365 Days With You

365 Days With You
Mengorbankan Kebahagiaan Laura


__ADS_3

Delapan bulan kemudian...


Hari demi hari dijalani Christian dengan perasaan dipenuhi oleh kebahagiaan dan ia benar-benar memperlakukan Laura yang sudah hamil besar dengan perut membuncit itu seperti seorang ratu.


Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan Ana yang sering marah-marah dan menuduhnya telah berselingkuh karena tidak bisa memenuhi janji untuk pulang sebulan sekali.


Terakhir kali, ia baru pulang menemui Ana setelah 6 bulan dan itu pun tidak tenang karena terus memikirkan kondisi Laura yang hamil. Sikapnya yang berubah membuat Ana marah dan ia pergi pun, hubungan mereka sudah tidak seromantis dulu karena lebih sering cek cok.


Saat ini, Christian tengah berada di ruangan yang selama ini menjadi tempat kerjanya. Saat ia tengah memeriksa email dari sang ayah yang berhubungan dengan dokumen penting, mendengar suara dering ponsel miliknya berbunyi.


Refleks ia memeriksa siapa yang menelpon dan mengerutkan kening kala melihat kontak dokter yang selama ini menjadi dokter Ana. "Tumben dokter Ardi menelponku."


Karena merasa sangat penasaran, tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telpon.

__ADS_1


"Halo, Christian. Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu," ucap sang dokter yang tengah serius saat membicarakan tentang hal yang diketahuinya urgent.


"Hal penting apa dokter? Memangnya bagaimana proses penyembuhan Ana" tanya Christian yang saat ini was-was karena tidak biasanya sang dokter menghubungi.


Sementara itu, sang dokter yang tidak ingin bertele-tele, langsung menjelaskan hasil dari pemeriksaan intensif dari pasiennya. Karena tidak ingin disalahkan oleh beberapa pihak terkait yang berhubungan dengan pasien pastinya.


"Kemarin aku baru memeriksa secara menyeluruh mengenai sampai di mana sel kanker yang diderita istrimu. Memang ia sama sekali tidak tahu karena aku sudah memberikan obat manjur untuk tidak terlalu merasakan kesakitan akibat beberapa dampak buruk dari penyakit yang tidak diketahui."


"Sel kanker yang ada di tubuh istrimu masuk dalam kategori ganas karena tidak mempan dengan obat saja. Istrimu harus melakukan kemoterapi. Lebih baik kamu jujur saja pada Ana." Sang dokter sebenarnya merasa bingung menjelaskan tentang sebenarnya.


"Aaron, aku sampai berkonsultasi dengan beberapa teman sesama dokter untuk mencari dukungan sekaligus pembenaran dari mereka." Menatap ke arah raut wajah sang suami yang sangat kesusahan.


Karena merasa penjelasan dari sang dokter sangat bertele-tele, Christian kini langsung berkomentar. "Jadi, apa kemungkinan buruk terjadi pada istriku, Dokter?"

__ADS_1


Apalagi ia tahu jika dokter tidak pernah berbohong, kini Christian ingin sekali tahu tujuan dari pria itu. Namun, ia benar-benar sangat shock kala mendengarnya.


"Ana mungkin hanya bisa bertahan selama beberapa bulan saja. Aku hanya ingin menyampaikannya itu padamu. Baiklah, aku ada jadwal mendadak."


Sementara itu, Christian saat ini benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan dari Ana yang sama sekali tidak berpengaruh apapun ketika teratur minum obat.


"Ana, kenapa semua ini terjadi padamu? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Satu-satunya mimpi Ana adalah ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu." Christian terdiam beberapa saat.


"Apa aku harus menyakiti Laura dengan membawa bayinya untuk dibesarkan oleh Ana." Christian benar-benar sangat bimbang ketika tiba-tiba memiliki pemikiran mengorbankan kebahagiaan Laura.


To be continued...


"

__ADS_1


__ADS_2