
Ana Maria berbicara dengan orang di bengkel mengenai beberapa bagian mobilnya yang lecet karena kecelakaan tadi pagi. Ia tidak ingin sampai sang suami melihat mobil kesayangannya ketika kembali dari luar negeri.
Setelah mengatakan semuanya agar tidak ada yang terlewatkan, sehingga ketika suaminya nanti kembali, tidak akan melihat ada cacat pada mobilnya.
Ana pun berpamitan pada pemilik bengkel langganannya dan langsung menuju ke arah mobil asisten pribadi sang suami. Begitu masuk dan duduk di sebelah Vicky, Ana melirik ke arah pria yang dari tadi menunggunya.
"Jalan sekarang!" ucapnya yang saat ini memakai sabuk pengaman menatap ke arah jalanan yang dilalui.
"Baik, Nona Ana." Vicky yang dari tadi menatap ke arah sosok wanita yang beberapa saat lalu berbicara dengan tukang servis, mengirim pesan kepada bosnya agar diam di ruangan karena sebentar lagi akan berangkat.
Bahkan ia sudah mengatakan pada bosnya jika saat ini berada di bengkel untuk memperbaiki mobil dan mengatakan semua hal yang dilihatnya. Bahwa istri dari bosnya tersebut sangat khawatir jika ketahuan.
Jadi, buru-buru membawa ke bengkel agar kecelakaan yang dialami tidak diketahui oleh sang suami. Hingga ia membaca pesan dari bosnya bahwa Ana Maria adalah seorang wanita yang selalu perfect dalam segala hal.
'Semoga tuan Christian akan ketahuan oleh istrinya yang saat ini menuju ke tempat yang sama dengannya,' gumam Vicky yang fokus mengemudi dengan menatap jalanan ibukota yang mulai padat merayap.
Jika semua orang selalu bersemangat saat pulang kerja karena bisa terbebas dari pekerjaan seharian dan membuat otak dan tenaga terkuras, tapi ia selalu malas jika berhadapan dengan kemacetan seperti saat ini.
"Kapan Jakarta tidak macet?" sahut Ana yang saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Nasib baik aku tidak tinggal bersama mertua karena jika sampai pulang terlambat, akan ada banyak drama karena penuh introgasi."
Vicky yang mengetahui bahwa wanita di sebelah kirinya tersebut saat ini sedang tidak baik hubungannya dengan mertua karena masalah keturunan, kini merasa iba berkali-kali.
"Tinggal di tempat mertua memang tidak enak, Nona Ana karena tidak bisa bebas berbuat apapun sesuka hati. Seperti ada mata-mata yang selalu mengintai dan tidak bisa bernapas lega seperti saat tinggal di rumah sendiri," ucapnya sambil menginjak perlahan pedal gas begitu mobil di depannya berjalan.
Ana saat ini menoleh ke arah pria di balik kemudi yang menurutnya seperti sudah pernah mengalami tinggal di tempat mertua. Padahal kenyataannya masih single dan belum memiliki kekasih pujaan hati.
Hingga ia pun mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang dipenuhi mobil-mobil berderet di hadapannya, kini menoleh. "Kamu seperti pernah tinggal di rumah mertua saja. Hingga bisa berbicara sangat pas, seolah merasakan sendiri."
Sebenarnya Vicky tidak cukup akrab dengan bosnya tersebut. Bahkan jarang pergi berdua seperti ini kalau bukan masalah pekerjaan dan ketika bosnya berada di luar negeri.
Namun, hari ini ada hal yang tidak terduga dan membuatnya harus berinteraksi dengan bosnya tersebut. Ia berbicara tanpa menatap ke arah wanita dengan paras cantik itu karena jujur saja dari dulu sangat mengagumi wanita seperti Ana Maria.
Bahkan para pria yang melihat Ana Maria pasti akan terpesona dengan kecantikan wanita itu. Ia yang semakin lama mengenal wanita itu, bahkan mempunyai harapan bisa memiliki seorang istri sepertinya.
