
Beberapa saat lalu, Laura yang ditinggalkan oleh sang suami, kini sibuk memilih seafood yang kira-kira disukainya. Entah mengapa saat ini ia yang tengah menatap ke arah beberapa seafood, tertarik pada jenis udang raksasa yang diketahui memiliki harga cukup lumayan menguras kantong.
"Kenapa aku tiba-tiba ingin makan lobster? Ini sangat mahal harganya? Bagaimana jika nanti suamiku kesal karena aku banyak maunya? Meskipun dia tadi mengatakan Sultan, tetap saja aku harus bertanya terlebih dahulu apakah boleh mengambil lobster mahal ini."
Laura sebenarnya tengah memikirkan sesuatu hal yang aneh di kepalanya karena tiba-tiba saja ingin makan udang raksasa yang terkena sangat mahal tersebut.
"Apa di masa lalu, aku suka makan lobster? Bukankah orang tuaku sudah meninggal dan tidak punya siapapun di dunia ini? Lalu, bagaimana aku bisa menyukai lobster saat bukan berasal dari keluarga kaya?" Laura masih mencoba untuk mengingat-ingat memori yang sepenuhnya hilang.
Namun, ketika memaksakan diri untuk mengingat sesuatu, mendadak kepalanya terasa pusing. Ia kini memijat pelipis dan berusaha untuk tidak menyiksa otaknya untuk berpikir lebih keras.
"Aku tidak boleh memaksakan diri untuk mengingat masa lalu yang telah kulupakan, semoga suatu saat nanti mengingat semuanya." Laura masih terdiam di dekat seafood sambil memikirkan tentang dirinya.
"Meskipun aku merasa sangat bahagia memiliki seorang suami yang sangat mencintaiku, tetap saja aku ingin tahu kehidupanku di masa lalu seperti apa," ucap Laura yang kini memilih untuk menenangkan diri dengan mengambil napas teratur agar tidak merasa pusing lagi.
Beberapa saat kemudian, rasa pusing perlahan menghilang dari kepalanya. Ia Sebenarnya tadi ingin segera mencari keberadaan sang suami untuk bertanya, khawatir akan pingsan jika membiarkan rasa pusing menyiksa.
Jadi, berusaha untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Begitu merasa lebih baik, kini ia mulai melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah yang tadi ditunjukkan oleh sang suami.
Setelah mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan pria yang memakai kemeja berwarna hitam, senyumnya mengembang dan melambaikan tangan pada sang suami yang ternyata masih menelpon.
"Lama sekali menjawab telponnya. Mereka tidak sedang membicarakan mengenai masalah pribadi, bukan? Lebih baik aku mencari tahu," ujar Laura yang kini mempercepat langkah kakinya karena ingin mendengar pembicaraan dari sang suami.
Sementara itu, Christian yang merasa sangat khawatir jika ketahuan oleh Laura berbicara dengan istri pertama, beralasan pada Ana.
__ADS_1
"Sayang, nanti aku akan berbicara lagi karena saat ini meeting kembali dilakukan karena tadi hanya rehat sebentar. I love you."
"Baiklah, Sayang. Nanti telepon aku setelah kamu mempunyai waktu luang karena beberapa hari ini kita jarang berkomunikasi. Selamat bekerja dan I love you too," sahut Ana dari seberang telpon dan langsung mematikan panggilan karena khawatir jika sang suami akan dimarahi oleh beberapa rekan bisnis.
Sementara itu, Christian yang tidak ingin dicurigai karena melihat tatapan Laura yang serasa ingin tahu ia berbicara dengan pegawai wanita di perusahaan, sehingga membuatnya masih berpura-pura memegang ponsel di dekat daun telinga dan berbicara seperti layaknya atasan memarahi pegawai.
"Aku tahu jika pabrik mengalami kebakaran karena ulah dari salah satu pekerja yang ceroboh, tapi sudah menjadi tugas kita untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak semakin menyebar di awak media. Jadi, kamu tidak boleh mengeluh ataupun sepenuhnya menyerahkan pada pegawai ceroboh itu karena tidak akan menyelesaikan masalah."
Christian terus berbicara seperti orang gila karena sendirian saat berakting agar tidak dicurigai oleh Laura yang sudah berdiri di hadapannya. Ia bahkan tersenyum sekilas sambil kembali memarahi.
Laura yang tadinya merasa sangat penasaran dengan pembicaraan dari sang suami dengan pegawai humas, kini memasang indra pendengaran lebar-lebar untuk mendengarkan.
