
Ana dan Christian ini sudah perbaikan dan tidak bertengkar lagi seperti ketika berada di dalam ruangan kerja beberapa saat lalu. Itu karena bersedia memberikan waktu yang diminta oleh Christian.
Kini, keduanya berada di dalam mobil yang menuju ke tempat langganan mereka saat kuliah. Namun, saat tiba di lokasi, lapak yang dicari kosong dan Christian bersitatap dengan sang istri yang berada di sebelahnya.
"Sepertinya nasib kita kurang beruntung, Sayang karena tukang bakso langganan kita tidak berjualan." Christian hanya melihat penjual siomay serta es buah di sana.
"Bagaimana kalau makan yang ada saja? Atau kamu ingin mencari tempat lain?" Christian ya saat ini masih menepikan kendaraan di tepi jalan, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ana.
Sementara itu, wajah anak yang tadinya berbinar karena membayangkan bisa menikmati makanan favoritnya semasa kuliah, berubah kecewa. Ia merasa seperti seorang ibu hamil yang mengidam karena sangat ingin menikmati bakso.
Jadi, sama sekali tidak tertarik dengan tawaran dari Christian dan membuatnya langsung menggelengkan kepala.
"Aku tidak suka siomay. Lagipula dari tadi aku ingin makan makanan yang berkuah. Kita pergi ke tempat lain saja untuk mencari bakso. Bahkan dari tadi aku sudah membayangkan kuah hangat yang sedap membasahi tenggorokan, pasti akan sangat nikmat." Laura kini mencari bakso paling enak di Jakarta melalui media sosial.
Ia akan sangat lama tidak makan bakso karena selama ini selalu diajak makan di restoran oleh seorang suami. Jadi, tidak tahu di mana bakso paling enak yang ada di Jakarta. Tahunya adalah tempat favorit langganannya, tapi hari ini kurang beruntung karena tidak berjualan.
Saat ia fokus mencari lapak yang menjual bakso, kini Ana mengangkat pandangannya dari ponsel ke arah sang suami yang dianggap sangat mencurigakan.
"Aku pun tiba-tiba ingin makan bakso beranak, Sayang." Christian yang dulu menunggu Laura di rumah sakit, tak pernah menyuruh orang untuk membelikan bakso karena saat itu cuaca hujan deras dan ingin menikmati makanan dengan kuah hangat dan pedas.
Jadi, saat itu dibelikan bakso beranak dengan kuah asli pedas. Jadi, saat makan, sama sekali tidak diberi saus maupun sambal karena memang asli sudah berwarna merah dan pedas.
__ADS_1
Sampai ia ketagihan dan beberapa kali meminta orang untuk membelikannya. Hingga ia sempat bertanya gimana membeli bakso beranak dengan kuah pedas tersebut. Ia diberitahu jika letaknya 1 kilo dari rumah sakit dan berada di depan toko baju.
Christian sangat yakin jika Ana yang selama ini suka pedas akan menyukainya, tapi menyadari kecerobohannya ketika sang istri curiga.
"Bakso beranak? Memangnya kamu pernah makan bakso beranak? Bakso beranak itu isinya apa saja dan di mana membelinya karena aku tidak pernah menikmatinya." Ana sengaja memancing sama suami untuk mengatakan di mana keberadaan dari yang dimaksud.
Ia curiga pada sang suami yang mungkin sudah pernah makan di sana, tapi tidak mengajaknya. Namun, yang memenuhi pikirannya adalah sang suami pergi dengan wanita lain ke sana.
'Aku harus menyelidiki sampai tuntas dengan siapa suamiku makan bakso beranak. Pasti dengan seorang wanita karena tidak mungkin pergi bersama dengan teman pria makan bakso, kan?' gumam Ana saat ini masih menunggu sang suami menjawab apa yang tadi ditanyakan.
Dari nada bicara Ana sudah menjelaskan bahwa yang terjadi saat ini adalah kecemburuan serta kecurigaan bercampur menjadi satu dan jika ia salah menjawab sedikit saja, akan kembali bertengkar dengan sang istri.
