
"Jadi benar istri Christian meninggal?" tanya Rendi Syaputra yang saat ini baru saja tiba di kantor dan begitu masuk ke dalam ruangan putranya, mendapatkan kabar yang baru ia ketahui.
Ia selama ini jarang mengikuti berita dan sibuk mengurus anak cabang, jadi merasa sangat terkejut begitu mengetahui tentang berita yang baru saja disampaikan oleh putranya.
"Iya, Pa. Aku baru mendengar kabar itu pagi ini. Apakah Papa ingin datang ke rumah Christian untuk mengucapkan turut berduka cita? Aku sudah mengirimkan karangan bunga, tapi memang belum datang ke sana karena ingin bersama Papa sekalian." Andika Syaputra tidak ingin datang ke tempat Christian sendirian.
Itu karena ia tahu jika Christian merasa kesal padanya karena membuat kacau perusahaan, sehingga harga saham anjlok dan tidak mendapatkan keuntungan seperti yang dijanjikan olehnya.
"Kita pergi ke sana nanti saat jam makan siang saja karena pagi ini ada meeting di kantor. Nanti kau datang ke perusahaan Papa untuk menjemput," ujar Rendi Syaputra yang saat ini sengaja datang ke kantor putranya untuk mengatakan sesuatu yang dilupakan.
"Baik, Pa. Nanti aku akan menjemput di kantor. Tumben Papa ke sini. Apa ada sesuatu yang ingin Papa sampaikan padaku?" tanya Andika Syaputra saat ini menatap ke arah sang ayah yang dirasa mempunyai sesuatu yang ingin dikatakan padanya.
Rendi Syaputra yang belum mengatakan tentang perjanjiannya dengan Anastasya, sehingga kini berniat untuk menceritakan semua hal mengenai apa yang dipertaruhkan untuk menyelamatkan kursi kepemimpinan putranya tersebut.
Ia pun mulai menceritakan semua hal yang berhubungan dengan anak cabang perusahaan yang saat ini sudah berpindah ke tangan Laura. "Kau harus benar-benar memimpin perusahaan ini dengan baik karena jika sampai lengah, kita akan benar-benar hancur."
"Anastasya bisa dengan mudah melengserkan kita dari kursi kepemimpinan. Jadi, jangan macam-macam atau kita kehilangan apa yang dimiliki." Rendi Syaputra saat ini mengarahkan tatapan tajam agar putranya benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan.
Bahkan ia mengarahkan tangan yang mengepal ke hadapan putranya. "Jika sampai kau berani bermain judi lagi dan memakai uang perusahaan, akan kupatahkan lehermu!"
__ADS_1
Andika Syaputra yang saat ini hanya menelan saliva dengan kasar ketika mendapatkan ancaman dari sang ayah. Ia terbiasa untuk menghilangkan stress di pikirannya dengan cara bermain judi, awalnya selalu dengan nominal sedikit, tapi lama-lama ketagihan dan membuatnya tidak bisa mengontrol diri.
Akhirnya selalu menghabiskan banyak tanpa terasa dan selalu menyesal di akhir. Kini, ia mengarahkan jadinya ke atas yang membentuk simbol peace. "Iya, Pa. Aku akan mengingatnya dan tidak akan menyerahkan perusahaan pada Anastasya."
Ia yang mengetahui jika wanita itu dirawat di rumah sakit yang sama dengan istri dari Christian, sengaja tidak memberitahu sang ayah karena khawatir jika perbuatannya diketahui.
Apalagi ia kemarin mendapatkan laporan dari orang yang disuruhnya untuk memberikan pelajaran pada Anastasya jika ketahuan. Namun, ia sudah berjaga-jaga karena menyuruh orang yang merupakan kekasih dari mantan pegawai di butik Anastasya.
Jadi, mempunyai alibi dan tidak akan diketahui jika ia merupakan dalam utama dibalik kejadian itu. Memang ia sebelumnya sudah menyuruh orang untuk menyelidiki tentang Anastasya yang memiliki butik dan pernah memecat seorang pegawai, jadi memanfaatkan itu untuk membalas dendam.
