365 Days With You

365 Days With You
Sangat mirip


__ADS_3

Laura saat ini sudah berada di dalam taksi yang menuju ke bandara. Ia benar-benar tidak membawa apapun selain dokumen miliknya. Berpikir itu hanya akan membuat siapapun curiga padanya, termasuk mata-mata pamannya.


Ia pikir akan menyuruh Vincent untuk mengirimkan barang-barang miliknya setelah berada di Jakarta. Pria itu yang selama ini menjadi bodyguard di New York karena selalu bersamanya ketika keluar dari apartemen. Mungkin bisa dihitung berapa jam pria itu tidak bersamanya.


Kini, Laura menatap ke sebelah kiri kanan mobil yang melaju menuju ke bandara. Bahkan ia merasa jika negeri yang merupakan surganya film itu adalah rumah kedua untuknya karena sangat lama tinggal di sana.


Laura kini mengingat ketika sang paman mengatakan pesan yang menjadi rantai dalam hidupnya dan sekaligus merenggut masa remajanya.


'Laura, saat orang tuamu meninggal, akan ada banyak musuh yang mengincar perusahaan. Papamu susah payah mendirikan perusahaan dengan tetes darah penghabisan. Jangan sampai kerja kerasnya hancur karena ulah para manusia yang iri dan serakah.'


'Orang tuamu pasti berpikir akan menyerahkan semuanya pada putri satu-satunya dengan harapan bisa meneruskan perjuangan mereka. Jadi, kamu tidak boleh mengecewakan mereka, Laura.'


'Jadi, kamu harus fokus belajar dan Paman yang akan sementara mengurus perusahaan sampai kamu pantas dan seperti surat wasiat papamu. Kamu baru bisa mewarisi semua aset kekayaan keluarga setelah berusia 23 tahun.'


Laura kini menangis tersedu-sedu saat mengingat perkataan pamannya tersebut. Meskipun sebenarnya dulu ingin melanjutkan sekolah dan kuliah di Jakarta sambil mengenang orang tuanya, tapi tidak bisa karena sang paman mengatakan bahwa ia tidak akan bisa berkosentrasi.

__ADS_1


Sang paman mengatakan bahwa ia perlu tempat baru agar benar-benar fokus belajar tanpa memikirkan masalah yang lainnya, sehingga mengirimkannya ke New York dengan Vincent dan pelayan setia keluarganya.


Ia bahkan terkadang merasa sangat heran pada Vincent yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan wanita saat berada di New York. Bahkan sempat berpikir jika pengawal pribadinya tersebut adalah seorang gay.


Apalagi sudah berusia 30 tahun, tapi belum menikah. Ia bisa menduga jika Vincent dan Christian seumuran. Para pria dewasa yang sama-sama berkharisma dan mempunyai tempat penting di hatinya.


'*Jika Christian bukan pengawal pribadiku, mungkin aku akan memacarinya jika tidak bertemu dengan Christian. Selama ini aku sangat mengaguminya karena selalu mengurusku selama bertahun-tahun.'


'Namun, hanya dengan bertemu Christian sekali saja, seketika rasa kagumku telah hilang*,' gumam Laura yang saat ini menatap ke arah bangunan pencakar langit di kanan kiri jalanan yang dilalui.


Saat Laura melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, kini beralih menatap ke arah sang supir. "Tambah kecepatan mobil karena aku ingin segera tiba di bandara," ucap Laura yang kini kembali memanjakan mata untuk melihat tempat yang akan ditinggalkan selamanya.


Ia berjanji pada diri sendiri untuk mengakhiri kesedihan dengan tidak kembali ke New York. Selama di sana, ia lebih sering menangis karena kesepian dan harus kuat dengan terus belajar demi bisa mendapatkan gelar seperti yang diharapkan pamannya.


Sementara itu, sang supir yang mengatakan iya, langsung menambah kecepatan mobil sesuai dengan keinginan penumpang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Laura tiba di bandara. Kemudian Laura turun dari taksi setelah membayar. Kini, ia berdiri di depan terminal pemberangkatan dan melihat banyaknya orang berlalu lalang dengan mendorong koper.


"Selamat tinggal, New York. Terima kasih atas kenangan penuh perjuangan yang selama ini kulakukan," lirih Laura yang kini mulai masuk ke antrian terminal pemberangkatan untuk dilakukan pengecekan semua dokumen.


Sementara itu di sisi lain, sosok pria yang tak lain adalah Christian baru saja tiba di bandara. Ia turun dari taksi dan membiarkan supir mengambil kopernya di bagasi mobil.


"Terima kasih," ucap Christian yang menerima kopernya setelah memberikan uang.


Ia membawa dua koper, satu berisi pakaiannya dan satu lagi berisi oleh-oleh untuk keluarga. Kini, ia langsung masuk ke antrian pemberangkatan.


Namun, ia yang menunggu selama beberapa menit, seperti melihat seseorang yang sangat mirip dengan Laura.


"Laura?" ucap Christian yang kini menatap seorang wanita baru selesai diperiksa dan seperti wanita yang dicarinya dari semalam.


"Apa benar itu Laura? Aah ... sial! Aku tidak bisa mengejarnya karena antrian seperti ular," lirih Christian yang saat ini tengah menatap banyak orang di depannya dan ia masuk barisan belakang sendiri.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2