"Sayang, ada satu rekan bisnis yang menceritakan tentang makanan kesukaan istrinya, yaitu bakso beranak. Jadi, setelah aku meeting dengannya diajak untuk makan di sana. Ternyata benar, baksonya enak seperti yang dikatakannya." Christian bercerita dengan penuh meyakinkan agar sang istri percaya sepenuhnya.
"Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke sana, tapi keburu pergi ke New York mendadak. Kebetulan hari ini aku mengingatnya, jadi kita pergi ke sana saja. Bagaimana?" tanya Christian yang saat ini dengan perasaan khawatir jika sang istri masih tidak percaya padanya.
'Padahal aku belum pernah makan di tempat dan semoga tidak salah saat berhenti nanti. Jika Ana curiga, pasti nasibku akan habis.' Christian masih mengemudikan kendaraan menuju ke area dekat rumah sakit dan mengikuti petunjuk dari orang yang dulu disuruhnya untuk membelikan bakso beranak yang kuahnya benar-benar sangat pedas tersebut.
Bahkan ia berusaha untuk mengingat-ingat semua yang dikatakan oleh pria itu dengan sangat detail agar tidak salah ketika berhenti di lapak penjual bakso beranak yang katanya ada tulisan besar di bagian banner depan.
"Bagaimana, Sayang? Kamu mau ke sana atau tidak? Kalau tidak, aku akan putar balik." Sengaja ia menyudutkan Ana agar segera menjawab dan tidak terlalu memikirkan kecurigaannya.
__ADS_1
Hingga ia pun melupakan sesuatu hal yang penting dan membuatnya menyadari kebodohannya.
"Aku ingin makan bakso yang tidak pedas tanpa memakai saus maupun sambal karena tenggorokanku sangat pahit dan ingin memakan sesuatu yang hangat saja. Jika pergi ke tempat bakso beranak yang kamu katakan sangat pedas kuahnya, mana mungkin aku bisa menikmatinya?" Ana hanya dalam kepala melihat sang suami yang seperti merupakan poin utama yang tadi disebutkan.
Karena mengingat jika saat itu Laura pernah meminta yang tidak pedas, Christian kali ini menanggapi kalimat ada protes dari sang istri dengan tertawa.
"Tenang saja, Sayang. Ada dua varian kuah yang satu pedas dan yang satu tidak. Jadi, aku yakin kamu pasti akan suka karena rasanya sedap kata temanku yang kuah tidak pedas." Christian jenis orang mendapatkan pertolongan dari Laura karena dulu istri sirinya tersebut meminta kuah yang tidak pedas.
Mendengar itu, seketika Ana merasa lega dan langsung melakukan kepala sebagai tanda persetujuan bahwa ia mau ke sana dan penasaran dengan hasil yang dipuji oleh sang suami.
"Baiklah. Kita pergi ke sana sekarang. Aku pun ingin sekali merasakan bagaimana nikmatnya bakso yang kamu puji enak itu." Ana kemarin sudah tidak sabar ingin menikmatinya karena perutnya sudah sangat lapar.
Ia kini menoleh ke arah sang suami yang fokus mengemudi. "Aku benar-benar sangat lapar, Sayang. Apalagi tadi kamu meminta aku di atas. Makanya tenagaku terkuras semua sekarang." Sengaja ia menggoda sang suami agar kembali mengingat momen karena sedang lihat mereka di ruangan kerja.
Hingga ia pun kini berhasil membuat pria di balik kemudi tersebut menoleh ke arahnya dan tersenyum menyeringai. Namun, Ana saat ini malah mendapatkan kalimat skakmat dari pria yang dianggap sangat mesum tersebut.
"Berlagak beralasan aku yang menyuruh, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kamu selalu suka di atas daripada di bawah, kan? Dasar betina yang pandai bersilat lidah." Christian kini hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri yang berusaha untuk tidak mengakui kenakalannya.
Bahkan ia sangat hafal jika istrinya tersebut jauh lebih liar saat berada di dalam ruangan kamar dan bisa melakukan apapun pada tubuhnya tanpa disuruh dan tentu saja membuatnya selalu tergila-gila pada seorang Ana Maria.
To be continued...
__ADS_1