Namun, sama sekali tidak menyangka jika ternyata kebahagiaan wanita itu tidak sempurna seperti yang terlihat karena tidak kunjung bisa memberikan keturunan untuk suami.
"Saya sering mendengarkan keluh kesah beberapa teman yang sudah menikah, Nona Ana. Jadi, Saya tidak perlu menikah untuk bisa memahami itu. Bahkan karena khawatir jika itu akan terjadi pada saya, nggak sampai sekarang belum tertarik untuk mencari pasangan hidup."
Sebenarnya itu sangat klise diucapkan oleh para pria yang tidak laku sepertinya. 'Padahal yang sebenarnya terjadi adalah tidak ada wanita yang tertarik padaku sampai saat ini.'
Vicky memang tidak berencana menikah dalam waktu dekat karena fokus pada karir dan berharap jika suatu saat nanti menemukan sosok wanita yang dicintai dan membuatnya ingin mengakhiri masa lajang, ia tidak ingin membuat wanitanya menderita karena kekurangan materi.
Apalagi mengetahui bahwa para wanita zaman sekarang lebih mementingkan uang dengan bersembunyi dibalik kata realistis.
Padahal ada banyak wanita yang materialistis dan mengaku realistis agar tidak terlihat buruk. Karena itulah ia ingin memiliki seorang wanita yang juga bisa hidup mandiri, yaitu memiliki penghasilan sendiri.
__ADS_1
Karena ia tahu bahwa wanita seperti itu mempunyai value yang lebih daripada wanita yang hanya bisa mengandalkan laki-laki.
Bukan karena ia tidak ingin memberikan uang pada seorang istri, tapi yakin bahwa wanita yang sibuk bekerja tidak punya untuk berselingkuh karena sibuk dengan karir.
Wanita seperti Anna Maria yang menjadi contohnya. Wanita hebat yang selalu fokus pada pekerjaan dan ada waktu untuk sekedar menanggapi para pria yang berusaha untuk mendekati.
Apalagi sudah punya seorang suami yang memiliki segalanya, tapi masih bersemangat dan tidak pantang menyerah untuk karirnya. Wanita seperti itulah yang diharapkannya bisa menjadi istrinya kelak.
Apalagi berpikir bahwa tidak akan pernah membebankan pekerjaan rumah pada seorang istri karena bisa membayar asisten rumah tangga. Bahwa semua bisa diselesaikan dengan uang karena tanpa uang orang tidak akan bisa berbuat apapun.
Meskipun uang bukanlah segalanya, tapi faktanya adalah segalanya butuh uang. Hal itulah yang membuatnya menyiapkan semua hal yang berhubungan dengan finansial agar bisa hidup berumah tangga dengan baik tanpa masalah ekonomi.
Apalagi salah satu penyebab tingginya angka perceraian adalah faktor ekonomi yang tidak bisa dihindari oleh kalangan menengah ke bawah. Jadi, ia berkaca dari beberapa poin yang selama ini didengar dari beberapa teman-temannya yang sudah menikah.
"Ternyata Kamu adalah pria yang tahu segalanya tanpa merasakan. Keren! Aku sangat salut padamu," ucap Ana sambil mengangkat ibu jarinya untuk memberikan sebuah applause pada Vicky.
Ia pun memeriksa ponselnya dan berharap sang suami mengirimkan pesan, tapi bacanya berubah masam karena dari tadi menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Ana mengembuskan napas kasar saat ini dan berpikir bahwa ia merasa diabaikan oleh sang suami. "Apa suamiku juga belum menghubungimu?"
Tanpa pikir panjang, Vicky seketika membuka suara untuk mengungkapkan sebuah kebohongan berkali-kali pada wanita di sebelahnya. "Belum, Nona Ana. Mungkin Tuan Christian saat ini benar-benar sibuk luar biasa."
