
"Sebenarnya ...."
Christian yang saat ini berniat untuk mengatakan sebenarnya tentang Laura, tidak melanjutkan perkataannya karena mendengar suara ketukan dari pintu dan membuat degup jantungnya berdetak semakin kencang.
Ia refleks menoleh ke arah pintu dan melihat sang ibu yang saat ini tengah menggendong putranya. Merasa Apa yang membuatnya sangat khawatir tidak terjadi karena saat ini sama sekali tidak melihat sosok wanita yang ada di pikirannya.
"Nah, sudah sampai, kan di tempat mama," ucap Renita Padmasari yang saat ini berjalan mendekati menantunya yang tengah terbaring tidak berdaya di atas ranjang perawatan dengan wajah sangat pucat dan sejujurnya membuatnya merasa sangat iba.
Ia bukanlah seorang wanita yang tidak punya hati saat melihat menantunya benar-benar seperti mayat hidup ketika sakit. Kemudian langsung menurunkan sangat lucu yang digendongnya tersebut ke atas ranjang di sebelah menantunya.
"Valerio dari tadi menangis dengan memanggilmu, Ana. Makanya Mama sama sekali tidak bisa menenangkannya seperti biasa karena hanya ingin melihatmu. Sepertinya ia sangat merindukanmu karena tidak bertemu beberapa hari ini." Melihat sang menantu yang saat ini seketika tersenyum dan memeluk erat bocah laki-laki tersebut.
"Sayang, Putra Mama yang paling tampan dan pintar. Valerio merindukan Mama, ya? Maafin Mama ya, Sayang karena tidak bisa tidur dengan Valerio," seru Ana yang saat ini seketika mengusap lembut punggung putranya yang menghambur memeluknya dan memanggil mama.
Ia benar-benar merasa sangat terharu sekaligus bahagia karena harapannya untuk bisa bertemu putranya sudah terkabul dan jika sewaktu-waktu ia dipanggil oleh sang pencipta, sudah pasrah.
Saat melihat sang istri yang kini tengah sibuk dengan putranya, Christian saat ini menatap ke arah sang ibu yang berdiri di sebelah kirinya dan memberikan sebuah kode dengan mata untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Bahkan ia saat ini mendekati sang ibu dan berbicara lirih di dekat daun telinga agar tidak terdengar oleh Laura yang sibuk dan fokus pada putranya. "Mama ke sini sendiri? Bukankah tadi Mama bilang ...."
Ia sengaja tidak melanjutkan perkataannya karena melihat tatapan tajam dari sang ibu. Seolah tengah menyuruhnya diam dan tidak banyak bertanya. Hingga kemudian ia mendengar suara sang ibu yang seperti menjawab apa yang ingin diketahui olehnya saat ini.
__ADS_1
"Christian, tolong belikan Mama kopi di kantin karena tadi belum sempat ngopi dan buru-buru datang ke sini saat putramu menangis dan tantrum seperti biasanya." Renita Padmasari seketika mengibaskan tangan karena ingin putranya mencari tahu sendiri dengan bertanya pada Laura yang saat ini menunggu di depan ruangan.
Entah mengapa Laura tidak jadi masuk dan tiba-tiba membatalkan keinginannya untuk menampakkan diri di depan Ana. Tadi disuruh masuk sendirian dan Laura mengatakan akan menunggu ia keluar.
Jadi, belum sempat bertanya mengenai alasan Laura dan tidak bisa menjawab rasa ingin tahu dari putranya, ia langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat Ana terlihat makin pucat dan membuatnya iba.
Christian saat ini bisa membaca apa yang ada di pikiran sang ibu, seketika menganggukkan kepala dan sebelum keluar dari ruangan, menatap ke arah sang istri yang terlihat sangat bahagia ketika bisa melihat putranya.
"Sayang, aku ke kantin dulu untuk membelikan mama kopi. Apa kamu ingin menitip sesuatu?" Ia sebenarnya hanya berbasa-basi karena sudah tahu jawaban dari sang istri.
"Tidak karena yang kau butuhkan saat ini sudah ada di depanku, Sayang. Aku hanya ingin melihat putraku dan serasa rasa sakit yang kurasakan seperti sirna begitu bersama dengan Valerio," seru Ana yang saat ini tengah menatap ke arah sosok anak laki-laki yang kini berbaring di sebelahnya sambil memeluknya dengan erat dan membuatnya trenyuh sekaligus terharu.