'Aku ingin melihat apakah papa nanti mengetahui jika Anastasya saat ini sedang berada di rumah sakit karena ditusuk oleh orang suruhanku. Jadi, lebih baik berpura-pura tidak tahu dan ingin melihat kapan wanita itu datang ke kantor. Sebenarnya ia hanya mengacau saja dan membuatmu buruk jika datang ke kantor,' gumamnya sambil memikirkan jika ia lebih suka Anastasya berada di rumah sakit.
'Biarkan wanita itu yang di rumah sakit untuk sementara waktu agar tidak membuatku kesal.' Lamunannya seketika buyar begitu sang ayah berpamitan.
"Aku arah pegang janjimu dan jika sampai mengingkarinya, lihat saja nanti karena kali ini Papa tidak akan dengan mudah memaafkanmu. Sekarang Papa pergi dulu dan kau harus bekerja dengan baik agar perusahaan ini tidak kembali bermasalah." Rendi Syaputra bahkan saat ini tidak menunggu jawaban dari putranya dan memilih untuk segera berlalu pergi dari ruangan tersebut.
Ia yang saat ini berjalan menuju ke arah lift, jadi melihat Vincent yang menyapanya dan ikut masuk ke dalam. Selama ini, pria itulah yang selalu mengantarkannya pergi kemanapun.
Seperti hari ini yang menyuruh Vincent untuk mengantarkannya meeting. "Vincent."
__ADS_1
Pria yang mengenakan setelan hitam tersebut kini menoleh ke arah bosnya. "Iya, Tuan Rendi."
Rendi yang saat ini merasa bahwa kesehatannya akhir-akhir ini tidak baik, khawatir jika usianya tidak panjang. Hal yang sangat dikhawatirkan adalah putranya karena dari dulu terlalu memanjakannya dan sekarang merasa bersalah.
"Aku ingin kau nanti menjaga putraku jika nanti aku sudah meninggal," ucap Rendi Syaputra yang bisa melihat jika Vincent saat ini menatapnya aneh.
Vincent saat ini merasa ada yang aneh dengan sikap pria paruh baya di sebelah kirinya tersebut. Ia saat ini menebak jika bosnya mungkin memiliki riwayat penyakit kronis, sehingga berbicara seperti itu layaknya orang yang patah semangat untuk hidup.
"Jangan berbicara seperti itu, Tuan karena anda akan panjang umur. Bukankah Anda belum merasakan bagaimana rasanya menimang cucu? Jadi, Anda harus tetap sehat dan menyaksikan pernikahan tuan Andika, selalu menemani cucu cucu yang lucu." Ia berusaha untuk memberikan semangat pada atasannya agar tidak berpikir negatif
Apalagi ia baru saja mendapatkan kabar duka dari dunia bisnis dan sangat ramai diperbincangkan di media sosial. Bahwa wanita hebat yang selama ini sangat anggun dan berpotensi menjadi pemimpin perusahaan, meninggal karena penyakit kronis.
Bahwa wanita itu adalah istri dari pria yang beberapa kali ia lihat di perusahaan. Meskipun tidak pernah bertemu dengan wanita itu, tapi melihat fotonya yang sangat cantik dan masih muda, sehingga merasa iba pada nasibnya.
"Kau benar. Aku bahkan belum merasakan bagaimana menimang cucu. Anak nakal itu bahkan sama sekali tidak pernah terlihat bersama dengan wanita. Entah dia normal atau tidak," umpat Rendi Syaputra yang kini berjalan menuju ke arah mobil.
Sementara itu, Vincent segera membuka pintu mobil sambil menanggapi. "Tuan Andika adalah seorang pria normal karena tidak pernah saya melihat dengan sesama jenis. Mungkin memang belum ada yang bisa menggetarkan hati tuan Andika."
"Semoga begitu," sahut Rendi Syaputra yang saat ini tengah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan.
__ADS_1
To be continued...