"Sesibuk-sibuknya orang, pasti ada selang waktu untuk menghubungi. Apa yang sebenarnya terjadi pada suamiku? Apa saat ini ia malah sedang berselingkuh dengan wanita lain hingga tidak mengingat mempunyai istri di Jakarta?"
Ana saat ini kembali memasukkan ponselnya secara kasar ke dalam tas. Ia benar-benar sangat marah dan tidak akan berbicara dengan sang suami jika pulang nanti.
Ia benar-benar sangat marah hari ini karena sang suami belum kunjung menghubungi dan membuatnya tidak ingin pulang awal, sehingga datang ke rumah sakit untuk membuang rasa membuncah di hatinya.
Melakukan kebaikan adalah cara yang selalu digunakan anak untuk menyingkirkan kegundahan hatinya. Ia berpikir menolong orang yang membutuhkan bantuannya akan menjadi amalnya dan bisa menolongnya kelak saat berada di akhirat.
Kini, ia ingin melupakan sejenak beban berat yang terasa di pundaknya dengan melakukan kebaikan. Kemudian ia bergerak turun dari mobil, tapi mendengar suara dering ponsel miliknya yang berada di dalam tas.
Ana sebenarnya tidak berniat untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya karena sedang malas berbicara di telepon dengan siapapun saat suasana hatinya sedang tidak baik.
Namun, karena berpikir jika mungkin ada hal urgent, sehingga membuatnya terpaksa memeriksa terlebih dahulu. "Sebentar, aku periksa dulu, mendapatkan telpon dari siapa."
Vicky yang saat ini berdiri tak jauh dari sebelah bosnya, hanya menganggukkan kepala dan menunggu. Ia sangat yakin jika yang menghubungi Ana Maria adalah Christian karena tadi mengetahui bahwa bosnya tersebut mengatakan akan menghubungi pada sore hari.
'Semoga Tuan Christian yang menelpon karena sepertinya nona Ana benar-benar sangat marah,' gumam Vicky yang saat ini melakukan hal sama dengan mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada bosnya bahwa ia dan sang istri sudah tiba di pelataran rumah sakit.
Hingga ia bisa mendengar suara Ana Maria yang berbicara di telpon dan membuatnya mengembuskan napas lega.
Begitu mengetahui bahwa yang menghubungi adalah sang suami, seketika Ana tidak membuang waktu karena langsung menggeser tombol hijau ke atas agar bisa berbicara dengan pria yang membuatnya merasa sangat kesal dan marah.
"Halo, Sayang. Maafkan aku karena baru menghubungimu sekarang. Aku benar-benar dipusingkan oleh banyak pekerjaan di sini, tapi sekaligus mempunyai kabar baik," ucap Christian yang saat ini berbicara dengan perasaan tidak menentu karena khawatir jika sang istri marah.
__ADS_1
Sementara itu, Ana yang sebenarnya tadi ingin langsung mengumpat pria di seberang telpon yang melupakannya 24 jam, kini tidak tega melakukannya begitu mendengar keluhan dari sang suami.
"Aku tidak jadi memarahimu karena kasihan. Kamu sukses membuatku menjadi wanita tidak tegaan pada suami. Memangnya ada kabar baik apa?" Ana saat ini merasa penasaran sekaligus khawatir karena takut dan gelisah tidak bisa terus bersama sang suami.
Ana sebenarnya paling tidak suka menjalani hubungan LDR meskipun itu hanya dalam beberapa hari saja karena rasanya menahan rindu itu sangat berat.
Ia yang terbiasa tidur dengan memeluk erat sang suami, tapi harus memeluk bantal ketika pria yang sangat dicintainya berada di luar negeri karena bisnis.
Hingga sesuatu yang membuatnya merasa gelisah seolah menjawab semuanya begitu mendengar penjelasan dari sang suami di seberang telpon.
