365 Days With You

365 Days With You
Aura seorang pengantin


__ADS_3

Laura kini meremas piyama yang dipakai karena memang belum berganti pakaian gaun pengantin. Ia bahkan saat ini sudah terlihat sangat kesal atas pertanyaan yang dianggap bukanlah sebuah hal yang patut dipertanyakan oleh pria yang bahkan bukan merupakan siapa-siapa baginya.


Sejujurnya ia ingin langsung memotong pertanyaan dari pria di seberang telepon tersebut, tapi tidak jadi melakukannya karena ingin mengetahui seberapa jauh yang ingin dipertanyakan padanya.


Laura bahkan saat ini menatap ke arah putranya yang masih fokus pada film kartun dan tidak ingin mendengar suara teriakannya menggema memenuhi ruangan kamar, sehingga saat ini memberikan kode pada dua perawat tersebut. Tentu saja untuk kembali mengawasi putranya agar tidak jatuh dari ranjang king size itu.


Kemudian merendahkan kaki jenjangnya menapaki lantai dingin berwarna putih mengkilat itu dan ingin berbicara di luar ruangan. Begitu pria yang sangat tidak disukai karena ikut campur dengan masalah pribadinya, sehingga ingin menampar dengan kalimat skak mat.


"Apa kamu bertanya seperti itu padaku? Bahkan di antara kita sudah tidak ada hubungan apapun. Lalu, buat apa kau bertanya mengenai perasaanku pada Mario karena ini merupakan masalah privasi yang tidak perlu ku umbar pada siapapun." Laura bahkan yang dulu merasa sakit hati ketika Christian lebih peduli pada istrinya, ia sama sekali tidak bertanya.


Itu karena yang tersisa hanyalah kebencian dan ingin membalas dendam dengan menghancurkan pasangan suami istri yang telah membuat dunianya seketika hancur.


Bahkan saat itu ia merasa dunianya seketika runtuh dan ingin mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menghadapi pengkhianatan pria yang sangat dicintai dan dipercayai saat membawa putranya setelah dilahirkan.

__ADS_1


Ia saat ini bisa mendengar embusan napas kasar seperti tengah menahan beban berat dari Christian. Namun, sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena yang diingat hanyalah rasa sakit ketika berinteraksi dengan mantan suami.


"Laura, aku tahu tidak mempunyai hak karena memang tidak ada hubungan khusus denganmu. Aku hanya ingin kamu hidup berbahagia dengan seorang pria yang sangat kamu cintai, bukan pria yang menjadi tempat pelampiasan dari rasa sakit hatimu akibat perbuatanku," lirih Christian yang sebenarnya merasa sangat malu untuk membuka perihal masa lalu dengan Laura.


Namun, ia tidak ingin sesuatu mengganjal di hatinya dan juga ingin Laura benar-benar hidup bahagia tanpa perasaan tersiksa karena menikah dengan pria yang tidak dicintai.


"Aku memang mengatakan jika kamu bisa menikah lagi dan hidup berbahagia serta mempunyai anak lagi, tapi aku hanya ingin memastikan bahwa pilihanmu tidaklah salah karena kalian saling mencintai." Christian bahkan sama sekali tidak berniat untuk datang ke acara pernikahan mantan istri seperti yang diperintahkan oleh sang ibu agar menghentikannya.


Christian tidak ingin menjadi seorang pria jahat untuk kesekian kali dengan mengacaukan hidup wanita yang telah melahirkan darah dagingnya. Ia hanya ingin memastikan jika Laura benar-benar mencintai Mario agar hidupnya tidak tersiksa karena waktu seumur hidup jauh bersama dengan orang yang salah akan jauh lebih lama terasa.


Bahkan dalam hati ingin tertawa, tapi tidak ingin menunjukkannya. "Aku akan mengatakan jawabanku bahwa sangat mencintai Mario yang juga mencintaiku. Aku sekarang baru sadar bahwa lebih baik dicintai daripada mencintai karena sudah merasakannya."


"Aku bahkan bisa melihat perbedaan antara kau dengan Mario dan baru menyadari jika dulu sangatlah bodoh karena berhasil masuk dalam tipu muslihatmu yang hanya memanfaatkanku untuk memberikan keturunan pada Ana yang tidak bisa hamil." Laura yang tidak ingin berbicara panjang lebar karena membuang-buang energinya, sehingga saat ini langsung menekan tombol merah.

__ADS_1


Panggilan yang belum selesai tersebut kini telah berakhir dan tentu saja ia tahu jika Christian akan menelponnya kembali karena belum selesai berbicara dengannya. Ia pun menonaktifkan ponselnya agar tidak merasa terganggu dengan pria di masa lalu yang meninggalkan banyak luka di hatinya.


"Aku tidak ingin acara sakral hari ini kacau karenanya. Mario sangat berbeda dengan Christian karena selama ini selalu menjadikanku ratu di hatinya. Aku dulu memang labil karena masih sangat muda, tapi kali ini sudah mengerti bagaimana perbedaan seorang pria yang mencintai dengan tulus dan hanya memanfaatkan." Laura bahkan tanpa ragu berjalan masuk ke dalam ruangan kamar karena ingin segera memakai kebaya pengantin yang dibelikan oleh Mario.


'Ini memang bukan memang bukanlah pernikahan yang pertama untukku, tapi ini adalah pertama kalinya aku memakai kebaya pengantin di hari pernikahan karena dulu menikah dengan Christian saat aku belum sadar setelah dioperasi.'


'Jadi, rasanya ini adalah pengalaman pertamaku menikah meskipun aku sudah berstatus sebagai seorang janda anak satu,' gumam Laura yang saat ini tersenyum lebar melihat putranya sebentar lagi akan memiliki seorang ayah yang juga menyayanginya seperti anak kandung sendiri.


Kemudian beralih menatap ke arah dua perias. "Aku sudah siap, Mbak. Seperti apa aku saat memakai kebaya pengantin dengan riasan seperti ini."


"Baik, Nyonya Laura. Tentu saja Anda semakin bertambah cantik karena aura seorang pengantin wanita lebih keluar ketika memakai kebaya berwarna putih dengan riasan dan hiasan yang didominasi oleh bunga melati," ucap wanita yang saat ini memberikan kode pada rekannya agar mengambil kebaya pengantin.


"Semoga saja demikian karena aku bukanlah wanita yang baru pertama kali menikah. Jadi, mungkin auranya tidak seperti seorang perawan yang mengakhiri masa lajang." Laura kini melepaskan piyama yang dipakai dan mulai dibantu oleh perias memakai kebaya pengantin modern menjuntai panjang tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2