Ia bahkan melihat ekspresi wajah sang suami yang seperti tengah menahan marah dan baru mengetahui jika pria dengan paras rupawan yang dipujanya tersebut ternyata bisa kesal.
'Aku seperti seorang wanita yang tidak tahu diri saja karena sudah jelas-jelas sangat dicintai oleh pria setampan ini dan memiliki segalanya, tapi masih terus saja merasa curiga. Harusnya aku lebih banyak bersyukur, bukan malah terus curiga seperti ini,' gumam Laura yang saat ini berjanji tidak akan pernah mencurigai lagi sosok yang menurutnya lebih dari kata sempurna.
Ia tidak akan pernah berpikiran buruk lagi jika pria yang sangat dicintainya tersebut berselingkuh dengan wanita lain.
'Aku sebenarnya sangat takut memiliki seorang suami sepertinya karena selalu menjadi incaran para pelakor. Jadi, akhirnya selalu over thinking dan malah menyiksaku. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah curiga pada suamiku dan percaya sepenuhnya padanya.'
Laura saat ini masih berdiri di hadapan sang suami yang terus menasehati pegawainya tanpa berbicara apapun. Hingga ia merasa sangat lega ketika pembicaraan berakhir dan sang suami bertanya padanya.
"Apa sudah selesai belanjanya, Sayang?" tanya Christian yang saat ini memasukkan ponsel miliknya setelah berakting mengakhiri panggilan dengan pegawai yang dimarahi habis-habisan.
__ADS_1
Laura refleks mengangguk perlahan karena ingin mengatakan sesuatu yang tadi ada di pikirannya. "Itu, Sayang. Aku tadi memilih seafood yang disukai, aku malah ingin makan lobster. Bukankah harganya sangat mahal?"
"Jadi, aku ingin bertanya terlebih dahulu padamu karena khawatir kamu akan marah saat aku mengambil sesuatu yang mahal.
Tadi ia sudah membaca harga-harganya dan heran karena sangat mahal. "Tadi harga Lobster pakistan paling murah 270 ribu, Lobster bambu 370, Lobster batik 400, Lobster mutiara frozen 420, Lobster pasir 460 dan Lobster mutiara hidup 1,5 sampai 3 juta lebih."
Bahkan mendengar Laura sangat hafal dengan harga-harga lobster, Christian tertawa gemas sambil mencubit kedua sisi pipi putih sang istri. "Istriku benar-benar sangat luar biasa karena bisa hafal semua harga lobster."
"Kamu bisa memilih yang paling mahal jika menginginkannya dan uangku tidak akan habis hanya untuk membeli lobster yang kamu inginkan, Sayang. "Jadi, jangan terlalu banyak berpikir jika menginginkan sesuatu."
"Ambil saja karena aku bekerja juga untuk membahagiakanmu. Jadi, mulai sekarang beli apapun yang kamu mau dengan menghabiskan uang suamimu. Aku akan memberikan uang belanja sebulan 20 juta, apa itu cukup untuk membeli lobster kesukaanmu?"
Christian bisa melihat jika saat ini Laura merasa sangat terkejut dengan uang belanja yang akan diberikan.
Laura membulatkan mata serta membekap mulut karena merasa sangat terkejut mendengar meminta cukup besar yang baru saja disebutkan oleh sang suami saat hendak memberikan nafkah pertama untuknya.
"Apa, Sayang, 20 juta sebulan? Lama-lama aku bisa menjadi miliarder dong. Itu terlalu banyak, Sayang, bukan lagi cukup. Aku tidak bisa menyimpan uang sebanyak itu. Lebih baik beri aku seperlunya saja." Laura tahu jika Christian memiliki banyak uang, tidak ingin memanfaatkan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
Apalagi ia mencintai sang suami karena kebaikan serta ketulusan pria itu yang merawatnya tanpa pernah lelah dan selalu bersabar saat ia sering curiga.
"Aku mencintaimu bukan karena uang, jangan menyuapku dengan memberikan uang belanja sebanyak itu." Apalagi Laura berpikir bahwa sang suami terlalu baik hati padanya, sehingga ingin pria itu tidak membuatnya merasa tidak nyaman.
"Tidak masalah, Sayang. Karena yang terpenting adalah kamu adalah tanggung jawabku dan berhak menerima nafkah dari suami. Jadi, berapapun yang kuberikan, terima saja. Lagipula aku tidak memberimu uang cash." Kemudian Christian mengambil dompet di balik saku celana belakang.
__ADS_1
To be continued...