"Sayang, aku mendapatkan tawaran sebuah project besar di sini, tapi syaratnya harus aku yang menjalankannya sendiri karena rekan bisnis tidak percaya dengan orang lain dan ingin bekerja sama secara langsung denganku."
Christian yang memulai kebohongannya karena ia harus segera melaksanakan rencananya untuk bisa membawa Laura ke Bandung.
Apalagi saat Laura tidak bisa mengingat apapun karena mengalami amnesia global, sehingga tidak mungkin bisa hidup tenang bersama Ana. Apalagi iya sudah mengirimkan proposalnya ke salah satu pengusaha terkenal di New York.
Bahkan langsung diterima dan akan disiapkan kontrak kerja.sama agar bisa ia tanda tangani. Karena zaman yang semakin canggih, sehingga ia tidak harus berangkat ke New York lagi hanya untuk sebuah tanda tangan kontrak kerja.
Sementara itu, Ana yang tidak tahu harus menanggapi apa, saat ini langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak karena bingung harus berekspresi bagaimana.
Ia bahkan sangat merindukan sang suami dan berharap segera kembali, tapi ternyata mendapatkan sebuah kabar buruk sekaligus bahagia dan membuatnya saat ini tengah bingung harus bagaimana.
'*Kenapa harus dikatakan saat suasana hatiku sedang tidak baik seperti ini? Apa ia sama sekali tidak peka jika aku saat ini ingin sangat merindukannya?'
'Tapi malah diberitahu jika ia diharuskan berada di New York dan tidak tahu kapan pulang*,' gumam Ana yang saat ini mendengar suara bariton dari asistennya dan menyadari jika pria itu masih berdiri di sebelahnya.
"Apa terjadi sesuatu hal yang buruk pada tuan Christian, Nona Ana?" Vicky pria yang tidak tahu apapun begitu melihat wanita itu mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Padahal ia tahu tentang semua rencana yang disusun oleh bosnya demi bisa merawat istri kedua yang tadi dikabarkan sudah sadar.
'Kasihan sekali nona Ana. Pasti ia benar-benar sangat begitu mengetahui rencana tuan Christian. Padahal nona Ana mempunyai segala hal yang diimpikan oleh para wanita, kecuali tidak bisa mempunyai keturunan.' Vicky masih menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh seorang Ana Maria yang terkena sangat bijak.
Ana yang saat ini masih mengingat perkataan dari sang suami yang seolah membuat dunianya berakhir, kini menoleh ke arah Vicky.
"Apa yang harus kulakukan saat suamiku tinggal di New York? Aku bahkan merasa satu minggu suamiku pergi ke luar negeri saja serasa satu abad lamanya." Ana sadar bahwa ia saat ini terlalu lebay.
Namun ia tidak bisa menahan perasaannya yang saat ini tengah berkecamuk. Ia paling tidak suka menunjukkan kelemahannya di depan orang lain, tapi hari ini membiarkan asisten pribadi suaminya tersebut melihatnya.
"Memang semuanya akan menjadi sulit saat dihadapkan pada dua pilihan, Nona. Lebih baik Anda memikirkannya setelah perasaan lebih baik. Pasti Tuan Christian bisa memahaminya." Vicky saat ini menunggu wanita di hadapannya membuka suara untuk mengajak masuk ke dalam rumah sakit.
Ia sudah tahu apa yang saat ini berada di otak Ana Maria, yaitu sebuah pilihan antara cinta dan karir.
Entah mengapa saat menatap wajah murung wanita cantik di hadapannya tersebut membuatnya selalu ingin menghibur, tapi menyadari bahwa itu hanya akan membuatnya terlihat seperti mencari kesempatan dalam kesempitan.
'Jika nona Ana memilih cinta, sudah dipastikan jika tuan Christian akan pusing tujuh keliling. Rencana apa lagi yang akan dilakukannya jika kali ini nona Ana melarang untuk menerima tawaran bisnis itu.'
__ADS_1
To be continued...