
Laura dan Mario kini baru saja tiba di apartemen. Saat ini terlihat bocah laki-laki yang masih terus di gendingan Laura itu sangat pulas. Kemudian Laura membaringkan tubuh malaikat kecilnya itu di atas ranjang miliknya.
Sementara itu, Mario kini tengah berada di dapur untuk mengambil air minum di dalam mesin pendingin. Ia yang baru saja menaruh buah anggur yang cukup banyak di dalam kulkas dan beralih meneguk air minum, kini masih berdiri di sana.
Ia saat ini tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk dari perbuatan pengawal yang membawa Valerio. 'Aku yakin jika kabar ini pasti sudah sampai di telinga Christian. Jika dia sampai lapor ke polisi untuk mencari keberadaan putranya, aku yakin Laura akan ketahuan.'
'Apalagi tadi pengawal masih memakai seragam kerja.' Saat Mario terdiam memikirkan tentang hal yang dikhawatirkannya, seketika menoleh ke arah pintu begitu melihat Laura yang sudah mengganti pakaian kerja dengan dress rumahan panjang yang cukup seksi dan menampilkan lekukan tubuhnya.
"Kau pulang saja sekarang karena aku ingin beristirahat dengan putraku. Lagipula aku sangat lelah hari ini." Laura yang merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik untuk bisa tidur dengan putranya, ingin Mario segera pergi.
Ia tidak mungkin meninggalkan pria itu tidur jika masih di apartemennya. Jadi, memilih untuk menyuruh pulang.
Mario yang dari tadi sibuk mengkhawatirkan keadaan Laura, tapi malah diusir, hanya bisa mengembuskan napas kasar. Ia tahu jika selama ini tidak berarti di hadapan Laura, tapi makin parah begitu hadirnya bocah laki-laki yang merupakan darah dagingnya.
Namun, ia selalu tidak bisa menjauh dari wanita yang sudah menjadi tambatan hatinya tersebut. Jadi, kini mengangguk lemah. "Ya, aku pulang. Bersenang-senanglah dengan putramu."
Kemudian berjalan menuju ke arah pintu utama dan melihat Laura tersenyum simpul padanya untuk mengungkapkan kebahagiaan. Bahkan ia tahu ritual penting yang sebentar lagi dilakukan oleh Laura dan kini didengarnya saat sudah berada di luar apartemen.
"Terima kasih, Mario. Beristirahatlah karena hari ini aku tidak akan menggangumu." Saat Laura baru saja menutup mulut, ia melihat pengawal baru keluar dari lift dan berjalan mendekat.
"Nona, ini susu dan botolnya." Pria berseragam hitam dengan memakai masker senada tersebut mengulurkan kantong plastik di tangannya.
__ADS_1
Laura yang kini langsung mengangukkan kepala dan menerimanya, merasa lega karena ia tidak akan bingung jika putranya meminta susu nanti saat terbangun.
"Terima kasih. Sekarang kau boleh pergi." Ia pun beralih ke arah Mario yang masih berdiri di hadapannya. "Ada apa? Apa ada yang mau kau sampaikan padaku?"
Mario yang sebenarnya ingin meminta saran dari Laura tentang hal yang hendak dilakukan, tidak jadi melakukannya karena kini hanya menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hanya bosan mendengarmu bilang terima kasih terus padaku."
"Tapi aku tidak akan pernah bosan melakukannya." Kemudian tersenyum simpul dan melambaikan tangannya. "Hati-hati di jalan."
Setelah melihat Mario membalas lambaian tangannya dan pergi bersama dengan pengawal, Laura kini masuk ke dalam apartemennya. Ia yang kini membawa susu kaleng itu ke dapur, langsung bergerak untuk merebus botol plastik itu karena masih baru.
Ia selama ini mengetahui semua hal mengenai kehamilan, kelahiran dan bayi semenjak dulu sering dibelikan buku-buku oleh Christian ketika hamil. Tidak pernah menyangka jika ternyata tidak pernah bisa merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang ibu.
Bahkan dulu setiap hari harus menahan rasa nyeri saat tidak bisa memberikan ASI. Setiap malam ia menangis karena tersiksa lahir batin. Harus mengeluarkan ASI, tapi setiap hari dibuang karena jika tidak melakukannya merasa kesakitan luar biasa.
Saat sudah masuk ke dalam kamar, ia sangat berhati-hati ketika naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sebelah putranya yang tertidur miring ke kiri dan membuatnya tersenyum saat memeluknya.
'Sayang, Mama sekarang tidak sedang bermimpi, kan? Mama sekarang ini sedang memelukmu dan kamu tidur di ranjang Mama. Bahkan hal seperti ini belum perbah Mama bayangkan, Putraku. Terima kasih karena sudah bersama Mama.'
Laura saat ini masih terus memeluk erat putranya dan ia tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari wajah mungil yang menggemaskan itu. Rasa bahagia menyelimuti dirinya dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata karena tidak cukup mengungkapkan apa yang dirasakan saat ini.
Ia bahkan beberapa kali terlihat berkaca-kaca karena merasa terharu bisa melihat pemandangan paling indah di sepanjang sejarah hidupnya.
__ADS_1
'Melihat wajah putraku yang damai saat tertidur adalah impianku setiap malam saat selalu dihantui kesedihan begitu kehilangannya di saat melahirkan dulu,' gumam Laura yang kini tidak berkedip menatap wajah mungil itu.
Sementara itu di sisi lain, Mario dan pengawal sudah berada di parkiran. Sebelum berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing, ia menatap ke arah pengawalnya.
"Apa kau tadi juga selalu memakai masker itu di wajahmu ketika berada di Mall dan membawa anak itu?" tanya Mario yang ingin memastikan sesuatu sebelum bertindak.
Sang pengawal dengan tubuh tinggi tegap itu seketika membuka suara. "Iya, Tuan. Saya tidak pernah melepaskan masker kecuali saat berada di toilet untuk cuci muka. Kalau hanya kencing, saya tidak melepaskannya."
Mario kini mengibaskan tangannya dan sudah tahu apa yang harus dilakukan saat ini. "Pulanglah. Aku akan tinggal sebentar untuk menelpon seseorang."
"Baik, Bos." Ia pun melangkah pergi menuju ke arah mobil yang dikendarai tadi dan meninggalkan area apartemen mewah milik bosnya.
Berbeda dengan Mario yang saat ini sudah duduk di dalam mobil dan membuka ponsel miliknya. "Aku pikir tidak akan pernah berbicara lagi dengannya di telpon dengannya, tapi ternyata sekarang harus membuka blokiran."
Kemudian Mario kini menonaktifkan blokiran di nomor Christian agar bisa menelpon. "Semoga dia tidak jual mahal padaku dan mengangkat panggilanku."
Saat ia masih menunggu panggilan diangkat, kini merasa lega begitu mendengar suara bariton dari seberang telpon karena Christian mau mengangkat telpon darinya.
'Aku akan melindungi Laura agar bisa bersama dengan putranya selama beberapa hari, agar bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu karena dirampas oleh bajingan itu.'
'Semoga dia tidak mempersulit Laura dan bisa mengerti bagaimana rasanya tersiksa karena tidak bisa mengungkapkan kasih sayang pada darah dagingnya,' gumam Mario yang kini menjauhkan ponsel dari daun telinga ketika mendengar suara teriakan dari Christian.
__ADS_1
"Halo, Mario, aku yakin jika ini adalah kau. Apa yang kali ini kau inginkan dariku? Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!" sarkas Christian dari seberang telpon.
To be continued...