasai oleh kemurkaan.
"Bangsat! Dasar pengecut! Apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang ini? Kenapa mengirimkan gambar tanpa ada kata-kata apapun yang diinginkan dariku?" Christian saat ini masih menatap ke arah nomor asing yang tidak terdaftar di ponselnya.
Hingga ia mendengar suara dering telepon miliknya dan berpikir jika itu adalah orang yang mengirimkan foto. Namun, ia seketika membulatkan mata begitu yang menghubungi adalah nomor sang istri.
__ADS_1
"Ana? Apa yang harus kukatakan saat dia bertanya? Sepertinya Vicky belum tiba di ruangan," lirih Christian yang saat ini merasa bingung harus mengangkat atau membiarkan saja.
To be continued...