Ia bahkan sudah berkali-kali mencium putranya untuk meluapkan kebahagiaan yang dirasakan karena masih bisa melihat wajah tanpa dosa yang selalu membuatnya gemas itu.
'Ya Allah, izinkan aku untuk bisa sedikit lebih lama bersama dengan putraku. Terima kasih atas izin-Mu yang masih memberikan kesempatan untukku mengungkapkan kasih sayang pada Valerio,' gumam Ana yang saat ini merasa sesak di dada ketika menahan kebahagiaan sekaligus kesedihan di saat bersamaan.
Di sisi lain, Christian seketika berjalan keluar dari ruangan begitu mendengar tanggapan dari sang istri dan langsung membuka pintu. Meskipun dengan perasaan tidak menentu karena berpikir jika Laura berada di luar, tetap saja menguatkan hatinya karena memang itulah yang ditunggu semenjak lama.
Benar saja, begitu melangkah keluar dan kembali menutup pintu agar Ana tidak mengetahui jika saat ini Laura ada di rumah sakit, seketika berjalan menghampiri saudara wanita dengan menundukkan kepala saat fokus pada ponsel.
"Laura," lirih Christian yang saat ini masih menunggu Laura mengangkat wajah untuk sekedar menatapnya. Namun, keinginannya sama sekali tidak terwujud karena Laura seolah tidak memperdulikannya karena tidak mengalihkan pandangan dari ponsel yang berada di tangan.
__ADS_1
Bahkan ia bisa melihat apa yang saat ini tengah membuat Laura fokus, yaitu layar ponsel tersebut menunjukkan tentang laporan perusahaan dan berpikir bahwa itu dari Prameswari grup.
Laura yang tadi berubah pikiran karena merasa jika sengaja menampakkan diri di depan wanita yang tengah sakit kronis dan berakhir meninggal, pasti seumur hidup akan disalahkan dan tidak akan pernah bisa hidup tenang karena itu.
Namun, poin utama yang menurutnya sangat penting hanyalah satu, yaitu kebencian dari putranya yang pastinya berpikir jika ia adalah penyebab kematian dari wanita yang dianggap sebagai ibu kandung.
Dibenci oleh putra sendiri yang belum pernah membuatnya susah payah merawat, akan semakin memperburuk namanya dan ia tidak ingin itu terjadi. Begitu mendengar suara bariton dari pria yang sangat dibenci, Laura yang sama sekali tidak ingin berbicara, kini masih fokus menatap ke arah laporan yang baru saja dikirimkan oleh Mario dan membuatnya mengetahui celah untuk menghancurkan sang paman.
"Laura, aku mohon berikan kesempatan untuk berbicara sebentar denganmu." Christian saat ini tengah berusaha untuk membujuk Laura agar mau berbicara dengannya.
Namun, beberapa kali ia memanggil nama mantan istrinya tersebut, tetap saja tidak diperdulikan dan akhirnya membuatnya saat ini tidak membuang waktu untuk berlutut di bawah kaki Laura demi meminta maaf atas perbuatan buruknya di masa lalu.
"Laura, maafkan aku karena telah menghancurkan hidupmu dulu. Aku mempunyai alasan melakukannya dan akan menjelaskannya padamu." Christian yang baru saja menutup mulut, melihat Laura yang beralih menatapnya dengan tajam.
Bahkan ia bisa melihat aura kebencian dari tatapan mantan istri sirinya tersebut hingga membuatnya menelan saliva dengan kasar karena suara penuh dendam kini lolos dari bibir Laura.
"Bahkan saat kau mati di hadapanku saat ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu, berengsek!" Laura memang berbicara dengan sangat lirih karena tidak ingin suaranya terdengar dari dalam ruangan Ana.
Namun, tatapannya seolah mewakili kebencian sekaligus dendam pada sosok pria yang masih belum beranjak dari hadapannya ketika berlutut untuk memohon ampunannya setelah kekejaman yang dilakukan di masa lalu dan tidak pernah akan bisa dilupakan seumur hidup olehnya.
To be continued...
__ADS_1